Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Perubahan Monk Lie


__ADS_3

"Sekarang biar aku ajak kalian menemui sahabatku terlebih dahulu." Yin Feng berjalan menuju dimana Monk Lie berada.


Sebenarnya kehadiran mereka sudah diketahui oleh Monk Lie, hanya saja Monk Lie masih dalam keadaan bermeditasi menyelesaikan evolusi bentuk keduanya.


Sehingga dirinya tak bisa langsung menemui sahabatnya itu, setelah berjalan tidak terlalu jauh Yin Feng dan kawan-kawan sampai di tempat peristirahatan Monk Lie.


Tak ada yang berubah dari tempat peristirahatan penguasa dunia dimensi itu, hanya beberapa tumbuhan herbal yang tumbuh tidak jauh dari pintu goa.


Dan juga pohon buah yang sangat tidak asing lagi bagi Yin Feng, yaitu buah anggur hitam serta pir perak. "Mengapa dua pohon buah ini di pindahkan kesini?" Yin Feng sempat bertanya-tanya dalam hatinya, padahal dua buah ini terletak cukup jauh dari goa peristirahatan Monk Lie.


Saat Yin Feng hendak memasuki pintu goa sebuah tekanan kuat, serta pancaran cahaya kuning terang menyembur keluar dari dalam goa.


Sontak Yin Feng, Walikota Tian Long, Qin Xua serta paman Dou Han langsung menutupi kedua mata mereka dengan lengannya. "Cahaya apakah ini Feng er, mengapa aku merasakan tekanan yang snagat luar biasa."


Walikota Tian Long cukup terkejut dengan kejadian yang sangat tiba-tiba, menjadikan dirinya sangat waspada. "Tenang paman, ini bukan pertanda bahaya melainkan sahabatku sedang melakukan penerobosan."


Setelah tekanan serta pancaran cahaya berangsur-angsur menghilang, keluarlah sesosok manusia kera berbulu putih dari dalam goa.


Yin Feng yang menyaksikan perubahan Monk Lie cukup terkejut. "Kau kah Monk Lie?" Yin Feng berjalan mendekati Monk Lie sampai mengitarinya, karena merasa takjub akan perubahan bentuk Monk Lie saat ini.


"Iya teman, ini aku Monk Lie." Dengan senyuman tipis Monk Lie menjawab keterkejutan Yin Feng.


Pandangan Yin Feng masih tertuju pada perubahan Monk Lie, sampai mata pun tak berkedip. "Sudahkah kau puas memandangiku teman?"


Pertanyaan Monk Lie menyadarkan Yin Feng. "Ahh.. Iya sudah." Sambil tersenyum penasaran Yin Feng masih sesekali melirik kearah tubuh Monk Lie.


"Apakah mereka temanmu? Mengapa kau tidak mau memperkenalkan mereka padaku?"


"Ah iya aku lupa." Yin Feng kemudian memperkenalkan satu persatu dimulai dari Walikota Tian Long, paman Dou Han, serta yang terakhir Qin Xua.


"Hemm.. Cantik! Apakah dia kekasihmu?" Pertanyaan tanpa basa-basi langsung terlontar dari mulut Monk Lie.

__ADS_1


Yin Feng terkejut dan tak bisa menjawabnya, hanya menyisahkan raut wajah yang memerah.


Begitupun dengan Qin Xua yang ternyata menunggu-nunggu jawaban dari pertanyaan Monk Lie yang ditujukan pada Yin Feng, dan dirinya hanya dapat membatin dalam hati. "Ternyata kak Yin Yin masih malu untuk mengakuiku sebagai kekasihnya."


"Ah.. Sudahlah jangan diteruskan lagi, mungkin Feng er belum mau untuk mengakuinya." Walikota Tian Long mencairkan suasana yang sempat terhening.


"Nah teman, ada perlu apakah kau kemari?" Monk Lie menanyakan maksud dan tujuan Yin Feng dan kawan-kawan datang berkunjung ke tempatnya.


"Kami sengaja datang kemari untuk mengatur siasat penyerangan dan juga... " Yin Feng memberitahu kepada Monk Lie perihal kekacauan di kota Tian Jien, serta keinginan mereka untuk merebut kembali kota tersebut.


"Hemm.. Seperti itu rupanya, kebetulan sekali aku sudah tak sabar ingin mencoba kekuatan baruku ini." Monk Lie terlihat bersemangat saat mendengar permasalahan yang terjadi di kota Tian Jien.


"Sebaiknya kita fokuskan untuk meningkatkan kekuatan kita terlebih dahulu, sebelum memulai penyerangan." Yin Feng mengintruksikan pada yang lainnya, agar mengkultivasikan diri terlebih dahulu.


"Benar sekali, dan juga.." Monk Lie berjalan mendekati pohon pir perak dan memetik beberapa buah, lalu memberikannya satu persatu.


"Makanlah buah pir perak ini, lalu seraplah energi yang terkandung didalamnya." Monk Lie menyuruh yang lainnya untuk menyerap energi yang terkandung didalam buah pir perak.


Setelah masing-masing mendapatkan satu buah pir perak, mereka kemudian memakan dan mulai menyerap energi yang terkandung didalamnya.


Di dalam wilayah kerajaan.


Ternyata Ling Wei cukup kerepotan saat menghadapi ketiga dari panglima kegelapan, yaitu panglima Beruang, panglima Badak dan panglima Gajah.


Setelah dirinya menelan beberapa pil penyembuh, mendadak stamina dan tenaga Ling Wei kembali dalam kondisi prima. "Cukup menarik, namun kali ini tak kan aku biarkan kalian bisa melukaiku untuk kedua kalinya."


Ling Wei mengeluarkan senjata pusakanya yang berbentuk tombak dengan lilitan gambar berbentuk seekor naga, padahal sebelumnya Ling Wei menggunakan tombak biasa.


Namun kali ini ia sengaja mengeluarkan senjata pusaka kerajaan, tombak Zulong. "Majulah kalian bertiga."


Ketiga panglima kegelapan, panglima Gajah, panglima Beruang dan panglima Badak menyatukan kekuatan dengan posisi panglima Beruang ditengah, disusul panglima Badak samping kanan dan panglima Gajah samping kiri.

__ADS_1


Dengan saling menyatukan energi membuat gelombang energi yang terasa sangat kuat disekitar mereka. "Semburan Api Amarah."


Dengan masing-masing menyemburkan ke satu titik, membuat gelombang semburan terasa menyatu menjadi satu dengan daya kekuatan sangat besar, diarahkan kepada pendekar kerajaan bernama Ling Wei.


"Mari kita adu lebih kuat mana, aku yang sendiri atau kalian yang bertiga." Ling Wei memutar-mutarkan tombak perlahan-lahan, kemudian lama kelamaan menjadi begitu cepat putarannya.


Saat gelombang energi keluar dari putaran tombak Ling Wei, saat itu juga ia keluarkan jurus dari tombak lilitan gambar naga. "Amukan Naga Zulong."


Dua serangan langsung bertemu mengakibatkan munculnya gemuruh dan juga sambaran kilat dilangit kerajaan.


Seakan semua bentuk pertarungan terhenti menyaksikan pertempuran dahsyat yang ditunjukkan oleh pertarungan tiga panglima kegelapan dengan Ling Wei.


Duaaaarr.... Duaaaarrr...


Ledakan dahsyat terjadi saat kedua serangan beradu, menimbulkan getaran yang sangat hebat serta mengakibatkan kehancuran disekitar pertarungan.


Kepulan asap bersamaan dengan kepulan debu seolah menelan tiga panglima kegelapan beserta pendekar kerajaan bernama Ling Wei.


Sampai beberapa saat barulah kepulan asap tebal dan debu mulai menipis hingga berangsur menghilang, terlihatlah tiga panglima kegelapan dalam keadaan terluka parah.


Panglima Gajah mengalami patah tulang dilengan kanannya, dan panglima Badak mengalami patah tulang kaki kanannya, sedangkan panglima Beruang harus merelakan dua tangannya.


Disisi lain terlihat pendekar kerajaan bernama Ling Wei terduduk berpegangan tombak, dengan darah deras mengalir dari tubuhnya. "Tak ku sangka serangan gabungan mereka dapat melukaiku hingga seperti ini."


Dalam keadaan yang sangat lemah salah satu panglima kegelapan memanfaatkan kesempatan tersebut, untuk menyerang Ling Wei yang sudah sangat lemah.


Sebuah serangan jaring laba-laba mengarah kearah Ling Wei secara tiba-tiba, membuatnya terlilit. "Hahaha... Bagus laba-laba, sebaiknya cepat kau habisi pendekar sialan itu."


Panglima Beruang nampak geram sekali, soalnya ia tak menyangka akibat dari serangan tadi harus membuatnya kehilangan kedua tangan.


"Tidak bisa dibiarkan." Ling Yuan hendak pergi membantu Ling Wei, namun raja Tang San menghentikannya. "Jangan kau lepaskan formasinya, masalah Ling Wei biarkan Ling Tong yang menolongnya."

__ADS_1


Ling Tong yang sudah pulih, secara cepat menyerang panglima laba-laba menggunakan pedang pusakanya.


.......


__ADS_2