
Didalam ruang perawatan Ning'er sudah cukup membaik dari luka-luka akibat ledakan dua jurus yang saling beradu, Lourin yang selalu menemani Ning'er ketika di ruang perawatan sedangkan guru Xinhai dan Yinfeng berada di luar guna memastikan jalannya pertandingan.
"Ning'er.., bagaimana kamu dapat mempelajari jurus hebat itu ?" Tanya Lourin.
"Sebelumnya aku sudah mencoba jurus itu namun aku gagal, tapi tidak di sangka ketika berhadapan dengan Felixian aku dapat mengeluarkan jurus tersebut." Ucap Ning'er.
"Tidak disangaka ternyata Felixian memang hebat, hingga dirinya mampu bertahan dari seranganmu." Ucap Lourin.
"Kau harus berhati-hati Lourin, karena mungkin kali ini Felixian memiliki siasat lain untuk dapat mengalahkanmu." Ucap Ning'er.
"Aku juga sudah mempersiapkan sebuah jurus untuk berhadapan dengannya nanti." Ucap Lourin.
Saat Lourin dan Ning'er sedang berbincang-bincang guru Xinhai dan Yinfeng masuk ke dalam ruang perawatan Ning'er.
"Ning'er.., bagaimana keadaanmu ?" Tanya guru Xinhai.
"Aku sudah lebih baikkan guru Xin." Jawab Ning'er.
"Lourin sekarang giliranmu untuk menaiki Arena, kamu harus berhati-hati dengan Felixian." Ucap guru Xinhai.
"Tenang guru Xin, aku tidak akan mengecewakan kalian dan juga perguruan." Jawab Lourin.
Sedangkan di luar ruang perawatan sang wasit sudah menaiki Arena pertarungan, dan panitia pun mulai memanggil peserta selanjutnya yang akan bertarung yaitu Lourin dari perguruan Macan Putih akan berhadapan dengan Felixian dari perguruan Macan Kumbang.
Terlihat Felixian menaiki Arena seolah tidak pernah terjadi apa-apa padanya, setelah beradu jurus dengan Ning'er pada pertarungan sebelumnya membuatnya kini lebih bersemangat untuk menghadapi Lourin.
Lourin mulai melangkah keluar dari ruang perawatan untuk menuju Arena dan siap melawan Felixian, tidak lupa Ning'er guru Xinhai dan juga Yinfeng memberikan semangat pada Lourin mereka juga berdoa agar Lourin dapat memenangkan pertarungan.
Kedua peserta sudah menaiki Arena pertarungan.
Dooooooong....
Suara gong yang menandakan pertarungan di mulai.
"Hay cantik kenapa kau tidak menyerah saja, aku tidak mau melukai kulit putih mulusmu itu." Ucap Felixian.
"Kau sudah membuat temanku terluka, aku tidak akan mengampunimu." Bentak Lourin.
Seketika Lourin mengeluarkan pedang dari sarungnya dan segera melesat maju menyerang Felixian, dengan mengeluarkan senjatanya Felixian membalas serangan pedang milik Lourin.
Traaaang.. Traaaaang..
Terdengar suara yang nyaring akibat benturan kedua senjata tersebut, hingga menimbulkan percikan-percikan api saat dua senjata itu bertemu.
Dengan menari-nari dan meliuk-liuk Lourin memainkan pedangnya laksana penari balet yang memainkan seutas tali, serangan demi serangan mampu Felixian hadapi dengan senjatanya itu.
Hingga keduanya terlihat imbang saat beradu serang, namun tak terasa sudah begitu lama keduanya beradu berbagai serangan sampai beberapa kali memutari Arena pertarungan.
Namun akhirnya Lourin menaikan ritme serangannya ke ilmu pedang yang lebih tinggi, dengan mengkombinasi serangan pedangnya dengan elemen angin miliknya.
__ADS_1
Yang terlihat berbagai hembusan-hembusan angin kencang timbul dari ayunan maupun tarian pedang Lourin, membuat Felixian sempat merasa tertekan dengan serangan Lourin yang makin terlihat cepat dan terlihat makin kuat.
Hingga akhirnya Felixian meningkatkan kekuatan serang pada senjata miliknya, yang kemudian beradu kembali dengan serangan milik Lourin sampai terlihat berbagai percikan-percikan api yang sangat besar disusul dengan angin yang semakin berhembus kencang di Arena.
Setelah beberapa kali beradu serangan yang sangat kuat sampai-sampai menimbulkan sebuah retakan-retakan pada lantai Arena, hingga muncul suara yang amat kuat terdengar dari atas Arena.
Duaaaaarrrrr....
Nampak keduanya sampai terpental kebelakang antara Felixian maupun Lourin hingga hampir keluar dari Arena.
"Uhh, ternyata anak ini lebih kuat dari anak perempuan sebelumnya." Gumam Felixian.
"Pantas saja Ning'er bisa terluka parah, ternyata Felixian ini memang benar-benar kuat." Gumam Lourin.
Keduanya pun saling berpandang-pandangan sambil memegang senjata masing-masing dengan nafas yang terengah-engah.
Lourin tak mau menyia-nyiakan waktunya setelah dirasa kekuatannya cukup setabil kini dia kembali mengeluarkan sebuah jurus dari elemen anginnya yaitu pusaran angin.
Membuat angin disekitar mendadak berkumpul membentuk pusaran angin, banyak yang terheran-heran akan kekuatan Lourin. Namun banyak juga yang beranggapan bahwa perguruan Macan Putih memang pantas di sandingkan dengan perguruan Macan Kumbang maupun kerajaan XinZue.
Karena kekuatan dari murid Macan Putih ternyata tidak kalah hebat dengan murid dari perguruan Macan Kumbang, yang mana peserta dari kerajaan XinZue dapat mereka kalahkan dengan sangat mudahnya.
Sebuah pusaran angin di arahkan ke arah Felixian membuat Felixian tak sempat membuat pertahanan diri, yang akhirnya dirinya tersedot masuk kedalam pusaran angin tersebut.
Tapi walaupun dirinya tersedot masuk kedalam pusaran angin milik Lourin namun tidak membuat Felixian terluka, hingga dari dalam pusaran angin itu terlihat sebuah api yang sangat besar sedikit demi sedikit memenuhi pusaran angin.
Terlihat seseorang keluar dari dalam pusaran api tersebut dengan cara melompat, ternyata Felixian mampu mamatahkan serangan pusaran angin milik Lourin.
"Hahaha, pusaran anginmu tidak akan mempan untukku." Teriak, Felixian dengan sombongnya.
Namun Lourin tidak menanggapi ucapan Felixian hingga dirinya meneriakkan sebuah jurus kedua yaitu jurus Angin Tornado.
Pusaran angin yang tadi terselimuti oleh api milik Felixian mendadak api tersebut kalah dengan jumlah angin yang lebih banyak dan membentuk pusaran yang lebih besar.
Sebuah angin tornado muncul yang membuat seluruh penonton hendak tersedot kedalamnya, namun tiba-tiba prisai pelindung sudah siap untuk menutupi Arena pertarungan.
Membuat pusaran angin tornado tersebut tidak menimbulkan kerusakan dan tidak membuat para penonton tersedot masuk di dalamnya.
Felixian sempat manahan agar tidak tersedot masuk di dalamnya dengan menggunakan kekuatan pijakan kuat pada kaki hingga menenggelamkan sebagian kakinya. Namun tetap saja dirinya sempat kualahan menahan agar tidak tersedot masuk.
Hingga jurus kedua pun dia keluarkan yaitu Guntur Api, jadi antara angin tornado milik Lourin dan guntur api milik Felixian keduanya saling beradu, hingga menimbulkan sebuah ledakan yang sangat besar sampai mampu meretakkan prisai pelindung pada lapisan pertama.
Dengan cepat para panitia melapisi Arena dengan lapisan kedua dan ketiga, membuat ledakan besar tersebut tidak dapat keluar dari Arena pertarungan.
Sebuah asap putih pekat menyelimuti dalam prisai arena sampai tidak kelihatan dua pertarung antara Lourin maupun Felixian, namun saat asap tersebut mulai menipis sedikit demi sedikit terlihatlah sesosok laki-laki sedang tertunduk dengan posisi lutut menyentuh lantai.
Darah segar mengalir dari mulut laki-laki itu, sedangkan di satu sisi sebuah pusaran angin kecil terlihat dan di dalamnya terdapat sesosok wanita sedang berdiri dengan pedang di tangan kanannya. Kemudian pusaran angin tersebut menghilang dan sesosok wanita itu mulai mendekati Felixian yang tidak lain adalah Lourin.
"Hahaha, hanya segini kemampuanmu ??" Ucap Lourin.
__ADS_1
"Hemm, ternyata kau lebih hebat dari yang aku bayangkan, namun jangan senang dulu aku masih belum serius." Ucap Felixian.
"Hah, kau tidak berhak untuk menantang Yinfeng, baru melawanku saja kau sudah kualahan apa lagi kau berhadapan dengan Yinfeng." Seru Lourin.
"Kurang ajar, jangan kau remehkan kemampuankuuu."
Yeaaaaaaahhhh....
Teriak Felixian dengan dibarengi kemunculan sebuah aura merah pekat muncul dari tubuh Felixian, dengan mata yang memerah dan rambut juga mulai memerah seperti layaknya api yang berkobar di kepalanya.
"Kau benar-benar lawan yang merepotkan hingga mampu membuatku mengeluarkan kemampuan rahasiaku. Padahal ini akan aku persiapkan untuk menghadapi temanmu itu." Ucap Felixian.
Lourin sempat terkejut dengan perubahan yang di tampakkan Felixian, bukan cuman Lourin yang terkejut ternyata semua penonton yang hadir baik dari guru maupun murid perguruan, di buat tercengang heran dengan perubahan dari felixian.
Guru Xinhai dan Yinfeng sedikit khawatir akan keselamatan Lourin, namun keduanya tak berdaya untuk bisa menyelamatkan Lourin hanya doa dan harapan yang bisa mereka ucapkan.
Lourin ternyata masih menyimpan satu kekuatan yang telah dirinya pelajari jauh-jauh hari dengan menggabungkan semua jurus dari elemen anginnya.
BADAI ANGIN TORNADO
Sebuah teriakkan Lourin seakan seperti sebuah sambaran petir yang dibarengi mucul badai angin yang sangat kencang di susul muncul sebuah pusaran angin yang sangat besar.
Tapi itu tidak berpengaruh bagi Felixian yang sudah berubah penampilan dengan rambut api mata merah dan di selimuti api kemerah-merahan dari tubuhnya, dengan sebuah jari telunjuk yang di arahkan ke arah Lourin.
Seketika sebuah kilatan api kecil muncul dari telunjuk Felixian yang melesat maju mengarah ke Lourin, tanpa persiapan yang matang akhirnya Lourin terkena api kecil yang di lesatkan Felixian.
Hingga membuatnya terluka pada bagian dada kanan yang hampir menembus kebelakang, seketika Badai Angin Tornado yang dikeluarkan langsung menghilang bersamaan dengan terjatuhnya Lourin ke lantai Arena dan tak sadarkan diri.
Louriiiiinnn....
Sebuah teriakkan keras di ucapkan oleh Yinfeng dan guru Xinhai, tidak terkecuali Ning'er yang ternyata melihat pertandingan Lourin dengan Felixian dari sudut ruang perawatan.
Felixian sempat ingin menambahkan sebuah serangan kedua pada Lourin untuk membunuhnya, namun ternyata Yinfeng telah lebih dulu menangkis serangan kedua dari Felixian. Dengan menerobos secara paksa dari lapisan prisai pelindung.
"Kau."
Teriak, Yinfeng pada Felixian yang menunjuk ke arahnya dengan tatapan amarah.
Namun Felixian hanya membalas tatapan Yinfeng dengan sebuah tawa yang besar, membuat Yinfeng hendak maju menyerang Felixian. Namun dengan cepat guru Xinhai memegang tangan Yinfeng agar tidak gegabah.
Sang wasit segera menyuruh tim medis untuk membawa Lourin ke ruang perawatan agar segera mendapatkan penanganan, Yinfeng dan guru Xinhai mengikuti tim medis yang membawa Lourin ke ruang perawatan.
Untung saja Yinfeng memiliki sebuah buah untuk memulihkan keadaan Lourin yaitu anggur hitam yang dapat dengan cepat memulihkan lukanya, sambil di bantu pengobatan dengan tenaga dalam akhirnya Lourin dapat siuman setelah sempat tak sadarkan diri.
Di Arena sang wasit mengumumkan bahwa yang berhak maju ke delapan besar dari Arena 4 yaitu Felixian dari perguruan Macan Kumbang dan Yinfeng dari perguruan Macan Putih.
Yinfeng yang mendengar itu hanya berbisik dalam hati dan akan membalas perlakuan Felixian pada temannya Ning'er dan juga Lourin saat dirinya di hadapkan dengan Felixian.
.....
__ADS_1