Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Senja dalam gubuk reot.


__ADS_3

Hari sudah beranjak ke ujung senja saat dua ekor ikan gabus bakar itu masuk seluruhnya ke dalam perut Jingga Rani. tanpa perduli dengan bibir merahnya yang jadi berlepotan minyak ikan dengan sedikit noda hitam gosong bercampur sisa bumbu, dia menyeka mulut dengan kedua tangannya yang putih.


Setelah beberapa saat mengunyah sisa daging ikan bakar yang tertinggal dimulutnya, gadis cantik itupun membuang tusukan dua tulang ikan gabus ditangannya. tanpa permisi dia mengambil kendi berisi air minum dari atas batu dekat perapian. meneguk isinya sebagian lagi dia gunakan untuk mencuci tangan.


Setelah sempat bersendawa keras karena telah kenyang melahap dua ikan gabus bakar, pemimpin dari 'Lima Elang Api' itupun kembali duduk di depan perapian kecil yang sudah meredup apinya. baru sekarang dia tersadar kalau tingkahnya membuat pemuda pincang yang duduk diseberang api unggun itu kesal.


''Maa., maaf yah, aku begitu lapar hingga sedikit tidak tahu adat. lagi pula., siapa suruh masakan ikan bakarmu sangat enak. bumbu yang melumurinya sungguh membuat orang ketagihan. nanti malam bisakah kau memasak sesuatu yang enak seperti ini lagi.?'' tanyanya tanpa dapat ditahan.


Pemuda pincang dengan muka sedikit pucat yang bernama Pranacitra itu memandangi wajah Jingga Rani dari seberang perapian yang semakin mengecil nyala apinya, dengan pandangan mata kesal, sinis, heran bercampur lucu. ini membuat Jingga Rani merasa tidak enak hati. ''Kenapa kau melihatku seperti itu.?''


''Kau sama sekali tidak mirip dengan yang dikatakan orang persilatan diluaran sana. mereka bilang kau tinggi hati, sedikit bicara, selalu menjaga penampilan, angkuh dan memandang rendah orang lain. tapi kulihat dari kelakuanmu sekarang dirimu lebih mirip dengan gadis yang sembrono, rakus makanan enak dan berbuat apapun sesuka hatimu..''


''Hhmm., melihat semua tingkahmu yang rada kekanakan ini, aku jadi teringat dengan Puji Seruni. biarpun berparas cantik dia juga suka dengan masakanku. tapi sepertinya., bisa jadi dirimu sedikit lebih rakus darinya. paling tidak., gadis itu tidak pernah mau merebut makanan yang susah payah aku masak.!'' gumam Pranacitra mengejek. karuan saja Jingga Rani sewot mendelik.

__ADS_1


''Kaa., kau., kau jangan bicara sembarangan. siapa sudi berebut makanan darimu. aku tadi hanya., agak tidak dapat mengendalikan diri saja. dan jangan pernah membandingkan diriku dengan gadis lainnya. Chuih., lagipula siapa juga itu Puji Seruni, aku tidak kenal dia.!'' gerutu Jingga Rani sebal menahan rasa malu.


Dalam pengembaraannya selama malang- melintang ditengah ganasnya rimba persilatan bersama Lima Elang Api, entah sudah berapa banyak pendekar muda tampan atau kaum bangsawan keraton yang tertarik dengan kecantikan Jingga Rani dan sang adik yang bernama Jingga Ratih. tapi selama ini mereka berdua, utamanya sang kakak tidak pernah tertarik bahkan menganggap remeh mereka.


Namun sekarang., seorang pemuda pincang, pucat, melarat dan punya segudang nama buruk didunia persilatan bukan saja tidak tertarik kepadanya, malah berani bicara kurang ajar dengan membandingkan dirinya dengan gadis yang bernama Puji Seruni. bagaimana mungkin hati Jingga Rani tidak menjadi gusar dan panas mendidih.


''Ooh begitukah., kau bilang kalau tidak mau dibandingkan dengan gadis lain, tapi kenapa juga kau ingin tahu siapa itu Puji Seruni. Aash., jangan khawatir atau cemburu., diriku tidak ada hubungan dekat dengannya. jadi dirimu masih ada kesempatan untuk merayuku. siapa tahu saja aku menjadi agak tertarik denganmu Hee., he..'' goda Pranacitra terkekeh jahil.


''Dasar pincang gila., siapa yang khawatir dan cemburu. siapa pula yang tertarik dengan gelandangan miskin, jelek bermuka pucat sepertimu. kau dapat darimana rasa percaya dirimu yang kelewat tinggi itu. asal tahu saja., kalau aku mau sangat mudah bagiku untuk mendapat lelaki muda yang jauh lebih baik, tampan dan kaya raya dibandingkan lelaki pincang yang brengsek sepertimu.!''


''Ehhm., mungkin juga pemuda gelandangan yang kau bilang brengsek dan punya nama sangar didunia persilatan sepertiku ini memiliki daya tarik tersendiri dimatamu. Haa., ha..'' Pranacitra sesaat masih sempat tergelak, sampai dua buah tangan berbentuk cakar elang yang berselimut asap kemerahan berusaha mencengkeram serta mencabik leher juga pundaknya dengan ganas.


Serangan Jingga Rani yang diamuk amarah menjadi semakin berbahaya karena saat dua kali tendangan kakinya yang menyapu kedepan bukan saja mengancam dada dan perut si pincang namun juga membuat batu serta kobaran arang panas berhamburan.

__ADS_1


Tanpa perlu berpindah tempat dan masih dalam keadaan duduk diatas batu, Pranacitra hanya jatuhkan punggungnya kebelakang nyaris sama rata dengan lantai tanah gubuk. tongkat besi hitam ditangan kiri diputar menyapu dan menusuk kedepan beberapa kali. selapis cahaya hitam berkelebatan. ini adalah jurus menangkis, menyapu sekalian balas menotok.


''Mulutmu yang usil dan tidak tahu adat itu mesti aku sumpal dan kurobek- robek.!'' bentak gadis itu sambil kembali menggunakan jurus- jurus silat 'Cakar Elang Api' yang dia andalkan selama ini untuk menggempur Pranacitra. diserang secara beruntun membuat pemuda ini tidak dapat lagi duduk tenang. seiring tongkatnya yang membabat dan menotok diapun bangkit berdiri untuk meladeni jurus serangan lawannya.


Dalam waktu singkat kedua orang muda- mudi itupun sudah terlibat pertarungan sengit di dalam gubuk. dalam menyerang mulut Jingga Rani juga tidak berhenti mencaci maki. bahkan sekarang dia sudah menggunakan senjata Cakar Elang Bajanya untuk menggempur lawan sehingga serangan gadis itu menjadi semakin mematikan.


Anehnya Pranacitra yang tadinya bersikap acuh dan sinis mendadak berubah penuh dengan hawa membunuh. Jingga Rani sampai bergidik ngeri melihat sorot mata dingin menyeramkan yang terpancar dari pemuda itu. gadis pimpinan Lima Elang Api ini berpikir kalau si pincang mungkin mulai marah dengan serangan jurusnya yang mengancam.


Namun setelah lewat belasan jurus Jingga Rani mulai merasakan adanya kejanggalan. karena sehebat apapun jurus silat yang dia mainkan tidak seharusnya pemuda itu marah hanya karena terdesak, sebab saat mereka duel di gunung Bromo si pincang bahkan mampu menjungkalkan dia dan keempat saudaranya.


Entah gerakan jurus prmuda itu yang memang hebat ataukah Jingga Rani yang ceroboh dan lemah, tahu- tahu tongkat besi hitam kepala tengkorak sudah berubah menjadi puluhan kelebatan cahaya hitam pekat yang mampu mengurungnya. tahu- tahu tiga totokan serta gebukan tongkat membuat lengannya terkulai senjata Cakar Elang Bajanyapun terlepas.


Belum sempat dia melepaskan diri dari kurungan jurus lawan, tubuhnya sudah berada dalam belitan lengan dan tongkat hingga tanpa dapat dihindari akhirnya dia terjatuh lemas dalam dekapan lawannya itu. sekali bergerak pemuda itu sudah berkelebat cepat kesudut gubuk.

__ADS_1


Cahaya redup ujung senja dan nyala perapian yang sudah padam membuat suasana gubuk menjadi gelap remang. meskipun tidak dalam keadaan tertotok tapi anehnya Jingga Rani tidak mampu berontak. atau., bisa juga dia yang enggan untuk melakukanya. karena kedua tubuh mereka rapat berdekatan, tercium juga aroma tubuh masing- masing. Jingga Rani tanpa sadar sedikit mendongak melihat seraut wajah pucat yang entah kenapa terasa menarik dipandang olehnya.


Wajah cantik Jingga Rani seketika merah padam dan khayalannyapun buyar saat pemuda itu berkata pelan, ''Di luar gubuk ada beberapa orang yang berilmu lumayan tinggi sedang bergerak mengepung. harap maafmu jika terpaksa kubawa dirimu ke sudut gubuk yang gelap agar mereka tidak dapat melihat kita..'' sungguh beruntung keduanya berada dalam kegelapan, jika tidak Jingga Rani bakal kebingungan menyembunyikan wajahnya yang malu karena sempat berpikiran yang aneh- aneh.


__ADS_2