
Setelah guru Xinhai melihat mereka bertiga baik-baik saja membuatnya lega, namun guru Xinhai mengajak mereka bertiga segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu, karena di khawatirkan kawanan perampok lain akan datang dengan bala bantuan yang lebih banyak.
Mereka segera berberes dan tidak lupa mematikan api unggunnya, setelah itu mereka pun pergi dari tempat tersebut dengan sangat terpaksa mereka melanjutkan perjalanan, walaupun dengan rasa yang terkantuk-kantuk.
Walaupun dalam keadaan mengantuk mereka tetap melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah desa kecil yang terlihat tidak begitu terawat dedaunan yang memenuhi jalan hingga tugu desa tersebut terlihat banyak di tumbuhi tumbuhan liyar.
"Sepertinya di depan sana ada desa guru Xin." Ucap Yinfeng.
"Iya sepertinya begitu." Jawab guru Xinhai.
Mereka pun mendekati desa tersebut dan mendapai sebuah tulisan nama desa yaitu Shuijie, mereka mulai melangkah memasuki desa walaupun Lourin dan Ning'er sempat merasa merinding dan takut memasuki desa tersebut, tapi keduanya tidak memiliki pilihan lain lagi kecuali tetap mengikuti guru Xinhai dan juga Yinfeng.
"Kenapa sepi sekali, apakah tidak ada yang meninggali desa ini." Ucap Yinfeng.
Guru Xinhai turun dari kudanya dan mencoba melihat keadaan desa tersebut, ketika hendak mengetuk pintu rumah tiba-tiba Lourin dan Ning'er teriak karena melihat seekor srigala hitam sedang bertengger di pohon samping rumah itu.
"Awas guru Xin, ada srigala."
Aauuuuuurrrr....
Srigala hitam itu mengaum dengan keras, tiba-tiba kawanan srigala lainnya muncul setelah mendengar auman srigala hitam tadi.
"Banyak sekali guru Xin srigalanya." Ucap Ning'er yang sedikit takut.
"Ternyata desa ini terlihat seram karena kawanan srigala itu." Ucap Yinfeng.
"Bagaimana ini guru Xin, kita hanya berempat sedangkan srigala itu berjumlah lima belasan." Ucap Lourin yang mengamati.
__ADS_1
"Sepertinya srigala yang disana itu adalah pemimpinnya." Yinfeng yang mengamati seekor srigala hitam terlihat berbeda sendiri yang di lehernya terdapat warna keperakan.
"Sepertinya juga begitu." Ucap guru Xinhai.
"Guru Xin, kali ini biar Aku mencoba untuk menghadapi srigala-srigala itu." Ucap Yinfeng.
"Apaa.., apakah kamu serius Yinfeng ! srigala itu bukan srigala biasa, itu srigala iblis mutiara ungu." Ucap, guru Xinhai yang tidak percaya dengan ucapan Yinfeng.
"Aku titipkan mereka padamu guru Xin." Ucap, Yinfeng yang sudah berlari maju duluan meninggalkan yang lainnya.
"Anak ini.., apa dia sudah gila ingin menghadapi kawanan srigala itu sendiri." Batin guru Xinhai.
Ning'er dan Lourin lebih tidak percaya lagi Yinfeng akan seberani itu, hingga mengantarkan nyawanya sendiri untuk kawanan srigala-srigala hitam disana.
Ternyata Yinfeng memancing kawanan sriga untuk menjahui desa tersebut, agar dirinya dapat leluasa menggunakan Aura Penghakiman.
Namun naas Yinfeng telah mengeluarkan Aura Penghakimannya terlebih dahulu sehingg membuat srigala-srigala itu tertekan sampai tidak dapat bergerak sedikit pun.
"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa srigala-srigala ini menyerang desa kecil itu." Batin Yinfeng.
Yinfeng mencoba menggunakan ilmu pencerahan hati untuk dapat melihat kejadian apa sebenarnya yang telah membuat srigala-srigala itu menyerang desa.
Saat Yinfeng menatap mata pimpinan srigala itu, Yinfeng seakan melihat bayangan-bayangan kejadian yang ada dalam kepala srigala tersebut.
Sebuah kejadian yang sangat mengerikan yang ternyata kawanan srigala tersebut telah menyerang bukan hanya desa Shuijie saja, tapi juga berbagai desa kecil yang terletak tidak jauh dari desa Shuijie.
Yinfeng yang makin penasaran mencoba menelusururinya dan mendapati sebuah bayangan kejadian, bahwa kawanan srigala tersebut menyerang desa-desa kecil melainkan marah atas kematian anak-anak mereka yang telah di bunuh oleh seseorang.
__ADS_1
Namun Yinfeng belum faham siapakah orang itu, apakah dia adalah penduduk asli desa Shuijie tersebut. Setelah Yinfeng mengetahui penyebabnya segera dirinya menenangkan para srigala-srigala itu.
Namun tidak semudah yang Yinfeng harapkan setelah dirinya menarik aura penghakiman, justru pemimpin srigala tersebut malah kembali menyerang Yinfeng.
Yinfeng sontak terkejut akan perlakuan srigala itu, yang melukai tangan Yinfeng hingga menimbulkan luka cakaran yang amat dalam.
Yinfeng segera mengambil dan meminum Pil penyembuh yang telah di berikan Ketua Perguruan, dengan sedikit marah Yinfeng mengeluarkan Pedang Harimau Perak.
Dicabutnya pedang tersebut dari sarungnya, dengan segera Yinfeng mengeluarkan sebuah jurus.
JURUS CAKARAN HARIMAU
Mendadak sebuah bayang cakaran harimau terbang menghantam sriga hitam itu, srigala hitam terpental mundur kebelakang dengan luka cakaran yang membuat badan srigala tersebut terkoyak sangat dalam.
Kawanan srigala yang lain melihat pimpinan mereka telah terluka cukup parah, segera pergi meninggalkan tempat tersebut dan minggalkan pimpinan mereka sendirian.
"Anak pintar."
Ucap, Yinfeng yang menyaksikan kawanan srigala pergi menjauh darinya.
Geeerrrorr..
Suara srigala hitam yang sedang sekarat.
Saat Yinfeng mendekati srigala tersebut dirinya teringat akan 10 terakhir dari Kitab Teratai Api yaitu Darah binatang iblis srigala hitam, jika dirinya ingin memiliki tubuh kekebalan terhadap racun.
......
__ADS_1