Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Asap Merah Darah


__ADS_3

Go Ruela mulai merapalkan sebuah mantra dan dalam sekejap sebuah asap berwarna merah darah keluar dari balik batu merah darah.


Asap tersebut muncul dengan begitu banyaknya hingga memenuhi tabir pembatas yang dibuat oleh Go Ruela, tak dapat dielakkan untuk semuanya menghirup asap tersebut.


"Aaaahhh.. Apa yang sedang terjadi padaku!" Salah satu penonton merasa hidung dan tenggorokkannya sulit untuk bernafas.


Kejadian tersebut tidak dialami satu orang saja, melainkan semua orang yang terjebak dalam tabir pembatas milik Go Ruela.


Mereka semua merasa kesulitan untuk bernafas, hingga banyak yang berguling-gulingan karena merasa seperti seolah nyawa mereka akan terjabut.


"Aaaahhh.. To long.."


Teriakkan minta tolong terdengar sangat keras hingga seperti bersaut-sautan. "Hen.. Tikan! Cepat hentikan." Bo You meminta Go Ruela untuk segera menghentikan dan menarik kembali asap merah darah tersebut.


"Apa! Hentikan katamu! Hahaha.. Justru aku merasa sebentar lagi diriku akan menjadi lebih kuat, dan akan menjadi raja selanjutnya."


Nampak dari wajah dan ekspresi Go Ruela sangat menikmati dan bahagia melihat semua orang merasa akan menemui ajalnya, namun dia melupakan masih ada dua sosok yang tak terpengaruh akan asap miliknya tersebut.


"Apakah kau sudah benar-benar gila? Sampai-sampai melupakan keberadaanku!"


Mo Can sangat tak tahan melihat kelakuan dari Go Ruela yang berambisi hanya untuk kepentingannya sendiri.


"Apa!! Bagaimana bisa kalian berdua tak terpengaruh sedikit pun." Go Ruela cukup keheranan atas apa yang dilihatnya, Mo Can dan juga Monk Lie masih terlihat baik-baik saja.


"Apakah kau kira hanya asap lemah seperti ini mampu membuat kami terpengaruh? Kau salah! Sekarang coba buka matamu lebar-lebar."


Mo Can (Yin Feng) menghentakkan kaki kanannya dengan mengandung kekuatan dari kitab syurgawi, hingga menimbulkan goncangan kuat yang membuat tabir pembatas ikut bergoncang.


Setelah hentakkan kaki pertama hanya membuat tabir pembatas bergoncang, kemudian Mo Can menambah kekuatan pada hentakan kaki yang kedua.


Dihentakkan kaki yang kedua cukup membuat tabir pembatas milik Go Ruela mengalami keretakkan, hingga langsung disusul dengan hentakkan yang ketiga membuat tabir pembatas sepenuhnya hancur.


Namun walaupun tabir pembatas hancur, akan tetapi asap berwarna merah darah masih saja menyelimuti semuanya, bahkan setelah tabir pembatas hancur asap tersebut makin meluas.


"Hahaha.. Percumah saja kau dapat menghancurkan tabir itu, justru aku ucapkan terimakasih karena berkatmu asap merah darah akan menghiasi langit cakrawala malam ini."


Tanpa diduga kucing putih yang bersembunyi didalam kalung Mo Can (Yin Feng) mendadak keluar, tanpa diketahui Mo Can ternyata kucing kecil yang terlihat menggemaskan dapat begitu mudahnya menghisap asap merah darah tersebut.

__ADS_1


Bahkan daya hisapnya membuat Mo Can (Yin Feng) sendiri merasa heran, seluruh asap merah darah dihisap habis oleh kucing kecil yang diberi nama Mie Can tersebut.


Miau... Miau...


Selesai semua asap merah darah dihisap habis tak tersisa oleh Mie Can. "Mie Can!!" Mo Can langsung menggendong Mie Can yang mendekati kaki Mo Can.


"Tak ku sangka kau memiliki kemampuan seperti itu."


Miau... Miau...


Saat Mie Can dalam gendongan Mo Can tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan fluktasi energi yang merembes keluar tubuhnya.


"Apa yang sedang terjadi pada Mie Can?" Mo Can terlihat cukup panik, namun Monk Lie mencoba menenangkan Mo Can.


"Tenanglah! Sepertinya kucing itu akan melakukan perubahan pada dirinya."


Ternyata hasil menghisap habis asap merah darah membuat Mie Can berhasil mengubah sedikit bentuk dirinya.


Namun saat Mo Can (Yin Feng) serta Monk Lie begitu menantikan perubahan Mie Can, ternyata perubahannya hanya terlihat pada kedua tanduk Mie Can yang menambah panjang 2 cm.


Miaaauuu..


"Apa kau tak melihat? Coba perhatikan pada kedua tanduk kucing itu?" Monk Lie menunjukkan pada Mo Can perubahan yang terjadi pada Mie Can.


"Hah!! Hanya segitu saja! Aku kira dia akan berubah menjadi lebih besar."


"Mungkin kadar makannya belum sesuai, sebab itu hanya menunjukkan sedikit saja perubahan."


Mo Can mengambil Mie Can dan menggendongnya, namun baru saja digendong ternyata Mie Can langsung tertidur.


"Terimakasih Mie Can, sisanya biar aku saja yang menanganinya." Mie Can akhirnya dimasukkan kembali kedalam kalung ruang hampa.


"Ternyata aku terlalu meremehkanmu! akan tetapi kali ini kita lihat apa yang akan kalian berdua lakukan."


Go Ruela masih memiliki trik lainnya, merasa semua orang yang tadinya sudah menghirup asap merah darah, Go Ruela mulai merapalkan mantra lainnya.


Membuat semua orang yang telah menghirup asap merah darah seketika menjadi hilang kesadarannya.

__ADS_1


Dengan mata memerah pandangan kosong sangat mudah bagi Go Ruela untuk menjadikan semua orang seperti budaknya.


"Kalian semua dengarkan perintahku! Dua orang disana adalah makanan kalian, cepat lahaplah mereka."


Semua orang karena kehilangan kesadarannya, kini jiwa dan raga mereka semua dapat dikuasai oleh rapalan mantra Go Ruela. Sehingg perintah Go Ruela langsung saja meraka patuhi dan dilaksanakan.


"Hahaha.. Akan aku lihat! Bagaimana kalian akan menangani semuanya." Go Ruela merasa akan mustahil bagi Monk Lie dan Mo Can untuk membereskan semuanya dengan mudah, dan juga kematian semua orang pun akan berdampak baik juga baginya.


Sedangkan Monk Lie dan Mo Can seketika sudah terkepung dan dikelilingi orang-orang yang hilang kesadarannya.


"Bagaimana ini teman? Mungkinkah kita akan membunuh mereka semua!"


"Kau pasti sudah dapat menyimpulkannya sendiri."


Memang Mo Can sudah dapat mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, namun dirinya masih bimbang dan dilema.


"Memang aku sudah mengetahuinya, namun bukankah sama saja ketika kita membunuh semuanya, darah mereka semua akan tetap menjadi persembahan untuk Gorila itu."


"Ah, kau benar juga teman! Aku tak berfikir sampai sejauh itu." Monk Lie akhirnya ikut bingung dengan apa yang harus diperbuatnya.


Namun semakin lama Monk Lie memikirkannya semakin dekat pula para manusia binatang yang telah hilang kesadarannya tersebut.


"Bagaimana teman? Apakah kau sudah memiliki solusinya?" Bukannya mencarikan solusi justru Monk Lie lebih mengandalkan Mo Can (Yin Feng) yang memikirkan solusinya.


"Tidak ada cara lain!" Mo Can hanya memiliki satu solusi.


"Cara apakah itu? Cepat saja kau lakukan! Sebelum aku mulai membunuh mereka satu persatu."


Mo Can kemudian mengeluarkan elemen esnya untuk bisa membukan semua manusia binatang tersebut.


"Solusimu tepat sekali teman!"


Dalam sekejap elemen es mulai menjalar dan membekukkan satu persatu manusia binatang, hingga semuanya tidak hanya manusia saja yang membeku, melainkan juga peralatan-peralatan yang ada disekitar tersebut.


"Cukup pintar kau rupanya, namun aku lebih pintar darimu."


Go Ruela merapalkan kembali sebuah mantra, yang membuat para manusia binatang menjadi bringas dan tak terkendali, membuat es yang membekukkan mereka mendadak langsung hancur.

__ADS_1


"Ini sangat gawat teman! Ternyata kekuatan dari batu merah darah itu tak bisa diremehkan." Monk Lie baru menyadari bahwa kekuatan yang dimiliki batu merah darah ternyata cukup kuat.


__ADS_2