
Yin Feng berdiri tepat dihadapan Panglima Kelelawar, dengan belati siluman ditangan kanannya tanpa seorang pun dapat mengetahuinya. Namun hembusan energi dari belati siluman mampu dirasakan oleh Panglima Kelelawar.
Secara cepat Yin Feng melesatkan balati siluman kearah Panglima Kelelawar, namun kali ini Panglima Kelelawar sudah mempersiapkan tameng kusus untuk melindungi serangan dari belati siluman.
Traaang..
Terdengar benturan keras belati siluman yang membentur tameng dari Panglima Kelelawar. "Hah! Jangan harap kau bisa mengenaiku untuk kedua kalinya."
"Hemm.. Benarkah!!" Seketika Yin Feng menggunakan kekuatan jiwa untuk membuat tameng Panglima Kelelawar hancur. "Apa! Bagaimana bisa terjadi?" Raut Wajah Panglima Kelelawar nampak terkejut dan bingung.
Setelah tameng tersebut hancur secara cepat belati siluman melesat kembali kearah Panglima Kelelawar, tanpa dapat menahannya kali ini belati siluman berhasil menembus tubuh Panglima Kelelawar.
"Aakhh.." Seketika darah menyembur dari tubuh yang tertembus belati siluman. "Sial.. Tubuhku banyak mengeluarkan darah." Tangan Panglima Kelelawar mencoba menahan banyaknya darah yang keluar dari lubang pada tubuhnya.
Namun tetap saja tangannya tak mampu menahan derasnya darah yang keluar, membuat jarak pandangnya lama kelamaan mulai memudar tak jelas.
Hingga dalam sekejep tubuhnya sudah mulai lemah tak berdaya, melihat Panglima Kelelawar sudah lemah tak berdaya maka Yin Feng kemudian membantu meringankan beban hidupnya.
Dengan kembali mengarahkan belati siluman kearah leher Panglima Kelelawar, saat itu juga kepala Panglima Kelelawar terpisah dari tubuhnya.
Sedangkan kepalanya terpental hingga dihadapan Panglima Cobra. "Hah!! Sangat mengerikan kekuatan dari anak ini sekarang."
Bila saja Panglima Cobra dan Panglima Kelelawar tidak mengerahkan seluruh kemampuannya saat menghadapi Walikota Tian Long serta paman Dou Han, mungkin mereka tidak akan berakhir tragis seperti sekarang ini.
Yin Yeng berjalan perlahan mendekati Panglima Cobra, terlihat tatapannya tajam kearah Panglima Cobra. "Inilah akhir dari hidupmu."
Tak disangka saat Yin Feng setengah meter dihadapan Panglima Cobra, tiba-tiba saja Panglima Cobra mengeluarkan racun yang saat itu membuat Yin Feng hampir menemui ajalnya, yaitu racun Dewi Ular.
Racun Dewi Ular mengenai tubuh Yin Feng membuatnya seketika mengambil posisi berlutut sambil menundukkan kepalanya. "Hahaha.. Kalaupun aku harus mati aku ingin kau ikut bersamaku." Ujar, Panglima Cobra yang tertawa penuh kebahagiaan.
Namun justru Yin Feng hanya perpura-pura saja, perlahan-lahan dia mulai berdiri kembali membuat Panglima Cobra tak bisa berkata apa-apa lagi.
Hanya mata yang melotot dengan mulut yang membuka lebar. "Bagaimana mungkin! Racunku tak berpengaruh padanya." Dalam hati Panglima Cobra hanya bertanya-tanya dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Pasti kau terkejut bukan? Mengapa racunmu itu tidak mempan terhadapku." Ujar, Yin Feng yang mulai mengangkat Panglima Cobra menggunakan kekuatan jiwanya.
"Inilah akibatnya karena kalian telah membunuh kakekku." Yin Feng yang semakin marah bila mengingat kembali apa yang telah dilakukan kedua Panglima itu pada kakeknya.
"Hahaha.. Walaupun aku mati sekarang, tapi kau tetap tak akan bisa lepas dari genggaman raja kegelapan." Panglima Cobra nampak pasrah bila dirinya harus berakhir hari ini.
"Hemm.. Sudah mau mati masih saja banyak bicara." Yin Feng mengeluarkan elemen esnya untuk membekukan Panglima Cobra, dan setelah itu baru dengan sekali serangan membuat Panglima Cobra yang membeku hancur berkeping-keping.
__ADS_1
**
Sedangkan pertarungan antara kakek Xio Fang dan Panglima Kalajengking kini minyisahkan Panglima Kalajengking yang sudah lemah tak berdaya, dengan luka cukup parah terdapat pada bagian perutnya.
Terdapat robekan pada perutnya akibat terkena kibasan pedang milik kakek Xio Fang. "Aa..Aku merasa bangga bisa berhadapan dengan lawan setangguh dirimu pak tua." Ujar, Panglima Kalajengking dengan nafas terputus-putus.
"Hemm.. Aku pun demikian, ternyata para Panglima Kegelapan tak bisa dianggap remeh." Kakek Xio Fang kemudian mengakhiri hidup dari Panglima Kalajengking dengan sekali ayunan pedangnya.
Dari kejauhan terdengar suara seorang gadis yang meneriakkan sebuah nama. "Paman Long.." Gadis itu tidak lain adalah Qin Xua yang melihat Walikota Tian Long tengah terbaring lemah di tanah.
Qin Xua berlari menghampiri Walikota Tian Long dan langsung duduk kemudian memangku kepala pamannya itu. "Paman.. Bertahanlah." Ucap, Qin Xua dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Xua er.. Maafkan paman yang belum bisa melindungimu." Ujar, Walikota Tian Long dengan nafas yang sudah tidak beraturan.
"Tidak paman, justru pamanlah yang selalu ada disaat Xua er dalam bahaya." Ucap, Qin Xua dengan deraian air mata.
"Dan mungkin ini akhir dari hidup paman, paman berharap kamu bisa menjaga dirimu sendiri." Walikota Tian Long mulai tak sadarkan diri, dengan detak jantung pun ikut melemah.
Disatu sisi bersamaan dengan Walikota Tian Long melemah detak jantungnya, ternyata paman Dou Han juga mulai tidak beraturan nafasnya.
"Paman.. Paman.. Paman Long..." Qin Xua nampak sedih ketika mengetahui detak jantung Walikota Tian Long sudah hampir tak terasa lagi.
Namun tanpa disadari tubuh Qin Xua mulai memancarkan cahaya putih terang, yang seketika mengeluarkan energi penyembuh hingga lama kelamaan jantung Walikota Tian Long mulai berdetak normal.
Walikota Tian Long masih tak percaya bila sudah tidak terjadi apa-apa pada dirinya, namun yang membuatnya terkejut jawaban dari Qin Xua. "Aku tidak tahu paman." Bukan hanya Walikota Tian Long yang bingung, Qin Xua saja tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
bagi Yin Feng itu bukan hal yang mengejutkan lagi dia berjalan mendekati Qin Xua dan Walikota Tian Long. "Benar paman, ini semua berkat Xua er."
"Apa!! Jadi kamu bisa menyembuhkan orang Xua er?" Tanya Walikota Tian Long ingin tahu pasti.
"Iya paman, ini semua berkat tubuh Bintang Keabadian yang ada dalam tubuh Xua er." Ujar Yin Feng.
"Tubuh Bintang Keabadian??" Walikota Tian Long belum pernah mendengar istilah tersebut.
Namun bagi kakek Xio Fang beliau sangat mengetahu apa itu tubuh Bintang Keabadian, akan tetapi beliau tak menyangka bila tubuh Bintang Keabadian terdapat pada diri Qin Xua.
Kakek Xio Fang ikut berjalan mendekati mereka. "Sejak kapan Xua er memiliki tubuh itu Feng er?" Kakek Xio Fang mencoba menanyakan hal itu pada Yin Feng.
"Sebenarnya dalam diri Xua er sudah ada tubuh itu, namun baru tadi tubuh Bintang Keabadian dapat diaktifkan." Ujar Yin Feng.
"Baru tadi? Lalu siapa yang membantunya mengaktifkan?" Tanya kakek Xio Fang.
__ADS_1
Yin Feng pun menceritakan kejadian yang terjadi saat didalam kediaman keluarga Qin, saat Qin Xua hendak dibunuh oleh guru Gou Lang secara tiba-tiba sebuah cahaya putih muncul lalu memasuki tubuh Qin Xua.
Cahaya putih itu ternyata roh seorang Dewi dari Istana Langit bernama Xio Yu Ning, dan dia membantu kami membunub guru Gou Lang maupun muridnya Lin Kiong.
"Hemmm.. Jadi seorang Dewi rela turun kebumi karena mengatahui tubuh Bintang Keabadian ini." Kakek Xio Fang mengelus-elus jenggotnya sambil memejamkan mata.
"Lalu apa yang dikatakan Dewi Langit itu?" Tanya kakek Xio Fang.
"Hemm.." Yin Feng hanya tertunduk tanpa berkata apa-apa. "Ada apa Feng er.. Memang apa yang dikatakan Dewi Langit padamu?" Kakek Xio Fang merasa ada yang aneh dengan sifat muridnya.
"Dia mengatakan aku harus menjaga Xua er baik-baik lalu.." Kembali Yin Feng terdiam dan tertunduk. "Lalu apa?" Tanya Walikota Tian Long merasa penasaran.
"Lalu bila nanti waktunya tiba, dia akan mengambil Xua er dari tanganku." Ujar Yin Feng.
"Hemm.. Benar Dewi itu berkata demikian Xua er?" Walikota Tian Long mencoba menanyakan langsung pada Qin Xua.
Qin Xua tak mampu menjawabnya hanya anggukan kepala yang menandakan bahwa semua perkataan Yin Feng memang benar.
"Hemmm.. Kalian tak perlu khawatir, justru yang aku tahu Dewi Xio Yu Ning itu ingin menjadikan Xua er sebagai muridnya." Kakek Xio Fang mencoba menenangkan situasi.
"Benarkah itu kek?" Qin Xua nampak senang namun saat memikirkan bahwa dia nanti akan berpisah dengan Yin Feng, wajahnya mulai menampakkan kesedihan.
"Ada apa Xua er? Apa kau merasa tidak senang menjadi murid dari seorang Dewi?" Tanya Walikota Tian Long.
"Bukan seperti itu paman.." Wajah Qin Xua mukai memerah, dirinya malu jika harus mengatakannya dikeramaian.
"Hemmm.. Baiklah paman faham."
Karena terlalu fokus dengan Walikota Tian Long, mereka sampai tidak sadar bila paman Dou Han tak ada disisi merka semua.
Pertama kali yang menyadari justru Walikota Tian Long. "Dimana Dou Han? Kenapa aku tak melihatnya?"
Karena saat bertarung jarak keduanya cukup jauh, membuat Walikota Tian Long tak melihat apa yang terjadi dengan paman Dou Han.
Mereka kemudian mulai mencari keberadaan dari paman Dou Han, saat ditemukan ternyata tubuh paman Dou Han sudah terluka parah dan lemah.
Segera mungkin Qin Xua menghampiri paman Dou Han dengan memegang tangan beliau, cahaya putih yang bersinar dari dalam tubuh Qin Xua lama-kelamaan membuat paman Dou Han merasa nafasnya mulai stabil dan tubuhnya pun kembali sehat.
...........
Mohon saran dan masukan untuk novelku PENDEKAR LEMBAH SILUMAN
__ADS_1
Terimaksih.