
Setelah Felixian mengalami kekalahan saat bertarung dengan Yinfeng guru Liuntai sangat marah atas perlakuan Yinfeng, namun akhirnya guru Liuntai menyadari akan kesalahnnya yang sangat meremehkan kekuatan Yinfeng.
Muridnya Felixian seperti itu akibat guru Liuntai waktu itu secara terbuka menantang Yinfeng, dan juga kesalahan dirinya yang salah mendidik muridnya hingga menjadi murid yang sombong dan juga arogan.
Akhirnya setelah kejadian itu guru Liuntai akan merubah metode pendidikan terhadap semua murid-muridnya, yang selama ini sudah salah dalam mendidik maka akan beliau perbaiki lagi. Supaya kedepannya perguruan Macan Kumbang lebih disegani dan dihormati.
Setelah berakhirnya babak semi final maka terpilihlah dua peserta yang memasuki babak penentuan yaitu babak final, sedangkan peserta yang beruntung dapat memasuki babak final adalah :
Lioyen dari perguruan Singa Emas dan Yinfeng dari perguruan Macan Putih.
Untuk di babak final ini panitia Turnamen memberikan peserta waktu satu hari untuk memulihkan kondisi dan juga tenaga dalamnya, agar pada pertarungan final dapat bertarung dengan kondisi prima dan lebih maksimal.
Setelah panitia memberikan waktu satu hari Yinfeng meminta izin kepada guru Xinhai mengurung diri di kamarnya, untuk melatih tenaga dalam dan melatih kekuatannya. Karena pada babak final lawan yang akan Yinfeng hadapi tidak sembarangan.
Oleh sebab itu Yinfeng meminta izin waktu satu hari agar tidak ada yang mengganggunya, karena dirinya akan pergunakan satu hari itu dengan memaksimalkan tenaga dalam dan juga meningkatkan kekuatannya.
Setelah Yinfeng menyendiri di kamarnya barulah dirinya mencoba memahami akan kekuatan lawannya, yang mana Lioyen sangat terkenal dengan jurus peremuk tulangnya dan juga dapat menghilang dari pandangan.
Sesaat Yinfeng berfikir sejenak mencari tahu bagaimana cara mematahkan jurus-jurus lawannya, dengan membuka kembali kitab Harimau Sejati. Namun sayang setelah beberapa kali Yinfeng mencoba mencari tahu di dalam kitab Harimau Sejati.
Dirinya hanya mendapati cara agar dapat melihat seseorang yang sedang menggunakan ilmu bayangan, bukan dapat melihat seseorang dengan ilmu menghilang.
Yinfeng yang semakin bingung karena belum juga menemukan cara agar mematahkan jurus dari Lioyen, beberapa kali berfikir akhirnya Yinfeng tidak menemukan jawaban hanya satu solusi yaitu mencoba bertanya dengan Sesepuh Qiuhan.
Seketika Yinfeng mengeluarkan Kitab Teratai Api dari kalung ruang hampa miliknya, dan hendak bertanya kepada Sesepuh Qiuhan perihal menghadapi lawan dengan ilmu menghilang.
"Sesepuh..., Apakah anda mendengarku." Ucap, Yinfeng dengan sopan sambil mengelus-elus Kitab Teratai Api.
"Aku mendengarnya bocah." Jawab, Sesepuh Qiuhan dari dalam kitab lalu kemudian tiba-tiba muncul di depan Yonfeng. " Ada apa bocah kau membangunkanku."
"Hehe.. Begini Sesepuh, sebenarnya aku ingin menanyakan bagaimana cara agar aku dapat mematahkan jurus lawan yang dapat menghilang."
"Hemmm.. Jurus yang dapat menghilang ya." Ucap, Sesepuh Qiuhan dengan membelai-belai jenggotnya sambil menatap ke atas.
Sesepuh Qiuhan yang mencoba mengingat bagaimana caranya dapat mematahkan jurus menghilang tersebut. Setelah Yinfeng menunggu sekitaran sepuluh menit baru Sesepuh Qiuhan mulai membuka suara.
"Untuk mematahkan ilmu tersebut, kau harus dapat menguasai ilmu Mata Batin." Kata Sesepuh Qiuhan.
"Ilmu Mata Batin ?? Ilmu apakah itu Sesepuh ?" Tanya, Yinfeng yang belum mengetahui ilmu tersebut.
"Ilmu Mata Batin adalah ilmu yang dapat merasakan gerak-gerik lawan hanya dengan menutup mata."
"Waah.. Hanya dengan menutup mata kita bisa mengetahui keberadan lawan."
Yinfeng yang terkejut mendengar penjelasan dari Sesepuh Qiuhan sampai matanya melotot seakan mau keluar, dan mulut yang terbuka lebar membentuk seperti huruf O.
"Jika kau ingin menguasai ilmu tersebut, maka kau harus dapat mengendalikan fikiranmu terlebih dahulu setelah itu baru cobalah merasakan dengan hatimu."
__ADS_1
"Bagaimana cara mengendalikan fikiran Sesepuh ?"
"Itu coba kau cari tahu sendiri, namun jangan khawatir aku akan mencoba membantumu."
Sesaat Yinfeng mencoba memikirkan perkataan Sesepuh Qiuhan yang mengatakan bahwa hendak membantunya, sempat bingung bagaimana Sesepuh dapat membantunya. Daripada terus bingung dan makin penasaran maka di tanyakanlah pada Sesepuh perihal beliau hendak membantu Yinfeng.
"Memang bagaimanakah cara Sesepuh membantuku?" Tanya Yinfeng.
"Hemm.. Sekarang ikutlah denganku."
Seketika Sesepuh Qiuhan membawa Yinfeng masuk kedalam alam jiwanya.
"Ini.. Bukannya alam jiwa Sesepuh?" Tanya Yinfeng.
"Iya bocah, kau akan lebih fokus jika berlatih disini."
"Berlatih disini ?? Namun aku tidak memiliki banyak waktu Sesepuh."
"Tenang saja bocah.. Di alam jiwa ini berbeda dengan dunia, perbandingannya adalah satu bulan disini maka di dunia kau hanya melewati satu hari."
"Apaaa ?? Satu bulan disini hanya berjalan satu hari di dunia ?" Perkataan Yinfeng yang terkejut mengetahui perbandingan antara alam jiwa dan dunia.
"Jadi kau tidak perlu khawatir lagi, sekarang cobalah bermeditasi untuk memfokuskan fikiran dan coba kau rasakan alam sekitar dengan hatimu."
Yinfeng dengan segera menuruti perintah Sesepuh Qiuhan dengan duduk bersila dan memulai meditasi, untuk dapat memfokuskan fikiran dan dapat merasakan alam sekitar dengan hatinya.
***
"Aku harus memanfaatkan waktu untuk melatih kekuatanku, aku tidak mau kalah dengan anak itu." Gumam Lioyen.
"Lioyen..,"
Tiba-tiba guru Lioyen datang menghampirinya dan hendak memberikan sebuan senjata pusaka untuk dirinya gunakan nanti saat final, saat menghadapi Yinfeng.
"Ada apa guru ?" Tanya Lioyen.
"Lawanmu kali ini walaupun terlihat lebih muda darimu, tapi kekuatannya tidak bisa kau remehkan."
"Iya guru aku mengerti, oleh sebab itu aku hendak meningkatkan kekuatanku."
"Hemm.. Bagus, jangan mau kalah dengan anak itu."
"Iya guru, lalu ada keperluan apa ya guru menemuiku ?"
"Guru hanya ingin memberikanmu sebuah senjata pusaka ini."
Ucap, gurunya Lioyen sambil mengeluarkan sebuah senjata di tangannya.
__ADS_1
"Ini kan.."
"Iya Lioyen, ini senjata pusaka perguruan kita. Ketua perguruan mengizinkanmu untuk memakainya jika kau memasuki babak final."
Sebuah senjata pusaka berbentuk pedang dengan warna keemasan berleret hitam pada pegangannya, dan telah terukir di badan pedang sebuah gambar kepala singa dengan mulut yang terbuka lebar.
"Aku tidak akan pernah mengecewakan guru dan ketua perguruan, karena telah mempercayakan pusaka ini padaku walaupun hanya sementara."
***
Di Alam Jiwa Yinfeng yang sedang bermeditasi dan memfokuskan fikirannya serta mencoba merasakan alam sekitar dengan hatinya, dengan bermeditasi cukup lama akhirnya dirinya dapat merasakan alam sekitar.
Dan juga dapat merasakan keberadaan Sesepuh Qiuhan walupun dengan mata tertutup.
"Aku sudah dapat merasakan hembusan angin pada alam jiwa ini, serta keberadaan Sesepuh yang berada di atasku." Ucap Yinfeng.
"Hemm.. Ternyata kau cukup cepat juga bocah dapat menguasai ilmu Mata Batin ini."
Kemudian Yinfeng pun membuka mata dengan wajah yang berseri-seri menampakkan kebahagiannya, dengan senyuman yang merekah.
"Sekarang baru aku akan mencoba ilmumu itu." Ucap Sesepuh Qiuhan.
"Sesepuh mau bertarung denganku ??"
"Iya, aku hendak menguji mata batinmu itu."
Dengan seketika Sesepuh Qiuhan menghilang dari pandangan, Yinfeng pun mulai menutup mata dan merasakan keberadaan Sesepuh Qiuhan dengan mata batinnya.
Ternyata dengan keadaan menghilang Sesepuh Qiuhan mulai melesatkan sebuah pukulan kearah Yinfeng.
Daaag.. Daaag.. Daaaag...
Pukulan Sesepuh Qiuhan yang telah Yinfeng tahan dengan tangannya, sampai beberapa kali Sesepuh Qiuhan melesatkan pukulan kepada Yinfeng. Namun ternyata penguasaan mata batin Yinfeng sudah cukup sempurna hingga setiap pukulan Sesepuh Qiuhan banyak yang di tahan oleh Yinfeng.
Walaupun ada juga pukulan Sesepuh Qiuhan yang mengenai tubuh Yinfeng, namun itu semua tidak berakibat fatal pada diri Yinfeng. Sebab Sesepuh Qiuhan sudah mengontrol pukulannya agar tidak melukai Yinfeng dengan parah, hanya beberapa luka ringan saja.
"Bagus bocah, kau ternyata cukup sempurna dalam menggunakan mata batinmu." Ucap, Sesepuh Qiuhan yang memuji Yinfeng.
"Berarti aku sekarang sudah siap Sesepuh, untuk menghadapi lawanku dengan ilmu menghilangnya ?"
"Iya kau sudah siap bocah."
Setelah Yinfeng dapat menguasai ilmu Mata Batin, barulah Sesepuh Qiuhan mengajak Yinfeng kembali ke dunia. Yang ternyata ketika mereka kembali ke dunia waktu menunjukkan masih tengah malam.
Yang berarti Yinfeng dapat menguasai ilmu Mata Batin hanya membutuhkan waktu setengah hari lebih dikit, walaupun jika di alam jiwa Yinfeng sudah menjalani sekitar lima belasan hari.
......
__ADS_1
Makasih untuk kalian yang masih setia dengan novel ini, dan terimakasih buat Vote kalian. Semoga yang memberikan Vote untuk novel ini deberi kesehatan dan juga kelancaran rizki.
Aamiin.....