Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Pil Esensi Darah


__ADS_3

Setelah Qin Xua mengambil kitab Ilmu Pedang Rembulan, dirinya berjalan mendekati tempat tidur lalu mencoba untuk membukanya.


Halaman demi halaman Qin Xua baca dan mencoba untuk memahaminya, akan tetapi sedikit pun ia tak mengerti arti kata yang ada disetiap halamannya.


Sebab dalam kitab tersebut tak ada gambar yang menggambarkan gerakan dalam berpedang. "Apa maksud dari kalimat didalam kitab ini?"


Karena tak mengerti dari setiap kalimat yang ada pada masing-masing halaman, akhirnya Qin Xua memutuskan hanya membaca dan menghafalnya saja.


"Lebih baik aku hafalkan saja, agar besok bisa aku tanyakan langsung pada kak Yin Yin perihal kalimat yang ada disetiap halamannya."


Tak butuh waktu semalaman bagi Qin Xua untuk menghafalnya di luar kepala, hanya cukup membutuhkan waktu lima jam saja.


Setelah selesai menghafalkan kalimat-kalimat disetiap halamannya, barulah Qin Xua membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.


**


Disisi lain di sebuah ruangan yang sepi, ternyata Yin Feng sudah setengah menyelesaikan pengekstarakan setetes darahnya.


Dia telah berhasil memadatkan setetes darah menggunakan api abadi, hanya tinggal menjadikannya menjadi sebuah pil.


Sekujur tubuh Yin Feng telah basah oleh keringat yang ternyata sudah membanjiri setiap sisi tubuhnya. "Cukup mengesankan kau bocah, hanya melalui arahan saja kau sudah hampir berhasil menyempurnakan pengekstrakan."


Sesepuh Qiu Han sangat terkesan atas kegigihan serta kecerdasan dari Yin Feng. "Akan tetapi kau jangan berbangga diri dulu, justru inti pengekstrakannya baru saja dimulai."


Yin Feng yang awalnya terfokuskan pada perubahan setetes darahnya, seketika terganggu saat sesepuh Qiu Han berkata hal demikian. "Apa maksud dari ucapan sesepuh?"


"Bila pengekstrakan menggunakan api itu sudah hal yang wajar, namun bila itu menggunakan mutiara salju abadi.." Sesepuh Qiu Han menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Jelas prosesnya akan semakin sulit dan juga butuh kegigihan tinggi."


"Hemm.." Yin Feng seakan sudah dapat merasakan kesulitan saat baru memulai menggunakan mutiara salju abadi. "Benar-benar tekanan yang kuat, pantas saja sesepuh bisa berucap inti pengekstrakan baru saja dimulai."


Derasnya cucuran keringat yang mengalir disetiap sela-sela sudut badan Yin Feng makin nampak, terlihat dari basahnya pakaian yang dikenakannya. "Memang benar-benar butuh kegigihan tinggi, tapi aku tak akan pernah menyerah."


Semangat yang menggebu-gebu ditunjukan dari kegigihannya dalam proses pengekstrakan kedua ini, sebab kesulitan jauh lebih rumit dari apa yang dilakukannya pertama menggunakan api abadi.


Sampai tak terasa sudah lima jam berlalu di pengekstrakan kedua ini, dan ternyata sedikit lagi pil esensi darah akan sempurna.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba sebuah kilauan cahaya merah menerangi seluruh ruangan, bersamaan dengan terjadinya ledakan kecil serta keluarnya asap putih.


"Hahaha.. Bagus bocah, akhirnya kau dapat menyelesaikannya juga."


"Uhuk.. Uhuk.." Terlihat Yin Feng keluar dari kepulan asap putih dengan sebuah pil berwarna merah kekuning-kuningan di tangannya. "Hahaha.. Aku berhasil."


Saat Yin Feng telah berhasil menyelesaikan pengekstrakan ternyata hari sudah mulai pagi, ditandai dengan suara kokokan ayam.


Kok.. Kokok.. Kok..


"Apa!! Sudah pagi.. Benar-benar melelahkan." Sejenak Yin Feng merebahkan badannya, lalu kembali duduk untuk menstabilkan tenaga dalamnya dengan menelan beberapa pil.


Setelah dirasa cukup barulah Yin Feng bergegas keluar untuk menemui Qin Xua. "Sebaiknya aku harus cepat memberitahukan hal ini pada Qin Qin."


Sedangkan di kamar Qin Xua pun hendak bergegas pergi untuk menemui Yin Feng. "Sebaiknya aku harus cepat menanyakannya pada kak Yin Yin maksud dari semua kalimat didalam kitab ini."


Saat Qin Xua mulai membuka pintu ternyata Yin Feng baru saja hendak mengetuk pintunya. "Ah.. Qin Qin."


"Oh.. Kak Yin Yin." Keduanya sama-sama terkejut, membuat suasana makin canggung.


"Qin Qin duluan saja." Yin Feng mempersilahkan Qin Xua untuk berbicara duluan.


"Ah.. Kakak saja duluan." Justru malah sebaliknya, Qin Xua pun malah mempersilahkan Yin Feng untuk angkat bicara terlebih dahulu.


"Qin Qin saja duluan, biar kakak mengatakannya setelah Qin Qin."


Keduanya sama-sama mempersilahkan untuk angkat bicara terlebih dahulu, hingga terjadi perdebatan kecil sampai akhirnya Qin Xua mulai memberanikan diri untuk mengatakannya duluan.


"Qin Qin minta maaf atas kejadian semalam, bukan maksud Qin Qin membuat kecewa kak Yin Yin, tapi sebenarnya.."


Qin Xua tak berani melanjutkan perkataannya, perihal kesanggupannya dalam menjalani persyaratan yang dikatakan Yin Feng waktu itu.


"Sebenarnya apa?" Yin Feng yang penasaran mencoba bertanya.


Dialihkanlah perkataan Qin Xua dengan mengeluarkan sebuah kitab. "Ah.. Itu sebenarnya Qin Qin bingung maksud dari semua kalimat pada kitab ini."

__ADS_1


"Ohhh.. Tentang kitab ini, nanti akan kakak ajarkan padamu maksud dari semua kalimat yang ada didalamnya." Yin Feng kemudian mengeluarkan sebuah pil ditangan kanannya. "Ini.. Minumlah."


"Pil apa ini kak?" Penasarannya Qin Xua akan pil yang diberikan oleh Yin Feng tersebut.


"Dengan pil ini jadi Qin Qin tak perlu lagi memikirkan syarat yang kemarin."


Qin Xua sok berlagak lupa. "Syarat yang mana ya kak? Kenapa Qin Qin tidak ingat."


"Syarat yang itu.." Nampak dari wajah Yin Feng malu-malu untuk mengatakannya.


"Yang itu mana kak? Kenapa Qin Qin tidak ingat." Qin Xua justru terlihat senang melihat tingkah malu dari Yin Feng.


"Ah sudahlah tidak apa-apa bila Qin Qin tidak mengingatnya, yang penting jangan lupa untuk meminum pil ini." Setelah menyerahkan pil tersebut, Yin Feng buru-buru untuk pergi.


"Hehe.. Kak Yin Yin terlihat lucu saat sedang malu-malu." Terlihat muka Yin Feng mulai memerah, walupun membelakangi Qin Xua tapi tetap sana Qin Xua tahu bila Yin Feng sedang sangat malu.


"Ia tentu saja Qin Qin masih ingat akan syarat itu. Tadi Qin Qin hanya berpura-pura saja."


Saat Yin Feng mulai melangkahkan kaki hendak pergi, Walikota Tian Long datang menemui keduanya. "Oh.. Rupanya kalian sudah bangun, bagaimana tidur kalian semalam? Nyaman kan?" Walikota Tian Long mencoba menggoda keduanya.


"Apaan sih paman, justru semalam kita tidak tidur sekamar." Qin Xua angkat bicara.


"Lah.. Kenapa?" Walikota Tian Long terlihat penasaran.


"Ah itu tidak apa-apa paman, hanya saja aku ingin lebih fokus dalam kultivasi dan akhirnya aku memilih untuk mencari kamar lain." Yin Feng mulai menjelaskan.


"Ohh.. Yasudah, sekarang ikut paman. Ada yang ingin kita diskusikan." Walikota Tian Long mengajak Yin Feng dan Qin Xua ke sebuah ruangan, dimana paman Dou Han sedang duduk disana.


Setelah semuanya berkumpul barulah Walikota Tian Long membahas rencana yang akan dilakukan selanjutnya. "Semalam paman Dou Han sedikit mendapat informasi, bahwa dalang dibalik semua ini adalah perbuatan Chun Lie."


"Chun Lie!! Bukankah dia kepercayaan paman Long?" Yin Feng sangat terkejut dan tak menyangka, bahwa Chun Lie yang dianggap sebagai bawahan kepercayaan Walikota Tian Long adalah dalang dibalik semua ini.


"Benar.. Paman juga tak menyangka dia akan berbuat hal demikian, oleh sebab itu sebelum banyak yang menyadari sebaiknya kita rubah penampilan kita."


"Aku setuju paman, agar rencana kita bisa berjalan mulus memang sebaiknya kita rubah penampilan kita." Yin Feng menimpali perkataan Walikota Tian Long.

__ADS_1


.........


__ADS_2