
Tak disangka setelah salah satu pendekar kerajaan tewas ditangan Panglima Elang, giliran dua pendekar kerajaan yang tersisa akan menyusul rekan-rekannya.
Kedua pendekar kerajaan di tingkat langit kini sudah terpojok, dengan dikelilingi oleh para Panglima Kegelapan. "Langsung saja kita habisi mereka berdua." Ujar Panglima Srigala.
Dengan serempak semua Panglima Kegelapan mengeluarkan senjatanya masing-masing, dan siap untuk menghabisi kedua pendekar kerajaan tersebut.
Kedua pendekar kerajaan kini seolah seperti mainan bagi para Panglima Kegelapan, dengan sisa-sisa tenaga kedua pendekar kerajaan mencoba untuk tetap melawan.
Namun itu percumah saja, sebab jumlah antara keduanya tak imbang pendekar kerajaan hanya berdua, sedangkan panglima kegelapan mereka bertujuh.
Panglima Kegelapan kemudian mulai menyerang kedua pendekar kerajaan secara bersamaan, dengan menyatukan dua kekuatan untuk membuat prisai pelindung pendekar kerajaan dapat menahan awal serangan.
Akan tetapi lama-kelamaan karena kondisi keduanya yang sudah diambang kelelahan, dan juga keduanya telah banyak kehilangan tenaga dalam.
Sedikit waktu pun tak ada bagi keduanya untuk dapat menstabilkan kekuatan mereka, hingga pada akhirnya serangan demi serangan panglima kegelapan dapat memecah prisai pelindung.
Saat prisai pelindung sudah dapat dihancurkan terlihat kedua pendekar kerajaan memuntahkan darah segar. " Hahaha.. Sudah percumah saja tetap melawan, lebih baik nikmati saja kematian kalian." Ujar Panglima Beruang.
"Hah.. Beruang sombong sekali kau, andai saja kami tak datang membantumu mungkin kau sudah hangus terbakar." Ujar Panglima Srigala.
Panglima Beruang tak memperdulikan perkataan Panglima Srigala, dirinya hanya melirik saja kearah Panglima Srigala. "Kau itu yang terlalu sombong Srigala, lihat saja nanti saat kau sekarat aku yang akan tertawa bahagia melihatmu mati." Gumam Panglima Beruang dalam hati.
Panglima Kera dan Panglima Elang serta Panglima Badak tak menghiraukan perdebatan antara Panglima Beruang dan Panglima Srigala, mereka sedang asyik menikmati kesenangan dengan tetap menyerang kedua pendekar kerajaan.
Namun Panglima Laba-laba dan Panglima Gajah mencoba untuk melerai keduanya. "Sudahlah.. Kalian ini selalu saja cekcok, jika ingin bertarung silahkan saja." Ujar Panglima Laba-laba.
"Hah.. Malas aku meladeni orang yang lemah seperti dia." Ujar, Panglima Srigala dengan memalingkan mukanya.
"Haha.. Bilang saja kau takut kalah denganku." Panglima Beruang masih saja menyulut amarah.
"Takut katamu!! Tak ada istilah dalam hidupku takut dengan orang sepertimu." Suara Panglima Srigala sedikit dinaikkan, hingga mengganggu kesenangan Panglima Kera.
"Berisik.. Kalian berdua ini hanya mengganggu kesenanganku saja, sebaiknya pergi saja dan selesaikan masalah kalian." Bentak Panglima Kera.
Akan tetapi antara Panglima Beruang dan Panglima Srigala hanya terdiam membisu, tak ada pergerakkan maupun perkataan yang keluar dari mulut keduanya.
__ADS_1
"Giliran disuruh pergi untuk menyelesaikan permasalahan mereka, mereka malam diam seribu bahasa. memang dasar para pengecut." Gumam Panglima Elang pelan.
Serangan dari Panglima Kera, Panglima Elang dan Panglima Badak cukup membuat kedua pendekar kerajaan mengalami luka-luka cukup parah. "Mari kita akhiri saja mereka." Pinta Panglima Elang.
Benar saja Panglima Elang menyerang kembali menggunakan bulu-bulu tajamnya, sedangkan Panglima Kera menggunakan jurus tombaknya. Masing-masing mengenai tepat ke tubuh kedua pendekar kerajaan.
Sedangkan Panglima Badak menggunakan cula tajamnya, yang terbang melesat tepat mengenai salah satu pendekar kerajaan tersebut.
Kini kedua pendekar kerajaan tak dapat menyelamatkan diri, serangan dari ketiga Panglima Kegelapan barusan adalah akhir dari hidup mereka.
Setelah menewaskan seluruh pendekar kerajaan dan juga memporak-porandakan kota Shu Sang, kini Panglima Kegelapan dengan sisa dari pasukan kegelapan menuju target kota selanjutnya.
**
Setelah mengetahui bahwa kabar tentang kematian Walikota Tian Long hanyalah isu dan kabar palsu, akhirnya nenek Cin Mei sudah tidak takut lagi.
"Nek.. Mengapa penginapan ini sepi sekali?" Walikota Tian long tahu persis dahulu penginapan nenek Cin Mei terkenal cukup ramai.
Nenek Cin Mei terdiam dengan menundukkan kepalanya. "Ada apa nek? Mengapa kau sedih?" Tanya Walikota Tian Long.
Saat itu setelah kepergian Walikota Tian Long, beberapa hari kemudian tiba-tiba ada sekelompok orang memasuki kota Tian Jien mereka mengenakan pakaian hitam dengan lingkaran bulu-bulu domba.
Tak terasa satu hari setelah sekelompok itu memasuki kota dan tinggal di kediaman Walikota, semua peraturan yang telah dibuat tiba-tiba digantikan dengan peraturan baru.
Yang membuat para warga merasa kecewa dan tertekan yaitu lantaran pajak yang dinaikkan menjadi 30%, bagi para penduduk asli.
Namun bila itu adalah seorang pelancong yang menjajakan dagangannya dari kota ke kota, mereka dikenakan pajak sekitar 50% dari hasil penjualan.
Dan juga belum lagi ada uang keamanan untun para pendatang yang hendak berkunjung, kebanyakan atas kebijakan tersebut membuat para pengunjung resah dan kapok.
"Hemm.. Kurang Hajar, berani-beraninya mereka memperlakukan wargaku seperti itu." Walikota Tian Long sudah sangat geram dan marah.
"Itu jika kita semua tidak menurutinya, sudah pasti akan disiksa dan juga dihancurkan tempat perdagangan kami." Ujar nenek Cin Mei.
Yin Feng memiliki kejanggalan dalam hatinya, lalu mencoba untuk menceritakan pada Walikota Tian Long. "Aku merasa jika semua ini ada campur tangan orang dalam paman, sebab kenapa begitu mudah mereka dapat menduduki kursi Walikota."
__ADS_1
"Hemm.. Benar juga apa yang dikatakan Feng er tuan, aku pun sefirasat dengannya." Ujar paman Dou Han.
"Hemm.." Walikota Tian Long memandang tajam kearah depan, seolah sudah tidak sabar lagi ingin menguliti para kelompok bajingan itu.
"Baik nek, bisakah kami menyewa kamarnya." Ujar Walikota Tian Long ramah.
"Tuan tidak perlu menyewanya, silahkan tuan dan yang lainnya pilih kamar mana saja yang cocok." Ujar nenek Cin Mei mempersilahkan.
"Ah.. Tidak bisa begitu nek." Walikota Tian Long lalu mengambil beberapa koin emas dan diserahkannya pada nenek Cin Mei.
"Ini tidak perlu tuan, saya sudah merasa terhormat atas kehadiran tuan Walikota." Nenek Cin Mei mencoba menolaknya dengan baik.
Yin Feng mendekati nenek Cin Mei."Terimalah nek, ini adalah hadiah dari kami untuk nenek yang sudah mengizinkan kami untuk menginap disini."
Dengan rasa berat akhirnya nenek menerima koin emas pemberian Walikota Tian Long, setelah itu barulah nenek mengajak mereka untuk memilih kamar.
Yin Feng yang pertama memilih kamar sebelum masuk dirinya berpesan bahwa akan berkultivasi, dan tidak ingin diganggu dulu.
Namun tiba-tiba Qin Xua menerobos masuk kamar yang telah dipilih Yin Feng. "Qin er.. Apa yang ingin kau lakukan di kamar Feng er?" Tanya Walikota Tian Long yang sedikit heran.
"Tenang paman.. Kak Yin Yin sudah berjanji akan mengajariku ilmu beladiri, iya kan kak Yin Yin?" Ujar, Qin Xua dengan senyum-senyum manjanya.
"Yin Yin.." Walikota Tian Long nampak kebingungan sejak kapan Qin Xua memanggil Yin Feng dengan panggilan Yin Yin.
"Kalian jangan terkejut dan bengong seperti itu, mulai hari ini aku akan memanggil Kak Yin Feng dengan panghilan Yin Yin. Bolehkan kak?" Qin Xua memasang wajah manja serta mata berkedip-kedip dengan kedua tangan sebagai tumpuan dagunya.
Yang dilakukan Qin Xua kali ini membuat Yin Feng mematung dengan muka yang memerah. "Bbboleh.. Qin er.." Jawab Yin Feng gugup.
"Dan juga jangan panggil aku dengan sebutan Qin er, sekarang panggil aku dengan sebutan Qin Qin. Biar semakin romantis." Qin Xua nampak tak malu lagi memperlihatkan rasa sukanya pada Yin Feng.
Walikota Tian Long hanya sanggup tersenyum sambil memandangi keduanya, tapi justru Yin Feng yang menampakkan kegugupan dengan hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Kalau sudah begitu kami tak bisa ikut campur." Ujar, Walikota Tian Long dengan berbalik badan lalu pergi mencari kamar yang lain bersama nenek Cin Mei dan juga paman Dou Han.
.......
__ADS_1