
"Uhh.. Siapa sebenarnya orang ini? Kekuatannya sangat luar biasa. " Gumam, raja Tang san yang mencoba untuk menggerakkan badannya.
Berbeda dengan yang lainnya justru aura kekuatan sosok itu membuat Tang He seketika tak sadarkan diri.
"Sudah guru.. Tidak apa-apa biar aku yang bertanggung jawab untuk kesembuhan pangeran Tang." Ujar, Yin Feng yang perlahan mendekati gurunya.
"Guru?? Jadi orang dengan kemampuan tinggi itu adalah gurunya, pantas saja anak itu bisa begitu kuat." Gumam raja Qiun Zen.
"Tidak Feng er.. Kau tak perlu bertanggung jawab untuk kesembuhan anak tak tahu diri itu." Ujar, sosok itu tidak lain adalah guru Yin Feng yang bernama Xio Fang.
"Aura kekuatan guru membuat semua yang di arena ini tak dapat bernafas, jangan sampai guru malah membunuh pangeran Tang itu." Ujar Yin Feng mengingatkan.
"Sejak kapan kau begitu peduli dengan orang lain?" Tanya kakek Xio Fang.
"Sejak dulu aku sudah peduli dengan orang lain guru, jadi aku mohon pada guru untuk dapat menarik kembali aura kekuatan itu."
"Hihi.. Bagus Feng er. Kau memang pantas menjadi muridku, dengan berjiwa besar kelak kau akan menjadi orang yang hebat." Ujar, kakek Xio Fang yang mulai menarik kembali aura kekuatan, yang menyebabkan semua orang di arena susahnya bernafas.
Kakek Xio Fang berjalan mendekati Yin Feng kemudian memegang pundaknya lalu berpesan. "Itulah inti dari kekuatan Feng er, bahwa kekuatan bukanlah semata-mata dari fisik saja melainkan juga dari kepedulianmu terhadap orang lain."
Setelah berkata begitu pada Yin Feng kakek Xio Fang bergegas turun dari arena dan kembali ke tempat duduknya, namun tak lupa kakek Xio Fang memberikan pada Yin Feng sebuah pil penyembuh kualitas terbaik sebelum dirinya turun dari arena.
"Terimaksih guru."
Yin Feng lalu berjalan mendekati Tang He serta raja Tang San dan putrinya Niu Tang. "Mau apa kau kemari? Kau yang telah menyebabkan kakak ku seperti ini.." Niu Tang berdiri dan menarik pedang dari sarungnya, kemudian mengarahkannya pada Yin Feng.
"Tenang putri Niu, aku tidak bermaksud untuk menyakitinya, aku tadi hanya melindungi diriku." Ujar Yin Feng.
"Bohong.. Jelas-jelas kau sudah menyakiti kakakku." Bentak Niu Tang.
"Maaf tuan putri, bila saat itu diriku tak melawan mungkin nasibku sama seperti kakakmu saat ini, lalu apakah kalian peduli dengan nasibku?" Ucap Yin Feng.
Sontak semua yang berada diatas arena maupun dari bangku penonton terdiam, saat kata-kata Yin Feng seolah seperti anak panah yang tepat mengenai jantung mereka.
"Hemm.. Tak ku sangka anak ini akan begitu dewasa menyikapi masalah." Gumam kakek Xio Fang.
Niu Tang menjatuhkan pedangnya dan terduduk sambil menangis tersedu-sedu. "Hiks.. Hiks.. Lalu bagaiman sekarang nasib kakakku?"
"Tuan putri dan sang raja tak perlu khawatir." Yin Feng mengulurkan sebuah pil dari tangan kanannya. "Ini adalah pil penyembuh kualitas terbaik, anda bisa meminumkannya."
Nampak dari wajah raja Tang San meragukan kasiat dari pil tersebut dengan masih terdiam tanpa mempedulikan pil milik Yin Feng. "Raja tak perlu khawatir, bila terjadi apa-apa pada pangeran Tang, saya siap menerima hukumannya."
Sang raja masih ragu-ragu namun sebagai putri dari raja dataran selatan dan juga sebagai adik yang sangat peduli dengan kakaknya, Niu Tang segera mengambil pil tersebut lalu meminumkannya pada Tang He.
"Apa yang kau lakukan Niu er?" Bentak raja Tang San.
"Apa ayah hanya akan melihat kematian kakak, tanpa sedikitpun mau berusaha." Ucap Niu Tang.
Sontak raja Tang San terkejut seolah jantungnya berhenti berdetak, saat putrinya berkata demikian. "Apa yang sedang diriku lakukan, memang benar apa yang barusan dikatakan oleh Niu er." Dalam hati raja Tang San mulai menyadari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya.
__ADS_1
Sebuah reaksi muncul setelah beberapa saat Niu Tang meminumkan pil penyembuh pada Tang He. "Akkhhh.." Tang He nampak teriak-teriak kesakitan.
Kembali Niu Tang mengangkat pedangnya lalu mengarahkan pada leher Yin Feng. "Apa yang telah kau berikan pada kakakku? Mengapa dia mengerang kesakitan?"
"Sabar tuan putri, itu adalah reaksi dari pil penyembuh yang mulai memperbaiki luka kakakmu." Ujar Yin Feng.
Benar saja sesaat setelah Tang He mengerang kesakitan, akhirnya dirinya dapat kembali sehat seperti sedia kala. "Ayah.. Nui er.." Panggil Tang He.
"He er.. Kau sudah sadar nak." Ujar raja Tang San yang langsung memeluk anaknya itu. "Aku sudah tidak apa-apa ayah, berkat bantuan ayah akhirnya aku kembali sehat." Ujar Tang He.
Saat Tang He melihat kearah sekelilingnya ia mendapati Yin Feng tengah berdiri diantara ayah dan adiknya. "Kau.. Pertarungan kita belum selesai, ayo kita lanjutkan lagi."
Yin Feng hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Tang He, malah justru Niu Tang yang tidak terima. "Kakak.. Hentikan!!" Bentak Niu Tang pada Tang He.
"Ada apa Niu er? Mengapa kau membentakku?" Tanya Tang He.
"Asal kau tahu saja, bila tanpa pil penyembuh pemberian dari Yin Feng kau pasti tidak akan pernah tersadar." Ujar Niu Tang.
"Apa maksudmu itu Niu er? Justru aku sehat berkat bantuan dari ayah. Iyakan yah?" Ujar Tang He.
Sejenak raja Tang San terdiam sebelum mengatakan yang sebenarnya. "Apa yang dikatakan adikmu itu memang benar He er."
"Apa?? Itu tidak mungkin ayah.. Itu tidak mungkin." Tang He sedikit menjauh sambil menggelengkan kepalanya.
"Benar He er."
"Tunggu kakak." Niu Tang segera berdiri dan berlari menyusul kakaknya, berbeda dengan raja Tang San justru kini dirinya terlihat sangat menghargai kebaikan dari Yin Feng.
"Kau Yin Feng kan? Terimakasih atas semua kebaikan serta bantuanmu, aku sebagai raja dataran selatan memerintahkan kepada segenap panitia untuk memenuhi setiap apa yang dibutuhkan dari Yin Feng dan kawan-kawannya."
Raja Tang San berkata dengan suara keras yang dapat terdengar oleh semua panitia maupun semua penonton yang ada. "Terimakasih raja, anda tak perlu berlebihan seperti itu." Ujar Yin Feng.
"Itu adalah hadiah atas kebaikanmu pada anakku, harap kau mau menerimanya." Setelah berkata demikian raja Tang San kemudian pergi meninggalkan arena turnamen untuk menyusul anaknya.
Di satu sisi ternyata Lin Kiong dan gurunya justru semakin waspada kali ini terhadap Yin Feng dan kakek Xio Fang, sehingga saat nanti mulai penyergapan mereka harus mempersiapkannya dengan matang.
Setelah dirasa sudah tak ada masalah lagi barulah wasit Zou Fu mengumumkan bahwa Yin Fenglah pemenang dari pertarungan pertama.
Lalu mengumumkan untuk pertarungan yang kedua. "Selanjutnya yang akan menaiki arena ialah.." Belum selesai wasit Zou Fu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba salah seorang pangeran telah hadir diatas arena turnamen dengan cara melompat dari tempat duduknya.
"Aku disini ingin menantang dia sebagai lawanku." Ujar, anak dari raja Ming Lie yaitu Ming Wan, yang menunjuk kearah Lin Kiong.
"Pangeran salah jika menantangku." Ujar, Lin Kiong yang langsung melompat keatas arena.
Setelah Lin Kiong menaiki arena tak berselang lama sang wasit Zou Fu mulai memberikan aba-aba tanda pertarungan dimulai.
Dari sisi kanan Lin Kiong yang tengah meregangkan otot-otot dengan cara menggerakkan badannya, sambil terus-terusan tersenyum kearah anak dari raja Ming Lie. "Aku pun tak mau kalah dengan anak dataran barat itu."
Sedangkan disisi kiri terlihat Ming Wan tengah mengambil posisi bersiap menyerang, tanpa pikir panjang segera melesat maju menyerang Lin Kiong.
__ADS_1
Daaak..
Pukulan Ming Wan berhasil ditahan Lin Kiong menggunakan tangan kanannya. "Sabar dulu pangeran, tidak kah kau lihat diriku sedang pemanasan." Ujar Lin Kiong.
"Banyak omong." Kembali Ming Wan melesatkan pukulan dengan tangan kirinya, kembali Lin Kiong menahannya. "Wah.. Wah.. Agresif sekali kau pangeran." Lin Kiong kemudian mendorong Ming Wan agar menjauh.
"Kalau sudah begini mau apa lagi, majulah." Lin Kiong mengacungkan jari telunjuk lalu menggerakkannya, menyuruh agar Ming Wan maju.
"Sialan.. Akan aku buat kau menderita." Kembali Ming Wan maju menyerang, namun kali ini kekuatan serang dari pukulannya sedikit bertambah.
Daaak.. Daak..
Keduanya kemudian saling serang menggunakan pukulannya masing-masing, terlihat mereka berdua saling imbang dalam adu pukulan.
"Tidak buruk bagi seoarang pangeran." Walaupun dalam keadaan masih beradu pukulan, Lin Kiong masih sempat meremehkan Ming Wan.
"Hah.. Ternyata kau juga lumayan." Ming Wan membalas ucapan Lin Kiong.
Keduanya terus beradu hingga sampai meningkatkan kekuatan serang, yang kemudian membuat mereka berdua sama-sama terpental.
Kali ini Ming Wan mencoba mengeluarkan senjata pusaka kerajaannya berupa dua tombak kecil, dengan berwarna emas berpadu dengan warna hitam.
"Oh.. Ingin menggunakan senjata, baik aku terima." Lin Kiong pun mengeluarkan senjata terbaiknya berupa pedang besar, dengan berwarna perak hitam. "Sekarang majulah."
Lin Kiong terlihat sangat meremehkan kekuatan dari Ming Wan, dengan terlalu bersikap sok hebat didepannya. "Anak ini perlu dikasih pelajaran." Gumam Ming Wan.
Dengan mengalirkan tenaga dalam kedalam dua senjata pusakanya, nampak dari dua pusaka itu memancarkan percikan-percikan seperti petir.
Ming Wan menghantamkan senjatanya ke lantai arena. Duaaaarrr..
Lantai arena seolah teraliri kekuatan listrik yang sangat kuat.
Saat aliran listrik itu hendak mengenai Lin Kiong, dengan cepat Lin Kiong menghantamkan pedang besarnya ke lantai arena. Duaaarrrrr....
Dua kekuatan dari masing-masing senjata bertemu dan menciptakan sebuah ledakan yang sangat hebat.
Duaaaarr... Duaaaarrrr...
Akibat ledakan itu tercipta sebuah lubang yang besar di lantai arena. "Nampaknya pusaka ditangannya itu tak bisa diremehkan." Gumam Lin Kiong.
Kali ini giliran Lin Kiong mengalirkan tenaga dalam pada pedang besarnya, hingga terlihat dari pedang besarnya cahaya hitam melapisi setiap sisinya.
"Kali ini kau akan melihat kekuatan dari pedangku ini." Lin Kiong mengangkat pedangnya dan maju menyerang Ming Wan.
Traaaang.. Traaaang..
Bunyi dua senjata beradu hingga menciptakan percikan-percikan kekuatan dari masing-masing senjata.
..........
__ADS_1