Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Pertarungan 8 Besar 3


__ADS_3

Setelah Roulan memenangkan pertarungannya dengan Jienli, wasit Mubai mulai mengumumkan untuk pertarungan selanjutnya.


"Untuk pertarungan selanjutnya yang akan menaiki arena Yinfeng dari perguruan Macan Putih akan berhadapan dengan Batian dari perguruan Badak Merah."


Sebelum Yinfeng menaiki arena Lourin sempat menghampiri Yinfeng untuk memberikan sesuatu.


"Yinfeng..., Bawa ini bersamamu agar kau selalu beruntung." Ujar, Lourin dengan memberikan sebuah batu permata berwarna kuning keemasan.


Yinfeng yang awalnya malu untuk menerima pemberian Lourin, akhirnya menerimanya karena takut membuat Lourin jadi kecewa dan sedih. Ning'er yang melihat Lourin memberikan batu permata kepada Yinfeng sempat merasa sedikit cemburu.


"Kenapa ketika aku melihat Lourin dan Yinfeng berdekatan hatiku terasa sakit." Gumam, Ning'er yang belum mengetahui jika ternyata dirinya juga mulai timbul rasa suka pada Yinfeng.


"Terimakasih Lourin, akan selalu aku bawa pemberianmu ini kemana pun aku pergi." Ucap, Yinfeng yang menghargai pemberian Lourin.


Yinfeng berjalan menaiki arena terlihat cukup tenang dan santai, tanpa ada rasa ketakutan di wajahnya dengan senyuman kecil yang mampu membuat orang merasa sejuk dan damai saat melihatnya.


Dari belakang Batian menyusul Yinfeng yang berjalan dengan hentakan kaki terdengar cukup keras, hingga terdengar ke seluruh penonton maupun panitia. Padahal awal ketika dirinya bertarung tidak pernah menampakkan hal seperti itu, namun kali ini ketika dirinya memasuki putaran 8 besar dan di hadapkan dengan Yinfeng.


Seakan Batian hendak menunjukkan bahwa dirinya adalah yang terkuat, supaya musuh yang menyaksikannya akan merasa takut terlebih dahulu. Tapi tindakannya itu salah jika di tujukan untuk menakut-nakuti Yinfeng.


Karena sudah banyak yang mengetahui akan kekuatan Yinfeng, walaupun sebenarnya Yinfeng belum menggunakan seluruh kemampuannya pada Turnamen ini. Yinfeng akan mengeluarkan seluruh kemampuannya tatkala lawan benar-benar dapat membuatnya tersudut dan tertekan.


Mereka berdua sudah berada di atas arena dengan saling memberi hormat kepada Wali Kota Tianjien dan perwakilan dari kerajaan XienZue, barulah wasit Mubai menyuruh Yinfeng untuk memilih senjata terlebih dahulu baru disusul oleh Batian.


Yinfeng yang tanpa ragu memilih sebuah senjata berbentuk pedang panjang melebihi ukuran badannya, sontak para penonton baik itu guru maupun murid menertawakannya karena seperti lelucan bagi mereka.


"Hahaha.. Anak itu terlihat seperti lelucon saja." Ucap, Felixian dari bangku peserta.


Bagaimana tidak lucu karena antara Yinfeng dan pedang yang dipilihnya, lebih tinggian pedang yang telah dipilihnya. Namun Yinfeng menanggapi semua lontaran negatif yang ditujukan padanya seperti sebuah motivasi baginya untuk dapat menguasai apa yang tak mungkin bagi orang lain.


Sedangkan Batian lebih memilih sebuah senjata berbentuk dua bola besi kecil yang berduri tajam dengan seutas rantai, saat dirinya telah memilih senjata tersebut langsung diputar-putarkan dengan menatap tajam kearah Yinfeng.


Setelah keduanya sudah memilih senjatanya masing-masing, barulah wasit Mubai memberikan aba-aba jika pertarungan akan dimulai.


Dooooooong....


Pertarungan pun dimulai.


Terlihat Batian sangat semangat dengan terus memutar-mutar senjata dengan kedua tangannya, sambil senyam-senyum sinis ke arah Yinfeng. Lalu dengan cepat Batian maju untuk menghantamkan bola duri di tangan kanannya kepada Yinfeng.


Duaaaarrr..

__ADS_1


Terdengar ledakan saat bola duri tajam milik Batian yang tidak mengenai Yinfeng, melainkan menghantam lantai arena. Ternyata dengan sangat cepat Yinfeng menghindari hantaman duri tajam milik Batian.


Namun melihat hantaman bola duri tajam pada tangan kanannya tidak mengenai Yinfeng, Batian kemudian menghantamkan kembali bola duri tajam dari tangan kirinya.


Duaaaar...


Terdengar kembali suara ledakan dari bola duri tajam milik Batian yang menghantam lantai arena.


"Hemm.. Cukup cepat juga kau menghindari hantamanku." Ucap Batian.


Yinfeng yang masih belum menggunakan senjatanya hanya mencoba menghindari setiap hantaman Batian, namun pandangan para murid dan guru berbeda. Mereka yang memandang Yinfeng beranggapan bahwa Yinfeng tidak dapat menggunakan senjata panjang tersebut.


"Jika tidak bisa menggunakan senjata itu, kenapa dipilih." Ucap sebagian murid perguruan lain.


Batian mulai menyerang kembali kali ini dirinya hendak menghantamkan dua bola duri tajam dengan bersamaan ke arah Yinfeng.


Traaaang... Traaang...


Terlihat kali ini Yinfeng menggunakan senjatanya untuk membalas hantaman bola duri tajam milik Batian, hingga terdengar suara yang nyaring dari dua senjata yang berbenturan.


Batian tidak memberikan Yinfeng kesempatan walaupun hanya sebentar dengan terus menghantamkan bola duri tajam ke arah Yinfeng.


Traaaang.. Duaaaaarrr....


Pokoknya Batian tidak membiarkan Yinfeng menarik nafas dengan puas, hingga pada akhirnya Batian mulai merasa kelelahan sendiri karena memaksakan untuk terus menyerangan Yinfeng.


Yinfeng terlihat lebih tenang dengan nafas yang tidak memperlihatkan kelelahan, berbeda dengan Batian yang terlihat sangat kelelahan akibat menyerang Yinfeng dengan membabi-buta.


Yinfeng yang melihat Batian bernafas tidak teratur menandakan bahwa dirinya kelelahan, akhirnya mencoba mengayunkan pedangnya dengan bantuan sedikit tenaga dalam dan mencoba akan keakuratan jurus cakaran harimau walaupun tidak menggunakan pedang Harimau Perak.


Wuuuuushh....


Ternyata Yinfeng baru bisa mengeluarkan tiga cakaran harimau yang kemudian melesat maju menyerang Batian, namun dengan mudah Batian hindari.


"Hah.. Hanya serangan seperti itu hendak melukaiku ? Jangan mimpi kau..."


Teriak Batian meledek Yinfeng.


Namun bagi Yinfeng itu sudah sangat bagus yang mampu mengeluarkan jurus cakaran harimau walaupun tidak menggunakan pedang Harimau Perak.


Batian yang nafasnya mulai stabil kembali maju untuk menghantamkan satu hantaman kuat kearah Yinfeng, ternyata Yinfeng balas hantaman Batian dengan melemparkan sebuah bola es cukup besar, yang membuat hantaman bola duri tajam milik Batian beradu dengan bola es milik Yinfeng.

__ADS_1


Jeduaaaaarrr...


Sebuah ledakan terdengar dari bola duri tajam milik Batian yang beradu dengan bola es milik Yinfeng, hingga sebuah serpihan-serpihan es bertebaran keluar arena.


Batian makin terlihat emosi karena setiap hantamannya selalu saja dapat di patahkan oleh Yinfeng, akhirnya bola duri tajam diletakkannya, dan kini Batian ingin melawan Yinfeng dengan tangan kosong.


Yinfeng yang melihat Batian meletakkan senjatanya di lantai, kemudian mengikuti Batian dengan meletakkan senjatanya di lantai juga. Mereka pun hendak beradu serangan dengan tangan kosong.


Batian memulai dengan meningkatakan kekuatan dan memusatkan tenaga ke genggamannya, hingga terlihat percikan-percikan kilat putih dari tangannya.


Sedangkan Yinfeng hanya mencoba menggunakan elemen es yang dipadukan dengan elemen apinya, dan memusatkan pada genggamannya hingga dari tangan Yinfeng terselimuti sebuah asap putih tipis bercampur dengan warna merah menyala.


Jurus Tinjuan Badak


Teriak Batian dengan melesat maju hendak menghantamkan sebuah tinjuan keras ke arah Yinfeng.


Yinfeng yang sudah siap dengan manyatukan dua elemennya yaitu elemen es dan api, yang telah di pusatkan pada genggamannya. Seketika Yinfeng ikut maju untuk beradu tinjuan dengan Batian.


Duaaaaaaaarrrrrr....


Sebuah ledakan hebat terjadi di atas arena pertarungan, sampai arena pertarungan terselimuti oleh asap putih tebal.


Saat asap putih tebal mulai memudar terlihat Batian masih berdiri dengan nafas terengah-engah, namun berbeda dengan Yinfeng yang terlihat berdiri dengan nafas lebih stabil.


"Ternyata anak ini tidak bisa diremehkan." Gumam, Batian dengan nafas yang tidak stabil.


Yinfeng ingin segera mengakhiri pertarungan dengan kembali melesat maju mengeluarkan pukulannya kearah Batian, Batian dengan nafas tersendat-sendat mencoba menahan pukulan Yinfeng dengan tinjuan badaknya walaupun tenaganya tidak sebesar yang tadi.


Duaaaaarrr....


Kembali terdengar ledakan dari dua pukulan yang beradu, hingga sampai membuat Batian terpental kebelakang dengan sedikit memuntahkan darah.


Serangan yang beradu cukup membuat Batian merasa sakit pada tangannya yang terlihat sedikit memar, namun Yinfeng kali ini tidak membiarkan Batian untuk menstabilkan kekuatannya.


Dengan kembali melesat maju dan mengarahkan sebuah pukulan keras ke arah Batian, Batian mencoba menyilangkan kedua tangannya untuk menahan pukulan Yinfeng dengan sisa-sisa tenaganya.


Jeduaaaakkk.. Kraakkk..


Sebuah pukulan Yinfeng yang ditahan dengan sialangan kedua tangan Batian membuat terdengar retakan pada tulang tangan Batian, dan membuat Batian terpental keluar arena dengan posisi terduduk dengan memuntahkan banyak darah.


Namun tidak begitu fatal hanya membuat tulang tangan Batian terasa seperti patah, akhirnya wasit Mubai menyuruh tim medis membawa Batian ke ruang perawatan.

__ADS_1


Kemudian wasit Mubai mengumumkan bahwa pertarungan babak delapan besar kali ketiga dimenangkan oleh Yinfeng dari perguruan Macan Putih.


......


__ADS_2