
Diserang secara bertubi-tubi oleh tiga pendekar kerajaan membuat Panglima Elang sedikit kesulitan dalam bergerak. "Sial aku terlalu meremehkan kekuatan mereka."
Panglima yang lain hanya memandangi sambil tersenyum kearah Panglima Elang yang cukup kerepotan, menghadapi ketiga pendekar kerajaan tersebut.
"Hahaha.. Apakah kau masih tidak membutuhkan bantuan kami." Ujar Panglima Srigala.
Panglima Elang tak menjawab perkataan dari Panglima Srigala, ia terlalu fokus pada serangan-serangan milik pendekar kerajaan sehingga tak menghiraukan ucapan dari Panglima Srigala.
"Hahaha.. Sepertinya ada yang sudah kelelahan tuh." Ledek Panglima Kera.
Dengan sekuat tenaga Panglima Elang mengepakkan sayapnya dengan kekuatan penuh, yang membuat serangan dari ketiga pendekar kerajaan terhenti. "Ini saatnya serangan balik."
Panglima Elang melesatkan bulu-bulu tajamnya yang seperti pisau kecil, melesat dengan kecepatan penuh mengincar ketiga pendekar kerajaan.
Craaazzz..
Salah satu pendekar kerajaan di tingkat langit tak sempat menghindar, sehingga bulu-bulu tajam milik Panglima Elang mengenai tepat di tubuhnya bagian atas hingga menembus ke jantung.
Darah segar seketika menyembur keluar dibarengi terjatuhnya pendekar kerajaan tersebut ketanah, hingga pada akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Haha.. Rupanya dirimu tak begitu mengecewakan Elang." Ujar Panglima Srigala.
Walaupun Panglima Elang mampu membunuh salah satu pendekar kerajaan ditingkat langit, namun masih ada dua lagi pendekar yang kekuatannya lebih tinggi dari pendekar kerajaan sebelumnya.
Saat Panglima Elang hendak melesatkan bulu-bulu tajamnya, mendadak Panglima Kera menghentikannya. "Hentikan Elang."
"Mengapa kau menghentikannya kera?" Panglima Srigala cukup heran kenapa tiba-tiba Panglima Kera menghentikan Panglima Elang saat hendak menyerang. "Apa jangan-jangan kau mulai kasihan dengan mereka?"
"Hahaha... Seorang Panglima Kera tiba-tiba bisa merasa kasihan terhadap seseorang??" Ujar Panglima Badak.
"Apa sebenarnya maksudmu Panglima Kera? Kenapa kau menghentikanku untuk menghabisi mereka?" Panglima Elang nampak geram atas ucapan Panglima Kera, yang tiba-tiba menyuruhnya untuk berhenti.
"Sabar dulu aku tidak bermaksud merusak kesenanganmu, namun apakah kau akan bersenang-senang sendirian saja." Ujar Panglima Kera.
"Apa maksud ucapanmu Kera?" Tanya Panglima Srigala.
__ADS_1
"Apakah kita hanya akan menyaksikan dia bersenang-senang sendiri, sedangkan kita hanya duduk manis disini? Jujur tanganku sudah gatal ingin sekali ikut andil." Ujar Panglima Kera.
"Hahaha.. Betul juga apa yang kau bicarakan Kera, mengapa kita tidak ikut bersenang-senang juga." Ujar Panglima Badak.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, mari kita habisi mereka berdua bersama-sama." Ternyata Panglima Srigala pun sudah tak sabaran ingin ikut andil dalam kesenangan.
"Hoi.. Jangan lupakan kami." Teriak salah seoarang Panglima dari arah belakang.
Saat mereka berempat menengok kebelakang, baru mereka menyadari bahwa masih ada tiga Panglima Kegelapan yang mereka lupakan.
"Ah.. Aku hampir lupa tentang keberadaan kalian, ku kira sudah tak dapat sadarkan diri." Ejek Panglima Srigala.
"Sembarangan kau Srigala, apa kau menginginkan kami mati?" Bentak Panglima Beruang.
"Hah.. Buat apa mempertahankan yang lemah." Jawab Panglima Srigala sinis.
"Kurang Hajar kau Srigala." Panglima Beruang hendak melesat maju untuk menyumpal mulut Panglima Srigala, namun Panglima Gajah dan Panglima Laba-laba menghentikannya.
"Sudah.. Jangan kau permasalahkan ucapan Srigala itu, dengan kondisi kita yang sekarang ini belum tentu dapat menang melawan dia." Bisik Panglima Laba-laba pada Panglima Beruang.
***
Sedangkan di kota Tian Jien Walikota Tian Long beserta yang lainnya, hendak mencari sebuah penginapan karena berhubung hari sudah mau gelap.
Ternyata tak jauh setelah mereka berjalan, mereka menemukan sebuah penginapan yang terlihat tidak begitu mewah namun cukup unik dengan hiasan lampu yang kelap-kelip.
Walikota Tian Long tahu persis akan penginapan tersebut, yang memiliki nama yaitu Bunga Malam.
Walikota Tian Long, paman Dou Han, Qin Xua dan juga Yin Feng mencoba memasuki penginapan tersebut, tak lama setelah mereka masuk keluarlah dari balik kamar seorang nenek-nenek yang menyambut kedatangan mereka. "Selamat datang tuan-tuan di penginapan kami."
"Nenek Cin Mei.." Walikota Tian Long sangat mengetahui sesosok nenek pemilik penginapan, namun nenek Cin Mei justru lupa-lupa ingat akan sosok di depannya.
"Maaf tuan, darimana anda mengetahui nama saya." Nenek Cin Mei sedikit terkejut bagaimana bisa orang asing dapat mengetahui namanya.
"Apa nenek lupa dengan wajah saya." Walikota Tian Long menyibakkan rambutnya lalu mendekat tepat di depan muka nenek Cin Mei.
__ADS_1
"Ah.. Anda bukannya Tuan Walikota!! Nenek Cin Mei nampak terkejut dan takut akan sosok Walikota Tian Long yang ada di depannya, dengan seketika melangkah menjauh.
"Ada apa nek? Kenapa nenek takut seperti itu?" Walikota Tian Long cukup bingung saat nenek Cin Mei tiba-tiba melangkah menjauh darinya.
"Bukankah Walikota Tian Long sudah mati? Lalu kenapa wajahnya sangat mirip sekali dengan Walikota Tian Long." Dalam hati nenek Cin Mei bertanya-tanya, sambil tetap menatap tanpa berkedip kearah Walikota Tian Long.
Walikota Tian Long mencoba mendekati nenek Cin Mei kembali untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, akan tetapi nenek Cin Mei justru makin menjauh.
"Kenapa penduduk di kota ini seolah terkejut saat melihat Walikota Tian Long??" Ujar, Yin Feng yang merasakan kejanggalan dengan apa yang terjadi di kota Tian Jien.
"Aku pun merasa demikian Kak Feng er, tadi saat para warga melihat paman Tian Long aku melihat wajah mereka seperti tak percaya dan juga ada rasa ketakutan." Ujar Qin Xua.
Yin Feng mendekati Walikota Tian Long dengan memegang tangannya. "Tahan paman.. Jangan kau teruskan mendekati nenek Mei, coba biarkan aku saja yang berbicara padanya."
Walikota Tian Long masih memandangi kearah nenek Cin Mei. "Sudah paman.. Jangan sampai nenek Mei malah mengusir kita nantinya." Yin Feng mencoba menenangkan Walikota Tian Long agar tak meneruskannya.
"Hemm.. Baiklah, aku serahkan padamu Feng er." Ujar, Walikota Tian Long yang mulai melangkah menjauh hingga nenek Cin Mei sedikit rada tenang.
"Tenang nenek saya bukan orang jahat, saya hanya ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi?" Yin Feng berkata dengan tenang dan lembut.
Saat nenek Cin Mei cukup tenang hatinya barulah ia mulai berkata, tentang apa yang terjadi di kota Tian Jien ini.
"Saat itu ada kabar bahwa Walikota Tian Long sudah tewas saat hendak menuju dataran selatan."
"Apa!! Jadi itulah sebabnya nenek dan semua warga merasa takut saat melihat sosok yang mirip dengan Walikota Tian Long." Firasat Yin Feng benar adanya, bahwa ada sesuatu yang janggal.
"Apakah nenek tahu siapa yang telah menyebarkan kabar bahwa Walikota Tian Long sudah mati?"
Nenek Cin Mei hanya menggelengkan kepalanya. "Saya hanya tahu dari warga yang lain tuan muda."
"Nek.. Asal nenek tahu sosok tersebut memang benar Walikota Tian Long." Yin Feng menunjukkan kearah dimana Walikota Tian Long berdiri. "Dan kabar bahwa beliau sudah mati adalah bohong adanya."
"Jadi selama ini kabar kematian Walikota Tian Long adalah kabar palsu!!" Nenek Cin Mei memandang kearah Walikotota Tian Long, sebelum mulai mendekatinya. "Maaf tuan Walikota saya fikir anda.. "
Sebelum nenek Cin Mei selesai berucap Walikota Tian Long sudah memotong perkataannya " Sudah mati?? Itu hanyalah kabar palsu, karena mereka ingin menguasai kota ini." Ujar Walikota Tian Long.
__ADS_1
.........