Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Teratai Hijau.


__ADS_3

Kedua orang itu masih berada dalam ruangan tidur Nyi Rondo Kuning. dengan memakai selembar kain kuning janda bertubuh agak gemuk dan sintal itu mengelap tubuhnya yang putih mulus dibasahi keringat. entah kenapa udara di kamar itu seperti sengaja dibuat agak panas namun berbau harum segar.


Setelah itu dengan gaya kemalasan dan senyuman menggoda perempuan itu kembali memakai jubah kuningnya yang tipis dan merapikan tatanan rambutnya. ''Aku mau mandi dikolam belakang. apa kau mau mandi bersamaku., Pranacitra.?'' goda Nyi Rondo Kuning tertawa genit sebelum kekuar dari kamarnya.


Pemuda yang dipanggil sebagai Pranacitra itu rada terperanjat saat mendengar Nyi Rondo Kuning menyebutkan namanya yang selama ini dia rahasiakan. tapi akhirnya Pranacitra tidak ambil perduli. toh suatu ketika nanti si pemilik rumah makan dan penginapan 'Lawang Wangi' itu akan tahu juga.


Sebaliknya pikiran pemuda dari gunung Bisma itu kembali terbayang tentang kejadian yang baru saja dia perbuat bersama Nyi Rondo Kuning di atas ranjangnya. meskipun semua itu hanya didasari oleh suatu kebutuhan yang berlainan namun tetap saja ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya.


Teringat dimasa lalu saat dia tanpa sengaja melihat Srianah si copet cilik sedang disiksa oleh Ki Suta gurunya, akibat orang tua itu tidak mampu mengendalikkan hawa panas yang mengalir didalam tubuhnya sehingga hilang sebagian kesadarannya, setelah dia berlatih ilmu rahasia 'Ramuan Peningkat Tenaga Dalam Dan Panca Indera'.


Demikian juga Pranacitra. hanya saja dia tidak sampai melakukan kesalahan yang berakibat hilang sebagian kesadaran hingga dikuasai hawa amarah yang tidak terkendali seperti yang dialami Ki Suta, sebaliknya dalam diri pemuda ini timbul gejolak hawa nafsu birahi yang nyaris tidak tertahankan.


Jika Ki Suta membutuhkan seorang bocah untuk disiksa sebagai pelampiasannya, maka Pranacitra memerlukan tubuh wanita sebagai tempat melampiskan hawa panas yang bergejolak didalam dirinya. jika dia tetap nekat menahan semuanya ada kemungkinan hawa panas itu akan membuat darahnya mendidih hingga dia mati kepanasan. atau akibat yang paling ringan., Pranacitra mengalami lumpuh dan gila.!


Di lain pihak Nyi Rondo Kuning juga sudah lama memendam hasratnya. sebelum berniat mempelajari ilmu rahasia 'Ramuan Peningkat Tenaga Dalam Dan Panca Indera' pemuda pincang itu sudah memberitahukan segala kemungkinan yang terjadi pada janda muda yang kaya itu.


Mulanya Pranacitra meminta pemilik rumah makan itu untuk mencarikannya seorang wanita penghibur, tapi diluar dugaan justru Nyi Rondo Kuning sendiri yang ngotot untuk menyerahkan dirinya sendiri sebagai tempat penyaluran luapan hawa panas dan hasrat jiwa yang mengelegak ditubuh si pemuda. jadi semua yang telah kedua orang itu lakukan hanyalah., sebuah hubungan yang saling memanfaatkan saja. timbal balik belaka- tanpa ada ikatan atau syarat apapun.

__ADS_1


Pranacitra masih duduk bersila pejamkan kedua matanya. secara perlahan hawa panas yang terasa menyelimuti ruangan kamar tidur Nyi Rondo Kuning berubah menjadi lebih sejuk seiring dengan hembusan nafasnya. kejap berikutnya sepasang mata si pincang terbuka. sekilas terlihat kilatan hawa membunuh yang menyorot tajam, seolah pertanda Pranacitra sudah berhasil membangkitkan kekuatannya.


Nyi Rondo Kuning meletakkan seperangkat pakaian hitam yang baru dan terbuat dari kain tebal di atas meja kayu yang ada ditepian kolam bersama selembar ikat kepala batik lurik yang sudah dia cuci, sekalian mengambil pakaian hitam lama yang teronggok disana. matanya sempat melirik seorang pemuda kekar yang sedang berendam membersihkan diri di dalam kolam.


Setelah membersihkan dirinya Pranacitra naik ke permukaan dan memakai baju warna gelap yang telah Nyi Rondo Kuning siapkan. ikat kepala batik lurik pemberian Srianah juga sudah melilit rambut kepalanya yang hitam gondrong. janda cantik didepannya tersenyum simpul. ''Si pincang pucat ini selain lumayan gagah sebenarnya parasnya tampan juga..'' batinnya kagum.


''Sepertinya hari ini kau akan pergi kembali ke dunia luar. meski kutahu kalau tidak punya hak untuk bertanya, tapi apakah dirimu yakin dengan semua berita rahasia yang kau dapat dari lelaki berjuluk 'Pendekar Harimau Putih' itu. bukannya aku tidak percaya padanya, tapi akan lebih baik jika berhati- hati dalam menghadapi semua kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi..''


''Aku berterima kasih dan paham atas semua kekhawatiranmu Nyi Rondo Kuning, tetapi jika terus merasa ragu untuk bergerak, lalu sampai kapan semua masalah ini akan selesai. lagi pula diriku juga tidak bakalan mau mengadu jiwa dengan sembrono tanpa perhitungan yang matang..''


Wanita itu kemudian menyebutkan sejumlah nama dan tempat berikut segala macam yang berhubungan dengan itu. ''Semua yang aku sampaikan ini selain kudapat dari si Pendekar Harimau Putih juga hasil dari penyelidikan kami sendiri. aku hanya berharap agar kau selalu menjaga keselamatanmu. janganlah pernah melakukan sesuatu yang kau sendiri tidak yakin dapat berhasil..''


Pranacitra sempat terhenyak diam saat dia mendengar ucapan wanita itu. meskipun hanya sebuah nasihat tapi didalamnya jelas tersirat perasaan kasih sayang yang sangat mendalam. entah sebagai seorang kakak perempuan pada adik lelakinya atau seorang wanita terhadap kekasihnya.


Pemuda pincang itu hanya bisa menjura sambil menyampaikan rasa terima kasihnya atas semua yang telah dilakukan Nyi Rondo Kuning untuknya selama ini. dengan balikkan tubuhnya Pranacitra berkelebat pergi dengan melompati dinding pagar kolam pemandian yang tingginya hampir dua tombak lalu lenyap dikelebatan hutan, meninggalkan janda cantik itu termangu sendiri dalam kesepian hatinya.


Dua sosok tubuh perempuan setengah umur berjubah merah muda yang punya dandanan menor dengan bedak gincu tebal dan banyak perhiasan mengganduli tubuh mereka yang gemuk padat itu sama menatap penuh rasa tamak dan nafsu membunuh pada lima orang anggota jasa pengawalan barang 'Teratai Hijau' yang masih tersisa termasuk ketua mereka.

__ADS_1


Jika berbicara tentang perkumpulan jasa pengawalan barang Teratai Hijau, biarpun mereka ini belum dua tahunan berdiri tetapi sudah cukup memiliki nama. apalagi ketua mereka yang dipanggil sebagai 'Ki Teratai Wulungijo' bukanlah tokoh silat lemah yang gampang untuk direcoki.


Namun disiang hari yang bermendung tebal ini rombongan mereka yang awalnya terdiri dari dua belas orang, kini tujuh diantaranya sudah terkapar menjadi mayat. lima orang sisanya seakan hanya tinggal menanti ajal menjemput. meskipun Ki Teratai Wulungijo cukup punya kepandaian, tetapi dihadapan 'Sepasang Musang Pesolek' dia dan anak buahnya masih belum setara.


Dalam dunia hitam utamanya daerah barat dan pesisir selatan sudah setahun belakangan ini muncul dua orang perempuan setengah umur yang punya kegemaran mengumpulkan emas perhiasan dan sangat suka berdandan seolah mereka tidak mau kalah dengan gadis muda. kabarnya kedua orang perempuan berjubah merah muda itu selain licik juga mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi.


Konon di manapun terdengar ada perhiasan emas permata yang langka dan mewah, hampir pasti keduanya akan muncul untuk mengambilnya. tentu saja dengan jalan mencuri ataupun merampok seperti yang sekarang ini sedang mereka lakukan.


Biarpun sudah banyak pihak yang berusaha meringkus mereka baik dari aparat kerajaan maupun para pendekar golongan putih, namun 'Sepasang Musang Pesolek tetap saja berhasil lolos bahkan balik menghantam mampus para pemburunya. seakan- akan keduanya memiliki kehebatan yang tersembunyi.


Diantara lima orang anggota jasa pengawalan barang 'Teratai Hijau, ada seorang gadis yang masih sangat muda. mungkin umurnya baru lima belasan tahun. dia bukan lain adalah anak semata wayang Ki Teratai Wulungijo sendiri yang bernama Rara Cempluk. sepintas gadis muda berpipi rada tembem itu terlihat berangasan seakan tidak kenal takut meskipun nyawanya terancam.


Berkali- kali dia hendak melabrak kedua lawannya dengan pedang ditangannya, namun ayah dan ketiga kawannya selalu menahannya hingga gadis ini menggeram kesal. ''Ggrrmm., kenapa kita cuma diam saja, apakah ayah dan kakang bertiga tidak ingin membalas kematian saudara- saudara kita yang mati ditangan kedua wanita sundal topeng monyet itu.?''


Ki Teratai Wulungijo dan ketiga anak buahnya merutuk dalam hati. mereka bukannya tidak ingin menuntut balas kematian rekannya, tapi kepandaian lawanlah yang terlampau hebat. bisa lolos dari kematian saja sudah menjadi pertanyaan besar yang sulit terjawab. ketua Teratai Hijau itu hanya bisa berharap agar putri tunggalnya yang belum berpengalaman dan baru kali ini ikut dalam perjalanan mengirim barang kawalan ke kota raja setidaknya bisa selamat.


Sebaliknya dua orang wanita berdandan menor itu menjadi naik darah mendengar ada gadis yang memaki mereka sebagai sundal bermuka topeng monyet. ''Gadis keparat., akan kurobek mulutmu.!'' bentak perempuan menor yang bertubuh lebih tinggi. ''Kau, ayahmu juga ketiga kawanmu akan kukirim ke neraka.!'' timpal yang satunya gusar. tubuh keduanya serentak melabrak ganas kedepan.

__ADS_1


__ADS_2