
Tak terasa hari pun berganti malam, setelah kakek Xio Fang menceritakan bahwa token yang ditemukan Yin Feng adalah kunci menuju istana langit.
Yin Feng sangat terkejut serta penasaran namun kakek Xio Fang memperingatkan pada Yin Feng, bahwa jika ingin memasuki istana langit dirinya harus lebih kuat lagi.
Sebab memiliki token istana langit belum tentu diterima disana, sebab token itu hanya akses menuju kesana saja. Sedangkan untuk memasukinya diharuskan para pemegang token untuk mengikuti seleksi peserta. Sebab itu kakek Xio Fang berpesan pada Yin Feng untuk menjadi lebih kuat lagi.
**
Sedangkan didalam hutan guru Gou Lang dan Lin Kiong serta para murid lainnya, telah berkumpul membicarakan akan rencana yang telah mereka sepakati. Tinggal menunggu bantuan dari panglima kegelapan serta para pasukannya.
Tidak berselang lama sebuah angin sedikit kencang tiba-tiba muncul, yang membuat guru Gou Lang serta yang lainnya merasa susah untuk melihat dengan menyilangkan kedua tangannya di muka mereka.
Bersamaan dengan itu muncullah para pasukan kegelapan yang cukup banyak, serta tiga panglima kegelapan dari meredanya angin kencang tersebut.
"Salam Panglima Kelelawar, Panglima Kalajengking dan Panglima Cobra." Sapa guru Gou Lang.
"Mengapa kau meminta begitu banyak pasukan hanya untuk meratakan sebuah kota?" Tanya, Panglima Kelelawar pada guru Gou Lang.
"Di kota itu terdapat satu orang dengan kemampuan yang sangat tinggi, bahkan para raja saja tak mampu menandingi kemampuannya." Ujar guru Gou Lang.
"Hemmm.. Nampaknya akan sangat menarik." Gumam Panglima Kalajengking."
"Sangat lama sekali aku tidak bertemu lawan yang tangguh, sejak hampir dikalahkan oleh seseorang di sebuah desa." Gumam Panglima Cobra.
"Hahaha.. Jelas, Jika saat itu aku tak datang membantumu pasti kau sudah tewas ditangan kakek tua." Ujar Panglima Kelelawar.
Seketika raut wajah serta senyuman Panglima Cobra memudar, bergantikan kekesalan yang tampak dari wajahnya. "Tidak juga! Saat itu justru aku masih sanggup menghadapinya walau aku terluka." Ujar Panglima Cobra.
"Hahaha.. Sudah untung saat itu hanya ekormu yang hilang, bila saja diriku tak datang mungkin nyawamu yang hilang." Ujar Panglima Kelelawar.
"Kau.." Panglima Cobra nampak kesal sekali karena kekalahannya saat itu, ditambah Panglima Kelelawar makin menjadi menyudutkannya.
"Sudah.. Sudah.. Jangan bertengkar." Panglima Kalajengking mencoba melerai keduanya. "Lalu kapan kita akan menyerang?" Tanya Panglima Kalajengking pada guru Gou Lang.
"Malam nanti kita akan meratakan kota itu, tapi ingat anak muda bernama Yin Feng adalah bagianku." Ujar guru Gou Lang.
"Yin Feng?? Nampaknya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya?" Panglima Cobra nampak tak asing dengan nama yang disebutkan oleh guru Gou Lang, Akan tetapi dia sudah tak mengingatnya.
__ADS_1
**
Di kediaman keluarga Qin ternyata Walikota Tian Long dan yang lainnya, sedang asyik mempersiapkan acara perayaan kemenangan Yin Feng.
Padahal acara itu ditujukan untuk Yin Feng, akan tetapi justru Yin Feng masih di dalam kamarnya untuk berlatih dan berkultivasi.
Didalam Yin Feng mengeluarkan semua hadiahnya, dan dibukanya satu persatu tanpa terkecuali. Bahkan hadiah pemberian dari raja Tang San pun ia keluarkan bersamaan dengan hadiah yang lainnya.
Pertama kali yang Yin Feng ambil adalah sebuah senjata pusaka berbentuk belati, yaitu Belati Angin disebut juga Senjata Siluman.
Dengan mengalirkan tenaga dalam pada belati itu, seketika belati angin menyatu dengan tangan Yin Feng sampai tak terlihat oleh kasat mata.
Hanya pemakainya yang mampu melihat pusaka tersebut, setelah mengambil belati angin Yin Feng beralih ke peti selanjutnya yang berisi baju Zirah Naga, terpancar kekuatan sangat kuat saat Yin Feng mulai membukanya.
"Nampaknya aku harus mencoba baju zirah ini." Gumam Yin Feng namun seketika dia terhenti sejenak memikirkan resiko yang akan dihadapinya. "Tapi.. Baju ini tidak akan lepas sebelum pemakainya mati."
Yin Feng terlihat bimbang antara memakainya sekarang atau justru bertahan dengan baju zirah petir yang ia kenakan. "Ahh.. Keduanya sama-sama pusaka yang hebat, aku jadi bingung."
Yin Feng terdiam memikirkan baju zirah mana yang ingin ia kenakan, setelah lama berfikir akhirnya diputuskan bahwa baju Zirah Naga pilihan terbaiknya.
Dilepaskanlah baju zirah petir dari tubuh Yin Feng dan menyimpannya di kalung ruang hampa, setelah itu Yin Feng mulai mengambil dan mengenakan baju Zirah Naga.
Selanjutnya Yin Feng membuka dua hadiah pemberian raja Tang San, saat membuka kedua-duanya alangkah terkejutnya dirinya. "Ini kan.." Yin Feng terdiam sejenak sebelum mulai mengambilnya.
Dua peti hadiah itu berisi sebuah barang yang sangat mahal harganya, karena kota Xian Tong terkenal akan tanaman obatnya dan juga pusat peracik obat di dataran selatan.
Raja Tang San memberikan Yin Feng sekitar 200 pil peningkat kekuatan tingkat tinggi, dan 200 pil penyembuh tingkat tinggi. "Hadiah ini sangat burgana untuk orang-orang disekitarku."
Terlalu fokus dengan hadiah Yin Feng pun lupa akan acara yang Walikota Tian Long adakan, dengan segera menyimpan peti yang tersisa kemudian pergi meninggalkan kamarnya.
"Maaf paman saya telat." Ujar, Yin Feng dengan nafas tak beraturan karena sengaja ia berlari.
"Haha.. Aku kira kau akan berlatih hingga larut pagi." Ujar Walikota Tian Long.
"Hehehe.." Yin Feng nampak malu dengan menggaruk-garuk kepalanya. "Tidaklah paman, mana mungkin aku tega seperti itu." Jawab Yin Feng yang mulai memerah mukanya.
Perayaan kemenangan Yin Feng ternyata Walikota menyiapkan dua ekor **** guling. "Besar sekali babinya paman?" Yin Feng nampak tak sanggup jika harus menghabiskan setengah dari **** itu.
__ADS_1
"Hahaha.. Satu ini aku siapkan kusus untukmu Feng er.." Ujar, Walikota dengan tertawa lantang.
"Hah!! Mana mungkin aku bisa menghabiskannya paman, setengah saja sudah untung-untungan bagiku apa lagi satu ekor." Ujar Yin Feng.
Hahahaha....
Mereka semua tertawa sangat senang, mencoba menghabiskan waktu untuk kebersamaan keluarga.
Namun saat semuanya terlalu disibukkan dengan pesta kemenangan, justru kakek Xio Fang masih selalu meningkatkan kewaspadaannya.
Firasatnya mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang terjadi malam ini. "Ada apa guru? Mengapa wajahmu terlihat gelisah?" Tanya Yin Feng pada kakek Xio Fang.
"Sepertinya kita harus tetap waspada, aku memiliki firasat akan terjadi sesuatu malam ini." Ujar kakek Xio Fang.
Suasana malam itu memang agak tenang dan sunyi berbeda dari biasanya, kakek Xio Fang dapat merasakan ada sebuah pergerakkan di kota Xie Zie ini. "Lebih baik kita hentikan acara ini, dan ambil posisi bertarung."
Semuanya menuruti apa yang diperintahkan kakek Xio Fang, dengan mengambil posisi siap bertarung. "Feng er.. Kau bawa Xua er dan bibi Su masuk kedalam." Ujar Walikota Tian Long.
Benar saja saat setelah Yin Feng membawa bibi Su Ming dan Qin Xua masuk kedalam rumah, terdengar sebuah ledakan hebat terjadi tidak jauh dari kediaman keluarga Qin.
"Itu.. Sepertinya sudah ada pergerakkan." Ujar, Walikota Tian Long yang nampak terkejut.
"Biarkan aku saja yang melihat kesana tuan." Paman Dou Han meminta izin untuk melihat kesumber ledakan, dengan segera melompat keatas atap rumah dan berlari.
Ternyata pasukan kegelapan yang dipimpin oleh tiga Panglima sudah mulai merusak rumah-rumah penduduk, bahkan mereka tak segan-segan membunuh anak-anak dan orang tua.
Paman Dou Han cukup terkejut saat melihat para pasukan kegelapan mulai meratakan rumah-rumah penduduk dan membunuh orang-orang yang ditemuinya.
Tak mau mengambil tindakan yang gegabah akhirnya paman Dou Han mundur untuk memberitahukan kejadian itu pada Walikota Tian Long. "
"Lapor tuan ternyata pasukan kegelapan yang telah menyerang." Ucap paman Dou Han memberi kabar.
"Apa!! Pasukan kegelapan! Ini tidak bisa dibiarkan." Ujar Walikota Tian Long.
Para penduduk yang memiliki kekuatan di tingkat menengah dan juga ditingkat raja, mencoba untuk melawan para pasukan kegelapan.
Namun tetap saja kalah dalam segi hal bertarung, para pasukan kegelapan menyerang sudah seperti binatang buas yang kelaparan.
__ADS_1
........