
Setelah Sesepuh Qiuhan mengeluarkan tungku pemurnian jiwa, dirinya hendak menceritakan tentang tungku yang di berikan Leluhur Linfeng padanya.
"Hey bocah.., Andai kau tau, sebenarnya Tungku ini adalah peninggalan Leluhurmu."
"Apaa ?? Peninggalan Leluhurku ?" Ucap, Yinfeng yang sangat terkejut.
"Iya, dulu Leluhurmu adalah teman baikku, dialah yang membantuku mendirikan Perguruan ini, tanpa adanya dia mungkin juga Aku tidak bisa bertemu denganmu."
"Berarti Leluhurku sangat hebat Sesepuh."
"Jelas, Leluhurmu lebih hebat dari Ku dialah yang membantuku memiliki Jiwa Suci ini."
"Lalu siapakah nama Leluhurku Sesepuh ?"
"Nama Leluhurmu adalah Linfeng, dialah satu-satunya manusia yang memiliki Kesucian Hati, dan sekarang telah diwariskan kepadamu."
"Jadi.. Selama ini kesucian hati di dalam tubuhku warisan dari Leluhur Linfeng."
"Iya bocah, berbanggalah dirimu dapat memiliki kesucian hati, karena tidak semua orang dapat memilikinya."
"Oya tadi Sesepuh mengatakan jika tidak ada Leluhur Linfeng mungkin anda tidak dapat bertemu denganku. Maksudnya ?"
"Hemmm, itu panjang ceritanya lain kali akan Aku ceritakan padamu, sekarang perhatikan baik-baik cara menggunakan tungku ini." Ucap, Sesepuh Qiuhan yang hendak mempraktekkan pemurnian jiwa, namun Yinfeng tiba-tiba mencela dengan mengatakan.
__ADS_1
"Lantas apa bedanya tungku ini dengan tungku pembuat pil."
"Bedanya ini khusus diciptakan Leluhurmu untuk pemurnian jiwa, bukan untuk membuat pil." Ucap Sesepuh Qiuhan.
Segera setelah menjawab pertanyaan Yinfeng Sesepuh Qiuhan menyuruh Yinfeng untuk berendam di dalam tungku tersebut, namun karena Yinfeng yang sedikit banyak bertanya.
Membuat Sesepuh Qiuhan memaksanya dengan membiarkan dirinya terselimuti oleh aura hitam tersebut, akhirnya dengan begitu Yinfeng mau untuk berendam di tungku tersebut.
Setelah Yinfeng masuk kedalam tungku barulah Sesepuh Qiuhan menyuruh Yinfeng untuk menetralisir aura hitam tersebut, dengan menyatukannya bersama hati suci.
Beberapa jam kemudian barulah Yinfeng berhasil menetralisir aura hitam tersebut dan menyatu dalam tubuhnya, menjadikan aura penghakimannya sedikit lebih kuat.
Setelah selesainya dari pemurnian barulah Yinfeng keluar kamar, namun tanpa Yinfeng duga ternyata ada dua murid yang sedang menunggunya di luar.
Ketika Yinfeng hendak menyapanya tiba-tiba mereka berdua hendak berlutut di hadapan Yinfeng, namun dengan cepat Yinfeng menghentikannya mereka pun saling berpelukan.
Yinfeng yang telah memiliki kesucian hati lebih suka memaafkan kesalahan orang lain, walaupun dirinya menderita sekalipun karena itu adalah rintangan yang harus dirinya hadapi nantinya.
"Aku Zouming meminta maaf atas perbuatanku yang kemarin." Ucap Zouming.
"Sudah, Aku sudah memaafkanmu Zouming, lagian juga kita kan satu perguruan mengapa harus saling bermusuhan." Ucap Yinfeng.
"Kau memang murid yang baik Yinfeng, Aku sudah salah menilaimu. Andai saja kemarin kau tidak menolongku mungkin Aku tidak akan bisa kembali lagi." Ucap Zouming.
__ADS_1
"Itu sudah tugasku, untuk melindungi orang-orang dari kejahatan dan kegelapan."
"Aku memiliki satu permintaan." Ucap Zouming.
"Apakah itu ?" Tanya Yinfeng.
"Aku ingin kau menyembuhkan adikku Zieming, dia mengalami gangguan mental saat berhadapan denganmu kemarin." Pinta Zouming berharap agar Yinfeng mau memulihkan adiknya seperti sedia kala.
"Aku minta maaf jika perbuatanku kemarin membuat adikmu seperti ini, namun akan Aku usahakan untuk memulihkan dia."
Segera Yinfeng menyuruh Zouming untuk mambawa adiknya masuk ke kamar Yinfeng dan menyuruhnya duduk bersila, kemudian Yinfeng pun ikut duduk menghadap Zieming.
Dengan mentransfer energinya ketubuh Zieming dengan saling menyatukan kedua tangan masing-masing, Yinfeng pun mulai mempelajari gangguan apa yang dirasakan oleh Zieming.
Dan ternyata setelah beberapa lama Yinfeng mentransfer energinya ke tubuh Zieming, barulah Yinfeng menyadari bahwa Zieming mengalami ketakutan yang amat sangat.
Yinfeng yang marasa bersalah akhirnya mulai menyembuhkan Zieming dengan Ilmu yang telah dirinya pelajari dari Kitab Teratai Api, untuk memulihkan keadaan Zieming dan menjadikan Zieming lebih tegar dan lebih pemberani.
Setelah pentransferan energi selesai Zieming pun kembali seperti sedia kala dan rasa takut di hatinya sudah Yinfeng netralisir sehingga dirinya lebih siap untuk menghadapi bahaya.
Keduanya pun sangat berterimakasih kepada Yinfeng dan mulai saat itu juga mereka berdua menganggap Yinfeng sebagai saudara sendiri, dengan saling berjanji di hadapan Yinfeng.
Kapan pun Yinfeng membutuhkan mereka, mereka akan siap jiwa dan raga.
__ADS_1