Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Suasana Di Kota Tian Jien


__ADS_3

Perjalanan ke dataran barat menggunakan kereta kuda ternyata memerlukan waktu sekitar dua belas hari perjalanan, tak ada permasalahan yang terjadi saat melintasi beberapa desa yang ada.


Namun justru saat setibanya di pintu gerbang kota Tian Jien paman Dou Han langsung menghentikan laju kereta kuda. "Ada apa Dou Han? Mengapa kau hentikan laju keretanya?"


Tanya Walikota Tian Long.


"Coba anda saksikan sendiri tuan Long. " Ujar paman Dou Han.


Walikota Tian Long beserta yang lainnya cukup terkejut, saat melihat dari jendela kereta akan perubahan didalam kota. "Apa-apaan ini? Mengapa kota Tian Jien menjadi seperti ini??"


Walikota Tian Long, Yin Feng, paman Dou Han serta Qin Xua, sangat-sangat tidak menyangka akan pemandangan yang terlihat.


Banyak para pedagang yang saling berantem memperebutkan pelanggan, namun yang lebih mirisnya lagi itu semua tersajikan ibarat sudah menjadi tontonan gratis.


Buru-buru Walikota Tian Long turun dari kereta kuda dan menghentikan perkelahian antara pedagang tersebut. "Hentikan..." Bentak Walikota Tian Long cukup keras pada mereka.


Semua yang ada disana menoleh kearah sumber suara dan mendapati sesosok yang mereka kenal namun lupa-lupa ingat, mereka tak mempedulikan keberadaan Walikota Tian Long.


Justru setelah terhenti sejenak mereka melanjutkan perkelahiannya kembali. "Apa-apaan ini? Baru beberapa hari mereka sudah tak mempedulikan keberadaanku lagi."


Yin Feng, Qin Xua dan paman Dou Han saling berpandangan karena keheranan. "Apa yang sebenarnya terjadi di kota ini?" Yin Feng bertanya-tanya dalam hatinya.


Seketika Walikota Tian Long melepaskan aura kekuatannya, membuat seluruh warga maupun pedagang yang ada langsung tertekan dan tak dapat bergerak.


Semua pada bingung saat tubuh mereka tak dapat digerakkan. "Ada apa ini? Mengapa tubuhku tak dapat digerakkan?"


Setelah cukup lama barulah Walikota Tian Long melepaskan aura kekuatannya, membuat para warga yang berkerumun langsung terduduk dan meminta maaf pada sesosok yang mirip dengan Walikota Tian Long.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya Walikota Tian Long pada warganya.


Saat ditanya justru para warga hanya saling pandang memandang satu sama lain, sambil saling suruh untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.


Ada juga yang berbisik-bisik akan sosok di depan mereka. "Hei.. Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Walikota Tian Long?" Tanya seorang warga pada warga yang lain.


Melihat hal demikian Walikota Tian Long menaikkan suaranya dengan bertanya sekali lagi. "Apakah kalian tidak dengar? Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?"

__ADS_1


"Aaampun tuan pendekar, sebenarnya beberapa hari lalu ada sekelompok orang yang menyerbu dan menduduki istana Walikota." Ujar salah satu warga.


"Apaa!! Ada sekelompok orang yang berani menduduki kursi Walikota??" Walikota Tian Long nampak sangat terkejut mendengarnya. "Lalu apakah yang dilakukan sekelompok itu pada kalian?"


"Setelah mereka berhasil menduduki kursi Walikota, semua peraturan dirubah pajak dinaikkan dan juga mereka mengambil paksa anak-anak perempuan kami, untuk dijadikan pelayan mereka."


"Apa!! Ini tidak bisa dibiarkan!" Walikota Tian Long nampak marah besar, dan hendak pergi untuk memberikan pelajaran pada sekelompok itu.


Namun dengan segera Yin Feng menghentikannya. "Sabar dulu paman, sebaiknya kita amati dulu suasana disana."


"Betul paman apa yang dikatakan Feng er, sebaiknya kita amati dulu suasananya." Ujar Qin Xua menambahi.


Akan tetapi tak disangka terdapat mata-mata yang ditugaskan untuk berjaga-jaga disekitar pintu masuk kota, sebelum para rombongan Walikota Tian Long mencari tempat untuk beristirahat.


Mata-mata itu sudah meninggalkan tempat dan pergi melapor kepada sekelompok orang yang menduduki kursi Walikota. "Lapor tuan, diluar ada seseorang yang mirip dengan Walikota, dan sekarang mereka sedang mencari tempat untuk beristirahat."


"Haha.. Ini yang aku nanti-nantikan." Ujar, ketua kelompok yang duduk di kursi dimana Walikota duduk. "Dan untukmu, tetap kau awasi gerak-gerik mereka."


"Baik tuan." Jawab mata-mata lalu beranjak pergi.


**


Disisi lain di dataran selatan tepatnya di kota Shu Sang, ketiga Panglima Kegelapan yang terjebak dalam formasi bulan purnama mulai mengalami kelelahan bahkan sebentar lagi akan hilang kesadaran.


Namun saat ketiganya sudah tak berdaya,


beberapa Panglima kegelapan ikut serta membereskan para pendekar kerajaan. "Hanya beberapa tikus saja kalian tak sanggup membereskannya." Ujar, Panglima Srigala yang datang dengan Panglima yang lain.


"Hahaha.. Sepertinya tak pantas bagi kalian menjadi bagian dari pemimpin pasukan kegelapan." Ujar, Panglima Elang yang melayang-layang diudara.


"Memalukan!! Dasar tak berguna." Ujar Panglima Kera.


Dalam sekejap formasi bulan purnama dapat dipatahkan oleh panglima kegelapan yang hadir, membuat sebagian pendekar kerajaan terpental dengan darah segar mengalir dari mulutnya.


Tiga pendekar kerajaan ditingkat langit hanya dapat melihat dengan pandangan geram, saat menyaksikan para pendekar kerajaan ditingkat bumi mengalami luka lumayan parah.

__ADS_1


Tanpa bertele-tele para Panglima Kegelapan mulai melesatkan senjatanya masing-masing, tanpa dapat dihindarkan senjata para panglima kegelapan menembus jantung para pendekar kerajaan di tingkat bumi yang sudah tak berdaya.


Setelah semua pendekar kerajaan tingkat bumi tewas, sekarang hanya menyisahkan tiga pendekar di tingkat langit. "Apa kau ingin maju duluan kera?" Tanya Panglima Srigala pada Panglima Kera.


"Hahaha... Bukankah kau yang sepertinya sudah tidak sabar ingin mencincang mereka." Jawab Panglima Kera.


"Biar aku saja yang maju terlebih dahulu." Ujar Panglima Elang.


"Hah!! Sanggupkah kau menghadapi ketiganya?" Panglima Badak tidak yakin bila Panglima Elang bisa imbang menghadapi ketiga pendekar kerajaan tersebut.


"Jangan kau remehkan kekuatanku badak." Ujar, Panglima Elang yang tak mau diremehkan.


Seketika Panglima Elang melesat dengan kecepatan penuh, mencoba menyerang salah satu pendekar tingkat langit tersebut menggunakan cakar tajamnya.


Akan tetapi pendekar kerajaan dapat menghindarinya dengan cukup mudah, tak mau tinggal diam kedua pendekar kerajaan membantu rekannya itu dengan mengintruksikan untuk membentuk serangan gabungan. "Gabungkan kekuatan."


Ketiga pendekar kerajaan membentuk tiga titik persis seperti segitiga sama sisi, dengan mengalirkan tenaga dalam ke satu titik barulah serangan cukup dahsyat diluncurkan.


Tak mau kalah Panglima Elang sama halnya menandingi serangan dari ketiga pendekar kerajaan tersebut, menggunakan jurus kepakan sayapnya. "Jarum Elang Kegelapan."


Bulu-bulu sayap elangnya seolah membentuk kerucut dengan ujungnya yang sangat tajam. "Kita lihat serangan siapa yang paling kuat." Ujar Panglima Elang penuh kepercayaan diri.


Dua serangan beradu menimbulkan gejolak ledakan yang sangat hebat, sampai-sampai pepohonan yang berada disekitarnya ikut hancur saat terkena imbas dari ledakan tersebut.


Nampak ketiga pendekar kerajaan sedikit termundur dengan nafas yang terengah-engah, namun justru sebaliknya Panglima Elang nampak masih terbang melayang di udara tanpa sedikit pun kelelahan. "Hahaha.. Hanya segitukan kemampuan kalian bertiga."


Memang ketiga pendekar kerajaan tenaganya cukup banyak terkuras , akibat pertarungan sebelumnya. Yang membuat ketiganya tak dapat bertarung dengan maksimal.


Akan tetapi mereka bertiga tak mau menyerah begitu saja, dengan memiliki strategi yang cukup matang untuk dapat mengalahkan panglima Elang.


Ketiganya mencoba untuk terbang berpencar menyerang menggunakan tiga sisi yang berbeda, dari arah belakang dan samping.


Ketiganya siap mengeluarkan jurus terbaiknya dengan satu intruksi, akhirnya serangan dikeluarkan secara bersamaaan. Secara cepat Panglima Elang melengkupkan sayapnya membentuk sebuah prisai pertahanan.


.........

__ADS_1


__ADS_2