Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Pertarungan 8 Besar 4


__ADS_3

Setelah sebelumnya Yinfeng telah memenangkan pertarungan, yang berhadapan dengan Batian dari perguruan Badak Merah. Kini giliran wasit Mubai mengumumkan untuk pertarungan yang terakhir di babak 8 besar ini.


"Baik untuk pertarungan terakhir di babak 8 besar ini yang akan menaiki arena yaitu Felixian dari perguruan Macan Kumbang berhadapan dengan WouXun dari perguruan Cobra Emas."


Felixian berjalan menaiki arena dengan sangat congkaknya, beranggapan bahwa dialah yang akan memenangkan Turnamen ini. WouXun terlihat biasa saja saat menaiki arena tanpa expresi apapun.


Setelah keduanya menaiki arena dan memberi hormat pada Wali Kota Tianjien serta perwakilan dari kerajaan XienZue, barulah wasit Mubai menyuruh keduanya untuk memeilih sebuah senjata.


Ternyata senjata yang tersisa hanya tinggal kapak, golok, palu besar, dan juga piringan tajam. Namun saat WouXun hendak memilih senjata berbentuk piringan tajam, Felixian dengan cepat menyerobot pilihan WouXun.


"Eitt.. Aku duluan." Ucap Felixian.


"Kau...,"


Teriak, WouXun dengan segera menghantamkan sebuah pukulan keras kepada Felixian, namun sebelum hantaman WouXun mengenai Felixian ternyata Felixian lebih dahulu menghentikan hantaman WouXun menggunakan tangan kanannya.


"Kenapa ?? Kau tidak terima jika senjata ini aku rebut !" Teriak Felixian yang masih menggenggam tangan WouXun.


WouXun yang makin emosi hendak menghantamkan sebuah pukulan kembali, namun wasit Mubai lebih dahulu menghentikannya.


"Cukup !! Tidak usah diperebutkan lagi, Felixian letakkan senjata itu." Teriak wasit Mubai.


"Kenapa aku harus meletakkannya ?" Tanya Felixian.


"Biar adil senjata itu tidak perlu dipakai." Ucap wasit Mubai.


"Hah, aku sudah memilih senjata maka tidak ada seorang pun yang berhak mengambilnya atau menyuruhku menggantinya." Ucap, Felixian dengan angkuhnya.


"Anak muda jaga ucapanmu." Ucap wasit Mubai.


"Hahaha, kenapa ? Apakah kau tersinggung ?" Teriak Felixian.


"Hemm, baru kali ini ada anak muda yang berani denganku." Ucap wasit Mubai dengan mengelus-elus dagunya.


"Walaupun aku masih muda tapi aku tidak takut denganmu." Ucap Felixian.


Dengan sekejap wasit Mubai sudah berada di depan Felixian dan mengambil senjata piringan tajam yang ada di tangan Felixian.


Sontak Felixian terkejut dan merasa bingung saat wasit Mubai tiba-tiba sudah mengambil senjata di tangannya.


"Hah, bagaimana mungkin." Gumam Felixian yang terkejut dengan wajah bingung, serta merasa tidak baik berurusan dengan wasit Mubai.


"Bagaimana anak muda, apakah kau masih bisa berlagak sombong." Ucap wasit Mubai.


"Hemm, aku tadi sengaja tidak melawan dan membiarkanmu dapat mengambil senjata itu." Ucap, Felixian dengan sangat sombongnya yang tidak mengakui bahwa sebenarnya dia cukup terkejut dan bingung atas apa yang dilakukan wasit Mubai.

__ADS_1


"Hemm, aku akui kau memang berani, tapi aku tidak perlu meladeni anak sepertimu." Ucap wasit Mubai.


Hahaha, kenapa ? Apa kau takut ? Teriak Felixian.


Wasit Mubai yang semula tidak mau memperpanjang masalah, tapi kali ini dirinya sudah diambang batas kesabaran dan tidak bisa membiarkan Felixian berlaga sombong lagi.


Tiba-tiba wasit Mubai menghilang dari pandangan dan tidak disangka telah berada di depan Felixian dengan tangan kanan tengah mencekik leher Felixian, lalu diangkat tubuh Felixian ke atas hanya menggunakan tangan kanannya.


"Aku tidak segan-segan membunuhmu disini, jika kau masih berlaga sok kuat."


Para penonton yang sedari tadi sudah banyak yang tidak suka dengan tingkah laku Felixian, mereka yang awalnya merasa jengkel dan greget saat melihat Felixian dengan angkuhnya menantang wasit Mubai.


Namun saat sasit Mubai mencekik leher Felixian dan diangkat ke atas para penonton banyak yang merasa senang, ada juga yang menganggap wasit Mubai terlalu berlebihan menanggapi omongan anak muda. Karena memang jiwa anak muda masih gampang emosi dan gampang marah.


"Mubai.., Lepaskan dia." Teriak seseorang yang sedikit sepuh.


"Kenapa ?? Apa kau akan membela muridmu ini ?" Bentak wasit Mubai.


"Jelas, karena kau sudah berlebihan." Ucap, seseorang sedikit sepuh yang tidak lain adalah guru Liuntai.


"Berlebihan katamu ? Justru muridmu inilah yang sudah berlebihan." Ucap wasit Mubai.


"Cepat lepaskan.. Atau kau akan menyesal." Bentak guru Liuntai.


"Menyesal ?? Coba saja jika kau berani."


Dengan menutup telinga semua orang mencari sumber teriakan itu, dan ternyata teriakan itu bersumber dari seseorang yang berdiri di tempat kusus dengan pakaian kewibawaan sambil berkacak pinggang.


"Sudah hentikan !! Sekarang lebih baik segera dimulai saja pertarungan mereka, atau akan aku anggap pertarungan ini selesai dan tidak ada yang masuk 4 besar dari keduanya."


Ternyata teriakan itu bersumber dari tempat kusus yang disediakan oleh panitia untuk orang penting dia adalah Wali Kota Tianjien yang bernama TianLong.


Wasit Mubai kemudian melepaskan Felixian sedangkan guru Liuntai akhirnya turun dari arena dan kembali ke tempat duduknya, Felixian yang dicekik oleh wasit Mubai sempat merasa seperti nyawa sudah berada di tenggorokkannya.


Tanpa dirinya bisa bernafas ataupun bicara, sebab cengkraman wasit Mubai pada lehernya sangat kuat, andaikata Felixian tidak mempelajari ilmu pernafasan mungkin dirinya sudah mati karena tak bisa bernafas.


Perselisihan pun akhirnya selesai dan pertarungan akan segera di mulai, akhirnya Felixian bersenjatakan kapak dan WouXun bersenjatakan palu baru gong di bunyikan.


Dooooooong...


WouXun yang sudah greget dengan Felixian langsung maju menyerang hendak menghantamkan palunya.


Jeddduuuuarrrr....


Secara reflek Felixian menghindari hantaman WouXun, dan membalas dengan sebuah sabetan kapaknya.

__ADS_1


Traaang... Traaang...


WouXun menangkis serangan Felixian dengan palunya hingga kemudian mereka saling beradu, sampai terdengar beberapa kali suara ledakan dari palu WouXun yang menghantam lantai arena.


Pertarungan cukup sengit dengan WouXun yang terus-terusan menghantamkan palunya setelah beberapa kali beradu serang, membuat WouXun kini mendominasi serangan.


Felixian yang sempat merasa terpojok akhirnya meningkatkan kekuatan dan mengeluarkan jurus badai apinya, yang membuat WouXun terpental kebelakang dengan api yang sedikit membakar tubuhnya.


Namun hanya sekali kibas ternyata api tersebut dapat di padamkan oleh WouXun, membuat dirinya kini mulai meningkatkan kekuatannya. Dengan sebuah teriakan keras akhirnya WouXun mengeluarkan jurusnya yang telah membuat Hiusha dari perguruan Beruang Madu mengalami luka yang lumayan parah.


Seketika WouXun mengalami peningkatan kekuatan yang cukup hebat hingga tubuhnya mengeluarkan cahaya biru kehitam-hitaman, lalu dirinya meneriakkan sebuah jurus.


Jurus Hantaman Tsunami


Sebuah tekanan air yang cukup hebat keluar dari tangan WouXun, dengan cepat ia hantamkan ke arah Felixian.


Namun Felixian yang sedari awal sudah menyadari akan kekuatan WouXun saat dia menaikan kekuatannya, saat itu lah Felixian meningkatkan kekuatan hingga terlihat perubahan pada dirinya.


Dengan mata memerah, rambut berapi-api dan seluruh tubuhnya terselimuti warna merah kekuning-kuningan, Felixian akhirnya menahan hantaman tsunami milik WouXun hanya dengan kedua tangannya.


"Hahaha.. Hanya segini kah jurus andalanmu." Ujar, Felixian dengan nada angkuh.


Apaa ?? Bagaimana mungkin jurusku dapat ditahan olehnya hanya menggunakan dua tangan saja." Gumam, WouXun yang meras terkejut.


"Akan aku perlihatkan jurusku padamu." Ucap Felixian.


Seketika Felixian mengangkat tangan kanannya ke atas dan dalam sekejap sebuah api berukuran sedang muncul dari telapak tangannya. "Terimalah ini." Dilemparkannya api itu ke arah WouXun.


WouXun yang kebingungan untuk dapat menahan serangan api milik Felixian, akhirnya hanya menggunakan palu untuk menahan serangan tersebut.


Tapi sangat disayangkan palu itu tak sanggup menahan api milik Felixian yang pada akhirnya dapat mengenai tubuh WouXun, seketika tubuh WouXun terbakar namun dengan cepat wasit Mubai memadamkan api tersebut, sebelum berakibat fatal pada WouXun.


Di bangku tempat duduk guru WouXun sangat geram atas perlakuan Felixian, namun saat guru WouXun hendak naik ke atas arena tiba-tiba dirinya di hadang oleh guru Liuntai dan berkata agar tidak ikut campur untuk maslah anak muda.


Guru WouXun menyadari akan kekuatan guru Liuntai yang cukup hebat dan terkenal, hingga dirinya kemudian tidak memperpanjang masalah itu dan dengan segera membawa WouXun ke ruang perawatan bersama tim medis.


Ternyata akibat bola api milik Felixian yang mengenai WiuXun, membuat WouXun mengalami luka bakar yang cukup lumayan hingga membuat dada serta mukanya sebagian mengalami luka bakar yang cukup serius.


Wasit Mubai yang paling tidak suka atas tindakan Felixian baik itu yang menyinggung dirinya maupun yang membuat WouXun sampai mengalami luka bakar yang serius.


Para murid serta guru perguruan lainnya pada emosi akibat ulah Felixian yang dengan tega hendak membakar WouXun sampai menjadi abu, tapi untung saja wasit Mubai bergerak secara cepat untuk menyelamatkan WouXun dari api yang membakar tubuhnya.


Yinfeng yang sangat emosi melihat kelakuan Felixian yang dengan santainya membakar lawannya, membuat Yinfeng hendak memberi dia pelajaran atas semua kelakuannya.


Hingga pada akhirnya wasit Mubai dengan sangat terpaksa mengumumkan pertarungan kali ini dimenangkan oleh Felixian dari perguruan Macan Kumbang.

__ADS_1


.....


__ADS_2