
Tak terasa hari dimana perjalanan menuju dataran selatan untuk mengikuti Turnamen Bergelar telah tiba, semua persiapan telah dipersiapkan dengan matang.
Ternyata tak banyak yang ikut untuk melakukan perjalanan menuju dataran selatan, dengan jarak tempuh tergolong sangat jauh bila diukur dari dataran barat.
Hanya lima orang yang ikut melakukan perjalanan termasuk Walikota Tian Long, Qin Xua beserta pengawalnya serta guru Liu King dan juga yang pasti Yin Feng peserta yang akan mewakili dari dataran barat ini.
Setelah Wlikota Tian Long memastikan semuanya sudah siap, terutama kereta kuda yang akan menjadi armada keberangkatan mereka.
Tak lupa Wlikota berpesan pada setiap jajarannya agar selalu waspada terhadap gerak-gerik orang yang mencurigakan, dan juga berpesan pada setiap pendekar yang ditugaskan untuk menjaga keamanan baik kediaman beliau ataupun kota Tian Jien.
Agar senantiasa waspada jangan sampai lengah, karena mencakup keselamatan warganya. Saat dirasa semuanya sudah cukup barulah mereka berlima menaiki kereta kuda dan bersiap untuk berangkat.
Namun ternyata saat kereta kuda mulai dipacu untuk jalan, terdengar teriakan gadis yang memanggil-manggil nama Yin Feng. "Kak Yin Feng... Kak Yin Feng... "
Kereta kuda terhenti dari laju jalannya, semua yang didalam kereta langsung mencoba melihat dan menyaksikan siapa gadis yang memanggil-manggil tersebut.
Ternyata gadis itu tidak lain adalah Heiuni yang berlari dari kejuahan sambil membawa sesuatu ditangannya, dan terlihat juga seorang anak laki-laki yang mengikutinya dari arah belakang.
Sambil terengah-engah anak laki itu memanggil nama. "Heiuni.. Tunggu aku." Ternyata anak laki itu adalah kakak Heiuni yaitu Heiun.
"Kenapa kamu bisa cepat sekali larinya." Ucap Heiun dengan nafas yang terengah-engah.
"Bukan aku yang cepat, tapi kakak yang sangat lambat." Ujar Heiuni.
Mengetahui Heiuni dan Hieun yang datang Yin Feng segera turun dari kereta kudanya. "Ada apa Heiuni ?" Yin Feng mencoba bertanya pada Heiuni terlebih dahulu sebelum kembali bertanya pada kakaknya. "Dan ada apa Heiun kau terlihat sampai terengah-engah seperti itu ?"
"Saat mendengar jika hari ini kak Yin Feng akan pergi untuk mengikuti Turnamen, Heiuni ingin sekali menemuimu kak." Ujar Heiun.
"Benarkah itu Heiuni ?" Tanya Yin Feng pada adik Heiun.
"Hemm.. Iya, aku hanya ingin memberikan ini untuk kakak." Ujar, Heiuni yang tak berani menatap wajah Yin Feng, sambil memberikan sesuatu dari tangan kanannya.
Heiuni nampak malu-malu saat menyerahkan sesuatu dari tangan kanannya, sebuah boneka kayu kecil dengan ukiran wajah menyontoh Yin Feng, nampak sangat lucu sekali.
Pertama kali melihatnya Yin Feng begitu takjub akan boneka kayu tersebut. "Boneka ini kamu yang membuatnya ?" Tanya Yin Feng pada Heiuni.
Dengan malu-malu Heiuni menganggukkan kepala, menandakan bahwa memang dialah yang membuatnya. Namun Heiun menimpali dengan sebuah omongan. "Iya itu kak, dia rela membuat boneka itu sampai tidur larut malam."
"Sungguh ?? Terimakasih Heiuni, boneka ini akan selalu ku bawa kemanapun aku pergi, sekarang aku pergi dulu ya. Jaga diri kalian baik-baik."
"Kak Yin Feng..., Kakak harus menang." Teriak Heiuni yang mulai berani mengangkat kepalanya, namun ternyata Yin Feng sudah melangkah pergi hendak menaiki kereta kuda.
__ADS_1
Mendengar teriakan Heiuni Yin Feng menoleh kebelakang dengan senyuman lebar, sambil melambaikan tangan kanannya.
"Aku harap kakak dapat memenangkan Turnamen itu." Gumam Heiun dengan terus menatap kepergian kereta kuda.
Kereta kuda pun sudah melaju pergi dan hilang dari pandangan keduanya, kini perjalanan menuju Turnamen Bergelar baru dimulai.
**
Turnamen Bergelar yang akan diselenggarakan di kota Xian Tong, kota dengan sejuta keindahan bambu kuningnya dan juga berbagai macam tumbuhan obat-obatan.
Kota Xian Tong terletak dibagian utara dataran selatan, walaupun bukan dibagian tengah akan tetapi ketenaran kota Xian Tong akan pendekar-pendekar hebatnya tidak diragukan lagi.
Banyak pendekar-pendekar muda terlahir dari kota tersebut, dan juga terdapat ahli peracik obat yang akhir-akhir ini muncul pun dari kota Xian Tong.
Bila dibandingkan dengan kota-kota lain yang terdapat di dataran selatan, memang kota Xian Tong adalah kota terkecil dahulunya.
Namum sejak perwakilan dari kota tersebut mampu menjuarai turnamen kedewasaan, dan juga menjuarai pertandingan peracik obat dengan hasil yang memuaskan.
Saat itulah Kota Xian Tong mulai terkenal dan banyak yang ingin menimba ilmu disana, hingga kini Kota Xian Tong terlihat sama dengan kota-kota yang lain.
Justru mungkin bila dilihat dari keramaian penduduknya saat ini, kota Xian Tong dapat menempati peringkat ketiga didataran selatan dengan penduduk terbanyak.
Di Turnamen Bergelar ini hadiah yang akan diberikan tidak tanggung-tanggung, terdapat tiga hadiah inti yaitu sebuah barang pusaka yang nantinya akan diberikan kepada sang pemenang Turnamen.
- Cincin Ruang Hampa, mungkin hampir sama dengan kalung ruang hampa milik Yin Feng. Namun bedanya kalung ruang hampa milik Yin Feng kapasitasnya tak terbatas.
- Belati Angin dengan sebutan lain Senjata Siluman.
Mengapa bisa disebut Senjata siluman ?
Karena kecepatan dan kekuatannya yang mampu melebihi kecepatan angin.
- Baju Zirah Naga.
Sebuah baju dengan bentuk yang berbeda dari baju zirah pada umumnya, baju ini terbuat dari sisik naga yang mampu menangkal berbagai macam serangan.
Baik itu serangan tangan kosong maupun serangan dengan menggunakan senjata, baju ini tak akan dapat lepas dari badan sebelum orang itu mati. Barulah baju Zirah Naga dapat lepas dari badan pemakainya.
Selain tiga pusaka tersebut masih ada hadiah lainnya seperti emas dan berbagai pil, dari ajang Turnamen ini sang pemenang nantinya akan mendapatkan gelar sesuai dengan perguruannya.
Dan akan dibuatkan patung sebagai pendekar muda, yang diletakkan dijantung kota Xian Tong ini. Yang nantinya sebagai pengingat dan juga penghormatan dari kota Xian Tong kepada sang juara.
__ADS_1
**
Didalam perjalanan nampak Walikota Tian Long dan guru Liu King menampakkan keakrabannya, dengan saling berbincang-bincang satu sama lain.
Sedangkan Yin Feng hanya terus memandangi luar dari balik pintu kereta, namun yang tak kalah menariknya yaitu Qin Xua secara diam-diam sering memperhatikan Yin Feng.
Terlihat dari sorotan mata Qin Xua ingin sekali dapat berbincang-bincang dengan Yin Feng, namun dirinya tak berani memulainya.
Bagi Dou Han pengawal pribadi Qin Xua dia lebih memilih untuk mengendarai kereta kuda, memang sengaja Walikota Tian Long menugaskan Dou Han untuk secara langsung membawa kereta kuda menuju kediaman Qin Xua terlebih dahulu.
Karena Walikota Tian Long ingin melihat tempat masa kecilnya dahulu, yang sangat penuh dengan memori hangat dan juga kebahagian keluarga.
Ternyata Walikota Tian Long sesekali melirik kearah Qin Xua yang tidak mengalihkan pandangannya pada Yin Feng, beliau sempat tersenyum sendiri sebelum mengganti topik pembicaraannya pada guru Liu King.
"Kek Liu.. Sepertinya cucumu itu memiliki daya tarik sendiri ya." Ujar Walikota Tian Long.
"Hemm.. Memang kenapa tuan Long ?"
"Coba kau perhatikan keponakanku Qin Xua itu, sepertinya dia menyukai cucumu."
Guru Liu King mencoba memperhatikan Qin Xua dengan sekilas, dan dia bisa melihat memang wajah Qin Xua nampak berseri-seri saat menatap kearah Yin Feng.
"Sepertinya antara Qin Xua dan Yin Feng memiliki keserasian, bagaimana jika kita satukan mereka." Ujar Walikota Tian Long.
"Itu sih terserah Feng er tuan Long, apakah Qin Xua cocok sebagai pendampingnya kelak." Ujar guru Liu King.
Mendadak Walikota Tian Long berdiri dan berjalan mendekati Qin Xua, saat Walikota Tian Long berdiri tepat diahadapan Qin Xua.
Perlahan Qin Xua baru menyadari bahwa yang berada dihadapannya adalah pamannya yaitu Tian Long, seketika Qin Xua langsung menundukkan kepalanya, merasa malu telah diketahui oleh pamannya.
"Ada apa Qin er.. Kenapa kamu selalu memandang kearah Yin Feng." Perkataan Walikota Tian Long yang cukup keras membuat Qin Xua makin malu dan memerah wajahnya.
Yin Feng yang mendengar ucapan Walikota Tian Long mendadak menengok kearah Qin Xua, sebelum memandang kearah Walikota Tian Long.
"Yin Feng.. Coba kamu ajak ngobrol keponakanku itu, sepertinya dia merasa kesepian." Ujar Walikota Tian Long mencoba mencairkan suasanya antara keduanya.
"Ihh.. Paman apaan sih." Qin Xua yang merasa semakin malu langsung mencubit tangan kiri pamannya.
"Hehehe.." Bukannya kesakitan justru Walikota Tian Long malah tertawa kecil melihat tingkah laku keponakannya itu.
Begitu juga dengan Yin Feng, dia pun merasa malu dan sesekali melihat kearah luar jendela, takut bila ekspresi wajahnya diketahui oleh Qin Xua. Bahwa dirinya pun sebenarnya juga malu.
__ADS_1
.......