Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Pertarungan Sengit


__ADS_3

Lioyen yang tengah merasakan sakit pada telinganya tiba-tiba dirinya menyadari akan seseuatu yang menghampirinya, namun apa daya karena tidak sempat menghindari es milik Yinfeng dirinya pun membeku saat terkena elemen es itu.


Semua mata tertuju pada Yinfeng saat telinga mereka sudah tidak merasakan sakit, banyak yang terkagum-kagum akan kekuatan Yinfeng terutama Walikota Tianjien yang sangat tertarik akan kemampuan Yinfeng.


Yang mana auman milik Yinfeng, dapat melebihi teriakan Walikota Tianjien jika auman tersebut benar-benar sudah dibatas maksimal, pasti semua yang mendengarkan auman tersebut akan seketika mengeluarkan darah pada telinganya.


Karena tidak kuat menahan gejolak auman pada telinganya, yang dapat begitu mudah memecahkan gendang telinga. Sehingga dapat berakibat fatal sampai-sampai mengalami kematian.


"Ternyata anak ini masih memiliki jurus yang semengerikan ini." Gumam guru Liuntai.


Secara tiba-tiba dari es yang membekukan Lioyen mulai pecah sedikit demi sedikit, hingga ahkirnya Lioyen dapat keluar dari bongkahan es tersebut dengan menambah kekuatannya.


Ternyata sewaktu di dalam bongkahan es tersebut Lioyen sempat mengeluarkan kekuatan tersembunyinya, dengan mengalirkan tenaga dalam dan memusatkan pada kedua tangannya. Setelah itu dirinya mencoba menggunakan jurus peremuk tulang untuk menghancurkan es tersebut.


"Aku akui kau memang hebat, tapi jangan harap kau bisa menang dariku." Ucap, Lioyen dengan menatap tajam kearah Yinfeng.


Seketika Lioyen mengeluarkan senjata pusakanya yaitu pedang Singa Raja, dengan sedikit tersenyum Lioyen mulai mencabut pedang dari sarungnya.


Semua perguruan sudah banyak yang mengetahu akan pusaka dari perguruan Singa Emas, yang mana pusaka tersebut adalah kebanggaan bagi perguruan tersebut. Sebab karena pusaka Singa Raja perguruan Singa Emas akhirnya terkenal akan kehebatannya.


Dengan pedang pusaka Singa Raja tersebut hampir sama kisahnya dengan ketua perguruan Macan Putih, yang


"Sekarang terimalah kekalahanmu." Teriak Lioyen.


Dengan mengalirkan tenaga dalam pada pedang tersebut Lioyen mulai maju menyerang Yinfeng, tak mau kalah dengan Lioyen Yinfeng pun mengeluarkan pedang Harimau Peraknya dari kalung ruang hampa miliknya.


Yinfeng yang sudah siap menyambut Lioyen dengan pedang Harimau Perak ditangannya, barulah keduanya saling beradu ilmu pedang.


Traaang... Traaaang... Traaaang...


Terdengar bunyi nyaring dari dua pusaka yang saling beradu, hingga menimbulkan beberapa kali percikan-percikan api saat kedua senjata bertemu, terlihat kedua senjata pusaka tersebut imbang saat saling beradu.


Beberapa kali beradu serang menggunakan pedang akhirnya keduanya sama-sama termundur kebelakang, saat masing-masing mulai menaikan kekuatan pada serangannya.


Dengan saling bertatap-tatapan keduanya pun saling bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Uhh.. Ternyata anak ini tidak bisa diremehkan." Gumam Lioyen.


"Huhh.. Ternyata pedangnya sebuah pusaka yang sama kuatnya dengan Harimau Perak milikku." Gumam Yinfeng.


Lioyen kembali maju menyerang Yinfeng dengan pedangnya, sempat dihindari oleh Yinfeng saat ayunan pedang yang hampir mengenai dirinya. Namun Lioyen kembali mengayunkan pedangnya.


Trang... Trang... Trang...


Dua senjata kembali beradu namun kali ini ritme kekuatan serang dari masing-masing pedang, mangalami peningkatan yang luar biasa hingga tidak hanya sebuah percikan api saja yang keluar.


Melainkan juga sebuah ledakan-ledakan terjadi saat dua senjata saling beradu, hingga saat-saat keduanya saling mengayunkan pedangnya dengan kuat.


Duaaaaaaarrrr...


Sebuah ledakan kuat terjadi diatas arena pertarungan hingga membuat keduanya terpental, sampai membuat keduanya mengalami muntah darah dari hasil pertemuan kedua pusaka yang beradu.


Terlihat Lioyen menatap tajam kearah Yinfeng dirinya merasa takjub akan kekuatan yang telah Yinfeng keluarkan, hingga mampu membuat dirinya memuntahkan darah.


Begitupun sebaliknya Yinfeng yang merasa sedikit bingung bagaimana cara agar dapat mengalahkan Lioyen, sempat termenung memikirkannya.


Namun itu ternyata sebuah kesalahan, dengan tiba-tiba Lioyen sudah berdiri dan mengangkat pedangnya mengeluarkan sebuah jurus dari pedang Singa Raja miliknya.


Sebuah bayangan binatang buas berbentuk singa muncul mengarah kearah Yinfeng, dengan segera Yinfeng pun ikut mengeluarkan jurus dari Kitab Harimau Sejati yaitu Jurus Terkaman Harimau.


Membuat bayangan harimau muncul untuk menghadang bayangan singa milik Lioyen, hingga akhirnya kedua bayangan tersebut beradu sampai terdengar sebuah ledakan-ledakan diatas arena.


Namun ternyata hanya Lioyen dan Yinfeng saja yang dapat melihat bayangan tersebut, untuk yang lainnya mereka mendengar suara ledakan diatas arena, dan hanya melihat dua bayangan cahaya putih yang saling beradu.


Hingga kemudian masing-masing antara Lioyen maupun Yinfeng, sama-sama mengalirkan tenaga dalam yang cukup banyak untuk meningkatkan daya serang pada bayangan binatang keduanya.


Sampai terdengar sebuah ledakan kuat diatas arena dengan dua bayangan binatang baik itu bayangan singa dan Harimau sama-sama terpental mundur kebelakang, hingga menabrak sang pemilik.


Kali ini cukup banyak darah yang keduanya keluarkan, namun itu tidak jadi hambatan bagi Lioyen dengan secara tiba-tiba dirinya sudah mulai menghilang dari pandangan.


Tapi kali ini Lioyen tidak menggunakan pedangnya.

__ADS_1


Melainkan menggunakan jurus andalannya yaitu jurus peremuk tulang, dengan cepat Yinfeng yang menyadari Lioyen telah hilang dari pandangannya untuk menggunakan Mata Batinnya.


Namun kali ini Lioyen sengaja tidak menyerang Yinfeng dari arah depan maupun arah belakang, tetapai kali ini Lioyen mencoba menyerang Yinfeng dari arah atas.


Sesaat sebelum Lioyen mendekati Yinfeng dari atas, terlintas difikiran Yinfeng untuk menggunakan elemen airnya dengan kekuatan penuh untuk menghalau serangan Lioyen kali ini.


Ternyata benar saat Lioyen mengarahkan jurus peremuk tulangnya dari arah atas, Yinfeng dengan cepat mengeluarkan elemen airnya dengan kekuatan penuh.


Buuuuurrrrr....


Suara tekanan air yang sangat kuat menghalau Lioyen, dengan sekuat tenaga Lioyen hendak menahan tekanan air tersebut, namun tetap sia-sia saja tekanan air yang telah Yinfeng keluarkan akhirnya mampu mementalkan Lioyen keatas.


Belum sempat Lioyen jatuh mendarat keatas arena, tiba-tiba Yinfeng mengeluarkan bola-bola api berlapis es yang dilemparkan dengan tenaga penuh kearah Lioyen.


Duaaarrr... Duaaaarrr..


Satu persatu bola-bola api berlapis es milik Yinfeng mengenai badan Lioyen, hingga membuatnya mengalami luka cukup parah dan terjatuh diatas arena, dengan darah mengalir deras dari setiap serangan bola-bola api berlapis es milik Yinfeng.


Namun ternyata itu bukan sebuah kendala untuk Lioyen, dirinya mulai bangkit kembali walupun dengan keadaan tubuh penuh dengan darah, dan dengan sisa-sisa tenaga.


Dirinya kembali mencoba mengeluarkan jurus terakhir dari pedang Singa Raja.


Sebuah teriakan keras dengan ayunan pedang yang terlihat tidak sekuat pertama dirinya keluarkan, akhirnya diteriakanlah sebuah jurus yaitu Jurus Bayangan Kematian.


Munculah berbagai bayangan-bayangan binatang buas mengarah kearah Yinfeng, Yinfeng yang sempat terkejut saat menyaksikan beberapa bayangan binatang buas muncul untuk menyerangnya.


Namun semua itu tidak menyurutkan tekadnya untuk menang, dengan terpaksa akhirnya Yinfeng kembali menggunakan auman harimaunya.


Hauuuuuurrrrr....


Seketika semua bayangan binatang buas yang hendak menyerangnya berbelok mundur mengarah ke Lioyen, tanpa adanya tenaga dalam yang cukup akhirnya bayangan-banyangan binatang tersebut mengenai Lioyen.


Hingga membuat Lioyen terjatuh seketika dilantai arena dengan kembali mengalami luka yang lebih parah dari sebelumnya, kali ini lukanya membuat kedua tangannya mengalami patah tulang dan dirinya yang tak sadarkan diri.


Dengan segera wasit Mubai menyuruh tim medis untuk membawa Lioyen ke ruang perawatan, agar cepat mendapat pertolongan. Lalu wasit Mubai sempat menatap bangga kearah Yinfeng sebelum akhirnya mengumumkan bahwa pemenang Turnamen Bergengsi kali ini adalah Yinfeng dari perguruan Macan Putih.

__ADS_1


Suara tepuk tangan serta teriakan menggema di acara tersebut, seakan semuanya puas menyaksikan pertarungan yang disuguhkan oleh Yinfeng kali ini.


......


__ADS_2