Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Berbalik Menjadi Tak Menguntungkan


__ADS_3

Akhirnya Go Ruela berkenan untuk berunding dengan Lion Zo perihal meminta bantuan darinya.


Dengan menurunkan sedikit kesombongannya, serta merubah raut wajahnya Go Ruela kemudian mendekat kearah Lion Zo.


"Maafkan atas perilaku dan kelakuanku padamu sebelumnya, berhubung kita berasal dari tempat yang sama kali ini aku membutuhkan sekali bantuanmu."


"Apa maksudnya?" Lion Zo berpura-pura tidak mengetahui maksud dan tujuan dari Go Ruela.


"Ayolah kawan! Apa kau tega melihat kami mati didepan mata kepalamu sendiri."


"Hemm.. Sebenarnya aku tidak ada urusan dengan kepentinganku itu."


"Jangan begitulah kawan, kita ini sudah melalui rintangan yang cukup panjang dan ditempatkan di tempat seperti ini pun kita masih selalu bersama, apakah kau tidak merasa iba melihat kami sengsara."


"Memang kita sudah melalui rintangan bersama, tapi aku bukan saudaramu."


"Betul kau bukan saudaraku, tapi sebentar lagi kau akan menjadi saudaraku."


"Maksudmu?"


"Iya, kita bertiga akan berjanji kepadamu dengan melakukan persumpahan sedarah."


"Persumpahan sedarah?? Apa maksudnya?"


"Setelah kita melakukan persumpahan sedarah jelas selanjutnya kita adalah saudara sepersumpahan, dan aku berjanji padamu akan selalu melindungi dan menjagamu."


"Hemm.. Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"


"Aku hanya ingin kau membantu kami untuk mengalahkan raja binatang tersebut."


"Apa yang bisa aku bantu, bukankah sudah jelas kekuatanku jauh diatas kalian."


"Itu hanya persepsimu saja, justru aku melihat jika kau memiliki kekuatan yang tersembunyi."


"Hahaha.. Darimana kau bisa tahu, padahal aku saja tidak mengetahui jelas kekuatanku."


"Kau percaya saja padaku, pandangan dan firasatku selama ini tidak pernah meleset."


"Haha.. Baik aku akan membantumu untuk mengalahkan raja binatang, tapi apa keuntungan yang akan aku dapatkan setelah itu."


"Selain kita menjadi saudara sesumpahan, aku juga akan menjadikanmu sebagai penasihat raja bagaimana? Apa kau suka?"


"Hemm.. Baiklah, aku akan melakukan apa yang menjadi keinginanmu itu."


Perundingan yang panjang akhirnya membuahkan hasil, dengan modal mulut manis serta lidah yang licin, akhirnya Go Ruela mampu memenangkan hati Lion Zo untuk bisa ikut membantu.


Go Ruela, Bo Dak, Bo Ruang serta Lion Zo kemudian melakukan persumpahan sedarah dengan kalimat janji yang sama.


Sehidup semati susah senang jalani bersama sampai maut memisahkan kita.


Setelah selesai melakukan sesumpahan sedarah merek kemudian maju menyerang raja binatang dengan bersama-sama.


Pertarungan terlihat cukup sengit hingga beberapa kali keempatnya cukup kesulitan menghadapi raja binatang.


Namun karena berkat strategi dan rencana Lion Zo akhirnya raja binatang mampu mereka takhlukkan.


"Haha.. Tak ku sangka firasatku benar tentangmu kawan." Go Ruela mendadak sangat senang bahwa strategi dan rencana Lion Zo dapat memuluskan serangan keempatnya dan membunuh raja binatang.


Memang sebelumnya Lion Zo terlihat lemah dari mereka semua, padahal sebenarnya dirinya ahli dalam strategi dan siasat hanya tingkat kekuatannya saja yang lemah.


Setelah kematian raja binatang tiba-tiba mulai bermunculan binatang-binatang yang lain yang juga dalam bentuk setengah manusia, mereka seolah sangat sedih menyaksikan kematian raja mereka.


Go Ruela, Bo Dak serta Bo Ruang terbawa suasan gembira sehingga mereka tak begitu memperdulikan perasaan serta hati para manusia binatang yang ada.


Tapi justru sebaliknya Lion Zo menatap satu persatu semua manusia binatang yang berkumpul, seolah dirinya merasakan bahwa sosok raja yang telah dibunuhnya adalah sosok raja yang sangat dicintai.


Sehingga ada sedikit penjelasan dalam hati kecilnya. "Apakah benar tindakan ku ini? Apa jangan-jangan sebaliknya."

__ADS_1


"Wahai para binatang semuanya, hari ini sudah jelas bahwa akulah raja binatang selanjutnya yang akan menggantikan dirinya."


Go Ruela langsung mengumumkan dirinya sebagi raja selanjutnya, padahal sebenarnya dia tahu akan kondisi dan situasi para manusia binatang sedang bersedih.


"Tak perlu kalian sedih! Aku berjanji akan menajdi raja yang baik dan juga bijaksana, apabila aku berbohong maka aku siap disambar petir."


Jelas saja setelah Go Ruela selesai mengatakan hal demikian, tiba-tiba sebuah petir muncul dan langsung menyambar dirinya.


Jelegerrrr....


Aaaaahhh...


"Apa yang terjadi?" Bo Dak dan Bo Ruang terlihat sangat panik, namun bukannya mereka menolong Go Ruela justru keduanya lebih memilih menjauh sejauh jauhnya dari Go Ruela, lantaran takut petir akan menyambar mereka juga.


"Sialan! Apa kau fikir aku akan mati oleh sambaranmu itu." Nampak Go Ruela tidak kenapa-napa hanya mengalami luka bakar di beberapa tubuhnya.


Jelegerrrr...


Muncul kembali sambaran yang kedua dan menyambar Go Ruela juga, hingga membuat Go Ruela terduduk bercucuran darah.


"Apa!! Apa kau ingin membunuhku? Tapi apa kesalahan yang telah aku perbuat?"


Terdengarlah suara dari dewa misterius sebelumnya yang mengatakan tidak akan ikut campur dalam perkelahian mereka.


"Didepan dewa ini kau berani bertingkah sombong!"


Suara dari sosok dewa misterius tersebut tiba-tiba menunjukkan gambaran di langit yang seolah seperti sedang mengangkat jari telunjuk, saat itu seketika langit bergemuruh dan mengeluarkan kilatan-kilatan petir.


"Sebaiknya kau rasakan ini."


Jelegerrrr...


"Siapa kau sebenarnya? Jika memang kau dewa cepat tunjukkanlah wujudmu!" Go Ruela masih sempat menantang sosok dewa misterius.


"Dasar binatang lancang!"


"Apa-apaan ini? Kekuatan petir sebelumnya masih bisa aku tahan, namun kekuatan dari telapak tangan ini sudah sangat membuatku tertekan, apalagi akibat serangan petir membuat tubuhku semkin lemah."


Go Ruela sudah tidak sanggup lagi untuk bisa menahan tekanan dari telapak tangan raksasa tersebut, sehingga dalam hatinya mulai terbesit kepasrahan menunggu ajal.


Namun tiba-tiba telapak tangan raksasa terhenti dan terdengar suara sosok dewa misterius yang menawarkan kesepakatan.


"Hai kau singa! Aku sudah melihat kemampuanmu dalam strategi dan aku akan memberimu dua syarat."


"Dua syarat! Apakah dua syarat tersebut cukup baik untukku?"


"Haha.. Bukan cukup baik lagi melainkan sangat sempurna untukmu, dan juga untuk temanmu disana."


"Maksudnya? Apakah kau akan memaafkannya serta melepaskannya?"


"Iya aku akan melepaskan serta memaafkannya, tapi jika kau mau memunuhi dua syarat ku itu."


"Hemmm.. Memang apa dua ayaratmu itu?"


"Syarat yang pertama kaulah yang akan menjadi raja selanjutnya di cakrawala malam ini."


"Ini!! Bagaimana bisa aku?"


"Aku cukup tertarik dengan kepribadianmu, aku melihat kau sangat berhati baik tidak seperti temanmu disana. Jadi aku memutuskan untuk menjadikanmu raja selanjutnya."


"Baiklah jika itu keinginanmu akan aku penuhi syarat yang pertama ini, namun apa syarat yang kedua?"


"Syarat yang kedua, terimalah ini."


Sebuah patung kera muncul dari langit dan terjatuh tepat didepan Lion Zo. "Apa maksudnya dengan patung ini?"


Tiba-tiba suara dewa mistrius hanya dapat terdengar oleh Lion Zo saja, yang terdengar melalui hatinya.

__ADS_1


"Patung tersebut termasuk binatang kepercayaanku, yang aku tugaskan untuk tunduk kepada seorang manusia."


"Lalu apakah kaitannya patung ini dengan syarat yang kedua?"


"Hahaha.. Nanti sosok manusia kera itu akan sering berkunjung kemari, dan mungkin kapan waktunya dia kemari akan bersama dengan seorang manusia."


"Lalu apa yang harus aku perbuat?"


"Tugasmu cukup sederhana saat mereka memasuki cakrawala malam ini maka kau bertanggung jawab untuk menjamu mereka dengan sebaik-baiknya."


"Memang apa keistimewaan dari manusia tersebut, sampai-sampai kau menugaskan kera itu hingga tunduk kepadanya?"


"Kau tidak perlu tahu alasannya, yang jelas apa kau sanggup menerima dua syarat ku itu."


"Hemm.. Baiklah akan aku terima dua ayaratmu itu."


"Kalau begitu aku serahkan Gorila itu padamu, terserah apa yang akan kau perbuat selanjutnya."


Lion Zo kemudian tersadar dan mendapati semuanya melihat kearahnya. "Ada apa ini? Kenapa mata mereka memandang ke arahku."


"Hei Lion Zo!" Go Ruela yang antara senang dan jengkel merasa cukup beruntung kali ini, sebab dia tak jadi mati akibat tekanan dari telapak tangan raksasa. "Aku tidak terima dengan semua ini."


"Sudah jelas kalian semua mendengar apa yang baru saja sosok dewa misterius katakan, dan aku tidak bisa menolaknya sebab saat aku menolaknya pasti kau tidak akan bisa berkata demikian."


Go Ruela langsung saat itu terdiam membisu, perkataan Lion Zo memang benar adanya. "Sialan! Berani-beraninya dia mempermalukanku didepan umum! Kita lihat saja nanti."


Go Ruela hendak pergi namun Lion Zo menghentikannya. "Kau mau pergi kemana Go Ruela?"


"Kenapa? Apa kau masih belum puas dengan menjadi raja?"


"Memang kau selamanya tidak akan pernah berubah."


"Jika kau ingin aku berubah sebaiknya kau jangan sampai membiarkanku berkembang."


"Oh jadi kau berani mengancam! Baiklah akan aku tunggu masa-masa dimana kita akan menunjukkan kemampuan kita masing-masing."


"Baik siapa takut! Justru aku harap pada saatnya nanti kau tidak akan menyesalinya."


Go Ruela kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Lion Zo, sedangkan Bo Dak, Bo Ruang ikut menyusul dibelakang Go Ruela.


"Ah.. Kenapa malah jadi begini sih?" Bo Ruang tak menyangka kejadian selanjutnya yang diharapkan akan berjalan manis, justru malah sebaliknya menjadi sangat pahit.


"Iya, aku pun tak mengerti kenapa malah Lion Zo yang menjadi raja selanjutnya."


"Sudah kalian diam!" Go Ruala terlihat masih sangat marah dikarenakan posisi raja bukan menjadi miliknya, melainkan malah menjadi milik Lion Zo.


"Aku pastikan dimana saatnya nanti, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Camkan itu!"


....


"Inilah saat yang sudah sangat lama aku nanti-nantikan!" Go Ruela terlihat sangat dendam terhadap Lion Zo dengan terus menatap tajam kearahnya.


"Apa kau fikir dengan membunuh begitu banyak manusia binatang kau akan terlihat kuat! Malah aku merasa tindakanmu ini adalah pengecut."


"Hahaha.. Apa yang kau tahu dari kata pengecut, justru kata pengecut lebih cocok disematkan padamu."


"Tidak perlu terlalu berbasa-basi, sebaiknya kita buktikan saja aku apa kau yang lebih kuat."


"Baiklah mari kita buktikan!"


Keduanya kemudian mulai bertarung diatas bergelatakkannya mayat-mayat manusia binatang.


Sedangkan disisi lain Monk Lie serta Mo Can terlihat cukup bingung. "Bagaimana teman? Apakah perlu kita ikut campur dan membantu?"


Mo Can (Yin Feng) mencoba meminta pendapat pada Monk Lie perihal apa rencana selanjutnya.


"Sebaiknya kita berdua tidak perlu ikut campur, biarlah mereka berdua menyelesaikan permasalahan mereka sendiri, tapi saat situasinya berbalik dengan terpaksa kita akan membantu manusia singa itu."

__ADS_1


.......


__ADS_2