
Setelah acara Turnamen kedewasaan selesai nama Yinfeng langsung terkenal di Perguruan Macan Putih, banyak orang yang membicarakan akan apa yang Yinfeng lakukan pada Turnamen itu.
Kebanyakan murid perempuan yang amat terkagum-kagum dengan kekuatan Yinfeng, untuk murid laki-laki tidak ada yang berani berurusan dengan Yinfeng, ketika bertemu banyak yang menyapa Yinfeng duluan menganggapnya sebagai kakak perguruan walupun usianya masih terbilang muda dibandingkan dengan yang lainnya.
Yinfeng yang tadinya lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah guru Liuking, untuk sekarang dirinya lebih suka berteman dengan yang lainnya dan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar.
Di pagi hari yang cerah kicauan burung-burung nan indah, sang surya mulai menyinari dunia pepohonan terlihat hijau nan sejuk, gemercik air sungai mengalir.
Terlihat seorang anak kecil berusia 10 tahun sedang termenung memandangi langit, memikirkan suatu hal yang dirinya tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi.
"Sebenarnya apa yang membuat Zouming melakukan hal seperti itu." Gumam Yinfeng.
Yinfeng yang masih bingung memikirkan yang terjadi dengan Zouming tiba-tiba di dalam tubuhnya mengeluarkan aura hitam yang di serapnya dari Zouming.
"Ada apa ini, mengapa aura hitamnya tiba-tiba muncul dari tubuhku." Gumam Yinfeng.
Yinfeng yang tidak mengerti akan hal yang di alaminya segera membangunkan Sesepuh Qiuhan yang masih tertidur di dalam Kitab.
"Sesepuh.., Sesepuh.., Tolong Aku." Panggil Yinfeng dengan mengusap-usap Kitab Teratai Api. " Aku butuh bantuanmu Sesepuh."
"Ada apa kau membangunkanku bocah."
Mendadak Sesepuh Qiuhan terkejut dengan yang di alami Yinfeng. "Mengapa tubuhmu mengeluarkan aura hitam." Tanya Sesepuh Qiuhan.
__ADS_1
"Aku juga tidak mengerti Sesepuh, kemarin Aku telah memurnikan kegelapan di tubuh Zouming, sekarang tiba-tiba aura ini keluar dari dalam tubuhku."
Sesepuh Qiuhan yang penasaran dengan apa yang di alami Yinfeng mencoba mendekati aura hitam tersebut. "Sepertinya aura ini tidak membahayakan dirimu bocah." Ucap Sesepuh Qiuhan sambil memegang aura dari tubuh Yinfeng.
"Tidak membahayakan bagaimana Sesepuh."
"Yang Aku tau jika seseorang mengeluarkan aura hitam pasti di dalam hatinya terselimuti kegelapan dan dia akan hilang kesadarannya."
"Lantas apakah diriku akan hilang kesadaran juga Sesepuh."
"Apa yang terjadi pada dirimu adalah hal yang berbeda, karena didalam hatimu sudah tidak ada kegelepan oleh sebab itu aura ini tidak dapat mempengaruhimu."
"Coba sekarang kau murnikan aura ini menggunakan tungku pemurnian jiwa." Ucap Sesepuh Qiuhan menimpali.
"Tenang saja, Aku memilikinya, namun jangan disini." Ucap, Sesepuh Qiuhan.
Dengan segera Yinfeng masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam, agar tidak ada yang mengetahui perihal tersebut.
"Hemm.., Sesepuh anda memiliki Tungku Pemurnian Jiwa, apakah anda pernah mengalami hal yang sama sepertiku ?"
"Aku sudah berumur ratusan tahun, jadi Aku tidak ingat lagi, yang Aku ingat hanya cara memurnikan aura hitam dari kegelapan itu."
Sebenarnya Sesepuh Qiuhan pernah mengalami hal yang sama dengan yang terjadi pada diri Yinfeng, namun karena waktu itu Sesepuh Qiuhan berbeda dengan Yinfeng yang telah di berkati dengan kesucian di dalam hatinya.
__ADS_1
Sehingga aura hitam kegelapan tidak dapat mempengaruhinya, membuat Sesepuh Qiuhan iri karena dirinya tidak mendapatkan kesucian di dalam hatinya.
Yang membuat dirinya hampir tidak sadarkan diri karena terpengaruh oleh aura hitam kegelapan, untung saja dirinya dapat di selamatkan dan aura kegelapan dapat di murnikan oleh teman Sesepuh Qiuhan yang bernama Lin-Feng.
Ternyata Linfeng ini adalah leluhur dari Yinfeng dan sebenarnya Leluhur Linfeng termasuk pendiri juga dari Perguruan Macan Putih, namun tidak berkecimpung langsung di dalamnya.
Salah satu alasan mengapa Yinfeng bisa memiliki kesucian hati adalah berkat Leluhur Linfeng yang telah memilikinya terlebih dahulu, namun setelah meninggalnya Leluhur Linfeng ratusan tahun lalu belum ada yang dapat mewarisi kesucian hati hingga akhirnya Yinfeng lah yang terpilih.
Oleh sebab itu sebelum meninggalnya Leluhur Linfeng beliau menyerahkan tungku pemurnian jiwa kepada Sesepuh Qiuhan, yang nantinya dapat di serahkan pada pewarisnya yang mewarisi pensucian hati.
Dan itulah wasiat terakhir Leluhur Linfeng untuk Sesepuh Qiuhan dan memberikannya sebuah Kitab Ilmu yang dapat menerobos ke tibgkat JIWA SUCI.
Setelah beberapa tahun dari wasiat itu Sesepuh Qiuhan mendalami Kitab Ilmu untuk dapat menerobos Jiwa Suci yang telah diberikan Leluhur Linfeng, sehingga ketika pertama kali mempelajari dirinya merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
Hingga sampai suatu ketika dirinya mengalami antara hidup dan mati, namun naas karena tubuhnya yang tak sanggup menahan siksaan dari Alam hidup dan mati.
Sehingga jiwa Sesepuh Qiuhan terpisah dari raganya, namun dirinya telah berhasil memiliki Jiwa Suci walaupun hanya Jiwa yang tanpa raga. Hingga ia memilih tinggal di dalam kitab Teratai Api yang di buatnya sendiri, sampai nanti ada seseorang yang mampu mempelajari dan membantunya mendapatkan tubuh kembali.
.....
Maaf ya buat para pembaca semuanya karangan Novel ini murni dari imajinasi Aouthor sendiri bila ada kesamaan dalam cerita tersebut dengan Novel lain itu murni tidak disengaja.
Revisi,, Kitab Ilmu bukan Kitab Ilmu Jiwa Suci,
__ADS_1
Kitab Ilmu, adalah kitab tatacara untuk dapat menerobos ke tingkat Jiwa Suci.