
Tak terasa waktu dua hari yang di sediakan panitia Turnamen untuk beristirahat dan memulihkan tenaga dalam telah berlalu, sekarang tinggal hari dimana akan menentukan siapa yang akan masuk kedalam semi final (4 besar).
Seluruh perguruan yang muridnya ikut di babak delapan besar ini di sediakan tempat yang kusus, dan untuk perguruan yang lainnya di persilahkan duduk di tempat yang telah panitia berikan.
Setelah semua perguruan dan para peserta sudah berkumpul di tempatnya masing-masing, ternyata ada satu perguruan yang datangnya terlambat yaitu perguruan Macan Kumbang.
Terlihat Felixian dan dua temannya serta guru Liuntai sedang berjalan menuju tempat yang panitia telah sediakan, mereka berjalan dengan sangat congkaknya layaknya seorang raja yang berjalan di depan rakyatnya.
Banyak mata yang memandang akan kecongkakkan mereka terutama dari perguruan Singa Emas yaitu Lioyen, yang sangat ingin sekali berhadapan dengan Felixian di babak 8 besar ini.
Ternyata antara perguruan Singa Emas dan perguruan Macan Kumbang walaupun keduanya termasuk dalam perguruan yang di segani, namun dua perguruan tersebut tidak pernah akrab lantaran sifat dari perguruan Macan Kumbang yang lebih sombong dan sangat merendahkan perguruan-perguruan lainnya.
Walaupun antara perguruan Macan Kumbang dan Singa Emas tidak ada masalah, tapi perguruan Singa Emas lebih menghormati perguruan lainnya, karena mereka juga menyadari perguruan Macan Emas juga sempat sama dengan perguruan lainnya, jika saja mereka tidak memiliki pusaka yang membuat mereka di segani.
Setelah semuanya siap dengan duduk di tempatnya masing-masing, terlihat seseorang sedang berjalan menaiki Arena berbadan tegap berpakaian hitam dan berambut pendek, terpancar kharisma kewibawaan pada dirinya dia adalah wasit yang kusus disiapkan pada babak 8 besar ini.
"Saya Mubai wasit yang akan memimpin jalannya pertarungan kali ini, saya akan sedikit mengulang peraturan yang berlaku."
Kemudian wasit Mubai mulai menjabarkan peraturan pada Turnamen kali ini, yang intinya para peserta tidak di perbolehkan membawa senjata apapun ke Arena pertarungan, karena panitia telah menyiapkan senjata kusus pada babak 8 besar ini.
Bagi siapa yang melanggar peraturan tersebut maka akan langsung di diskualifikasi. Setelah wasit MuBai selesai mengumumkan ulang tentang peraturan di Arena akhirnya wasit MuBai mulai memanggil peserta pertama yang akan bertarung.
"Baik untuk pertarungan pertama pada babak delapan besar ini yang akan maju yaitu Lioyen dari perguruan Singa Emas melawan Liuer dari perguruan Musang King."
Lioyen lebih dulu manaiki arena dengan sedikit berlari dan melompat di arena, lalu memberi hormat pada Wali Kota Tianjien dan perwakilan dari kerajaan XienZue.
Dari belakang Liuer juga menaiki arena dengan sedikit berlari kecil, setelah di atas arena baru Liuer memberi hormat kepada Wali kota Tianjien dan perwakilan dari kerajaan XienZue.
Wasit Mubai memberikan arahan agar memilih senjata yang sudah di siapkan panitia, terlihat Liuer lebih dahulu mengambil sebuah senjata berbentuk tombak dengar warna berkombinasi hitam dan kuning emas.
Sedangkan Lioyen yang melihat Liuer memilih tombak, maka dia pun mengambil sebuah senjata berbentuk tongkat panjang dengan kombinasi warna merah dan hitam.
__ADS_1
Setelah masing-masing peserta sudah memilih senjatanya, barulah wasit Mubai menyuruh keduanya untuk mengambil posisi siap bertarung.
Dooooooong....
Gong telah di bunyikan tanda pertarungan di mulai.
Kedua petarung mencoba memainkan senjatanya masing-masing, terlihat sangat lincah kedua petarung memutar-mutarkan senjatanya dengan tangan.
"Mungkin kau memang hebat, namun bagiku kau hanya beruntung saja bisa masuk delapan besar ini." Ucap Liuer.
"Hemmm, sungguh !! Apakah kau yakin dengan ucapanmu itu." Ucap Lioyen.
" Hehehe, jelas Aku sangat yakin dengan ucapanku." Ucap Liuer.
"Kalau begitu silahkan buktikan saja." Ucap Lioyen.
Liuer pun melesat maju menghunuskan tombaknya ke arah Lioyen, dengan segera Lioyen menangkis tombak Liuer dengan tongkatnya. Kedua senjata saling beradu hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring sampai keluar percikan-percikan api kecil dari dua senjata yang beradu.
Beberapa kali mereka mencoba saling menyerang namun tetap saja keduanya sama-sama dapat manangkis serangan demi serangan yang masing-masing lesatkan.
Membuat badan Liuer terpukul oleh tongkat Lioyen yang mengakibatkannya terpental kebelakang dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Uhuk.. Uhuk.. Cukup lumayan seranganmu, tapi akan aku tunjukan kekuatanku yang sebenarnya." Ucap, Liuer sambil mengusap darah yang menempel di bibirnya.
Heyaaaa....
Liuer teriak berbarengan dengan meningkatnya kekuatan dalam dirinya, terlihat sebuah cahaya kuning menyelimuti tubuhnya, di tancapkannya tombak ke lantai Arena.
Ternyata Liuer hendak mengeluarkan jurus andalannya yaitu jurus Cakaran Kematian, jurus ini adalah jurus rahasia perguruan Musang King, karena sifat jurus itu yang dapat melumpuhkan lawan dalam sekejap saat cakaran-cakarannya mampu menembus ke dalam badan lawan.
Lioyen tidak menyangka bahwa Liuer dapat memiliki sebuah jurus yang amat mengerikan, ternyata bukan hanya Lioyen yang dibuat heran dan bertanya-tanya semua murid dan guru perguran pun dibuat heran dan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Bukankah itu jurus terlarang dari perguruan Musang King." Gumam guru Xinhai.
Ternyata guru Xinhai sempat mengetahui akan jati diri jurus tersebut, yang mana sempat di saksikannya saat Turnamen Bergengsi 30 tahun yang lalu.
Saat itu peserta dari perguruan Musang King yang bernama Liushang sempat mengeluarkan jurus yang sama, dengan jurus yang dikeluarkan oleh Liuer saat ini hingga mengakibatkan lawan dari Liushang hampir mengalami kematian.
Jika saja waktu itu lawan dari Liushang tidak segera mendapatkan pertolongan dan obat yang mampu menghentikan pendarahan hebat pada tubuh lawannya.
Namun berbeda dengan guru Liuntai yang baru menyadari jika jurus Cakaran Kematian itu adalah jurus yang sama saat dirinya di ajarkan jurus tersebut oleh ayahnya, dan mungkin dirinya tidak akan mengetahui jika sebenarnya Liushang adalah anak dari adik ayahnya yang dulu sempat menghilang dan tidak tau kabarnya.
Setelah Liushang selesai bertarung guru Liuntai mencoba menemuinya dan menanyakan akan jurus yang barusan dia keluarkan, mirip seperti jurus yang telah di ajarkan oleh ayah dari guru Liuntai.
Ternyata benar adanya jurus Cakaran Kematian adalah jurus larangan dari kakek mereka berdua dahulu, yang di wariskan kepada ayah guru Liuntai dan juga ayah Liushang, yang sama-sama bermarga LIU.
Namun jurus Cakaran Kematian saat ini lebih terkenal sebagai jurus yang bersumber dari perguruan Musang King, karena ketua dari perguruan Musang King saat ini adalah Liushang itu sendiri. Dan jurus tersebut tidak akan di wariskan kecuali hanya kepada keturunannya saja.
Guru Liuntai yang menyaksikan Liuer dapat mengeluarkan jurus Cakaran Kematian sempat heran dan bertanya-tanya.
"Siapa sebenarnya Liuer ini, mengapa dia dapat menguasai jurus Cakaran Kematian." Gumam guru Liuntai.
Setelah di fikir-fikir akhirnya guru Liuntai sempat memiliki kesimpulan, mungkinkah Liuer ini adalah anak dari Liushang yang dahulu sempat membuat geger karena hampir membunuh lawannya.
Sekilas guru Liuntai mengamati akan wajah Liuer yang ternyata mirip dengan Liushang, hingga dirinya terkejut akan Liushang yang sudah memiliki anak padahal dirinya masih juga belum memiliki anak, lantaran dirinya belum menikah sampai saat ini.
*
Di Arena Liuer akhirnya melesatkan Cakaran Kematian ke arah Lioyen yang telak mengenai badan dari Lioyen hingga membuat Lioyen terpental keluar Arena, namun saat Liuer hendak melihat Lioyen dirinya terkejut saat tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah serangan yang tidak sempat dihindarinnya.
Membuat tulang-tulang pada badannya patah semua hingga membuat Liuer akhirnya terkapar di atas lantai Arena, Liuer mengalami kelumpuhan dengan posisi terlentang tak berdaya.
Ternyata Cakaran Kematian yang Liuer lesatkan hanya mengenai batang kayu yang telah Lioyen siapkan untuk menggantikannya, setelah itu baru dirinya melesatkan jurus terhebatnya yaitu jurus Peremuk Tulang.
__ADS_1
Liuer kemudian langsung dibawa ke ruang perawatan untuk segera mendapatkan penanganan, akhirnya sang wasit Mubai mengumumkan bahwa pertarungan pertama pada babak 8 besar ini di menangkan oleh Lioyen dari perguruan Singa Emas.
.......