Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Penyerangan Mulai Masuk Sekitar Wilayah Kerajaan


__ADS_3

Semenjak tewasnya para pendekar kerajaan Raja Tang San akhirnya mengintruksikan pada pendekar kerajaan yang lain, untuk berjaga di istana dan juga wilayah kota Xian Tong saja.


Sebab tak ada pilihan lain lagi bagi raja Tang San selain memperkuat pertahanan di kerajaan, sedangkan bagi sebagian para prajurit istana ditugaskan berjaga di gerbang masuk kota Xian Tong.


Sedangkan yang lainnya mengevakuasi para penduduk kota Xian Tong, dan menghimbau agar para penduduk mau berlindung di istana kerajaan.


Raja Tang San hanya dapat memerintahkan penjagaan ketat pada kota Xian Tong, sedangkan pada kota maupun desa yang lain dirinya sudah pesimis terlebih dahulu.


Karena lokasi kerajaan tak mungkin muat untuk seluruh kota maupun desa yang ada, baru kota Xian Tong saja sudah tak cukup untuk menampung penduduk.


Dan kini raja Tang San hanya dapat pasrah akan nasib dari kota maupun desa yang lainnya, sebisa mungkin beliau berusaha untuk dapat menyelamatkan kota terdekat yang masih belum terjamah.


Desa-desa dan kota-kota yang ada di dataran selatan semuanya hancur akibat serangan para pasukan kegelapan, raja kegelapan sedikit puas menyaksikan para pasukannya dapat meratakan sebagian dataran selatan.


Hanya tinggal satu wilayah lagi dimana di wilayah itu terdapat sebuah kerajaan yang di rajai oleh raja Tang San, berbagai persiapan telah dilakukan oleh raja Tang San.


Raja Tang San banyak menempatkan prajuritnya di gerbang kota, maupun didalam kota.


Untuk pendekar kerajaan yang tersisa sengaja raja Tang San menempatkan mereka di kerajaan, supaya dapat melindungi seluruh keluarganya.


Saat kerajaan dalam posisi mencengkam barulah sifat asli raja Tang San mulai nampak, yang takut akan kehilangan sanak keluarganya.


Sehingga tak tanggung-tanggung terdapat delapan pendekar kerajaan yang ditugaskan hanya untuk menjaga seluruh keluarganya, bila dilihat ternyata raja Tang San ini tak hanya memiliki satu permaisuri saja.


Terdapat lima permaisuri yang selalu menemaninya, bahkan itupun belum cukup hingga ditambah lagi lima selir setia.


Yang cukup mengherankan kelima permaisuri raja Tang San dapat hidup berdampingan dengan yang lainnya, padahal biasanya antara satu permaisuri dengan permaisuri yang lain tak pernah bisa hidup damai berdampingan.


Entah jimat atau ramuan apa yang digunakan raja Tang San, sehingga semua permaisuri dan selir dapat hidup rukun dan damai.


Saat semua prajurit di gerbang kota sedang dalam posisi berjaga, tiba-tiba ada sebuah batu besar melesat cepat mengarah ke gerbang kota.


"Awas ada batu besar melesat ke arah kita." Teriak salah satu prajurit yang mengetahuinya pertama kali.

__ADS_1


Akan tetapi beberapa prajurit yang telat mengetahuinya dan tak sempat menghindar langsung tertabrak batu besar tersebut, hingga menyeretnya sampai menabrak rumah salah satu warga.


Duaaaarrrr....


Bersamaan dengan itu para pasukan kegelapan muncul menyerang prajurit kerajaan, terdapat kurang lebih 30 prajurit kerajaan yang ditugaskan menjaga gerbang kota.


Sedangkan didalam kota raja Tang San menempatkan 300 prajurit untuk menghadang para pasukan kegelapan, diantara 300 pasukan tersebut terdapat tiga Panglima Kerajaan di tingkat langit tahap menengah.


Para pasukan kegelapan langsung maju menyerang dengan ganasnya, terdapat kurang lebih 150 pasukan kegelapan yang tersisa.


Alangkah jauh perbandingan antara keduanya 150 pasukan kegelapan dengan 300 prajurit kerajaan, seperti hal mustahil bagi pasukan kegelapan dapat menang.


Namun justru sebaliknya bila dibandingkan dengan prajurit kerajaan, pasukan kegelapan lebih tahan banting dan juga pasukan rela mati.


Jadi tak ada rasa takut sedikit pun yang terlihat dari wajah para pasukan kegelapan, justru membunuh sudah seperti narkoba yang membuat pemakainya ketagihan.


Aroma anyir darah manusia sudah seperti morvin bagi para pasukan kegelapan, bahkan kebiasaan meminum darah sudah seperti meminum air.


Rasa takut mulai menyelimuti hati para prajurit penjaga gerbang yang tersisa, mereka berusaha sekuat tenaga untuk pergi menjauh dari para pasukan kegelapan.


Namun kecepatan berlari pasukan kegelapan jauh lebih unggul dari prajurit kerajaan, hanya ada dua prajurit kerajaan penjaga gerbang yang dapat pergi menjauh.


Hingga sampai di pusat kota, dimana sebagian besar prajurit kerajaan berada. Kedua prajurit berlari tergopoh-gopoh dengan nafas yang tak beraturan.


Sebagian prajurit yang melihat langsung menyambut kedua prajurit penjaga gerbang kota. "Apa yang terjadi? Mengapa kalian sangat ketakutan seperti itu?"


"P... Pasukan kegelapan mulai menyerang." Kedua prajurit penjaga gerbang kota menjawab dengan terbata-bata.


Selesai kedua prajurit penjaga gerbang kota berkata, terdengar suara gemuruh dan juga teriakan keras para pasukan kegelapan yang sangat bersemangat.


"Heaaaaaa..."


"Semuanya.. Persiapkan senjata kalian." Panglima kerajaan mulai mengintruksikan seluruh prajurit yang ada. "Ini saat yang tepat untuk menunjukkan kesetian kalian pada kerajaan."

__ADS_1


Teriakan panglima kerajaan membuat semangat juang prajurit menggebu-gebu, hingga saat perintah menyerang mereka mulai maju dengan menghunuskan senjata.


Peperangan pun terjadi antara prajurit kerajaan dengan pasukan kegelapan, dari kejauhan para panglima kegelapan hanya memantau jalannya pertempuran. "Kenapa kita hanya berdiam diri disini? Padahal aku ingin sekali langsung menghabisi semua prajurit kerajaan itu."


Panglima Beruang seolah sudah tidak sabar lagi hanya berdiam diri tanpa ikut andil. "Sudah diam kau beruang!! Jika kau tak ingin menunggu pergi saja sana."


Panglima Kera nampak kesal kepada Panglima Beruang. "Sebenarnya aku pun sependapat dengan beruang kali ini."


Tak biasa-biasanya Panglima Srigala cocok dengan perkataan dari Panglima Beruang, yang ada justru semua perkataan maupun tindakan Panglima Beruang pasti selalu mendapat cemooh dari Panglima Srigala.


"Tidak biasanya kau satu pendapat dengan beruang." Kali ini Panglima Badak sedikit terkejut dengan perkataan Panglima Srigala.


"Hahaha.. Sepertinya srigala mulai berdamai dengan beruang." Panglima Elang menimpali.


"Saya berdamai dengan beruang!! Heh.. Tak mungkin!!" Panglima Srigala memalingkan wajahnya.


"Hahahahaha...


Sebagian panglima kegelapan yang lain menertawakan Panglima Srigala. "Ciihh.. Siapa juga yang ingin berdamai dengannya." Panglima Beruang pun ikut memalingkan wajahnya.


"Sudah.. Sudah.. Baiklah bagi kau.. (Panglima Beruang) Kau.. (Panglima Gajah) Kau (Panglima Badak) dan kau (Panglima Laba-laba silahkan habisi para prajurit kerajaan."


"Nah gitu dong dari tadi, waktunya bermain-main." Panglima Beruang tanpa mempedulikan yang lain, langsung maju menyerang duluan.


"Huh.. Dasar beruang, beraninya hanya dengan kalangan rendahan." Panglima Srigala mengumpat dalam hati saat melihat Panglima Beruang maju menyerang terlebih dahulu.


"Dan untuk sisanya kita hadapi para pendekar kerajaan itu." Panglima Kera mengintruksikan sisa dari Panglima Kegelapan antara lain, Panglima Srigala, Panglima Elang dan juga Panglima Kera itu sendiri.


Nampak setelah keempat Panglima Kegelapan ikut dalam peperangan, situasi yang tadinya cukup sengit bahkan cukup sulit bagi para pasukan kegelapan.


Untuk secara cepat membantai prajurit kerajaan, kini terlihat mudah setelah keikut sertaan Panglima Kegelapan.


..............

__ADS_1


__ADS_2