Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Dendam Lama


__ADS_3

Go Ruela dan Lion Zo saling mengeluarkan serangan demi serangan terkuatnya, bahkan tempat untuk mereka bertarung terkena dampak dari pertarungan keduanya.


Banyak lubang dimana-mana akibat hantaman serta serangan yang berhasil keduanya halau, mengakibatkan tanah sebagai sasarannya.


"Tidak aku sangka perkembanganmu cukup cepat! Pasti kau mendapatkan warisan dari sosok dewa itu."


"Aku tidak mendapatkan warisan apa-apa, hanya saja aku berhasil menggali potensi ku sendiri didalam suatu tempat."


"Hemm.. Seharusnya akulah yang pantas menikmati semua itu, bukannya kau..!"


"Sudahlah! Jangan kau terus-terusan mengaku bahwa hanya kau saja yang pantas menjadi raja. Jelas seharusnya kau memperbaiki dirimu."


"Hah! Tak usah kau mengurusi kehidupanku, saat itu andai saja aku tidak memintamu untuk membantuku sudah pasti akulah yang akan menjadi sang raja."


"Sampai kapan kau akan terus berpendapat seperti itu, apakah kau tidak menyadari akan kegelapan hatimu dan juga keserakahanmu?"


"Jangan sok suci kau! Memang aku sangat berambisi untuk menjadi raja, namun itu semua kandas lantaran ulahmu."


"Go Ruela.. Go Ruela. Sampai kapan kau akan seperti ini terus, tidak kah kau tahu bahwa takdir telah berpihak padaku."


"Persetan dengan takdir! Sekarang juga aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."


Go Ruela melesat dengan cepat dan mengerahkan seluruh kemampuannya, pertarungan pun kembali terjadi.


Splassss... Zub..


Pertarungan keduanya terdengar jelas, walaupun mereka berdua bertarung hanya mengandalkan tangan kosong.


Hingga beberapa serangan berhasil keduanya daratkan ditubuh lawan masing-masing, membuat keduanya terpental mundur.


Go Ruela merapalkan sebuah mantra, dan seketika itu tubuhnya seolah berubah menjadi sesosok iblis jahat berwarna merah darah.


"Hari ini akan aku balas semua penghinaan yang telah kau lakukan padaku dulu."


Lion Zo mencoba menghadapi serangan dari Go Ruela dengan kemampuan penuhnya, saat serangan Go Ruela beradu dengan benteng pertahanan Lion Zo, apa yang terjadi?


Ternyata serangan awal dari Go Ruela tak mampu menembus benteng pertahanan dari Lion Zo. "Cukup lumayan! Namun kau jangan senang dulu."


Serangan selanjutnya yang dilesatkan Go Ruela ternyata lebih kuat dari sebelumnya hingga kemudian membuat benteng pertahanan dari Lion Zo hancur.


Bersamaan dengan hancurnya benteng pertahanan, Lion Zo pun mengalami muntah darah. "Sial! Ternyata kemampuannya melebihi yang aku kira."


"Hahaha... Kenapa? Apakah kau terkejut dengan kekuatanku saat ini?"

__ADS_1


Go Ruela tak memberikan ruang celah untuk Lion Zo memulihkan diri, segera mungkin dirinya melesat dengan mengarahkan pukulan keras tepat mengenai perut Lion Zo.


Pukulan keras Go Ruela membuat Lion Zo terpental jauh dengan luka cukup serius pada bagian perutnya. "Uhuuk.." Lion Zo kembali memuntahkan darahnya, akan tetapi kali ini lebih banyak dari sebelumnya. "Ternyata aku masih bukan tandingannya, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menaikkan tingkat kekuatanku."


"Hahaha... Akhirnya dendam lama sebentar lagi akan berakhir, dan pastinya aku akan menjadi raja selanjutnya."


"Jangan senang dulu kau Go Ruela!" Lion Zo walaupun mengalami luka cukup serius, masih sempat memperingati Go Ruela. "Pasti kau sudah tahu apa akibatnya jika sampai dewa misterius mengetahuinya."


"Kenapa? Apakah kau mencoba memperingatkan ku! Tapi maaf saja, aku bukan Go Ruela yang dulu lagi. Lebih baik sekarang terimalah kematianmu!"


Go Ruela kembali hendak melesatkan pukulan kuat pada Lion Zo, namun entah darimana tiba-tiba sebuah bola-bola tanah menghalau laju serangan dari Go Ruela.


"Sialan!! Siapa yang berani ikut campur urusanku!" Go Ruela sangat marah besar saat serangannya tiba-tiba dihalau begitu saja.


Saat dirinya melihat ternyata serangan yang tiba-tiba tersebut berasal dari salah satu sosok yang sedang berdiri.


"Oh rupanya kamu sudah tidak sabar ingin menemui ajalmu! Tunggu sebentar setelah aku membunuhnya barulah kita selesaikan pertarungan kita yang tertunda."


Go Ruela tak menghiraukan Mo Can justru dirinya kembali melesatkan serangan untuk mengakhiri Lion Zo.


Namun lagi-lagi bola-bola tanah menghalau serangan Go Ruela. "Lancang! Kau sudah membuatku murka!"


Go Ruela tak jadi berurusan dengan Lion Zo dia membalikkan badan dan langsung melesat maju kearah Mo Can dan Monk Lie.


"Dasar binatang rendahan! Berani-beraninya kalian ikut campur permasalahan ku!"


Sambil terus melesatkan serangan Go Ruela masih sanggup untuk tertawa, sebab dirinya sangat yakin serangan bertubi-tubinya kali ini mampu menewaskan Monk Lie dan juga Mo Can.


"Hahaha.. Rasakan lah! Itu akibat dari ikut campurnya masalahku!"


Namun tidak disangka sebuah panah es melesat dengan cepat mengarah pada Go Ruela.


Penghindaran yang telat membuat panah es yang melesat mengenai bahu kiri Go Ruela, hingga menembusnya.


"Sialan! Ternyata kalian masih bisa hidup!"


"Apa kau fikir akan mudah untuk menghadapi kami berdua!"


Mo Can dan Monk Lie berjalan dengan rasa tenang. "Biarkan aku saja yang menghadapinya teman, sebaiknya kau duduk sambil mengamati saja."


"Oh baiklah jika memang itu yang kau mau, lagian juga aku bisa menghemat untuk mengeluarkan kekuatanku."


Monk Lie pun maju menghadapi Go Ruela sendirian, sebab dirinya sangat yakin bahwa Go Ruela masih bukan tandingannya walaupun Go Ruela telah melakukan persembahan darah.

__ADS_1


"Kalian berdua saja belum tentu sanggup untuk melawanku, tambah sekarang kau ingin mengahadapiku sendirian. Dasar bodoh!"


"Tak perlu kau banyak bicara, sebaiknya sekarang kita buktikan saja apakah kau akan sanggup menghadapi kekuatanku."


Mendadak Monk Lie merubah bentuk tubuhnya menjadi seekor raksasa.


Huaaa... Hourr....


Monk Lie teriak dengan sekencang-kencangnya hingga memekakkan telinga, bahkan Lion Zo serta Mo Can sampai melapisi tubuhnya dengan lapisan pelindung.


Sedangkan Go Ruela yang berada cukup dekat dengan Monk Lie sudah melapisi dengan lapisan pelindung tubuh sampai termundur beberapa langkah akibat teriakan kencang Monk Lie.


"Dasar monyet sialan! Kau fikir teriakanmu itu akan membuat diriku takut! Kau salah besar, justru aku makin bersemangat untuk menjadikan darahmu sebagai persembahan, agar nantinya diriku mampu menembus tingkatan yang tertinggi."


Huaaaarrrr... Duk.. Duk..


Monk Lie kembali berteriak sambil memukul-mukul dadanya.


"Monyet lancang! Terimalah hukuman dariku!"


Go Ruela mengangkat kedua tangannya keatas dengan bantuan dari batu merah darah, kekuatan milik Go Ruela kembali dinaikkan satu tingkat.


"Hujan Darah Kematian."


Go Ruela mengeluarkan jurus dari persembahan darah para binatang-binatang sebelumnya.


Hujan berwarna merah darah tiba-tiba turun dari atas langit mengguyur seluruh punjuru Cakrawala Malam.


"Hahaha.. Kali ini tidak hanya manusia binatang yang disini saja yang akan mempersembahkan darahnya, tapi juga seluruh penghuni cakrawala malam ini akan mempersembahkan darahnya padaku."


Namun saat hujan merah darah baru mengguyur seluruh kawasan dari cakrawala malam, tiba-tiba terdengar suara gemuruh di langit bersamaan dengan berhentinya hujan darah.


"Sungguh lancang!"


Duaaarrr....


Petir dengan kekuatan yang besar langsung menyambar kearah dimana Go Ruela berdiri.


Akan tetapi sambaran petir tersebut sedikit mampu ditahan oleh Go Ruela, walaupun akibatnya ia harus merelakan batu merah darah yang menjadi kartu utamanya hancur berkeping-keping.


"Uhuuk.. Sialan! Untung masih ada batu merah darah yang menyelamatkanku, walaupun membuatnya hancur berkeping-keping."


.....

__ADS_1


Saling follow di tiktok ya @Putrabungsu3393


__ADS_2