Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Perjalanan Ke Kota Tianjien


__ADS_3

Setelah Yinfeng, Ning'er dan Lourin selesai dalam latihannya, mereka pun sudah siap untuk berangkat menuju Kota TianJien di Dataran Barat ini.


Dengan membawa perbekalan seadanya mereka menempuh perjalanan dengan berkuda, sebelum keberangkatan mereka Ketua Perguruan memberikan hadiah kepada Lourin dan Ning'er berupa pedang.


Karena Yinfeng telah lebih dulu di berikan hadiah oleh Ketua Perguruan, maka Yinfeng hanya mendapatkan sebuah Pil untuk menyembuhkan luka, walaupun memang Lourin dan Ning'er mendapatkannya juga.


Ternyata pedang yang di berikan kepada Ning'er adalah pedang berkekuatan Cahaya, Ketua Perguruan sengaja memberikan pedang berkekuatan Cahaya kepada Ning'er, karena lebih cocok dengan dirinya yang menguasai jurus Pedang Rembulan.


Sedangkan untuk Lourin Ketua Perguruan memberikannya Pedang berkekuatan Angin, sangat cocok dengan Elemen yang dimiliki Lourin sehingga dapat menambah kekuatan serang.


Setelah Ketua Perguruan memberikan masing-masing hadiah dan memberikan ultimatum agar berhati-hati ketika dalam perjalanan, karena medan yang akan mereka tempuh termasuk medan yang sering di lewati kawanan perampok.


Sebab itu Ketua Perguruan lebih mempercayakan guru Xinhai untuk menemani Yinfeng, Ning'er dan juga Lourin menuju Kota Tianjien.


Salam perpisahan pun sudah di lakukan, dengan niat dan tekad yang kuat mereka akhirnya berangkat menempuh perjalanan dengan berkuda, agar tidak terlalu lama sampai di Kota Tianjien.


Dalam perjalanan antara Yinfeng, Ning'er dan Lourin terlihat sangat pendiam, entah karena masih malu atau canggung untuk memulai obrolan sehingga masing-masing hanya terus memandangi alam sekitar, namun berbeda dengan Lourin sepertinya ia ingin sekali memulai obrolan tapi berat untuk mulutnya mengeluarkan kata-kata.


Guru Xinhai yang melihat tingkah laku Lourin hanya tersenyum-senyum sendiri yang secara diam-diam Lourin mencuri-curi pandang kearah Yinfeng.


Akhirnya guru Xinhai pun membuka obrolan untuk mencairkan suasana.


"Yinfeng..., sepertinya kini kau bertambah kuat ?"

__ADS_1


"Ah, itu perasaan guru Xin saja." Jawab Yinfeng dengan tersenyum.


"Benar kok yang di katakan guru Xinhai." Ucap, Lourin yang mulai membuka sauaranya.


"Ah, apa iya.., Aku hanya menjalani latihan seperti biasanya." Ucap, Yinfeng malu-malu sambil garuk-garuk kepala ga jelas.


"Ning'er bagaimana perkembangan latihanmu ?" Tanya guru Xinhai.


"Lumayan guru Xin Aku sudah siap untuk menghadapi lawan-lawanku nanti." Ucap Ning'er.


"Ning'er.., Aku minta maaf atas perlakuanku ketika di arena kemarin." Ucap Lourin sambil mencoba mengulurkan tangan.


"Itu sudah berlalu, lagian juga berkat dirimu Aku jadi tau kekuranganku." Ucap Ning'er.


Dengan mengikat kudanya masing-masing di pohon mereka pun mulai mencari tempat buat istirahat.


Yinfeng lebih memilih menyendiri dengan mencari tempat yang cocok buat dirinya untuk bemeditasi sebentar, sedangkan guru Xinhai memilih mencari kayu bakar untuk menyalakan api sebagai penerangan.


Sedangkan Ning'er dan Lourin sudah lebih akrab dengan saling berbincang-bincang satu sama lain.


"Lourin.., Aku dengar kau suka ya sama Yinfeng." Ucap Ning'er.


"Ah, kau dengar darimana ? Itu hanya kabar burung saja." Jawab Lourin dengan pipi yang memerah karena malu bila ketahuan.

__ADS_1


"Alaaah, tidak usah bohong denganku, buktinya mukamu memerah saat Ku tanya tadi." Ledek Ning'er.


"Aaah, Ning'er apa-apaan sih kamu."


Lourin yang makin salah tingkah kemudian mendorong Ning'er hingga terjatuh.


Gedubraaaakkk..


Suara Ning'er yang terjatuh dari tempat duduknya.


"Aduuh, maaf ya Ning'er Aku tidak sengaja." Ucap Lourin yang merasa bersalah.


"Hehehe, tenang saja Lourin Aku tidak apa-apa, justru kamu yang ada apa-apa." Jawab Ning'er sambil melirikan matanya ke arah Yinfeng.


"Aaah, sudahlah jangan diteruskan lagi, Aku malu." Jawab Lourin sambil melangkah menjauh.


"Hehe, tunggu Aku Lourin." Ucap Ning'er yang mulai mengejar Lourin.


Setelah guru Xinhai selesai mengumpulkan kayu bakar dan dinyalakannya, baru mereka berempat mulai untuk beristihata sejenak sambil menunggu waktu pagi.


Namun ternyata keberadaan mereka telah di mata-matai oleh kawanan perampok yang sedang berjaga-jaga disana.


Yinfeng yang lebih dahulu menyadari keberadaan mereka itu, dengan menggunakan mata harimaunya Yinfeng dapat mengetahui jumlah dan posisi kawanan perampok tersebut.

__ADS_1


__ADS_2