
Dua orang muda- mudi itu masih berdiri saling berdekapan di antara puluhan mayat dan bangkai anjing. tidak ada satupun anggota perkumpulan silat 'Musang Kelabu' yang masih hidup, bahkan empat orang pesakitan yang berada dalam tandupun juga sudah hilang nyawa. bedanya mereka mati bukan karena terbunuh melainkan sebab terlalu ketakutan melihat semua rekan dan gurunya tewas secara mengerikan di tangan seorang pemuda pincang.
Sebenarnya mereka berempat inilah pangkal permasalahannya, karena berani menggangu seorang gadis muda bernama Srianah. saat sudah di hajar hingga babak belur dan pingsan mereka di temukan rekan- rekannya di pinggiran pasar Sewon yang berada di kadipaten Muntilan.
Di hajar oleh seorang gadis yang tidak di kenal sampai patah tangan dan kaki, muka lebam, gigi rahang rompal serta muntah darah, tentunya sangat memalukan bagi perkumpulan silat 'Musang Kelabu' yang namanya sedang naik daun di daerah Muntilan.
Di landa kemarahan dan penghinaan lebih separuh anggotanya termasuk sang ketua langsung berniat membuat perhitungan dengan gadis itu. tiga ekor anjing pemburu yang terlatih turut di bawa untuk mencari jejak si gadis muda. saat ketemu mereka seketika yakin bakal menyudahi urusan ini dengan sangat mudah. sayangnya mereka harus kecewa.
Kekecewaan yang juga harus di bayar dengan sangat mahal. dalam mimpipun anggota Musang Kelabu termasuk Ki Musang Laga ketuanya tidak pernah mengira kalau bakal muncul seorang dewa penolong bagi gadis muda itu. seorang pemuda pincang yang sudah beberapa bulan belakangan ini sangat terkenal kekejamannya dalam menghabisi setiap lawannya di dunia persilatan.
Penyesalan selalu datang terlambat. hanya karena seorang gadis muda yang tidak jelas asal- usulnya, nama perkumpulan silat Musang Kelabu yang terkenal sangat ahli dalam mencari jejak buronan harus lenyap dari percaturan dunia persilatan.
Srianah masih pejamkan matanya sambil terus bersandar di dada Pranacitra. entah sudah berapa lama mereka berdua seperti itu. cuma diam saling mendekap tanpa perduli apapun seakan waktu sudah berhenti berputar bagi keduanya.
Ada dua alasan Srianah melakukan ini, pertama biarpun sejak awal dia tidak melihat peristiwa yang berlangsung di depannya, tapi gadis itu tetap dapat membayangkan semua yang sedang terjadi. masih terasa bau darah anyir basah yang terciprat di wajahnya meskipun kini tangan si pemuda pincang sudah menghapusnya.
Meskipun Srianah bukan seorang pengecut, namun biar bagaimanapun juga dia tetaplah seorang gadis muda yang punya rasa ngeri dan takut jika harus melihat pemandangan yang terlalu menyeramkan.
Alasan lainnya entah kenapa dia justru merasa sangat nyaman dan damai hatinya saat berada dalam pelukan si pemuda pincang itu. sebenarnya gadis itu sangat polos dan murni sampai- sampai dia tidak dapat memastikan perasan sayang dan rindu seperti apa yang sekarang berada dalam hatinya. apakah adik perempuan terhadap saudara laki- lakinya, sebagai dua orang sahabat karib atau sebagai dua orang muda- mudi yang sedang di landa asmara.? entahlah., Srianah tidak perduli semua itu, Pranacitra juga lebih tidak pernah mau pusing memikirkannya. yang pasti sekarang hati keduanya terasa bahagia.
__ADS_1
Pondok bambu yang sudah hampir roboh dan jebol dindingnya itu kini terlihat lebih baik. meskipun beberapa bagian masih terlihat rapuh dan berlubang atap dindingnya namun sudah bisa di tinggali untuk sekedar tempat beristirahat. setelah seharian sibuk memperbaiki gubuk bambu itu, kedua muda- mudi inipun beristirahat duduk di atas balai bambu yang di letakkan di teras gubuk.
Hari sudah beranjak senja, sinar matahari yang terasa hangat terlihat semburat jingga berkilauan menembusi sela- sela dedaunan pepohonan liar yang tumbuh di depan gubuk. Pranacitra melahap sepotong singkong rebus yang terhidang di atas balai. sekarang ini jiwanya terasa begitu tenteram menikmati suasana sore hari.
Sekarang pemuda cuma bertelanjang dada hingga terlihat otot tubuhnya yang kekar. kulitnya yang pucat tampak di penuhi bekas luka goresan senjata tajam. di sampingnya nampak Srianah yang sedang sibuk menjahit baju hitamnya yang baru saja kering setelah di cuci.
''Kenapa pakaian yang sudah demikian jelek begini masih saja kau pakai. apa kau sudah begitu miskinnya sampai tidak mampu beli yang baru.?'' omel gadis itu sebal. kalau di hitung mungkin dia sudah menjahit robekan di baju hitam itu lebih dari empat puluh kali, baik robekan kecil maupun besar. pemuda itu cuma nyengir saja mendengarnya.
Beberapa saat kemudian Srianah sudah menyelesaikan jahitannya. baju warna gelap yang tebal itupun di berikan pada Pranacitra. pandangan gadis manis enam belas tahunan ini tertuju pada tubuh kekar pemuda itu yang nampak seram di hiasi ratusan bekas luka di depan dan belakang tubuh.
Tanpa sadar kedua tangannya yang halus namun kokoh meraba kulit tubuh berotot si pemuda dengan penuh kelembutan. matanya menatap tidak berkesip setiap jalur bekas luka- luka di bagian dada, perut juga bagian punggungnya seakan sedang mengagumi sesuatu hasil seni yang teramat indah. bibir mungilnya yang polos tanpa pemerah gincu itu tersenyum. tapi anehnya matanya mulai sembab memerah basah.
Jika saja pada waktu pemuda ini tidak membelanya saat berhadapan dengan 'Lima Begundal Brewok' penguasa pasar Sewon, mungkin dia tidak akan terluka parah dan mengalami cacat seperti ini. pastinya juga nama Srianah sudah tidak ada lagi di dunia.
''Kau kenapa., apa belum pernah melihat tubuh seorang lelaki.?'' tanya Pranacitra sembari melirik gadis di sampingnya yang jadi rikuh dan rada gugup.
''Aah itu., ti., tidak. buk., bukan be., gitu..''
''Ha., nya., hanya saja aku belum pernah melihat seorang pemuda dengan begitu banyak bekas luka di tubuhnya. kurasa selama ini kau pasti sudah mengalami banyak sekali penderitaan dan siksaan..'' bisik Srianah yang mulai terisak lalu dia merebahkan dirinya ke dada Pranacitra. pemuda itu mendekap lembut tubuh ramping Srianah, menciumi rambut yang hitam tebal dan keningnya yang masih tersisa sedikit bau asam sisa keringat. pemuda itu teringat dengan dirinya sendiri yang belum mandi.
__ADS_1
''Apa kau masih betah berada di pelukan lelaki yang belum mandi dan bau keringat sepertiku.?'' gumamnya menyeringai.
''Sebenarnya aku sedikit mual menciumnya., tapi karena mungkin aroma yang aneh seperti ini tidak akan kutemui lagi dalam waktu yang lama, akhirnya aku terima saja. lagi pula., diriku juga belum mandi sejak pagi tadi, pasti kau juga merasakan bau kecut yang sama dari tubuhku..'' jawaban Srianah yang seakan tanpa malu itu agak di luar dugaan Pranacitra.
Pemuda pincang ini menyeringai licik. ''Kalau begitu., bagaimana jika sekarang kita berdua mandi bersama di sungai belakang gubuk. kau kan belum melihat bekas luka dibagian tubuhku yang lainnya. bahkan kalau dirimu suka., bisa juga kau periksa sekalian anggota badanku yang tersembunyi, kujamin dirimu bakal terpukau setelah mengetahuinya..''
Srianah tertegun seperti tidak paham., bsru kemudian gadis lugu dan polos itu sontak memerah wajahnya karena malu sekaligus geli. ''Kau ini., sejak kapan dirimu berubah menjadi pria mesum. siapa yang mau mandi bareng pemuda pincang dan licik sepertimu..''
''Ora sudi., pergi sana badanmu bau tahu.!'' semprot Srianah geram. dia sampai tidak tahu harus marah atau malah tertawa.
Pranacitra mengekeh sambil kenakan baju hitamnya kembali. Srianah mendengus kesal. ''Aku mau mandi dulu di sungai kecil belakang gubuk. awas saja kalau kau berani mengikutiku.!'' ancamnya jengkel sambil melangkah pergi lalu lenyap di ujung belokan samping kanan gubuk.
Tapi sesaat kemudian mendadak gadis itu muncul lagi dengan cuma memakai baju dalam berupa kutang putih penutup dadanya. pakaian biru mudanya di sampirkan begitu saja di bahu kirinya yang putih mulus, membuat darah Pranacitra seketika berdesir.
Dengan berdiri bertolak pinggang dan sedikit basahi bibirnya dengan ujung lidahnya, gadis itu berkata seakan menantang si pemuda.
''Eehm tapi., kalau kau dapat mengintipku sedang mandi tanpa ketahuan olehku, aku rasa itu tidak jadi masalah..'' ucap gadis itu sambil tertawa lantas berkelebat menghilang ke belakang gubuk. gantian Pranacitra yang terhenyak, entah sejak kapan gadis lugu dan polos itu berubah menjadi agak licik, genit dan mulai paham bagaimana cara menggoda lawan jenisnya.
Senja sudah semakin menuju ujungnya, sebentar lagi malam akan turun. Pranacitra melahap singkong rebusnya yang terakhir. beberapa tegukan air kendi turut pula menyegarkan kerongkongannya. hanya hidangan sederhana yang tersaji di atas balai bambu. tapi pemuda itu merasa inilah salah satu makanan ternikmat yang pernah dia rasakan dalam hidup.
__ADS_1
Pertemuannya dengan Srianah pagi tadi terasa aneh dan di luar dugaan. awalnya saat menyadari kehadiran gadis itu di makam Ki Suta, dia mencoba untuk menghindarinya karena merasa ragu untuk bertemu. tapi di saat nyawa Srianah terancam, Pranacitra tidak dapat lagi bersembunyi. karena baginya siapapun yang berani mengusik gadis itu pasti bakal mati di tangannya.