
Setelah keluarnya jiwa Yin Feng dari ruang hampa pada batu prasasti, dirinya masih saja termenung memikirkan jawaban atas teka-teki yang membuatnya pusing itu.
Saat dirinya tengah termenung berfikir tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.
Tokk.. Tokk..
"Kak Yin Yin apakah kakak baik-baik saja?" Qin Xua yang selalu memperhatikan kesehatan Yin Feng merasa bahwa sudah seharian penuh Yin Feng tidak keluar dari kamarnya, Qin Xua takut bila terjadi apa-apa pada Yin Feng.
"Ah, iya Qin Qin aku baik-baik saja." Sahut Yin Feng dari dalam kamarnya.
"Kak Yin Yin sudah seharian didalam kamar, apa kakak tidak lapar?"
Saat Yin Feng membuka pintu kamarnya sungguh dirinya dibuat termenung oleh kecantika Qin Xua. "Kenapa hari ini Qin Qin terasa sangat berbeda." Yin Feng hanya dapat bergumam dalam hati dengan tatapan yang tetap menatap kearah wajah Qin Xua.
"Kak..! Kak Yin Yin.." Panggilan Qin Xua sontak membuyarkan fikirannya. "Kenapa kakak tambah melamun?"
"Ah tidak, tidak apa-apa." Yin Feng jadi salah tingkah dengan muka memerah.
"Ini aku bawakan makanan untuk kak Yin Yin." Ternyata Qin Xua telah membawakan Yin Feng seekor ayam bakar dengan bumbu rempah-rempah ala leluhur Qin.
"Apakah ini kau yang membuatnya Qin Qin? " Tanya Yin Feng penasaran, sebab seolah ayam bakar yang dibawakan Qin Xua hari ini terlihat lebih menggoda dari aromanya.
"Iya kak, diamakan ya." Qin Xua kemudian pamit pergi dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Tak terduga ternyata Lou Rin dari kejauhan yang sama-sama hendak membawakan Yin Feng makanan memilih berhenti, dan memperhatikan dari kejuahan.
Disaat Qin Xua telah pergi justru Lou Rin tak jadi untuk mengantarkan makanan pada Yin Feng, dirinya memilih membawa kembali makanan yang telah dipersiapkannya untuk Yin Feng tersebut.
Setelah Yin Feng menikmati ayam bakar spesial buatan Qin Xua, sontak dalam fikirannya terlintas akan jawaban dari teka-teki pertama. "Ah iya, dikejar menjauh ditunggu menjauh tapi tatkala tidak dikejar dan ditunggu dia datang, tidak salah lagi itu adalah kesempatan."
Ketika Yin Feng sudah tahu jawaban dari teka-teki di batu prasasti barulah ia mencoba untuk memasuki kembali ruang hampa yang ada dalam batu tersebut.
"Kau datang lagi bocah! Apakah kau sudah mengetahui jawaban atas teka-teki ini?
"Setelah aku fikirkan dengan sangat yakin jawabannya adalah kesempatan." Yin Feng mengucapkan kata tersebut dengan tak ada keraguan sedikit pun dihatinya.
__ADS_1
"Hahaha.. Bagus bocah, selamat kau telah berhasil menebaknya dan sekarang terimalah pencerahan dariku ini." Tiba-tiba sebuah cahaya putih keluar dari dalam batu prasasti dan masuk kedalam kepala Yin Feng melalui dahinya.
Ternyata cahaya putih itu adalah segel kontak dengan pemilik baru, kini Yin Feng telah berhasil mendapatkan segel kontak dari batu prasasti.
Saat Yin Feng sudah diakui sebagai pemilik baru dari batu prasasti, barulah ruang hampa yang tadinya berwarna biru gelap langsung seketika berubah layaknya dunia kecil yang sama persis dengan dunia nyata.
"Tak ku sangka, bukan hanya dunia dimensi yang mirip dengan dunia nyata, ternyata didalam batu prasasti pun memiliki dunia yang sama namun lebih kecil."
Didalam dunia kecil batu prasasti Yin Feng bisa merasakan energi yang terkandung jauh lebih kuat dari dunia dimensi. "Ini adalah hadiah yang sangat luar biasa, aku harus berterimakasih pada sesepuh nantinya."
Yin Feng berkesimpulan kelak dalam dunia kecil batu prasasti akan dijadikan sebagai bentuk hadiah dari para murid yang berhasil masuk lima besar dalam turnamen kedewasaan.
Selain Yin Feng tak ada yang dapat mengaktifkan segel dari batu prasasti, akhirnya jiwa Yin Feng kembali keraganya.
Dengan rasa bahagia Yin Feng langsung memberi hormat pada sesepuh Qiu Han. "Terimakasih sesepuh, ini adalah hadiah yang sangat-sangat luar biasa bagi perguruan."
"Memang apa yang telah kau dapatkan?" Sesepuh Qiu Han penasaran apa yang membuat Yin Feng begitu bahagianya, masa hanya karena batu prasasti dirinya jadi begitu semangat.
"Ternyata dalam batu prasasti ini ada dunia kecil dengan energi yang jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan dunia dimensi." Ujar Yin Feng.
"Sungguh sesepuh, mana mungkin aku berani berbohong padamu."
"Kalau begitu bagaimana jika aku melihatnya." Sesepuh Qiu Han sangat penasaran dan tak sabar ingin melihatnya.
Yin Feng pun mengajak jiwa sesepuh Qiu Han masuk kedalam dunia kecil batu prasasti. "Ohh ternyata memang benar energi disini terasa jauh lebih kuat."
Sesepuh Qiu Han sontak terdiam dengan sebuah ide telah difikirkannya. "Bagaimana jika aku tinggal disini untuk sementara waktu, sampai kau bisa mendapatkan kembali ragaku?"
"Itu tidak masalah sesepuh, tapi bukankah tinggal di lautan jiwaku lebih nyaman ya?"
"Haha, tidak juga justru disini lebih nyaman."
Yin Feng hanya dapat pasrah dengan apa yang diinginkan sesepuh Qiu Han. "Tapi sesepuh, nantinya batu ini akan aku letakkan dihalaman perguruan, apakah kau tidak keberatan?"
"Haha.. Buat apa keberatan, justru itu tidak masalah bagiku." Ujar sesepuh Qiu Han dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Kalau begitu semoga sesepuh nyaman disini, bila saatnya sudah tiba barulah aku akan membantu mencarikan raga sesepuh." Yin Feng kemdian berpamitan.
Keesokan harinya Yin Feng mengumpulkan semuanya di halaman perguruan, setelah semuanya berkumpul barulah Yin Feng menyampaikan apa yang hendak disampaikannya.
"Kali ini kita akan menguji bakat alami dari kalian." Yin Feng mengeluarkan sebuah batu kemudian melemparkannya keatas.
Sontak batu tersebut berubah menjadi besar terjatuh menghujam ketanah dengan sangat kokohnya. Semua yang menyaksikan dibuat takjub akan batu yang dikeluarkan Yin Feng.
"Batu ini adalah melambangkan perguruan kita yang akan berdiri kokoh kelak."
Setelah batu prasasti tertancap kokoh barulah Yin Feng menyuruh satu persatu murid untuk maju kedepan, dan menempelkan tangan mereka di batu tersebut.
Dimulai dengan yang paling pertama yaitu Heiun, saat pertama kali Yin Feng bertemu Heiun dan melakukan pertarungan dengannya.
Heiun hanya memiliki bakat alami dua elemen, namun setelah tangan Heiun diletakkan di batu prasasti dua elemen memang terlihat sangat jelas.
Akan tetapi ada satu bakat alami lagi yang belum terlihat jelas dalam batu prasasti, namun Yin Feng yang melihatnya sudah dapat memastikan akan bakat alami ketiga milik Heiun.
"Tak ku sangka anak ini akan memiliki tiga elemen, walaupun satunya lagi belum terlihat jelas tapi dengan didikan yang cocok elemen ketiganya akan keluar dengan sendirinya."
Setelah Heiun selesai barulah giliran Heiuni, saat pertama kali tangan Heiuni diletakkan pada batu prasasti, gejolak energi terpancar dari batu prasasti.
"Bakat alami Heiuni ternyata adalah jiwa pedang!! Hemm.. Sangat mengesankan." Yin Feng bergelang tanda takjub pada bakat alami yang dimiki Heiuni.
Selanjutnya setelah Heiun dan Heiuni menguji bakat alami mereka, barulah giliran yang lainnya.
Ternyata tidak semua anak murid memiliki bakat alami mereka, hanya dua anak yang memiliki bakat berbentuk elemen selain dari Heiun yaitu : Yun Zi dan Wan Riu.
Yun Zi memiliki bakat alami elemen angin sedangkan Wan Riu memiliki bakat alami elemen api.
Dan sisa dari murid yang lain bekan tidak memiliki bakat alami, akan tetapi bakat alami akan dapat keluar dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan giatnya berlatih.
Penilaian dari bakat alami akhirnya selesai dan kemudian diperkenalkan pada para murid yang akan menjadi tutor mereka adalah Lou Rin, Xio Ning er dan juga paman Dou Han.
Lou Rin dan Xio Ning er akan menjadi tutor pada mereka para murid yang sudah memabngkitkan bakat alami mereka, sedangkan bagi murid yang belum membangkitkan bakat alaminya selaku tutor mereka adalah paman Dou Han.
__ADS_1
.....