Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Kekhawatiran Guru Liuking


__ADS_3

Setelan Yinfeng mendapatkan permata api abadi ia segera duduk bersila dan memfokuskan segalanya, untuk menggabungkan permata api abadi dengan mutiara salju abadi yang ada didalam jiwanya.


Dibekukannya permata api abadi itu dengan menggunakan elemen esnya, kemudian ia leburkan dan menelannya.


Seketika Yinfeng merasakan akan sakit didalan jiwanya, namun ia tetap fokus untuk dapat menyatukan permata api abadi dengan mutiara salju abadi.


"Ternyata akibat dari dua batu mulia yang hendak disatukan ini membuat diriku menahan akan sakit yang sangat-sangat sakit dalam jiwaku." Gumam Yinfeng.


Yinfeng yang terus berusaha untuk menyatukan kedua batu mulia tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama.


***


Sedangkan diluar, sang kakek guru Liuking yang telah menunggu Yinfeng sempat merasa khawatir.


"Sudah larut malam begini, mengapa Yinfeng belum juga muncul dari kobaran api itu, apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengannya." Gumam guru Liuking.


Setelah berusaha menahan rasa khawatirnya sang kakek guru Liuking akhirnya tidak bisa bersabar lagi, hingga ia ingin menolong Yinfeng yang sedang didalam kobaran api.


Namun ketika guru Liuking hendak memasuki kobaran api, ia merasakan panasnya api abadi tak sepanas sebelumnya.


"Kenapa tiba-tiba api abadi ini tidak terlalu panas seperti sebelumnya." Gumam guru Liuking.

__ADS_1


Namun apa yang guru Liuking rasakan itu, karena permata api abadi telah berhasil Yinfeng satukan dengan mutiara salju abadi yang terdapat di dalam jiwanya.


Hingga tiba-tiba guru Liuking merasakan kobaran api abadi seketika membuka, dan keluarlah seorang anak kecil berusia sepuluh tahun dengan wajah tak asing lagi ia adalah Yinfeng.


"Kakek guru.., Kenapa wajahmu terlihat cemas, apa kau mengkhawatirkanku ?" Ucap Yinfeng.


"Kakek guru kira terjadi sesuatu kepadamu didalam sana, jadi kakek guru ingin menolongmu."


"Aku baik-baik saja kakek, berkat....,"


Seketika Yinfeng menghentikan ucapannya, karena takut guru Liuking mengetahui alasan ia dapat melalui pemurnian itu.


"Berkat.., Kegigihanku dan elemen esku kakek, sehingga Aku dapa melalui pemurnian ini." Kata, Yinfeng yang berbohong, karena tidak mau mengingkari janjinya pada sosok misterius.


Guru Liuking yang memperhatikan Yinfeng sampat merasa terkejut, karena Yinfeng kini telah memancarkan aura ketenangan dan kewibawaan yang sangat mencolok.


Hingga wajahnya terlihat seperti bukan berumur sepuluh tahun melainkan bagaikan


berumur lima belas tahun.


"Nak sekarang kau sudah berhasil menjalani pemurnian didalam api abadi, apakah kau sudah siap untuk mempelajari kitab jurus Teratai Api itu." Ucap guru Liuking.

__ADS_1


"Iya kakek guru. Namun Aku belum ingin mempelajarinya sekarang." Ucap Yinfeng.


"Kenapa ?" Tanya guru Liuking.


"Karena perutku lapar guru. Hehehehe." Jawab Yinfeng dengan tertawa sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


Di pukulnya kepala Yinfeng pelan oleh guru Liuking.


Tokkk...


"Kau ini... Yasudah sekarang kita kembali ke perguruan terlebih dahulu." Kata guru Liuking yang greget.


"Hehehehe.. Siap kakek guru."


Mereka berdua akhirnya meninggalkan lokasi api abadi dan langsung menuju ke perguruan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Sesampainya mereka di perguruan, mereka terkejut ketika melihat papan pengumuman yang berisikan tentang pengumuman turnamen beladiri.


"Kakek memang apa itu yang dinamakan turnamen beladiri ?" Tanya Yinfeng


"Turnamen beladiri itu adalah sebuah ajang untuk mencari bakat, nantinya tiga besar yang dapat memasuki final pada turnamen itu, akan dikirim ke ajang beladiri bergengsi untuk mewakili perguruan yang diselenggarakan tiga tahun sekali." Ujar guru Liuking.

__ADS_1


__ADS_2