Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Tantangan Bertarung


__ADS_3

Mo Can (Yin Feng) yang sempat kebingungan saat semua mata memandang kearahnya. "Pastia ada yang tidak beres ini."


Saat Monk Lie mulai berjalan mendekati Mo Can, secara spontan Mo Can langsung mendesak Monk Lie untuk mengatakan sesuatu yang telah direncanakannya.


"Apa yang sebenarnya telah kau rundingkan dengan orang disana? Apa jangan-jangan kau..."


Tak dilanjutkan lagi Mo Can sudah dapat menebak apa yang dibicarakan Monk Lie dengan Bo You.


"Tenanglah kawan! Justru ini kesempatan bagus untukmu, saat kau memenangkan pertarungan kau bukan hanya mendapatkan mutiara binatang iblis, melainkan juga akan mendapatkan batu kristal."


"Tapi tidak masalah, justru aku sangat berterimakasih padamu, sebab aku dari awal sangat ingin menguji batas kemampun mereka."


Yin Feng mulai berjalan memasuki arena pertarungan, namun Monk Lie menghentikan langkahnya dan memberitahunya sesuatu. "Tapi kau harus ingat! Jangan sekali-kali kau keluarkan pedangmu itu atau senjat apapun, sebab disini mereka semua hanya mengandalkan tubuh fisik saja."


"Hemm.. Baiklah aku tidak akan pernah mengeluarkan senjata apapun."


Semua mata yang memandang dirinya sangat merendahkan akan kekuatan dari Mo Can (Yin Feng) yang jauh dibawah ketiganya.


"Bodoh sekali anak itu, bisa-bisanya dia menantang juara sejati di arena ini."


"Iya, dapat kepercayaan diri darimana dia sehingga berani menantang ketiga bersaudara."


Percakapan antara sesama penonton yang sangat memandang rendah Yin Feng, padahal mereka belum mengetahui kekuatan sebenarnya dari Yin Feng.


Dari sudut ketiga bersaudara Bo Ruang sudah tidak sabar ingin menguliti Yin Feng, yang memiliki keberanian untuk menantang mereka salah satu dari mereka bertiga.


"Tidak perlu kakakku yang turun tangan, cukup aku sendiri sudah mampu untuk membinasakan kesombonganmu itu."


"Tapi aku sedikit malas untuk meladenimu."


"Haha.. Bilang saja jika kau sebenarnya memang takut, namun sudah terlambat bagimu untuk meminta pengampunan dariku."


"Takut!! Justru aku malas jika hanya melawan dirimu saja, mengapa tidak kalian bertiga maju saja secara bersamaan."


"Jangan terlalu sombong! Jika hanya untuk menghadapimu aku saja pun sudah cukup, tak perlu kau suruh kami bertiga maju bersamaan."


"Aku cukup malas untuk berbasa-basi."

__ADS_1


Secara cepat Yin Feng melesat maju untuk menyerang Bo Ruang, tanpa adanya persiapan yang matang dari Bo Ruang membuat serangan Yin Feng mampu mendarat tepat pada dada Bo Ruang.


Yang mengakibatkannya terpental keluar arena pertarungan dan menabrak dinding pembatas, dalam sekejap suasana menjadi hening akibat keterkejutan mereka semua akan aksi yang dilakukan Yin Feng barusan.


"Apa!! Apakah aku sedang bermimpi?"


"Bagaimana bisa?"


Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut para penonton yang merasa kejadian barusan seperti tidak masuk akal.


Begitupun dengan Go Ruela dan juga Bo Dak yang menjadi menegang lantaran tahu saudara mereka dapat terpental hanya mengandalkan satu pukulan.


Sedangkan keadaan dari Bo Ruang sedikit merasa sesak nafas, walaupun sempat sedikit memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Sialan! Ternyata kau sangat licik menyerangku dengan secara tiba-tiba."


"Sudah tidak perlu basa-basi, segera kerahkan seluruh kemampuanmu."


"Baik, kau yang memaksaku untuk melakukan ini."


Kekuatan Bo Ruang mulai bergejolak hebat seakan sudah mencapai puncaknya, dengan memusatkan kekuatan pada kepalan tangan kanan, Bo Ruang melesat dengan cepat menyerang Yin Feng.


Yin Feng yang sudah siap menghadapi kekuatan penuh dari Bo Ruang, tak ingin diam begitu saja dia memilih untuk beradu pukulan.


Saat kedua pukulan tersebut berbenturan terjadilah ledakan yang sangat hebat, sampai menggetarkan tempat arena pertarungan.


Asap putih pekat menyelimuti arena pertarungan, yang hanya memperlihatkan sosok Bo Ruang yang masih kokoh berdiri.


"Sudah tamat macan itu, siapa suruh dia berani menantang tiga bersaudara."


"Benar! Melawan Bo Ruang saja dia sudah tewas duluan, begitu menyuruh ketiganya untuk maju bersamaan."


Celotehan para penonton yang merasa bahwa Yin Feng (Mo Can) telah tewas akibat serangan dari Bo Ruang.


"Hahaha.. Itulah akibatnya saat kau memutuskan untuk menantang kami bertiga, baru menghadapi jurusku saja kau sudah mati." Bo Ruang merasa bahwa pukulannya dapat menewaskan Mo Can (Yin Feng) dengan tertawa senang melihat area sekitar Mo Can hancur.


Namun tiba-tiba terdengar suara dari kepulan asap putih. "Siapa yang kau anggap sudah mati?"

__ADS_1


Bayang-bayang dari balik asap lama kelamaan mulai nampak jelas akan sosok Mo Can yang tidak terluka sedikit pun, bahkan masih dapat tersenyum.


Bo Ruang sangat tidak percaya bahwa pukulan terkuatnya tidak sedikit pun dapat melukai Mo Can. "Ini tidak mungkin! Jelas-jelas kekuatannya dua tingkat dibawahku."


Bahkan semua para penonton tak dapat memejamkan matanya, saat Mo Can berhasil selamat dari pukulan terkuat Bo Ruang.


Padahal para petarung sebelum-sebelumnya yang bahkan kekuatan mereka lebih tinggi dari Mo Can, dalam sekejap langsung tewas saat pukulan terkuat Bo Ruang mengenai tubuh mereka.


"Nampaknya ini akan jadi semakin menarik!" Go Ruela terus mengamati kemampuan dari Mo Can, yang saat ini membuat dirinya sangat terkesima.


"Tak perlu terkejut seperti itu, cukup siapkanlah mental karena sebentar lagi kau akan menghadapi kematianmu."


Secara cepat Mo Can langsung maju menyerang Bo Ruang yang masih dalam keadaan terpana menggunakan pukulan yang sudah dilapisi kekuatan.


Pukulan kuat Mo Can ternyata tak mampu ditahan oleh Bo Ruang hingga mengakibatkan pukulan tersebut menembus ke organ bagian dalam Bo Ruang yaitu jantungnya, sampai pecah dan darah segar pun langsung menyembur keluar.


Melihat hal demikian Bo Dak dan Go Ruela merasa marah dan langsung melompat memasuki arena pertarungan. "Dasar kau macan sialan! Berani-beraninya kau membunuhnya!"


Bo Dak yang merasa sangat marah sebab Bo Ruang termasuk yang selalu menemaninya dan yang selalu membuatnya bersemangat.


"Kenapa? Apakah kalian tidak terima? Bukankah sudah aku katakan sebelumnya untuk maju secara bersamaan."


"Jangan kau fikir setelah kau membunuh dirinya, diriku akan sedih! Justru aku ucapkan terimakasih karena sudah membantuku menyingkirkan sampah itu."


Mendengar perkataan dari Go Ruela mendadak Bo Dak langsung terkejut dan tak terima. "Apa yang barusan kau katakan Go Ruela? Kau menganggap dia adalah sampah! Ingat kita bertiga adalah suadara."


"Memang kita bertiga adalah saudara, tapi kan sudah jelas bahwa akulah yang terkuat diantara kalian."


"Ooh.. Jadi kau menganggap Bo Ruang bahkan juga diriku termasuk sampah, dan hanya menjadi beban buatmu?"


"Memang kenyataannya begitu."


Dengan sombongnya Go Ruela mengatakan hal demikian tanpa memperdulikan perasaan Bo Dak, serta Bo Ruang yang telah tiada.


"Baik, akan aku buktikan bahwa aku bukanlah sampah yang kau maksud." Bo Dak sangat geram bukan hanya pada Mo Can yang telah membunuh Bo Ruang, melainkan juga kepada Go Ruela yang dianggapnya sebagai kakak tertua.


......

__ADS_1


__ADS_2