Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Modal berjudi.


__ADS_3

Dalam dunia persilatan nama 'Sepasang Iblis Lonceng Maut' bukanlah golongan tokoh silat sembarangan. meskipun sudah lama sekali mereka berdua tidak keluar dari sarangnya di bukit Genta Garong yang berada di daerah barat, kakak beradik jahat itu tetap dianggap sebagai kaum pesilatan kawakan yang pantang untuk diusik.


Si nenek sebagai yang tertua biasa disebut sebagai 'Nenek Iblis Lonceng Maut. sebaliknya sang adik lelaki yang bertubuh agak gemuk cebol diberi panggilan si Kakek Iblis Lonceng Maut'. selain berilmu kasaktian tinggi, sesuai dengan gelarnya mereka berdua sering menggunakan senjata suara loncengnya yang bukan saja dapat memutuskan jalan darah tapi juga sanggup memecahkan jantung dan isi kepala lawan- lawannya.


Jarang sekali orang persilatan yang tahu kalau dulunya mereka berdua pernah memimpin sebuah perkumpulan silat rahasia yang sengaja dibentuk untuk membantu kaum pengkhianat istana yang hendak berniat menggulingkan sebuah kerajaan di Jawa Barat.


Sayangnya hanya tinggal beberapa minggu saja sebelum pemberontakan itu dilancarkan, perkumpulan rahasia yang mereka pimpin sudah keburu dihancurkan oleh para tokoh silat aliran putih bersama pasukan kerajaan. beruntung mereka hampir selalu berada dibalik layar hingga masih sempat kabur dan selamat dari kematian.


''Haak., haa., ha., sungguh beruntung kita memiliki ilmu 'Tikus Dedemit' yang membuat tubuh kita berdua mampu menyusup masuk ke dalam tanah dan berdiam disana sambil menunggu saat yang tepat untuk keluar, lalu menghabisi lawan..'' gelak si kakek cebol alias Kakek Iblis Lonceng Maut.


''Huhm., mereka semua cuma orang- orang yang tolol. seharusnya dari awal mereka berpikir kalau bocah pincang keparat itu berani datang ke lereng utara gunung Merapi ini dan menerima tantangan pertarungan hidup- mati dari belasan pesilat kelas atas sekaligus, tentunya dia punya bekal ilmu kesaktian tinggi yang bisa diandalkan. terbukti., setan kecil ini mampu melepaskan aji kesaktian yang sangat mengerikan. sialan., kalau teringat kejadian barusan rasanya nyawaku sudah terbang dihempas badai salju pukulan saktinya.!'' rutuknya bergidik seram.


''Menjadi pewaris ilmu kelima tua bangka dari aliran hitam itu saja sudah memberikan jaminan kalau si pincang ini bukanlah orang sembatangan. lagi pula., dari kedudukannya yang dianggap sebagai pesilat terkuat dikalangan para pendatang baru, sudah cukup membuktikan kalau dia patut diwaspadai..''


''Tapi kenapa sekarang si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' yang menjadi saingannya justru muncul untuk menyelamatkannya. Aah persetan., kita habisi saja mereka. kepala kedua orang ini berharga sangat mahal. orang persilatan yang punya perselisihan dengan mereka berdua tentu akan memberikan imbalan besar pada kita. Hek., he.'' ujar 'Nenek Iblis Lonceng Maut' tertawa mengekeh.


Tanpa harus bersepakat lebih dulu kedua orang tua kakak beradik itu sudah memilih sasarannya, si Ular Sakti Berpedang Iblis tertelungkup pingsan, si pincang sedang berada dipuncak semedinya untuk dapat memulihkan diri dari lukanya. kedua orang ini terperanjat kaget melihat keadaan pemuda itu yang sudah mulai pulih. cahaya kabut kebiruan nampak menyelimuti tubuhnya.


Sepasang Iblis Lonceng Maut membentak keras. si nenek berkelebat sambil hantamkan tongkatnya. angin keras dan cahaya hitam merah menyambar diiringi bunyi lonceng yang memekakkan gendang telinga. adiknya yang berbadan kate juga tidak mau ketinggalan. tubuhnya yang gemuk pendek mencelat berjumpalitan di udara sebelum hantamkan loncengnya yang sebesar kepala kerbau.

__ADS_1


'Whuuutt., whuuuk.!'


'Klaeeeng., Klooonngg., kloong.!'


''Modarlah kau bocah pincang keparat. susul saja gurumu ke liang kuburnya.!'' maki Nenek Iblis Lonceng Emas garang. ''Kau mesti menggantikan gurumu si bangsat 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' yang pernah mengkhianati kami.!'' bentak sang adik tidak kalah gusar.


Rupanya salah satu penyebab musnahnya perkumpulan rahasia milik kakak beradik tua ini di masa silam adalah pengkhiantan dari 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' yang memberikan letak markas perkumpulan rahasia itu pada orang kerajaan. tapi si Burung Hantu sengaja melakukan itu karena dia menyadari kalau pemberontakan itu berhasil, dia pasti akan disingkirkan oleh para pimpinan pemberontak.


Sebenarnya saat itu si Burung Hantu Bungkuk hanya terpaksa saja bergabung dengan kaum pemberontak di wilayah Pasundan karena dia butuh tempat berlindung dari kejaran musuh- musuhnya yang bertebaran di daerah timur dan tengah. ibarat kata daripada dikemudian hari habis manis sepah dibuang, lebih baik dia berkhianat lebih dulu sekalian menghancurkan sarang mereka.


Dalam kehidupan kaum dunia hitam rimba persilatan, berkhianat dan dikhianati adalah sesuatu yang lumrah terjadi. demi mencapai tujuannya mereka berani melakukan apapun. jangankan orang lain, kalau perlu saudaranya sendiripun juga dapat mereka jadikan tumbal.


Saat jarak tinggal selengan saja kepala dan tubuh si pincang Pranacitra hancur dihantam dua lonceng maut, mendadak sepasang mata pemuda itu terbuka. sorot matanya yang selalu dingin tanpa perasaan itu terlihat jauh lebih mengerikan dengan darah meleleh dari sudut matanya. sorot mata merah berdarah yang sadis bengis., bagaikan mata iblis.!


Meskipun hanya sekejapan mata saja mereka terkesiap, namun sudah cukup waktu bagi si pincang untuk menghantam. mungkin pemuda ini sudah mulai gila hingga berani menyambut senjata lonceng lawan dengan dua telapak tangannya. sinar hitam kemerahan berbentuk telapak tangan yang sedang menengadah menyambar kedepan, gulungan hawa panas menggebut. pukulan sakti 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa.!'


'Whuuuutt., whuuuk., Wheeeess.!'


'Blaaaaamm., blaaaang.!'

__ADS_1


Sepasang Iblis Lonceng Maut meraung gusar bercampur ngeri. meskipun mereka tidak sampai mengalami luka dalam yang sangat parah tapi tubuh meraka sempat tersurut mundur tiga langkah bahkan hampir terjatuh. dari sudut bibirnya yang peot juga terlihat tetesan darah. mereka terperanjat saat melihat senjata lonceng mereka terdapat retakan dan gempil.


Dipenjuru lain Pranacitra terpental bergulingan tubuhnya terseret hingga sejauh lebih tiga tombak. terlihat ceceran darah menggumpal membasahi tanah yang terlewati tubuhnya. hebatnya setelah berhenti dari dalam tubuh pemuda ini terpancar gelombang hawa panas yang sangat menyeramkan. udara sekitar mendadak jadi berubah menjadi lebih gelap seakan sudah menjelang malam hari.


''Kalian ingin aku menyusul si Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa., Haa., ha., justru dia yang memintaku untuk mengantar kalian berdua menuju neraka.!'' damprat Pranacitra. tanpa peduli dengan tubuhnya yang kembali terluka dalam dia melesat kedepan. sepuluh jarinya yang berbah menjadi cakar- cakar hitam merah melengkung yang berbulu mirip cakar burung buas membeset membelah udara.!


'Whuuuuuttt., whuuuut., whuuuss.!'


'Shraaaaat., craaaaaass.!'


''Aaaakkhh., bocah pincang jahanam. jurus'' Cakar Burung Hantu Memuja Kegelapan.!'' teriak Sepasang Iblis Lonceng Maut penuh kengerian. mereka sungguh tidak mengira kalau dalam keadaan seperti itu lawan masih mampu hantamkan ilmu kesaktian. tapi mereka tidak mau membuang waktu. dengan senjata lonceng mautnya mereka balas menghantam. benturan tiga kekuatan terjadi. meski jubah coklat mereka robek- robek tercabik, tapi keduanya masih selamat.


Tanpa buang waktu lonceng mautnya kembali menggebrak. kali ini mereka menyasar kepala dan dada lawan. tapi serangan itu hanya menemui tempat kosong. tubuh lawan seolah lenyap entah kemana. waktu sekejap terasa berhenti berjalan, diam dan gelap gulita. disaat semuanya kembali terang, entah bagaimana dua buah cakar hitam merah di penuhi bulu tebal sudah merobek punggung kedua orang tua itu, terus masuk meremas sekaligus membetot keluar jantung keduanya.


Tidak ada jeritan parau, karena nyawa sudah meninggalkan raganya sebelum mereka menyadari apa yang terjadi. tubuh kedua kakak beradik tua ini jatuh terjungkal dengan mata mendelik saling menatap. seakan sama ingin bertanya bagaimana mungkin mereka bisa mati.


Dua gumpalan jantung yang masih sempat berdegup itu sudah terlepas dari sepasang cakar berkepotan darah yang sudah mulai kembali ke bentuk asalnya. tubuh pemuda pincang dari Lembah Seribu Racun ini seakan menegang sebelum ambruk ke tanah. ilmu pukulan 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa' yang mampu menyedot tenaga kesaktian lawan sengaja dia gunakan untuk mengurangi kekuatan dari dua senjata lonceng maut itu.


Dengan menggunakan tenaga dorongan akibat beradunya ilmu kesaktian, tubuh Pranacitra terpental cukup jauh. walaupun akibatnya dia kembali terluka parah, namun jarak sudah mencukupi baginya untuk balik menghantam dengan jurus pukulan 'Cakar Burung Hantu Memuja Kegelapan.!'

__ADS_1


Mungkin dalam dunia persilatan hanya dia saja yang berani memakai cara seperti itu untuk dapat membunuh lawannya, seakan raga dan nyawanya tidak lebih dari sekedar modal permainan judi yang bisa dia pertaruhkan kapan saja.


__ADS_2