Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Kontak Darah


__ADS_3

Saat Sang Kera merasakan tekanan yang cukup kuat setelah Yinfeng mengeluarkan Aura Penghakiman, Sang kera merasa takjub melihat peningkatan Yinfeng yang belum genap 20 hari dari batas waktu yang telah keduanya sepakati.


Namun ternyata Sang Kera masih sanggup menahan tekanan Aura Penghakiman milik Yinfeng, dengan sedikit terasa berat pada tubuhnya Sang Kera akhirnya dapat mengeluarkan kekuatannya ke batas maksimal.


Dengan disertai teriakan yang sangat nyaring hingga memekakkan telinga.


Ghouuuurrrrrrr....


Yinfeng yang sempat terasa sakit pada telinganya akibat teriakan Sang Kera dengan reflek menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Hemmm, Tak Ku sangka ternyata Kera ini masih menyimpan kekuatan sebesar ini." Gumam, Yinfeng yang mengikuti Sang Kera dengan manmbah tekanan Aura Penghakiman.


Lagi lagi Sang Kera mengalami tekanan, namun kali ini tekanan yang Yinfeng keluarkan lebih terasa berat bagi Sang Kera hingga dirinya terduduk kaku.


Yinfeng yang melihat Sang Kera tidak dapat menggerakkan badannya dengan posisi terduduk, perlahan mendekati Sang Kera.


Hehehe.. Bagimana Kera, apakah Kau masih sanggup." Ucap, Yinfeng dengan tertawa pelan.


"Baiklah sekarang, Aku mengakui Kau sebagi Tuanku."


"Hemm, Bagus. Kenapa tidak Kau ucapkan lebih awal."


"Aku hanya ingin merasakan kekuatan yang telah Kau miliki sekarang."


Yinfeng kemudian menarik kembali Aura Penghakiman, dan Sang Kera kembali dapat berdiri.


"Aku sekarang bersedia menjadi Budakmu Tuan." Ucap, Sang Kera sambil berlutut.

__ADS_1


"Lantas bagaimana caranya Kontak Darah..," Tanya Yinfeng.


"Dengan Aku meminum darah Tuan, itu sudah cukup."


"Hemm, baiklah."


Yinfeng kemudian menggoreskan pisau ke ibu jarinya, seketika darah mengalir jatuh tepat di mulut Sang Kera.


Sontak keduanya merasakan ada perasaan yang amat tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, karena setelah Kontak Darah terjadi perasaan keduanya saling menyatu satu sama lain.


Jadi antara Yinfeng dan Sang Kera dapat mengetahui keberadaan masing-masing, dan dapat dengar cepat datang saat masing-masing saling membutuhkan.


"Kau akan Aku beri nama Monklie, apakah Kau suka."


"Akhirnya Aku punya nama." Ucap, Monklie yang sangat kegirangan.


"Baik Monklie setelah ini, apakah Kau mau ikut ke duniaku..," Tanya Yinfeng.


"Baiklah jika begitu, namun Aku harap Kau dapat ikut sewaktu diriku memulai perjalananku nanti."


"Tuan tidak perlu khawatir Aku pasti selalu menemani Tuan kema pun Tuan pergi nantinya, sebelum itu izinkan Aku untuk menyelesaikan urusanku terlebih dahulu."


Pinta, Monklie kepada Yinfeng.


"Baik sebelum nantinya Aku kembali ke duniaku, Aku ingin mengambil tanaman dan buah-buahan yang sangat bermanfaat bagiku nantinya."


"Tuan tidak perlu repot-repot mencarinya Aku sudah siapkan semuanya di dalam kalung yang telah Aku berikan pada Tuan."

__ADS_1


"Apaaa... Kau telah menyiapkannya, bagaimana Kalung bisa buat menyimpannya ?" Tanya, Yinfeng yang terkejut sampai matanya membuka lebar.


"Karena Kalung itu adalah Kalung Ruang Hampa Tuan, dan Aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari sebelum Dunia ini terbakar."


"Lantas apa yang mendorongmu bisa melakukan hal itu."


"Aku memiliki firasat bahwa nanti akan datang seseorang yang telah di akui oleh Permata Api Abadi dan berhasil mendapatkan Mutiara Hitam."


"Oleh sebab itu Aku berikan kalung itu kepada Tuan sewaktu Tuan dapat mematahkan Dunia Ilusiku." Ucap, Monklie menambahkan.


"Jika seperti itu Aku sangat beruntung memiliki teman sepertimu."


"Dan mulai sekarang Kau jangan memanggilku Tuan, karena Kita sudah saling terikat satu sama lain, jadi Kau panggil Aku Teman saja."


"Tap Tuan....,"


Sebelum Monklie menyelesaikan perkataannya Yinfeng menyelanya duluan.


"Tidak ada tapi-tapian, lagian juga Aku lebih suka di panggil Teman daripada Tuan."


"Oya, apa saja yang telah Kau siapkan di dalam kalung ini Teman."


"Aku sudah menyiapkan seluruh tanaman obat, buah-buahan dan juga terdapat di dalamnya berbagai Mutiara Binatang Iblis."


"Mutiara Binatang Iblis.. Apakah Kau membunuhnya." Tanya, Yinfeng yang amat geram.


"Tenang dulu Tuan, eh Teman. Aku mendapatkan Mutiara-mutiara itu tatkala banyak Binatang Iblis yang tewas akibat kebakaran yang amat dahsyat kala itu."

__ADS_1


"Hemm.. Baikalah, Aku ingin menikmati Pir Perak yang telah Ku petik terlebih dahulu, agar kualitas Tulangku naik hingga Tulang Hitam tahap akhir."


Yinfeng yang menginginkan Tulangnya dapat menaiki Tulang Hitam, segera duduk dan memakan Pir Perak tersebut lalu berkultivasi.


__ADS_2