
Jalanan setapak sempit di kaki bukit kecil yang biasanya sepi serta cuma ditumbuhi rimbunan semak belukar liar dan pepohonan lebat itu sekarang mendadak berubah penuh dengan belasan sosok tubuh manusia. tetapi sayang., banyaknya orang yang berada di jalanan itu tidak lantas membuatnya menjadi ramai, karena mereka semua hanyalah manusia yang sudah tidak lagi bernyawa.
Bukan saja telah menjadi onggokan mayat tapi juga banyak yang sampai hancur dan hangus tubuhnya. bau anyir darah menyengat hidung, tulang remuk berserabutan keluar dari raga juga daging otot yang gosong laksana baru tersambar petir, membuat segalanya terasa menggidikkan hati siapapun yang melihat pemandangan itu.
Tetapi sepertinya semua kengerian yang ada disana seakan sama sekali tidak berpengaruh apapun pada seorang pemuda berpakaian gelap yang sedang duduk bersila di tepian jalanan sempit itu sambil sebelah tangannya menggenggam gagang sebuah tongkat besi hitam yang terbungkus kain.
Di samping kanan pemuda ini nampak terbaring sesosok tubuh lelaki setengah umur berbaju kuning celana merah yang bernoda darah dan luka. telapak tangan kanan pemuda itu hanya sejengkal diatas dada lelaki setengah umur itu. segulungan hawa sejuk disertai cahaya kebiruan yang terpancar dari tangan si pemuda terus tersalur ke dalam tubuh lelaki itu.
Jika di lihat dari keadaannya orang ini selain sedang sekarat akibat terluka berat juga keracunan. rupanya si pemuda sedang berusaha mengobatinya dengan penyaluran tenaga kesaktian yang dia miliki. butuh waktu hampir sepenanakan nasi untuk menyudahi semuanya. biarpun banyak mengeluarkan tenaga tapi hebatnya pemuda itu seakan tidak merasakan suatu kelelahan.
Raut wajah pemuda ini biarpun tampan namun rada pucat dan dingin. jika dilihat lagi, cara kedua matanya melihat sangatlah aneh. karena biarpun tajam menusuk tapi kosong tanpa perasaan apapun seperti mata orang yang sudah mati. sebaliknya justru ujung bibirnya sedikit tertarik ke atas. dia seperti sedang menyeringai atau mengejek mayat- mayat yang terkapar di sana.
Pemuda pucat bernama Pranacitra itu cukup paham dengan perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung' karena pada beberapa bulan silam dia pernah menghadapi gerombolan pemburu ini saat hendak mendaki lereng utara gunung Merapi guna menghadapi tantangan dari para musuhnya. dengan ciri pakaian hitam ringkas dan alat pelontar panah pendek dengan ujung anak panah berulir seperti baut mata bor yang dipenuhi racun ganas yang dalam waktu singkat mampu membekukan sekaligus membuat jantung lawan hitam mengeras.
Sebenarnya ilmu silat dan kesaktian para anggota kelompok ini tidaklah begitu tinggi. tetapi dikarenakan cara kerja mereka yang kompak selalu berkelompok dengan berbekal alat pelontar panah beracun dan keahliannya dalam mencari jejak, membuat mereka rada sulit untuk dihadapi.
Masih untung saat ini mereka tidak sampai menggunakan ilmu kesaktiannya yang bernama ajian 'Nafas Mati Suri'. karena ilmu ini dapat membuat hawa kehidupan mereka menghilang sehingga sangat sulit diketahui kehadirannya. jika saja demikian mungkin kejadian Pranacitra terkena panah berulir pada waktu itu akan terulang kembali.
__ADS_1
Sebuah teriakan dan makian penuh hawa nafsu membunuh terdengar bersamaan dengan tiga buah kilatan pedang tajam yang menyambar dari ujung jalan setapak. satu pengancam leher sekaligus kepala dua lagi membabat perut dan punggung Pranacitra. si pemuda yang baru saja menyelesaikan pengobatan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya bersila. hanya ujung matanya melirik sinis seolah sedang memandang rendah tiga serangan pedang lawannya.
Dari kejauhan matanya dapat melihat warna pakaian ketiga orang penyerang yang sama merah kuning seperti lelaki setengah umur yang terbaring di samping dan baru saja dia tolong, pastilah mereka berasal dari satu kelompok. ''Manusia keparat, serahkan jiwa anjingmu.!'' terdengar bentakan dari sana. ''Jahanam., kembalikan nyawa pamanku.!'' timpal suara lainnya yang mungkin dari mulut seorang wanita muda.
Pranacitra terlalu malas untuk beranjak dari tempatnya duduk apalagi mesti bersusah payah menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka. dari pengalamannya selama ini, orang yang sedang kalap karena amarah lebih sulit diajak bicara. bagi manusia yang welas asih dan bijaksana, mungkin akan lebih bersabar dan mengalah sembari memberikan suatu pengertian secara halus pada lawannya.
Tetapi sayangnya., meskipun si pincang dari gunung Bisma itu bukanlah termasuk lelaki berhati jahat tapi tidak pula berjiwa lemah lembut, murah hati, sopan dan pengertian sekalipun pada kaum wanita. justru kadang kala dia lebih suka main hajar di depan baru kemudian penjelasannya belakangan.
Tongkat besi hitam di tangan kiri terangkat serata bahu. tenaga dalam tersalur ke ujung tongkat yang mendadak mengungkit ke atas kepala lantas berputar cepat satu lingkaran sebelum menusuk tiga kali ke depan. para penyerang yang semula memandang remeh gerakan ini menjadi terperanjat saat merasa ada segulung tenaga sakti yang menahan tikaman pedang mereka bertiga.
Belum lagi hilang rasa terkejutnya, tiga buah sambaran sinar hitam sudah melabrak mata pedang mereka sekaligus membuat lengan terasa patah terpuntir akibat getaran keras hingga senjatanya nyaris terlepas. tapi dengan kerahkan seluruh kekuatannya ketiga orang inipun nekat terus bertahan bahkan lancarkan tendangan dan pukulan tangan kosong bertenaga dalam cukup tinggi.
Serangan pedang sekali lebih cepat dan kuat dengan gerak tipu yang mengecoh dibanding sebelumnya, begitupun juga dengan pukulan tendangannya. walaupun terlihat hebat diluar tapi si pincang paham kalau sebenarnya tiga serangan itu sama sekali tidak berisi. hanya dengan liukkan pinggang serta kepalanya miring, merunduk dan sedikit maju mundur ancaman tendangan dan pukulan dapat di lewati.
Selanjutnya dua kepalan tangan menghantam dibarengi pukulan tongkat besi yang keras menghajar iga dan lengan bukan saja mampu membuat pedang lawan terlepas, tubuh merekapun roboh terkapar. suara erangan kesakitan bercampur umpatan terdengar dari mulut mereka yang juga meneteskan darah.
Biarpun sadar telah kalah tapi ketiga orang itu rupanya sangat keras kepala. tanpa perduli rasa sakit dan mungkin terluka dalam mereka beringsut bangkit hendak menyerbu lagi. namun niat mereka tidak kesampaian, bukan saja sebab tidak sanggup lagi berdiri juga karena melihat keadaan orang yang mereka sebut sebagai paman kini sedang terancam jiwanya.
__ADS_1
''Aku hanya akan sekali saja memberikan peringatan. ingatlah., diriku bukan orang baik yang berbudi pekerti luhur dan welas asih. kalau kalian berani berbuat sesuatu yang membuat aku muak, bukan saja orang ini akan mampus nyawa kalian bertiga juga pasti kuhabisi. jadi., jangan pernah lagi bertindak sembrono. tetap diam saja di tempatmu., terutamanya kau gadis binal sialan.!'' hardik Pranacitra kereng.
Di maki sebagai gadis binal sialan sungguh membuat Winuyem tersinggung berat. seumur hidup baru kali ini ada orang yang berani menghinanya. harga dirinya sebagai seorang anak juragan kaya raya di kampung yang biasa dimanja dan di sanjung, sekaligus murid kesayangan dari ketua perguruan silat 'Glagah Wangi' seolah sengaja di injak- injak.
Gilanya orang yang berani melakukannya hanyalah seorang pemuda muka pucat yang penampilannya seperti gembel melarat. walaupun kemarahan sudah meluap dalam hatinya tapi apa daya kemampuan lawan jauh diatasnya. terpaksa dia dan kedua pemuda rekannya cuma bisa merutuk geram.
Apalagi leher pamannya yang masih terbaring diatas tanah berada dalam cengkraman tangan kanan si pemuda pucat. ''Aa., apa yang hendak kamu lakukan pada paman Jati Sembodo. jangan berani berbuat apapun pada beliau. kaa., kalau kau sampai men., mencelakainya kaa., kami aak., akan..''
''Akan apa.! memangnya apa yang bisa kau perbuat. Haa., ha., dari penampilan juga lagakmu yang angkuh mungkin dirimu sudah biasa dimanja serta mendapat apa yang kau mau. ingatlah gadis muda sialan., hidup ini sulit sedang mati itu sangat gampang. jadi hargailah nyawamu dengan lebih dahulu berpikir sebelum bertindak atau mengumbar mulut sembarangan.!''
''Sebelumnya sempat kulihat kau dan semua rekanmu berlarian kabur dari kejaran orang- orang berbaju hitam yang hendak membunuh kalian semua. lantas lelaki yang kau panggil sebagai paman ini nekat menghadapi mereka seorang diri demi keselamatanmu..'' ucap si pemuda geleng- geleng kepala.
''Huhm., sebenarnya aku tidak perduli dengan semua ini. tapi karena kehadiran mereka membuat jalanan sempit ini semakin penuh sedangkan aku tidak ingin terlambat ke tempat tujuan, jadi terpaksa diriku turun tangan karena malas menunggu pertarungan kalian yang membosankan.!'' dengusnya seolah kesal.
Tanpa sadar gadis bernama Winuyem dan kedua kawannya sama tertegun. hampir serentak mereka memandang sekelilingnya. mulut ketiganya sama keluarkan suara tercekat penuh kengerian melihat belasan mayat para pengejarnya bergelimpangan mandi darah. kemarahan yang membabi buta membuat mereka tidak menyadari segala pemandangan seram itu.
Saat mendongak terlihat sepasang mata dingin yang menggidikkan hati sedang menatap mereka. entah kenapa keberanian ketiga orang ini seperti menghilang berganti perasaan ketakutan. padahal saat kawanan pemburu berpanah hitam itu mengejar, mereka malah tidak merasakan kengerian seperti ini.
__ADS_1
Sore hari dapat kiriman cerita PTK, rencanaku sih besok saja di up date, tapi kayaknya ada acara. yo wis lah saiki ae 💁♀️., Oke silahkan untuk menuliskan komentar Anda yah..👏🙏👌 Terima kasih.