
Waktu senja pun telah berlalu bergantikan waktu malam, guru Liu King yang sudah menantikan datangnya malam mulai mengatur strategi untuk dapat memasuki desa.
Melihat situasi dan kondisi dirasa cukup aman, barulah guru Liu King mulai beraksi dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya.
Mengendap-endap dengan penuh kehati-hatian, guru Liu King memilih melalui atap rumah untuk memantau keadaan. Tiba-tiba guru Liu King terhenti saat mencium bau darah.
Guru Liu King mencoba melihat dari balik celah atap, alangkah sangat terkejutnya beliau saat mendapati banyaknya jasad penduduk desa dengan bentuk tubuh yang tak wajar.
Namun beliau tak ingin berlama-lama sebab keberadaan Yin Feng sangatlah penting baginya, disusurinya rumah penduduk satu persatu tapi hasilnya tak didapati keberadaan Yin Feng disana.
Akhirnya guru Liu King memutuskan untuk pergi meninggalkan desa tersebut, namun ternyata Panglima Cobra sedikit merasa ada seseorang yang datang akan tetapi ia tak menghiraukannya.
Tak terduga oleh guru Liu King saat beliau hendak pergi, tiba-tiba ada beberapa ekor laba-laba yang muncul dari pepohonan.
Awalnya guru Liu King tak mempermasalahkannya namun makin lama justru laba-laba itu mulai menyerang guru Liu King dengan jaring putihnya.
Dengan cepat guru Liu King memainkan pedangnya hingga satu persatu laba-laba itu pun terbunuh, akan tetapi justru kemunculan laba-laba makin bertambah banyak.
Berbagai gerakan serta ilmu berpedang dikerahkan oleh guru Liu King, untuk menghadapi ribuan laba-laba yang mulai agresif dalam penyerangannya.
Sampai tak terasa Panglima Cobra mendengar akan pertarungan yang sangat jelas ditelinganya. "Sialan.. Siapa yang berani mengganggu pemulihanku."
Nampak dari raut wajah Panglima Cobra kemarahan yang sangat memuncak, dengan terpaksa ia menghentikan pemulihannya padahal tinggal sedikit lagi.
Namun ia tak mau jika pengganggu itu akan lolos nantinya, sebab itu ia terpaksa menghentikan pemulihannya agar dapat memberi kematian pada sang pengganggu.
Panglima Cobra segera keluar alangkah terkejutnya ia saat mendapati ribuan laba-laba sedang mengepung seseorang. "Hemm.. Sepertinya ada tamu tak diundang." Walaupun Panglima Cobra tidak teriak, akan tetapi suaranya tetap terdengar oleh guru Liu King.
Guru Liu King sempat menengok untuk melihat siapa yang berucap, ternyata ia mendapati seperti yang diceritakan Walikota Tian Long tentang orang itu.
Akan tetapi guru Liu King sedikit terkejut saat mendapati Panglima Cobra tanpa lengan kiri. "Ada apa? Tak usah terkejut seperti itu. Ini termasuk ulah salah satu rekanmu." Ujar Panglima Cobra.
Walaupun sedang melawan kawanan laba-laba namun guru Liu King tetap dapat melihat kearah Panglima Cobra, namun tak disangka setelah ribuan laba-laba banyak yang terbunuh hingga menyisahkan hanya ratusan ekor laba-laba.
Tiba-tiba ratusan ekor laba-laba mulai mundur dan menghilang, bergantikan munculnya seseorang dengan postur tubuh yang kecil dengan seekor laba-laba ukuran sedang ditangannya.
__ADS_1
"Tak kusangka seorang Panglima Cobra mampu terluka hingga seperti itu." Perkataan seseorang dengan postur tubuh kecil dengan laba-laba ditangannya, tidak lain adalah Panglima Laba-laba.
"Kemana saja kau? Saat anak buahmu membutuhkan bantuan." Ujar Panglima Cobra.
"Hahaha.. Aku datang terlambat, sengaja ingin melihat bagaimana seorang Panglima Cobra mampu menyelesaikan pertarungannya." Ucap Panglima Laba-laba.
"Apa maksudmu?" Panglima Cobra merasa ada yang tak beres dengan Panglima Laba-laba.
"Sederhana saja, aku hanya ingin melihat apakah pemuda itu mampu membuatmu terdesak." Ucap Panglima Laba-laba.
"Jadi.. Sejak kapan kau sudah berada disini?" Ujar Panglima Cobra.
"Sekarang bukan waktunya kita berbincang, bukankah ada hal yang lebih penting." Ujar, Panglima Laba-laba sambil mengedipkan mata, memberikan isyarat akan keberadaan guru Liu King.
"Hemm.. Kau benar, aku sedang ingin melampiaskan kemarahanku." Setelah berkata demikian Panglima Cobra langsung mengeluarkan asap beracun yang keluar dari tubuhnya.
Mengetahui jika asap yang dikeluarkan Panglima Cobra adalah asap beracun, guru Liu King segera menutup hidungnya menggunakan kain baju lalu menjauh.
Namun ternyata Panglima Laba-laba kali ini tidak ingin berdiam diri lagi, saat guru Liu King menjauhi asap beracun secara tiba-tiba Panglima Laba-laba mengeluarkan jaringnya untuk dapat melilit guru Liu King.
Dengan cepat guru Liu King menghindar lesatan-lesatan jaring Panglima Laba-laba, tak sampai disitu Panglima Cobra menambahkan serangannya menggunakan ular kecil.
Namun yang membuatnya kesulitan ternyata saat Panglima Laba-laba selain mengeluarkan jaringnya, dirinya juga mengeluarkan laba-laba kecil dengan masing-masing memiliki racun ditubuhnya.
Racun ini memang identik dengan Panglima Laba-laba, memiliki warna ungu cerah dapat memperlemah seluruh syaraf dalam tubuh, dan juga akan membekas pada tubuh seseorang bila terkena racun tersebut.
Terlihat guru Liu King sedikit kesulitan saat menghadapi keduanya, walaupun pedang pusaka ditangannya tetap tak mampu untuk mengalahkan keduanya.
Saat Panglima Cobra mengeluarkan racun guru Liu King dapat sedikit menghindarinya, namun beliau tak menyadari bahwa laba-laba kecil milik Panglima Laba-laba pun terdapat racun ditubuhnya.
Karena racun laba-laba terdapat didalam tubuh laba-laba kecil, akhirnya guru Liu King sedikit terkena percikan-percikan darah bercampur racun saat sedang membunuh kawanan laba-laba itu.
Efek yang diterima walaupun hanya sedikit, seketika membuat guru Liu King mengalami pusing dan jarak pandang mata mulai kabur. "Apa yang terjadi denganku? Kenapa pandanganku mulai kabur."
Tanpa disadari guru Liu King, kedua Panglima baik itu Cobra ataupun Laba-laba, memanfaatkan kesempatan itu dengan segera menghunuskan pedang kearah guru Liu King dari arah yang berbeda.
__ADS_1
Jleebbbb....
Cukup keras terdengar dua pedang menusuk tubuh guru Liu King, yang satu dari arah depan dan satunya dari arah belakang, "Uwegg.." Guru Liu King memuntahkan darah sangat banyak.
"Hahaha.. Akhirnya kau mati juga pak tua." Ujar Panglima Laba-laba.
"Hehehe.. Tak ku sangka kekuatanmu hanya seperti ini." Ujar Panglima Cobra.
Walaupun keadaan guru Liu King sangat parah namun dengan sisa-sisa tenaga, beliau masih sanggup mengeluarkan jurus Pukulan Seribu Bayangan.
Dua Panglima dengan pedang yang masih tertancap ditubuh guru Liu King tak bisa mengelak, saat jurus pukulan seribu bayangan mengenai dada keduanya.
Membuat keduanya terpental jauh dari guru Liu King, dengan masing-masing memuntahkan darah segar. "Uhukk.. Sialan kau pak tua." Ujar Panglima Laba-laba.
Nampak keduanya mengalami luka luamayan serius pada dada masing-masing, sambil memegangi dadanya kedua Panglima mencoba untuk berdiri.
Namun luka pada dadanya tak kuat membuat keduanya berdiri, hanya terus memandangi guru Liu king yang lama-kelamaan mulai lemah hingga pada akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
"Sialan.. Sudah mau mati saja masih bisa mengeluarkan jurus sekuat ini." Ujar Panglima Cobra.
Ternyata jurus pukulan seribu bayangan membuat kedua Panglima harus mengurung diri dalam waktu cukup lama, sampai keduanya dapat memulihkan luka serta tenaga dalam yang terkuras cukup banyak.
**
Disisi lain..
Yin Feng mulai tersadar dengan perlahan-lahan membuka matanya, dia terkejut saat mendapati dirinya tengah terbaring lemah diatas ranjang. "Dimana aku." Dia mencoba melihat-lihat sekitar, namun saat hendak bangun. "Uhhh.." Ternyata tubuhnya nampak masih sangat lemah.
Dan juga ia terkejut saat mendapati ternyata tubuhnya sudah tak berpakaian, hanya selembar kain yang menutupi bagain tengah. "Kau sudah sadar anak muda."
Terlihat laki-laki tua dengan rambut, kumis serta jenggot yang sudah memutih datang menghampiri Yin Feng. "Jangan bergerak dahulu, kau belum begitu pulih."
"Apakah kakek yang menolongku?" Tanya Yin Feng.
"Aku tak sengaja menemukanmu tergeletak dihutan yang tengah dikepung kawanan srigala iblis." Ujar kakek berjenggot putih.
__ADS_1
"Uhh.. Aku tak ingat lagi kakek, yang ku ingat aku terjatuh lalu tak sadarkan diri." Ucap Yin Feng.
.........