Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Raungan Naga Kehancuran.


__ADS_3

Dalam seumur hidupnya malang- melintang di kerasnya rimba persilatan Nyai Merak Sinden alias 'Dewi Merak Merah' sudah banyak menemuai bahaya dan juga kejadian yang mengejutkan. tapi baru kali ini dia menemui seorang pemuda cacat yang bukan saja berani mengancamnya, tapi juga telah membuat hampir separuh anak buahnya termasuk sang wakil tewas.


Meskipun dalam hatinya dilanda luapan amarah, tapi sepintas melihat latar belakang si pincang yang kemungkinan besar adalah murid dari dua orang tokoh persilatan aliran hitam yang kabarnya telah terjerumus di 'Lembah Seribu Racun' membuatnya tanpa sadar juga merasa agak ngeri.


Namun demikian dia tidak dapat lagi berpikir banyak, sepuluh larik sinar hitam merah yang menebarkan hawa teramat panas sudah melabrak seakan cakar burung iblis yang hendak mencabik mangsanya.


Sepasang pedang berukiran burung merak yang bercahaya emas kemerahan di babatkan bersilangan seakan hendak memotong jalur pukulan sakti lawan sekalian membabat balik. dua cahaya merah keemasan membentuk bayangan pedang melesat ke depan. dua kekuatan sakti Bertemu di udara.


'Whuuuss., whuuus.!'


'Wheeet., Sraaat.!'


'Blaaam., blaaar.!'


Si pincang sekejap menggeram tertahan, pakaian tebalnya yang berwarna gelap terlihat robek- robek seakan baru tersayat puluhan pedang. ada darah yang merembes dari beberapa luka di tubuhnya. meskipun begitu dia masih terlihat tenang.


Pemuda yang pernah mendapat siksaan racun dingin pembeku darah dan jantung, juga tertikam pisau sebanyak seratus tujuh kali pastilah tidak akan pernah perdulikan luka seperti itu. bahkan tanpa buang waktu tubuhnya sudah melesat maju dengan sebuah tusukan tongkat di tangan kiri berikut cabikan cakar burung iblis yang mengincar jantung lawan.


Selarik cahaya hitam pekat yang disertai suara ledakan sekeras halilintar, cakar merah hitam yang membeset seakan merobek jiwa. anehnya saat cakar bergerak mencabik, suasana di sekitar tempat itu sesaat berubah gelap. seakan sinar matahari mendadak menghilang. meskipun kejadian itu hanya berlangsung sekejap saja, namun sudah membuat Dewi Merak Merah mengenali ilmu kesaktian lawannya.


''Jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan.!''


''Cakar Burung Hantu Memuja Kegelapan.!'' seru Nyai Merak Sinden pucat pias. buru- buru dia melompat mundur sambil babatkan pedang kembarnya berulang kali.


Dalam gebrakan ilmu kesaktian pertama tadi, Dewi Merak Merah bukan saja gagal merobohkan lawannya. bahkan dia sampai terluka dalam. hanya karena malu jika sampai terlihat anak buahnya dia terpaksa harus menahan muntahan darah yang sudah menggelegak di dadanya yang sesak.

__ADS_1


Belum lagi sempat menenangkan aliran darah dan tenaga kesaktiannya yang kacau, si pincang sudah kembali melabraknya. terpaksa dia menghindar sambil berusaha balas menyerang. usahanya jelas tidak mudah karena dia tahu betul dua jurus sakti yang di lepaskan lawannya bukanlah ilmu sembarangan, terutama jurus 'Cakar Burung Hantu Memuja Kegelapan.!'


Sesuai dengan namanya, kekuatan jurus ini bersumber pada bayangan kegelapan. orang yang menguasai ilmu itu dengan sempurna dapat membuat suasana di sekitarnya menjadi lebih gelap dan suram. meskipun cuma beberapa kejap mata saja, tapi sasaran yang tiba- tiba berada dalam kegelapan tentunya akan merasa seperti kehilangan kesadaran. di saat semuanya pulih seperti sedia kala, jurus pukulan cakar beracun lawan biasanya sudah menjebol tubuh sasarannya.


Belum lagi jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' yang membarenginya, kabarnya tenaga kesaktian jurus ini sanggup menghancurkan dinding batu karang dari jarak jauh tanpa harus menyentuhnya.!


'Breeet., craaass.!'


'Traaang., craaang., dhaaar.!'


''Aaakh., bocah keparat.!'' teriak Nyai Merak Sinden mengumpat keras. meskipun dalam beberapa jurus dia mampu bertahan bahkan balas menyerang si pincang, tapi suasana kegelapan pekat yang selintas terbentang di depan matanya membuat hatinya sempat terasa membeku. saat dia tersadar cakar berbulu hitam lebat mirip cakar burung hantu itu sudah berada di depan dadanya.!


Masih untung Dewi Merak Merah sempat menangkis dengan kedua pedang emasnya yang bergerak melintang bersilangan. tapi biarpun nyawanya masih selamat, jubah merahnya dibagian dada sebelah kiri robek besar hingga ke perut. ada guratan tipis dan panjang berwarna kehitaman yang kini menghias perutnya yang putih. darah merah sedikit merembes dari luka itu.


Dalam pertarungan yang berlangsung sangat cepat hingga dalam sekejap saja sudah terlewati dua puluhan jurus itu, Nyai Merak Sinden atau si Dewi Merak Merah sudah di buat terluka. meskipun sepintas terlihat tidak berbahaya, namun dari goresan luka yang kehitaman menandakan orang ini telah keracunan.


''Kau bilang kedua nenek tua bangka itu sudah mampus., kalau begitu akan kukirim dirimu ke neraka untuk menyusul mereka.!'' gertak Dewi Merak Merah penuh amarah. dua tangannya terentang lantas berputar kencang seakan sayap burung sedang mengepak. gulungan angin seakan tersedot di kedua tangannya yang di selimuti cahaya merah bara api hingga tercipta gumpalan kabut cahaya merah.


Tubuh wanita cantik tapi berdandan menor itu melayang ke atas hingga tiga tombak di udara. semua orang terperangah. setiap kali kedua tangan Nyai Merak Sinden mengepak, orang di sekitar tempat itu yang berilmu rendah turut tersedot ke atas lantas kembali terbanting ke tanah. jika berumur panjang dia cuma luka dalam atau patah tulang. tapi kalau nasibnya buruk tubuhnya pasti mati remuk.!


Semua anak buah Nyai Merak Sinden si Dewi Merak Merah semburat berlarian menjauh. yang terlambat menghindar berteriak minta tolong dan ampunan, namun sang ketua seakan sudah tidak perduli lagi.


''Kau benar- benar perempuan cabul yang terkutuk., bagaimanapun juga mereka adalah anak buahmu.!'' maki pemuda pincang itu gusar. dengan kerahkan tenaga dalamnya berkali lipat sambil terus menggenggam tongkat besinya yang kembali menancap ke dalam tanah dia berusaha terus bertahan agar tidak tersedot arus tenaga sakti lawan.


Dalam hatinya pemuda itu membatin, ''Jadi inilah kehebatan ilmu 'Kepakan Sayap Api Iblis Langit'., masih untung belum dia kuasai dengan sempurna. karena menurut nenek 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' jika orang bisa menguasai ilmu kesaktian ini sepenuhnya, dia bukan saja mampu menyedot udara lalu merubahnya menjadi gelombang hawa panas, tapi juga dapat menyedot benda besar dan berat. bahkan pada puncaknya., akan sanggup menyedot tenaga kehidupan yang di miliki lawannya..''

__ADS_1


Sementara hatinya membatin, otaknya juga berpikir. kedua tangannya yang masih menggenggam gagang tongkat besi hitam kepala tengkorak mulai membuat gerakan.


Tangan kiri terkepal erat cahaya emas dan hitam menyelimuti kepalan tangannya hingga ke siku. sementara sebaliknya telapak tangan kirinya membuka menghadap ke atas seperti orang sedang meminta. cahaya semerah darah berputaran muncul menyelimutinya.


''Bocah pincang sialan., rupanya kau juga berguru pada orang lain.!'' Nyai Merak Sinden terperangah. dengan di barengi bentakan keras kedua tangannya menggebrak dahsyat. dua gulungan sinar dan asap merah sepanas bara api melabrak si pincang.!


Pemuda itu mendengus dingin. tangan kanannya yang terbuka menghantam ke atas. selusin bayangan telapak tangan berwarna semerah darah dengan bau anyir dan amis busuk berhamburan di udara. jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah' menyambar memburu korbannya.!


Berulang kali terdengar ledakan keras, pusaran angin punting beliung kemerahan yang menebar hawa panas terasa hendak membakar udara. pandangan mata semua orang menjadi kabur di sapu debu panas. teriakan ngeri di barengi tubuh manusia yang bermentalan membuat suasana semakin mengerikan.


Pemuda pincang itu terseret mundur hingga hampir tiga tombak jauhnya. tongkat besi hitam yang menancap di tanah tidak mampu menahan laju tubuhnya. jalur tanah yang pecah terbongkar menandakan betapa kuat angin pukulan 'Kepakan Sayap Api Iblis Langit' yang di lepaskan Dewi Merak Merah.


''Matilah kau pincang jahanam.!'' bentak Nyai Merak Sinden. meskipun hawa saktinya sempat terguncang akibat bentrokan pukulan sakti, tapi tubuh wanita itu terus melesat cepat memburu si pincang yang masih terbungkuk menahan pukulan sakti lawannya.


Wajah dingin si pincang mendongak, seringai buas tersungging di ujung bibirnya. tangan kirinya yang sedari tadi mengepal di penuh tenaga sakti berselimut sinar emas dan hitam mendadak menghantam ke depan dibarengi suara meraung buas bagaikan seekor naga sedang mengamuk.


'Whuuuss., Wheeess.!'


'Blaaaam., glaaaarr.!'


Dua tubuh mental berlawanan arah. pemuda pincang terjungkal bergulingan lalu jatuh bersimpuh. dengan tongkat besinya dia mencoba bangkit. meskipun sudut bibirnya meneteskan darah namun dia masih mampu bertahan.


Di penjuru lain Dewi Merak Merah terlihat terkapar bermandikan darah. tubuhnya yang indah nyaris tidak berwujud. dada serta perutnya jebol seakan habis di lahap binatang buas. nyawanya terbang tanpa sempat mengucap pesan terakhir.


Si pincang tertegun, dia sedikit menyesal karena sudah menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya dalam aji kesaktian yang bernama 'Raungan Naga Kehancuran'. ilmu yang dia dapat dari si Iblis Naga Rembulan. pemuda pincang itu sebenarnya masih membutuhkan beberapa keterangan dari mulut Nyai Merak Sinden, tapi sayangnya semua sudah terlanjur.

__ADS_1


Dengan mata tajam dan dingin dia melihat sekelilingnya. hanya tinggal belasan orang saja anggota perkumpulan Merak Api yang masih hidup. itupun mereka seakan sudah tidak sanggup berdiri tegak. semuanya bersimpuh gemetaran seakan sedang demam tinggi hingga nyaris lumpuh.


Hati mereka semakin bergidik ngeri saat merasakan ada hawa menakutkan bergerak menghampiri. pandangan mata pemuda pIncang yang dingin tanpa perasaan itu hanya lewat selintas saja. tapi anehnya terasa jauh lebih menyeramkan dari pada belasan ujung pedang yang mengancam.!


__ADS_2