
Langit terang diatas sana seakan diselimuti awan mendung. suasana redup, suram dan mencekam terasa seiring dengan gelombang hawa sangat dingin yang muncul dari tubuh si pemuda pincang bernama Pranacitra. 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' sudah lontarkan dua ilmu kesaktiannya yang paling dia andalkan.
Dari jurusan lain dua buah cahaya putih kemilau berbentuk balok sebesar batang pohon kelapa menggebrak. udara seakan berubah dingin membeku. ilmu 'Mendung Kematian Penggulung Roh' dan jurus 'Kaki Ganco Iblis Menabur Dendam' masih berusaha menerobos cahaya sedingin es itu sebelum musnah tersapu habis oleh ilmu pukulan sakti 'Nisan Kuburan Membeku.!'
Tidak terdengar suara ledakan dari benturan tiga ilmu kesaktian yang beradu kekuatan. semuanya seolah tertindih lenyap oleh sapuan cahaya sinar salju yang bergulung menyapu rata pedataran lereng gunung Bromo. hanya sempat terdengar teriakan kesakitan yang tertahan penuh rasa dendam bercampur ketakutan dari si Nenek Iblis Berkaki Ganco.
Perlu waktu lebih dari sepuluh tarikan nafas untuk mengembalikan pandangan mata orang. meskipun semuanya telah berlalu tapi udara masih terasa dingin menusuk. di depan sana nenek yang buntung kaki kanannya itu telah lenyap dari tempatnya semula. yang tertinggal hanya gumpalan darah dingin beku dan kutungan sebelah tangan berselimutkan salju yang kemudian terpecah menjadi potongan kecil daging beku.
Dari sini dapat diketahui kalau si 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' telah mengalami luka sangat parah. tapi beruntung disaat ajal hendak menjemputnya dia masih mempunyai sedikit kesadaran hingga memutuskan untuk membuntungi tangan kanannya yang sudah tertutupi lapisan salju dan mati rasa.
Semua itu terpaksa dilakukannya karena dia menyadari jika tetap nekat bertahan, kekuatan hawa sangat dingin itu akan terus merasuki seluruh tubuhnya hingga mati membeku dan berakhir pecah seperti gumpalan daging potong yang berselimut es.
Pranacitra berdiri diam pejamkan matanya. dia perlu sedikit waktu untuk menenangkan aliran hawa sakti dan jalan darahnya yang bergolak. bagaimanapun juga dua ilmu kesaktian lawan bukanlah ilmu sembarangan yang dapat dia hadapi dengan mudah. kecuali 'Setan Kuburan' yang memang lebih tinggi tingkatan ilmunya. nama si 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' dapat disejajarkan dengan keempat gurunya yang lain.
__ADS_1
Nenek buntung itu juga sangat licik, mungkin dia sadar jika kedua jurus saktinya belum mampu menandingi ilmu pukulan si pincang, hingga dalam keadaan terpojok masih sanggup membuat suatu siasat. sebelum melepaskan dua ilmu kesaktian, terlebih dulu dia melemparkan beberapa senjata rahasia berbentuk ganco besi berukuran kecil mirip mata pancing ke arah Lima Elang Api yang tergeletak di tanah.
Akibatnya perhatian Pranacitra terpecah. meskipun dalam hatinya dia tidak punya kesan baik pada mereka berlima yang dengan sombong berani menantangnya, tapi jelas dia tidak dapat membiarkan mereka celaka. pukulan 'Nisan Kuburan Membeku' menjadi sedikit terpecah kekuatannya karena sebagian tenaga saktinya digunakan untuk menyapu senjata rahasia ganco terbang nenek itu.
Mungkin karena itulah Nenek Iblis Berkaki Ganco masih memiliki sedikit kesempatan untuk lolos dari lubang maut, meskipun harus terluka parah dan terpaksa membuntungi sebelah lengannya. pertarungan para pesilat kelas atas seringkali tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menentukan kalah dan menang.
Suara rintihan seorang gadis menyadarkan si pincang yang beru saja selesai mengatur aliran darah dan pernafasan tenaga dalamnya. sekali kakinya menjejak bumi tubuhnya sudah melayang dan tiba di samping gadis bernama Jingga Rani itu. mata gadis cantik pimpinan Lima Elang Api itu setengah terbuka menatap penuh harap. tapi bukannya menolong, si pincang malah lebih dulu balikkan tubuh adiknya yang bernama Jingga Ratih dan saudara seperguruan gadis itu.
Sepeminum teh waktu berlalu, pengobatanpun selesai. meskipun mereka berdua belum sadar tapi luka dalamnya sudah berangsur pulih. dalam keadaan lemah Jingga Rani masih dapat melihat semua yang dilakukan pemuda itu, membuat perasaan kekaguman yang ada dalam hatinya tanpa sadar menjadi semakin tumbuh terhadap si pincang ini.
Tanpa bicara pemuda itu dudukkan tubuh Jingga Rani. telapak tangan kanannya menempel ke punggung. cara pengobatan yang sama juga dilakukan pada gadis itu. dengan cepat diapun bersemedi untuk dapat menyerap hawa sejuk kebiruan yang agar dapat mempercepat penyembuhan.
Saat sadar dari semedinya, waktu sudah lewat tengah hari. beberapa tombak didepannya sudah bertambah dua buah makam. meskipun tidak tertulis apapun di batu nisan itu tapi dia tahu kalau itulah makam dari kedua pemuda saudara seperguruannya. dengan setengah memaksakan diri Jingga Rani bangkit berdiri lantas berlutut didepan kedua makam itu.
__ADS_1
Sudah lebih tujuh tahun mereka bersama, sejak pertama kali diangkat murid oleh sang guru. hubungan mereka tidak ubahnya saudara sendiri. linangan air mata membasahi pipi putih kemerahan di wajah cantiknya. untuk pertama kalinya Jingga Rani merasa dirinya sangat lemah dan tidak berguna.
''Luka- luka dimayat kedua saudaramu itu sudah semakin membusuk, jika tidak segera dikuburkan jasad mereka akan rusak. obat pengawet mayat sekalipun juga tidak akan ada gunanya. jadi., kuharap kau dan saudaramu yang lainnya mengerti jika aku melakukannya tanpa seijin kalian..''
Tiga butir obat yang samar memancarkan cahaya redup berwarna kekuningan terjatuh di pangkuan gadis itu. ''Obat itu berguna untuk menyembuhkan luka luar dan dalam. paling tidak dalam dua hari ini janganlah memakai tenaga dalam kalian. terutama kedua saudaramu itu. luka mereka sangat parah..''
Tanpa menoleh ke belakang Jingga Rani tahu kalau pemuda pincang itulah yang bicara. ''Aa., aku mengerti. ter., terima kasih kau mau bersusah payah melakukannya. budi pertolonganmu ini entah bagaimana kami bisa membalasnya..'' ucap gadis cantik pimpinan Lima Elang Api itu.
Saat tidak mendengar jawaban apapun, Jingga Rani menoleh ke belakang. namun pemuda pincang yang menolong mereka sudah lenyap dari sana. gadis cantik itu capat bangkit. dengan gelisah menatap berkeliling keempat penjuru berharap masih sempat menemukan bayangan pemuda itu. dalam hatinya merasa telah kehilangan sesuatu.
Tapi dia kecewa karena orang yang dia cari sudah pergi dari sana. tiga butir obat diatas telapak tangannya terasa lembab oleh tetesan air matanya yang mengalir. selama ini entah berapa banyak pemuda yang tertarik padanya. tapi si pincang selain telah dua kali mengobati luka mereka, sikapnya begitu dingin dan hambar.
''Ken., kenapa kau pergi begitu saja. apakah diriku., ehm., kami., kami tidak layak berteman denganmu.?'' teriakan Jingga Rani menggema diudara. tidak ada jawaban apapun kecuali siulan lagu berirama sedih yang semakin lama makin menjauh hingga akhirnya lenyap dari pendengaran.
__ADS_1