
Setelah masalah Heiun dan Heiuni sudah teratasi Walikota Tian Long pun mengantarkan guru Xinhai, Ning'er, Lourin dan juga Yinfeng untuk beristirahat disebuah ruang kamar yang telah disiapkan, karena hari menunjukkan sudah hampir gelap.
Seperti biasa kamar dua putri perguruan Macan Putih dibedakan dengan kamar milik Yinfeng dan guru Xinhai, terlihat kamar yang telah disediakan Walikota Tian Long sangat-sangat besar sekali.
Membuat Lourin dan Ning'er lebih nyaman untuk beristirahat, tidak seperti saat sedang berada di desa Shuijie sungguh sangat sempit dan kurang nyaman bagi keduanya untuk dapat tidur dengan nyenyak.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing dan bersiap untuk beristirahat, karena esok hari mereka akan menempuh perjalanan panjang untuk kembali ke perguruan Macan Putih.
***
Setelah seharian mereka tidak istirahat badan terasa pegal dan mata terasa lelah, hingga akhirnya mereka pun tidur semalaman dengan sangat nyenyaknya.
Di pagi harinya badan yang pegal dan tubuh yang kelelahan, kini terlihat segar kembali setelah bermandikan air yang terasa begitu segarnya seperti layaknya air di pegunungan.
Terlihat Lourin dan Ning'er yang semakin hari semakin cantik saat keduanya telah berpakaian rapih, dengan rambut yang sedikit terurai dan bibir yang makin terlihat merah merona namun Lourin sedikit berbeda dengan Ning'er. Senyuman khas Lourin terlihat lesung pipit pada pipinya menambah kemanisan senyumannya.
Berjalannya dua orang menghampiri Lourin dan Ning'er yang satu lebih terlihat tua namun belum lansia, yang satu lagi terlihat dewasa namun sebenarnya masih anak-anak.
"Kalian berdua sudah siap?" Tanya guru Xinhai.
"Sudah guru Xin." Jawaban serempak keduanya.
"Yinfeng.., Hari ini kamu terlihat berbeda ?" Tanya Lourin.
"Ahhh biasa saja tuh, berbeda gimana ?" Kata Yinfeng.
"Hari ini kamu terlihat lebih segar daripada hari kemarin." Ucap Lourin.
"Ya jelaslah kemarinkan Yinfeng sangat kelelahan setelah bertanding." Ucap, Ning'er yang tiba-tiba berbicara. "Benarkan Yinfeng ?"
"Hemm.. Iya." Jawab Yinfeng dengan bersenyum.
Saat mereka tengah asyik berbincang-bincang tiba-tiba terdengar seseorang berkata.
"Kalian sudah siap ?" Tanya, seseorang tersebut yang tidak lain Walikota Tian Long.
"Ya, kami sudah siap." Jawab guru Xinhai.
Terlihat sebuah kereta kuda telah siap di depan pintu dengan beberapa pengawalan, yang sengaja disiapkan untuk mengawal perjalanan mereka berempat pulang ke perguruan Macan Putih.
"Kami hanya bisa menyiapkan kereta kuda ini, walaupun tidak sebagus kereta kuda kerajaan." Ucap Walikota Tian Long.
__ADS_1
"Ahh, anda terlalu merendah justru kereta kuda ini sudah sangat bagus bagi kami." Ucap guru Xinhai.
"Lalu bagaimana dengan kuda-kuda kita guru Xin ?" Tanya Yinfeng.
"Kamu tidak melihat kuda kita sudah ditunggangi para pengawal itu." Ucap, guru Xinhai sambil menunjuk kearah kuda yang ditunggangi.
"Owh, aku tidak memperhatikan secara seksama." Ucap Yinfeng.
"Hahahahahaha."
Semua yang ada disitu tertawa mendengar ucapan Yinfeng.
"Baiklah Walikota Tian Long, kami berterimakasih banyak atas jamuan serta perlakuan anda yang begitu baik kepada kami, sehingga kami semua sangat-sangat berkesan atas perlakuan anda." Ucap guru Xinhai.
"Hemm.. Itu sudah kewajibanku untuk membuat kalian senyaman mungkin saat berada disini." Ucap Walikota Tian Long.
"Kalau begitu kami mohon pamit untuk kembali ke perguruan kami." Ucap guru Xinhai.
"Iya baiklah, buat kamu nak terus tingkatkan kekuatanmu dan kemampuanmu agar kau dapat bersaing di Turnamen Bergelar nantinya." Ucap, Walikota Tian Long sambil memegang kepala Yinfeng.
Setelah selesainya mereka berpamitan dan Walikota Tian Long pun mempersilahkan mereka untuk segera berangkat, karena matahari sudah hampir tinggi. Barulah mereka memulai perjalanannya kembali untuk pulang ke sebuah kota kecil yang terdapat perguruan didalamnya yaitu perguruan Macan Putih.
Dengan menaiki kereta mereka pun berangkat, memang jika dibandingkan dengan menunggangi kuda lebih lama sampainya ketika menaiki kereta kuda, karena kereta kuda lebih lambat jalannya.
"Hemmm.. Kita harus menghormati dan menghargai pemberian Walikota Tian Long ini." Ucap guru Xinhai.
"Tapi yang tadinya kita hanya membutuhkan satu minggu perjalanan dengan menunggangi kuda, sekarang bisa jadi dua minggu guru Xin." Ucap Yinfeng.
"Hemm.. Iya mau gimana lagi, kita nikmati saja lah." Ucap guru Xinhai.
"Bener kata guru Xin, kita harus menghormati pemberian Walikota Tian Long jika perjalanannya lebih lama ya kita nikmati saja, toh saya lebih suka dengan kereta ini." Kata Ning'er.
"Hemmm.. Baiklah." Ucap Yinfeng lesu.
Setelah menempuh cukup jauh perjalanan mereka pun mulai memasuki hutan, dimana hutan tersebut terlihat begitu gelap berbeda dari sebelumnya saat mereka berangkat hendak menuju Kota Tianjien.
"Mengapa hutan ini terlihat berbeda dari sebelumnya ?" Kata Lourin.
"Hemmm.. Aku merasa ada yang tidak beres." Ucap guru Xinhai.
"Iya guru Xin, aku pun demikian." Ucap Yinfeng.
__ADS_1
Ternyata firasat mereka tidak salah setelah cukup dalam memasuki hutan, tiba-tiba dijalan terdapat kayu yang menghalangi perjalanan mereka. Secara reflek sang kusir menghentikan laju kudanya.
"Ada apa kusir ?" Tanya guru Xinhai.
"Sepertinya ada yang sengaja menghadang perjalanan kita, dengan meletakka kayu besar ditengah jalan." Jawab sang kusir.
"Kalian semua tetap didalam biar saya dan para pengawal yang menyelidiki." Ucap sang kusir.
Saat sang kusir dan empat pengawal hendak menyingkirkan batang kayu besar, tiba-tiba sebuah pisau kecil mengarah kearah mereka. Namun karena kekuatan mereka setara dengan tingkat langit. Itu bukan hambatan bagi kusir dan pengawal untuk menghindari serangan tersebut.
"Cukup cepat juga kalian dapat menghindari pisau terbang milikku." Teriak, seseorang dari atas pohon disusul dengan munculnya semua anak buahnya yang ternyata sudah mengepung mereka semua.
Guru Xinhai dan Yinfeng mencoba melihat dari balik tirai yang mereka singkapkan sedikit.
"Itu bukannya para perampok Kalajengking Merah !!" Ucap Yinfeng pelan.
"Iya kau benar Yinfeng, mereka dari kelompok kalajengking merah." Kata guru Xinhai.
"Serahkan seluruh barang-barang kalian jika kalian ingin selamat." Teriak seseorang yang melemparkan pisau kecil.
"Hemmm.. Jika kami tidak mau, kau mau apa ?" Kata sang kusir.
"Jika kalian tidak mau, baik anak buah serang mereka." Seru sang pemimpin kelompok.
Seketika semua anak buah menyerang sang kusir dan keempat pengawal, namun tidak sulit bagi sang kusir dan empat pengawal untuk mengalahkan anak buah kelompok tersebut satu persatu.
Hingga dalam waktu sekejap hanya tersisa sang pemimpin kelompok saja, namun tak pernah mereka duga sang pemimpin kelompok itu dengan segera meniupkan peluit . Tuiiiiiitttt.....
Tidak lama dari tiupan peluit tersebut muncul tiga orang yang kekuatannya setara dengan tingkat langit, saat ketiganya melihat telah banyak anak buah yang mati tergeletak di tanah baru ketiganya angkat suara.
"Boujee.., Apakah kau tidak sanggup menghadapi mereka sekaligus ?" Teriak salah satu dari tiga orang tersebut.
"Aku bukannya tidak sanggup Miubee, tapi aku tidak enak jika nanti mereka berlima dapat aku kalahkan dengan mudah." Teriak Boujee yang berlagak hebat.
"Ooo.. Yasudah, tunggu apa lagi cepat lawan mereka." Teriak Miubee.
"Hehehe, aku pilih laki-laki yang disana saja." Ucap, Boujee sambil menunjuk kearah salah satu pengawal.
"Hemm.. Dasar mulut singa, hanya omongan saja kau besarkan." Teriak Miubee.
Setelah berkata demikian baru ketiga orang tersebut maju meyerang.
__ADS_1
........