
Yinfeng yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan segera menelusuri Dunia Dimensi Lapis Tiga untuk mencari buah-buahan yang dapat membuat dirinya bertambah kuat.
"Aku harus segera bisa mencapai tingkat kekuatan Langit sebelum 20 hari..," Gumam Yinfeng
"Hahahaha.. Hei Bocah.. Mengapa Kau harus sibuk mencari buah yang dapat meningkatkan kekuatanmu, sedangkan Kau saja tidak pernah tau buah apa saja yang dapat meningkatkan kekuatan."
"Hey.. Aku kira Kau sedang tidur didalam kitab ini.." Kata Yinfeng sambil menunjuk kitab yang berada didalam bajunya.
"Aku dapat membantumu suapaya Kau cepat bertambah kuat."
"Kau bisa membantuku !
Memang bantuan apa yang bisa kau berikan untukku..," Kata Yinfeng
"Kau sudah lupa ya Bocah.. Mutiara yang ada didalam jiwamu itu Akulah yang memberikannya padamu.."
"Hihihi.. Iya." Jawab Yinfeng dengan tersenyum
"Lantas.. Apakah Kau masih meragukanku."
"Aku tidak pernah meragukanmu."
"Sekarang Kau coba buka Kitab Tetatai Api itu, didalamnya bukan hanya Ilmu tentang jurus saja, namun juga Ilmu tentang ramuan-ramuan penambah kekuatan,kekebalan,pengobatan dan masih banyak lagi."
"Baik Akan Aku coba membuka halam pertamanya terlebih dahulu..," Kata Yinfeng
Ketika pertama kali Yinfeng mencoba membuka Kitab itu, ia hanya bisa membuka sampul depannya saja.
Namun sekarang berkat Pemurnian yang ia lakukan dan ditambah Permata Api Abadi yang ia dapatkan, membuatnya tidak kesulitan untuk membuka halaman pertama Kitab tersebut.
__ADS_1
Ketika dibukanya cover depan Kitab itu tak ada apapun yang terjadi, namun tatkala Yinfeng mencoba membuka halaman pertama Kitab tersebut.
Dirinya merasakan tekanan yang cukup kuat, hingga ia mengerahkan cukup banyak tenaga dalamnya. Ia pun terkejut dengan apa yang dilihatnya pada halaman pertama.
Ketika Yinfeng melihat tulisan yang tertulis pada halaman pertama membuatnya mengerutkan dahi.
"Apa maksud dengan tulisan ini..," Gumam Yinfeng
Dibawah Bumi masih ada Bumi dan Diatas Langit masih ada Langit, gunanya Ilmu untuk dapat mengetahui apa yang tidak diketahui,
gunanya Akal untuk berfikir apa yang baik untuk diri ini, gunanya Hati untuk tidak selalu menyombongkan diri.
Selalu ingat kekuatan bukanlah segalanya, namun Cintalah hakikat yang sebenarnya. Karena dengan Cinta Kau akan menjadi makhluk yang sempurna dan penuh warna.
Yinfeng yang belum mengerti akan apa yang tertulis pada halaman pertama buku itu, namun ia tetap terus mempelajari makna yang terkandung didalamnya.
Tak terasa Yinfeng terlelap dalam tidurnya sampai memimpikan sesuatu.
Ditampakkannya dalam mimpi Yinfeng saat kelahirannya, dirinya melihat sang Ayah yang nampak gelisah mondar-mandir seperti sedang menunggu kejutan.
"Itukan Ayah, mengapa ia nampak gelisah..," Gumam Yinfeng
Tak berselang lama terdengar suara tangisan bayi.
Oeeee.... Oee.....Oeee....
"Itu kan suara tangisan bayi, siapa sebenarnya yang ayah khawatirkan ini..," Gumam Yinfeng
Tak berselang lama ada yang keluar dari balik pintu.
__ADS_1
"Bagaiman Tabib." Kata, Sang Ayah dalam mimpi
"Selamat Tuan Anak Anda Laki-laki."
Yinfeng yang penasaran masuk kedalam ruangan menyaksikan apa sebenarnya yang terjadi didalam.
"Lah itukan Ibu ? " Jangan-jangan Bayi tersebut adalah diriku..," Gumam Yinfeng
Lalu tiba-tiba mimpi Yinfeng berganti dengan terjadinya pertempuran didalam hutan.
"Dimana lagi ini, mengapa seperti dihutan."
Yinfeng belum menyadari bahwa dalam mimpinya kali ini ditampakkan padanya suatu kejadian yang telah menewaskan kedua Orang Tuanya.
"Itu bukannya Ayah dan Ibu, lalu siapakah pria yang disana itu. Mengapa pria itu terlihat ingin membunuh kedua Orang Tuaku."
Namun seketika mimpinya terhenti, tiba-tiba tampak dalam mimpinya gelap gulita, sebelum akhirnya ditampakkan lagi sebuah kejadian dimana Ibunya telah terbaring ditanah dengan bersimbah darah, dan tidak jauh dari Ibunya sang Ayah yang sedang sekarat namun Yinfeng tidak asing dengan satu sosok yang terlihat sedikit sepuh dia adalah Kakek guru Liuking.
Sang ayah berkata dalam mimpi tersebut.
"Gu...gu... guru Aku titipkan anak kami kepadamu semoga kelak ia dapat tumbuh dewasa dan menjadi pendekar yang hebat."
Setelah berkata demikian Sang Ayah menghembuskan nafas terakhirnya.
..........
**Mohon Maaf buat para Reader semuanya, jika berkenan berikan Like Komen dan Votenya jika kalian ingin menghargai Imjinasi Author.
Terimakasih atas Like Komen Vote Kalian**..
__ADS_1