
Tak dapat disangka dari kekuatan masing-masing senjata mereka, semua orang yang memandangnya sangat terkesima dengan permainanan pedang Lin Kiong.
Begitu lincahnya walaupun pedang yang ditangannya adalah pedang besar, dengan bobot kurang lebih 50kg. Namun ditangan Lin Kiong pedang itu dapat begitu mudah dimainkannya.
Beberapa kali antara Ming Wan dan Lin Kiong saat beradu senjata, keduanya saling mengeluarkan jurus-jurusnya hingga membuat ledakan demi ledakan terjadi. "Memang tak bisa diremehkan anak ini." Gumam Ming Wan.
Keduanya masih saling beradu hingga beberapa saat sebelum dua-duanya mengeluarkan jurus terbaik dari senjata mereka. " Jurus Terpaan Angin Malam."
Lin Kiong pertama kali menyerang.
Ming Wan membalas serangan Lin Kiong.
"Jurus Tarian Halilintar."
Kedua jurus bertemu menentukan siapa yang terhebat.
Sepertinya Ming Wan sangat terdesak meladeni jurus dari Lin Kiong, sampai sedikit ke geser kebelakang. Akan tetapi dirinya tak mau kalah dengan meningkatkan kembali kekuatan jurusnya.
Hingga pada akhirnya kedua jurus meledak diudara. Duuaaaaaarrrr...
Masing-masing baik Lin Kiong maupun Ming Wan sama-sama terpental hampir keluar arena.
Dengan sedikit darah keluar dari masing-masing mulut mereka, tak sampai disitu melihat Lin Kiong sedikit terengah-engah Ming Wan kembali melesatkan serangan susulan.
Dengan menancapkan dua tombak kecilnya ke lantai arena, membuat lantai arena teraliri melekul-melekul listrik yang kuat. Kali ini Lin Kiong sedikit terlambat membalas serangan itu hingga membuatnya terkena serangan dari Ming Wan.
Duaarrr.. Duaaar.. Duaaar..
Lin Kiong mengalami luka-luka pada setiap tubuhnya, hingga terlihat dari robekan pakaian Lin Kiong darah menetes cukup banyak, akibat terkena serangan dari Ming Wan.
"Sial.. Aku tak boleh kalah." Lin Kiong mengambil pil pemberian gurunya berwarna hitam, lalu segera meminumnya.
"Anak itu mengapa menggunakannya sekarang." Guru Gou Lang sedikit bingung, akan tetapi dia sangat memahami jika muridnya itu terpaksa melakukannya.
Karena memang kekuatan dari anak raja Ming Lie sangat luar biasa, apa lagi senjata pusaka yang dimilikinya itu adalah senjata pusaka turun temurun dari keluarganya.
Nampak perubahan dari bentuk dan juga wajah Lin Kiong, dengan warna mata merah darah dan dari kepalanya keluar dua tanduk serta bentuk tubuhnya menjadi sesosok binatang iblis berbentuk kerbau.
"Apa itu?? Perubahannya sangat menakutkan." Teriak para penonton yang terkejut atas perubahan Lin Kiong, setelah menelan pil berwarna hitam.
Dengan mata melotot Lin Kiong mengerang layaknya binatang yang siap menerkam mangsanya. "Hoooourrr.. "
__ADS_1
Kali ini gerakan Lin Kiong tak dapat ditebak oleh Ming Wan, dengan kecepatan yang sangat cepat tiba-tiba keberadaannya sudah tepat disamping Ming Wan.
Diayunkan pedang besarnya yang hendak memenggal kepala Ming Wan, secara reflek Ming Wan menahannya dengan menyilangkan dua tongkat kecilnya.
Namun tetap saja karena kekuatan Lin Kiong kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya, membuat Ming Wan tak kuat menahan serangan dari Lin Kiong.
Akibatnya Ming Wan terpental sampai kepinggir arena, dengan sedikit mengalami luka pada kedua tangannya akibat menahan serangan dari Lin Kiong. "Sial.. Jika sudah seperti ini apa boleh buat."
Ternyata tak hanya kerajaan dataran barat saja yang memiliki pil merah darah, kerajaan dataran timur pun tak luput dari pil tersebut. Ming Wan mengambil pil merah darah dari saku kemudian segera menelannya.
Perubahan kekuatan sama persis dengan Tang He yang menggunakan pil itu saat berhadapan dengan Yin Feng, terlihat jelas dari tangan dan kaki Ming Wan otot-otot yang terlihat kekar.
Kali ini kekuatan antara keduanya imbang sama-sama naik dua kali lipat dari sebelumnya, Ming Wan membalas serangan Lin Kiong dengan melesat sangat cepat kearahnya.
Hingga pertarungan dua senjata kembali terjadi, namun dengan kekuatan yang berbeda dari sebelumnya.
Kali ini akibat beradunya dua senjata dari masing-masing mereka, terlihat jelas kilatan-kilatan petir maupun cahaya hitam dari senjata keduanya.
Hingga beberapa kali senjata salah satu dari mereka membuat retakan bahkan lubang di arena, setelah beberapa kali beradu senjata secara cepat Lin Kiong mengeluarkan jurus kedua dari pedangnya. "Jurus Kegelapan Malam."
Sebuah tekhnik pedang keluar dari pedang besar Lin Kiong membentuk bayangan prajurit perang lengkap dengan pedangnya, yang secara langsung mengahntamkan pedang itu kearah Ming Wan.
Ledakan terjadi saat prajurit perang menghantamkan pedangnya, dan membentur prisai pelindung dari Ming Wan. Sekali tak berhasil kembali pedangnya dihantamkan untuk kedua kalinya. Duaaaaaarrrr....
Sekuat tenaga Ming Wan tetap menahannya, walaupun memang kekuatan serang dari prajurit perang sangat membuatnya tertekan. Akan tetapi dibalik semua itu Ming Wan sedang memikirkan cara agar dapat menyerang Lin Kiong dengan fatal.
Saat ayunan pedang dari prajurit pedang untuk ketiga kalinya, Ming Wan sedikit melihat celah dari serangan itu dan tak ingin melewatkannya.
Secara cepat Ming Wan melapisi permukaan arena menggunakan kekuatan halilintarnya, dengan mengalirkan kekuatan itu melalui kedua kaki Ming Wan.
Rencana Ming Wan tak dapat ditebak oleh Lin Kiong, sehingga saat hantaman pedang dari bayangan prajurit perang yang kelima kalinya Ming Wan dapat membalikan keadaan.
Dengan membalas serangan itu menggunakan bayangan dewa halilintar, yang dapat dengan mudah mematahkan serangan dari bayangan prajurit perang.
Membuat bayangan prajurit perang tumbang dalam seketika, begitupun dengan Lin Kiong yang terpental dengan memuntahkan darah.
Ternyata tak sampai disitu Ming Wan yang sudah menyiapkan aliran halilintar dilantai arena, langsung menancapkan kedua tombaknya di arena.
Terjadi ledakan demi ledakan keluar dari arena turnamen. Duaaaaarr... Duaaaarr.. Tanpa dapat menghindarinya akhirnya Lin Kiong terkena ledakan itu hingga membuat kedua kakinya terluka cukup parah.
"Aakhh kakiku.." Teriakan Lin Kiong terdengar saat ia merasakan kedua kakinya tak dapat digerakkan kembali.
__ADS_1
Kini dirinya hanya dapat memandangi kakinya yang penuh akan luka dan darah, sambil terus-terusan mengerang kesakitan. "Akkhhh.. Sakit sekali."
Ming Wan berjalan mendekati Lin Kiong yang sudah terluka parah, diarahkan salah satu tombak kecilnya kearah Lin Kiong. "Masih ingin melawanku??"
Hah.. Hah.. Terdengar nafas yang tak stabil dari Lin Kiong, dirinya tak menjawab apapun hanya tatapan tajam kearah Ming Wan. "Haha.. Sudah kalah masih berani memandangku seperti itu."
Ming Wan mengangkat tombak kecil ditangan kanannya, hendak mengakhiri kesombongan dari Lin Kiong. Akan tetapi seseorang lebih dahulu menahannya. "Cukup tuan muda!! Muridku sudah tak berdaya, apakah kau ingin menyerang orang yang sudah tak berdaya?"
Ternyata guru dari Lin Kiong yang bernama Gou Lang secara cepat datang menyelamatkan muridnya.
"Hah.. Baiklah." Ming Wan membatalkan serangan itu dan langsung menyimpan kedua tombak kecilnya di cincin ruang hampa miliknya.
Guru Gou Lang mengeluarkan pil penyembuh dan meminumkannya pada Lin Kiong, lalu segera membawanya keruangan miliknya.
Saat diruangan milik mereka nampak dari wajah guru Gou Lang penyesalan yang mendalam. "Dasar murid tak berguna, sudah menggunakan pil pemberianku masih saja kalah, Memalukan.."
"Mm.. Aaf guru, Uhuk.. Uhuk..
Aku tak menyangka jika pusaka yang dimiliki Ming Wan adalah pusaka tingkat tinggi." Ujar, Lin Kiong dengan sedikit menahan sakit.
"Sudahalah.. Akibat ulahmu ini kau sekarang akan mengalami kelumpuhan cukup lama."
Hah!! Benarkah itu guru?? Lin Kiong sangat tak percaya akan ucapan gurunya.
"Jelas-jelas urat kakimu sebagian ada yang terputus, itu membutuhkan waktu cukup lama agar bisa memulihkannya."
"Ahh tidakkkk.. Aku tidak mau seperti ini guru.. Tidaak." Sambil memegangi kepala Lin Kiong merasa tak kuat menahan rasa malu serta beban hidupnya jika dirinya harus mengalami kelumpuhan.
Saat Lin Kiong tengah menerima nasibnya justru di arena Ming Wan sangat disanjung-sanjung, yang dapat mengalahkan peserta terbaik dari dataran selatan.
Sebuah pujian diucapkan dari salah satu raja. "Tak ku sangka anakmu sangat hebat raja Ming Lie." Ujar raja Qiun Zen.
"Telah banyak sumber daya aku keluarkan hanya untuk membuat anakku menjadi kuat, akhirnya itu tak sia-sia." Ujar raja Ming Lie.
Ming Wan kemudiam kembali ke tempat duduknya, walaupun sebenarnya dirinya juga cukup mengalami luka dalam akan tetapi tak begitu serius.
Hanya dengan meminum pil pemberian ayahnya Ming Wan pun dapat stabil kembali, giliran kali ini wasit Zou Fue mengumumkan untuk pertarungan selanjutnya.
Namun sebelum memanggil dari peserta selanjutnya, terdengar suara dari seorang wanita yang memasuki arena. "Aku pun ingin juga mencoba kemampuan peserta perempuan satu-satunya." Ujar, Qiun Zie dengan sebuah pedang sudah ditangannya.
.......
__ADS_1