
"Jika saya boleh tau, sudah berapa lama saya tak sadarkan diri?"
"Kau sudah lima harian tak sadarkan diri." Ujar kakek berjenggot putih.
"Lima harian!!" Yin Feng terdiam sejenak sebelum kembali bertanya. "Lalu siapakah kakek ini?"
"Hemm.. Namaku Xio Fang. Aku disini hanya tinggal sendiri." Ujar kakek Xio Fang.
Kakek Xio Fang kemudian pergi untuk mengambilkan ramuan yang telah disiapkannya. Tak lama kemudian sang kakek muncul dengan secangkir ramuan ditangannya. "Ini.. Minumlah."
Yin Feng tanpa bertanya langsung menerima secangkir ramuan yang diberikan oleh kakek Xio Fang, setelah itu meminumnya. Awal mula tak ada reaksi apapun saat Yin Feng meminumnya.
Namun tak terasa perutnya mulai merasakan gejolak sakit bercampur mual, hingga akhirnya dimuntahkanlah apa yang ada didalam tubuhnya, karena tak kuat lagi menahannya.
Terlihat cairan hitam kental keluar dari dalam tubuh Yin Feng, ternyata itu adalah bekas racun dari Dewi Ular. Seketika tubuh Yin Feng kembali lemas dan tergeletak diranjang sampai membuatnya tak sadarkan diri kembali.
Kakek Xio Fang lalu beranjak pergi untuk mengumpulkan kembali ramuan-ramuan yang diperlukan, karena letak dan tempat ramuan yang lumayan jauh jadi Kakek Xio Fang menyiapkan keperluan Yin Feng terlebih dahulu baru pergi.
Setelah hampir seharian penuh semenjak kepergian Kakek Xio Fang, Yin Feng baru mulai sadarkan diri. Kali ini Yin Feng dibuat sangat terkejut saat terbangun setelah seharian tak sadarkan diri.
"Sepertinya tubuhku sekarang sedikit bertenaga, tidak seperti saat pertama kali aku terbangun." Gumam Yin Feng.
Memang berkat ramuan Kakek Xio Fang yang sudah beberapa kali diminumkan kepada Yin Feng, untuk yang kesekian kalinya ini Yin Feng baru merasakan tubuhnya sedikit bertenaga.
Yin Feng mencoba untuk bangun dari tempat tidur dan menggerakkan badannya, memang walaupun kali ini Yin Feng sedikit bertenaga namun tetap saja kakinya tidak dapat bertahan lama untuk berjalan.
Berpegangan pada dinding kayu rumah Yin Feng mencoba untuk melihat-lihat, nampak banyak koleksi kitab yang sudah tersusun rapih dirak. "Banyak sekali kitab bacaan Kakek Xio."
Ketika Yin Feng tengah asyik melihat-lihat, sejenak ia terhenti saat menemui sebuah kitab sedikit usang yang letaknya cukup belakang.
Bila saja Yin Feng tak memandangi semua kitab-kitab itu satu persatu, mungkin dirinya tak melihat ada satu kitab yang agak usang dan berdebu. Lagi pula letaknya pun sedikit tak terlihat bila tidak teliti.
Yin Feng mencoba mengambil kitab tersebut bila dilihat dari sampul depan sudah tertulis kitab apa itu sebenarnya, sontak Yin Feng terdiam saat membaca judul kitab itu. "Ramuan Penangkal Racun."
__ADS_1
Bagi Yin Feng itu seperti mendapatkan petunjuk, karena memang dirinya sangat memerlukan kitab tersebut. Ia mencoba untuk membuka kitab tersebut dan membaca halaman demi halaman.
Ternyata sebagian hampir sama dengan jenis-jenis tumbuhan yang tertera pada Kitab Teratai Api, hanya saja pada kitab Ramuan Penangkal Racun lebih terperinci akan kadar dan jumlah pemakaiannya.
Semakin lama semakin penuh semangat Yin Feng membacanya, tak lupa ia terus ingat-ingat apa yang tercantum dalam kitab tersebut. Baik itu nama tumbuhan, buah-buahan ataupun bahkan nama binatang yang memiliki mutiara dengan kasiat sebagai penangkal racun.
Ternyata binatang yang berguna sebagai penangkal racun yaitu seperti Ular iblis berkepala tiga dan juga Laba-laba iblis berkaki merah, ditingkatan bianatang iblis Mutiara Ungu.
Jadi mutiara ungu itulah yang bermanfaat sebagai penangkal racun, tentu saja itu masih belum sempurna harus melalui penggabungan dengan tumbuhan ataupun bentuk barang yang lain.
Setelah cukup lama Yin Feng membaca dan memahami apa yang terkandung dalam kitab tersebut, tiba-tiba Kakek Xio Fang pulang dari pencarian bahan ramuan dan mendapati Yin Feng tengah memegang kitab miliknya.
Nampak dari wajah Yin Feng rasa bersalah karena tanpa seizin Kakek Xio Fang dirinya berani melihat-lihat, bahkan sampai membaca salah satu kitab miliknya.
"Maaf kakek jika diriku lancang, aku terpukau saat melihat kitab sebanyak ini telah tersusun rapih, dan tak sengaja aku mendapati kitab ini." Ujar, Yin Feng dengan menunjukkan sebuah kutab ditangannya.
Karena ekspresi wajah kakek Xio Fang yang terlihat datar, Yin Feng beranggapan bahwa kakek Xio Fang marah padanya. Sehingga dengan segera Yin Feng berlutut dan memohon ampunan pada kakek Xio Fang.
"Tidak apa-apa anak muda, berdirilah.." Yin Feng kemudian berdiri dengan berpegangan pada dinding kayu. "Itu adalah kitab tua, namun isi yang terkandung didalamnya amatlah berharga."
"Hemm.. Jika kau menginginkannya maka ambilah." Ucap kakek Xio Fang.
Sejenak Yin Feng terdiam tanpa kata-kata mendengar ucapan kakek Xio Fang, seolah seperti tertimpa ribuan koin emas. "Sungguh!! Kakek memberikan kitab ini untukku?"
"Iya anak muda, semoga kitab itu bermanfaat untukmu."
Seketika Yin Feng segera berlutut dan menundukkan kepala, merasa berterimakasih atas pemberian kakek Xio Fang. "Tak perlu seperti itu.. Cepat bangunlah." Kakek Xio Fang membantu Yin Feng untuk berdiri.
"Bagaimana keadanmu sekarang anak muda?" Tanya kakek Xio Fang.
"Aku merasakan tubuhku sedikit bertenaga sskarang kakek." Ucap Yin Feng.
"Hemm.. Nampaknya ramuan yang aku berikan padamu mulai bereaksi, namun kau harus tetap rutin meminumnya."
__ADS_1
Yin Feng menganggukkan kepalanya tanda menuruti perintah kakek Xio Fang. "Oya kakek.. Nampak kitab-kitab disini semua mengarah pada cara meracik obat, apakah kakek ahli peracik obat?"
"Hemmm.." Kakek Xio Fang hanya mengelus-elus jenggot putihnya, tak memberikan jawaban apapun. "Jika kau ingin mengetahuinya besok ikutlah denganku."
Yin Feng hanya terdiam bingung atas permintaan kakek Xio Fang. "Jika kau tak ingin juga tak masalah, maka lupakanlah." Ujar, kakek Xio Fang yang kemudian bergegas pergi meninggalkan Yin Feng.
"Tunggu kakek.. Aku bersedia." Ucap Yin Feng.
"Hemm.. Maka temui aku besok dibelakang rumah." Setelah berkata demikian kakek Xio Fang bergegas pergi masuk kedalam kamarnya.
Nampak dari wajah Yin Feng seolah memikirkan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya. "Sebenarnya apa yang akan kekek Xio bicarakan ya?" Sambil memegangi keningnya Yin Feng mencoba menerka-nerka. "Ahh.. Sudahlah lebih baik aku tunggu saja besok."
Yin Feng kemudian kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat, namun tak berselang lama tiba-tiba kakek Xio Fang memanggilnya. "Anak muda.. Keluarlah sebentar."
Yin Feng yang baru merebahkan tubuhnya segera bangkit kembali, dan menemui kakek Xio Fang. "Ada apa kakek Xio?"
"Sebelumnya apakah kau mengetahui racun apa yang bisa membuatmu seperti ini?" Ujar kakek Xio Fang.
"Entah kakek.. Saat aku menghadapi Panglima Cobra ternyata ia menggunakan racun ini untuk dapat membunuhku." Ujar Yin Feng.
"Panglima Cobra!! Mungkinkah racun ini adalah racun Dewi Ular?" Kakek Xio Fang mencoba mengkaitkan Panglima Cobra dengan racun Dewi Ular yang pernah dibacanya.
Beliau beranggapan bahwa memang ciri dan tanda serta bekas memang mengarah ke racun Dewi Ular. "Tidak salah lagi itu memang racun Dewi Ular."
"Racun Dewi Ular!! Seberapa parahkah bila seseorang terkena racun itu kakek?" Tanya Yin Feng.
"Sepengetahuanku tak ada yang dapat selamat dari racun tersebut, kecuali.. " Kakek Xio Fang mengehentikan perkataannya.
"Kecuali apa kakek?" Tanya, Yin Feng yang mulai penasaran.
"Kecuali seseorang tersebut telah diakui oleh mutiara salju abadi dan permata api abadi, dan juga memiliki hati suci." Ujar kakek Xio Fang.
Yin Feng hanya terdiam sejenak merasa dirinya sangat beruntung telah memiliki ketiganya. "Jadi!! Mengapa aku masih hidup karena berkat ketiganya itu?"
__ADS_1
"Iya anak muda, maka beruntungnya dirimu karena termasuk sebagai orang yang terpilih."
......