
"Jadi selama ini Aku sudah salah persepsi, bahwa Permata Api Abadi adalah yang memberiku kekuatan ini." Gumam Yinfeng
"Namun Aku sudah cukup bangga, telah mendapatkan keduanya. Hehehe."
"Baik jika demikian. Akan Aku dapatkan Mutiara Hitam itu, agar Aku selalu bertambah kuat." Gumam Yinfeng.
Setelah Yinfeng mengetahui bahwa Dua Batu Mulia yang terdapat didalam jiwanya membutuhkan begitu banyak nutrisi ia seger memusatkan fikiran dan hatinya dengan memejamkan mata, untuk mencari keberadaan dari Mutiara Hitam tersebut.
Tiba-tiba dari balik gelapnya tempat dimensi itu, muncul berbagai jaring laksana jaring Laba-laba. Yang kemudian melilit Yinfeng hingga dirinya tak dapt bergerak sesikit pun.
"Sial.. Kenapa ini, mengapa tubuhku serasa terlilit sesuatu." Gumam, Yinfeng yang masih memejamkan matanya.
Ternyata tanpa Yinfeng sadari lilitan jaring Laba-laba itu adalah ilusi semata, yang terasa sakan nyata. Karena walaupun hanya ilusi namun yang dirasakan Yinfeng tubuhnya benar-benar tidak dapat bergerak dan terasa sakit.
Disinilah tak ada yang dapat Yinfeng perbuat, hanya dapat terus memusatkan hati dan fikiran dengan menutup matanya, merasakan sakitnya lilitan jaring Laba-laba ilusi.
"Sipa kau Anak Muda ?"
Terdengar suara yang sedang menanyainya, namun ia masih menerka-nerka.
"Sura siapakah ini." Batin Yinfeng
"Kau tidak perlu tau, suara siapa ini. Yang jelas apa tujuanmu datang kemari."
Sontak Yinfeng kaget, mengapa dia dapat mengetahui apa yang diucapkannya dalam hati.
"Kau tak perlu terkejut jika Aku dapat mengetahui apa yang Kau ucapkan dalam hati."
"Siapa kau ?" Kata Yinfeng dalam hati.
__ADS_1
"Hahaahaha.. Mengapa kau menanyakan hal itu. Bukalah matamu."
Yinfeng yang bingung seketika membuka matanya secara perlahan.
Haaaaaaaaaa...
"Menagapa Kau begitu mirip denganku." Kata, Yinfeng yang sempat terbengong.
"Karena Akulah jelmaan dirimu, bagi siapa saja yang dapat memasuki Dunia Dimensi lapis kedua ini jangan harap dapat keluar dari sini, kecuali...."
"Kecuali apa ?" Tanya Yinfeng.
"Kecuali dia yang berhati bersih dan fikiran jernih tanpa adanya niat jahat."
"Ohh... Lantas apa maumu dengan menyerupaiku." Kata Yinfeng.
"Aku sudah melihat hatimu dan juga fikiranmu, oleh sebab itu Aku ingin mengujimu."
"Iya.. Jika Kau dapat melewati ujian itu maka Kau berhak mendapatkan Mutiara Hitam itu seutuhnya. Namun...."
"Namun apalagi."
"Namun jika kau gagal jangan harap dapat keluar dari sini, Tapi..."
"Kau ini senang sekali membuatku bertanya." Kata Yinfeng.
"Hahahaha.. Tapi jika Kau hanya dapat menyelesaikan ujian ini setengahnya, Kau hanya akan mendapatkan serpihannya saja lalu Kau boleh pergi."
"Hemmm... Aku tidak akan menyerah dan Aku juga tidak ingin hanya serpihan saja.." Kata Yinfeng sambil mengepalkan tangannya
__ADS_1
"Hohoho.. Besar juga nyalimu."
"Baik sekarang terimalah ini."
Seketika keluar sepuluh bayangan orang yang menyerupai Yinfeng.
"Apa maksudnya ini.. Mengapa semuanya mirip denganku." Batin Yinfeng.
Masing-masing memegang pedang yang sudah terhunus kedepan dengan sangat tajam.
"Apa-apaan.. Apakah kalian ingin menyerangku ?" Teriak Yinfeng.
Namun bayangan-bayangan itu tidak menghiraukan perkataan Yinfeng, diangkatnya pedang masing-masing kemudian di ayunkannya ketubuh masing-masing.
Seketika Yinfeng merasa tubuhnya sakit amat berlebih.
"Aahhhhhh....."
Teriak Yinfeng yang merasa sakit pada tubuhnya.
"Kenapa tubuhku bisa sakit seperti ini, padahal bayangan-bayangan itu tidak melukaiku sama sekali." Gumam Yinfeng bingung.
"Hahahaa... Bagaimana rasanya ? Apa Kau masih sanggup ?"
"Aku masih sanggup." Kata Yinfeng.
"Baik jika begitu, akan Aku tambah rasa sakitnya."
"Aaaaahhhhhhhhh....."
__ADS_1
Yinfeng semakin keras teriakannya.