Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Pertarungan 8 Besar 2


__ADS_3

Setelah pertarungan Liuer melawan Lioyen di menangkan oleh Lioyen, guru Liuntai kemudian mencoba mencari tahu akan jati diri Liuer apakah benar dirinya anak dari adik ayahnya atau bukan, berjalanlah ia menuju ke ruang perawatan.


Sebelum guru Liuntai menuju ruang perawatan dirinya berpesan pada Felixian agar tetap di tempat duduknya, sambil memperhatikan pertandingan agar Felixian tau kekuatan lawan-lawannya.


Sesampainya di ruang perawatan guru Liuntai sempat merasa kasihan dengan Liuer yang tidak sadarkan diri, dan mengalami kelumpuhan akibat serangan Lioyen dengan menggunakan jurus Peremuk Tulang hingga membuat Liuer seperti itu.


"Siapa kau ? Apa maumu datang kemari ?" Tanya, guru Liuer dari perguruan Musang King.


"Tenang.. Aku tidak ada niatan jahat kepada kalian, aku hanya ingin melihat kondisi Liuer." Jawab guru Liuntai.


"Melihat kondisi Liuer ?? Aku tidak tau siapa dirimu dan apa yang kau inginkan."


"Aku sebenarnya hanya ingin menanyakan satu hal kepada Liuer, namun melihat kondisinya seperti itu jadi lebih baik aku urungkan niat untuk bertanya padanya." Jawab giru Liuntai.


"Memang apakah yang hendak kau tanyakan pada Liuer ?"


"Hemm, aku hanya ingin tahu tentang jurus Cakaran Kematian yang dia gunakan tadi." Jawab guru Liuntai.


"Jurus itu tidak sembarang orang boleh mengetahuinya, karena jurus itu hanya dimiliki oleh Ketua perguruan kami, dan hanya diwariskan kepada keturunannya saja."


"Ketua perguruan kalian ?? Siapakah namanya ?" Tanya guru Liuntai.


"Mau apa kau tanya tentang nama ketua kami, aku tidak akan memberitahunya sebelum kau memberikan alasan ada apa kau datang kemari.".


"Aku datang kesini hanya untuk menanyakan tentang jurus tersebut."


"Kau berbohong, kau pasti ingin memanfaatkan situasi karena Liuer dalam keadaan seperti ini bukan."


"Hemm... Baiklah akan aku tanyakan padanya nanti setelah dia sadarkan diri, ambil ini." Ucap, guru Liuntai sambil memberikan dua pil pada guru Liuer dari perguruan Musang King.


Guru Liuntai masih menyimpan sedikit pil penyembuh dan pil tulang, walaupun memang tidak dapat total menyembuhkan Liuer tapi berguna bagi Liuer agar tulang-tulangnya menyatu sedikit demi sedikit.


Niat hati ingin menanyakan Liuer tentang jurus Cakaran Kematian, mengapa Liuer dapat memiliki jurus itu ? kiar-kira siapakah yang mengajarkannya ? Dan ada hubungan apa Liuer dengan seseorang yang telah mengajarkan jurus tersebut ?


Semua pertanyaan itu di urungkan oleh guru Liuntai melihat kondisi Liuer yang belum sadarkan diri, akhirnya guru Liuntai hanya memberikan pil penyembuh dan pil tulang saja, untuk masalah pertanyaan yang menghantuinya akan di tanyakan nanti saat Liuer sudah sadarkan diri.


Sedangkan di atas arena kini giliran sang wasit Mubai mengumumkan untuk pertarungan selanjutnya.

__ADS_1


"Untuk pertarungan kedua Roulan dari perguruan Elang Putih melawan Jienli dari perguruan Rajawali."


Roulan berjalan menaiki arena dengan santainya, disusul Jienli di belakangnya yang diam-diam memperhatikan Roulan dari belakang, setelah keduanya di atas arena kemudian memberikan hormat pada Wali Kota Tianjien dan perwakilan dari kerajaan XienZue, wasit Mubai pun mengintruksikan kepada masing-masing peserta untuk memeilih senjata yang telah tersedia.


Roulan lebih dulu memilih senjata yang cocok untuk dirinya yaitu sebuah senjata berbentuk seperti pisau kecil namun terlihat melengkung layaknya bulan sabit. Sedangkan Jienli lebih memilih senjata berbentuk pedang dengan dua mata yang tajam, dan pegangan di tengah.


Setelah keduanya selesai memilih senjata barulah di bunyikan gong untuk memulai pertarungan.


Dooooongg...


Jienli terlihat sedang memain-mainkan sejata dengan sangat lincahnya, seperti sudah terbiasa menggunakan senjata itu. Sedangkan Roulan hanya memilih memegang dua bilah pisau kecil ditangannya sambil menatap Jienli dengan serius.


Setelah Jienli selesai memainkan senjatanya dia langsung melesat maju menyerang Roulan, walaupun senjata Roulan terlihat lebih kecil dari senjata Jienli namun ternyata tidak membuat Roulan kesusahan dalam menahan setiap serangan demi serangan yang di lesatkan oleh Jienli.


Mereka pun saling beradu serangan, terlihat Roulan sangat cepat dalam menggunakan pisau kecilnya yang beradu dengan pedang milik Jienli, terjadi hingga beberapa sayatan serta tusukan yang di lesatkan oleh Jienli namun dengan mudahnya dihindari oleh Roulan.


Setelah beberapa kali beradu serangan jarak dekat tak mampu melukai Jienli, Roulan pun akhirnya mundur kebelakang untuk menyiapkan serangan dengan jarak jauh. Jienli sempat terkejut dengan perubahan Roulan yang menjauh darinya.


Namun belum sempat rasa terkejutnya Jienli di buat Roulan terkejut lagi dan waspada, karena pisau-pisau kecil milik Roulan melesat dengan sangat cepatnya mengarah ke tubuh Jienli, dengan gerakan reflek Jienli menghindari serangan dari pisau kecil Roulan, yang ternyata Roulan telah mengalirkan tenaga dalam ke pisau kecilnya tersebut hingga daya lesat pisau itu lebih cepat dari umumnya.


Ayunan pedang Jienli kian waktu semakin lemah karena beberapa kali pisau kecil Roulan mampu melukai tubuh Jienli, akhirnya Jienli mengeluarkan kekuatan terbesarnya.


Dengan dibarengi sebuah teriakan keras seketika tubuh Jienli mengalami perubahan, dengan tangan yang semakin membesar disusul kakinya kemudian badannya terlihat lebih berotot.


Semua mata memandang ke arah Jienli di buat heran akan perubahan yang di alaminya, terutama Roulan yang kini menjadi waspada karena dia merasakan akan tingkat kekuatan Jienli yang semakin kuat.


Namun kewaspadaan Roulan membuat dirinya kemudian ikut mengeluarkan kekuatan terbesarnya, sebuah teriakan keras terdengar dari mulut Roulan dengan disertai perubahan pada tubuhnya.


Tubuh Roulan seakan lebih kuat dari sebelumnya dengan memancarkan energi kekuatan yang sangat besar, hingga pisau kecil miliknya dapat di terbangkan dengan mudah.


Sebuah pisau kecil terbang berputar-putar di atas kepala Roulan, dengan sekali ayunan tangan dua pisau kecil milik Roulan kemudian terbang mengarah pada Jienli, namun apa yang terjadi ketika pisau kecil milik Roulan ternyata tak mempan menembus kulit Jienli.


"Hahahaha... Hanya pisau kecil seperti ini tidak akan mampu melukai kulitku." Teriak Jienli.


Walaupun bagi Roulan pisaunya tidak dapat melukai kulit Jienli, namun ternyata dirinya tidak menyerah untuk terus menyerang dengan pisau kecilnya itu.


Sedangkan Jienli hanya tertawa melihat aksi Roulan yang sia-sia belaka baginya, akhirnya Jienli maju menyerang Roulan menggunakan pedangnya, dengan sekali serang mampu membuat Roulan mengalami tekanan yang sangat kuat.

__ADS_1


Saat Roulan hendak menahan serangan milik Jienli, bagi Jienli hanya satu serangan itu kurang memuaskan akhirnya Jienli terus mengayunkan pedangnya kearah Roulan, hingga terdengar suara benturan dari kedua senjata mereka.


Traang.. Traaang..


Bagi Roulan mungkin ini mustahil untuk dapat mengalahkan Jienli, tapi dirinya beranggapan jika batu saja akan terbelah hanya dengan tetesan air, mengapa tubuh tidak dapat terbelah jika menggunakan pisau kecil. Raulan mencob menjauh dari Jienli untuk meningkatkan kekuatan terbang pisaunya.


Roulan pun akhirnya mengalirkan energi pada pisaunya, yang seketika membuat pisau kecil milik Roulan berputar dengan sangat kencangnya, hingga menimbulkan gesekan di udara dengan percikan-percikan api kecil.


Sambil terus mengalirkan energi pada pisaunya membuat Roulan sempat terdiam, tapi Jienli tidak mau mengulur-ulur waktu lagi dengan cepat ia lesatkan pedang miliknya kearah Roulan.


Traaaang...


Terdengar pisau kecil Roulan menahan pedang yang di lesatkan Jienli dengan masih berputar-putar, kemudian Roulan arahkan pisau kecil miliknya untuk terbang menyerang Jienli.


Wussshhh... Wussshh...


Dengan sekali serang akhirnya pisau milik Roulan mampu melukai kulit Jienli.


Streeettt...


Suara kulit pada bahu Jienli yang terkena pisau kecil Roulan.


"Uhh, bagaimana mungkin ?? Dia dapat melukai kulitku." Gumam Jeinli.


Namun belum sempat Jienli menemukan jawaban atas kebingungannya, pisau Roulan kembali melukai tubuh Jienli hingga beberapa kali pisau kecil Roulan menggores tubub Jienli.


Hingga di saat-saat akhir Roulan kembali meningkatkan kekuatan membuat pisau kecilnya mengeluarkan asap putih kehitam-hitaman, seakan menjelma bagaikan seokor srigala yang hendak menerkam mangsanya.


Jleeebbbb...


Dua pisau kecil milik Roulan menancap di perut kiri dan satunya di bahu kanan Jienli, hingga membuat Jienli akhirnya terduduk lemas tak berdaya dengan kucuran darah dari dua pisau yang menancap di tubuhnya.


Segera mungkin wasit Mubai memberikan perintah pada tim medis untuk membawanya ke ruang perawatan dan memberikan obat untuk menghentikan pendarahan Jienli.


Wasit Mubai kemudian mengumumkan bahwa dengan demikian pertarungan babak 8 besar kali kedua ini dimenangkan oleh Roulan dari perguruan Elang Putih.


......

__ADS_1


__ADS_2