Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Tertipu dan mati.


__ADS_3

Jika dipikirkan sebenarnya cara melangkah orang pincang seperti itu bukan saja tidak ada yang istimewa, malah terkesan cukup menggelikan dan mengundang perasaan iba. apalagi langkah kaki si pincang juga diiringi suara siulan lagu yang berirama menyedihkan hati.


Meskipun tidak seorangpun yang tahu siulan lagu sedih itu menceritakan tentang apa, tapi anehnya justru membawa suasana yang menyeramkan. saat gulungan debu pasir tebal yang menutupi pandangan mulai reda tersibak, ketiga orang tua itupun dapat melihat sosok pemuda yang berjalan pincang didepannya.


Meskipun sudah dapat mengenali siapa adanya pemuda ini sejak dia menghantam mereka dengan ilmu pukulan 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa' tapi tetap saja Ki Jembar Pambudi dan Nyi Sekar Bekti dalam hatinya mereka terperanjat. karena mereka berdua tidak pernah mengira bakal bertemu dengan si 'Siulan Kematian' alias Pendekar Tanpa Kawan.


Demikian juga dengan Datuk Janggut Biru. dalam keterkejutan hatinya orang tua itu berusaha untuk tetap tegar. biarpun harus menahan rasa sakit dan sesak di dadanya sampai terbatuk darah, dia masih paksakan untuk berdiri. segala berita buruk mengenai sepak terjang pemuda ini dirinya persilatan membuatnya bertekad untuk ikut serta menghabisinya.


''Sungguh tidak dinyana hari ini diriku dapat bertemu dengan peringkat teratas dijajaran para pendekar pendatang baru terkuat. hanya sayangnya., kenapa yang menjadi pendekar terkuat justru manusia laknat sepertimu. tapi biarpun kau punya nama besar dan memiliki ilmu kesaktian hebat, jangan harap dapat membendung kami untuk melenyapkanmu.!'' hardik Datuk Janggut Biru sambil tersengal menahan kesakitan didadanya.


Jika tokoh silat dari daerah Palembang itu punya keberanian untuk tetap beradu jiwa demi suatu kebenaran yang diyakininya, maka tidak demikian dengan 'Sepasang Pualam Sakti' yang masih jatuh terduduk dengan raut muka pucat pasi. setelah mengetahui sedang berhadapan dengan siapa sekarang ini, dalam hati kedua ketua perguruan Pasir Selatan itu cuma ada pikiran untuk kabur sejauhnya.


Namun semuanya inj tentu hanya tersimpan dalam benak mereka berdua saja. karena bagaimanapun juga nama Sepasang Pualam Sakti juga tidak boleh sampai hilang wibawa didepan lawannya, terlebih lagi Datuk Janggut Biru. setelah saling lirik kedua suami istri itu sepakat untuk memanfaatkan keadaan demi bisa menyelamatkan diri.


''Hugh., Uughh., kau., kau sungguh biadab. bukan saja membantai murid- murid kami, tapi juga membuat kita berdua terluka dalam. Aakh.!'' rutuk Ki Jembar Pambudi terbatuk dan mengerang. ''Kee., kejahat., tanmu sudah tidak terampuni. sayang ilmu kami rendah, jadi hanya bisa pasrah menanti ajal.!'' ujar Nyi Sekar Bekti terbata. keduanya berusaha untuk berdiri namun kembali jatuh terkapar.


''Ki Jembar., Nyi Sekar., kalian bertahanlah. biar diriku yang menghadapinya. biarpun harus merelakan nyawaku disini, tapi tidak akan kubiarkan pemuda jahanam itu berbuat kekejaman seenaknya pada kalian berdua.!'' ujar Datuk Janggut Biru berkelebat dan berdiri terhuyung menghadang didepan Sepasang Pualam Putih.


''Soo., sobat., ku Datuk Janggut Biru. kau pergi saja dari sini. see, selamat., kan dii., dirimu..'' ucap Ki Jembar Pambudi. ''Bee., benar Datuk., kau jaa., jangan paksakan dirimu. pergilah dan kabarkan kematian kami pada semua sahabat persilatan golongan putih..'' sambung Nyi Sekar Bekti ikut berusaha mencegah.

__ADS_1


''Huhm., kalian berdua cepat pulihkan diri saja. aku bukanlah jenis manusia pengecut yang hanya bisa lari meninggalkan rekannya sendiri untuk mencari selamat.!'' putus Datuk Janggut Biru mendengus keras sembari coba kerahkan seluruh sisa tenaga kesaktiannya. orang tua ini rupanya sudah bertekad bulat untuk beradu jiwa. melihat itu Sepasang Pualam Sakti hanya bisa menghela nafas seakan menyesal dan sedih. tapi sekilas ada seringai tipis tersungging di bibir mereka.


Pranacitra hentikan langkahnya, mendongak ke langit dan geleng- geleng kepala. ''Orang tua yang amat tegas, pemberani, jujur serta setia pada kebenaran yang diyakininya. tapi sayang., dia terlalu lurus dan lugu..'' gumam si pincang nyengir karena tidak tahu apakah harus memuji atau malah memaki sikap si Datuk Janggut Biru.


''Matilah kau budak jahanam.!" damprat Datuk Janggut Biru mengamuk tanpa terkendali. seringai penuh penghinaan yang ditunjukkan lawan semakin membuat darah ditubuhnya seakan mendidih. diawali dengan dua kali kibasan jari tangannya dia lontarkan pukulan 'Sepuluh Cahaya Petaka Biru' yang disusul dengan empat buah tendangan berantai yang juga memancarkan angin tajam kebiruan.


Karena serangan ini dilakukan dengan hampir seluruh kekuatan tenaga dalamnya, maka dapat dibayangkan daya hancurnya yang sangat mengerikan. beberapa mayat murid perguruan silat Pasir Selatan yang terkapar ditanah sampai terpental remuk disapu angin jurus tendangan yang dinamai 'Sapuan Ekor Naga Lautan' itu.


'Whuuuk., whuuut.!'


'Blaaass., dhaaaass.!'


Jika pada awal petualangannya dalam dunia persilatan, dalam jiwanya hanya ada dendam kesumat serta nafsu membunuh yang kadang diluar nalar. tidak perduli siapapun orang yang berani menghalanginya baik dari aliran hitam maupun putih pasti langsung dihabisi tanpa ampun. namun semakin lama berlalu hatinya menjadi agak terbuka dan lebih menghargai kehidupan.


Tingkat besi hitam kepala tengkorak ditangan kiri membuat gerakan memutar seperti kincir perisai lalu mencungkil keatas, menotok dan menyapu. tubuhnya yang membungkuk terlihat agak kaku saat melangkah. dengan mainkan jurus 'Tongkat Mencongkel Pintu Alam Gaib' dan 'Langkah Aneh Mayat Hidup' si pincang bukan saja dapat menghindari tendangan beruntun lawan malah membuat Datuk Janggut Biru terjungkal roboh dengan kedua kaki patah dan paha remuk dihantam tongkat besi hitamnya.


Kalau tangan kiri memakai tongkat untuk menyerang, tangan kanannya mengepal lalu menjotos ke tiga sasaran. selarik cahaya hitam kuning disertai hawa panas melibas musnah pukulan sakti Datuk Janggut Biru. sebenarnya yang dilepaskan Pranacitra bukan lain adalah ilmu kesaktian 'Raungan Naga Kehancuran' tapi sengaja sudah dia kurangi kekuatannya.


Biarpun demikian hasilnya masih mengerikan karena sanggup membuat lawan terpental dua tombak kebelakang dan muntah darah. biarpun masih tersadar namun orang tua itu tidak lagi mampu bangkit berdiri. dalam keadaan terluka parah dia menoleh ketempat dua rekannya. tapi kedua ketua perguruan itu sudah lenyap dari sana.

__ADS_1


Di ujung jalan masuk ke puncak bukit karang itu masih terlihat olehnya bayangan Nyi Sekar Bekti dan Ki Jembar Pambudi yang berlari tertatih berusaha untuk kabur tanpa perduli dengannya. dalam hatinya orang tua itu menyumpahi perbuatan pengecut dari kedua rekannya. tapi yang membuatnya keheranan si pincang malah cuma berdiri diam tanpa berusaha mengejar mereka.


Prancitra memang tidak sudi membuang tenaganya hanya untuk menghabisi lawan yang tidak ada harganya seperti Sepasang Pualam Sakti. lagi pula., dia memang tidak perlu berbuat apapun karena kedua orang tua itu mendadak hentikan larinya. tidak diketahui apa yang membuat mereka berhenti kabur. hanya saja terlihat dari punggung keduanya sudah muncul dua buah mata pedang yang disertai semburan darah.!


Tubuh kedua orang ini terlihat gemetaran dengan tangan menggapai dan mendekap dada masing- masing. walaupun tidak nampak bagaimana raut muka mereka tapi orang yang melihat dari belakang punggung keduanya masih dapat merasakan kengerian yang sedang dialami kedua orang tua itu.


Seiring dengan pedang yang tercabut dari punggung mereka, Sepasang Pualam Sakti meraung keras. tubuh keduanya tumbang terkapar berkelojotan sebelum akhirnya mati dengan mata melotot seakan tidak percaya. seolah belum puas dua orang pemilik pedang yang sudah dibakar dendam kesumat terus mengayunkan pedangnya. membabat, menikam dan memotong- motong mayat ketua perguruan Pasir Selatan hingga tidak terbentuk.


Bau anyir darah bercampur potongan seisi dalam tubuh yang tercacah membuat Datuk Janggut Biru mual dan muntah. dalam hati orang tua itu berkecamuk pertanyaan, kenapa dua orang murid perguruan Pasir Selatan bernama Wetonan dan Danur Jayapadri yang jelas sudah mati bunuh diri mendadak bisa bangkit dan membunuh kedua guru mereka dengan cara begitu telengas.?


Kedua pemuda dari kampung nelayan Pasiran itu jatuh terduduk lalu menangis. entah itu karena sedih, kecewa atau malah bahagia. dengan langkah gontai mereka menghampiri Pranacitra lalu membungkuk hormat. ''Semua pembalasan dendam kami atas kejahatan dari kedua bangsat tua tidak akan dapat terlaksana tanpa bantuanmu..'' ucap Wetonan. ''Mulai sekarang nyawa dan hidup kami berdua adalah milikmu.!'' sambung Danur Jayapadri.


Jika si Datuk Janggut Biru semakin bingung dengan semua yang dia lihat, tidak demikian halnya Prancitra. dengan menelan butiran obat berwarna merah pemberiannya, kedua pemuda itu dapat mengalami keadaan seolah telah tewas jika diamati dari luar karena detak jantungnya juga akan berhenti. padahal cuma raga bagian luarnya saja yang mati, sedang semua kesadaran mereka tetap terjaga. pernafasannya juga dapat berganti melalui lubang- lubang pori kecil di seluruh kulit.


Sebagai seorang murid dari 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' tentunya Pranacitra juga mampu meracik obat dan racun tingkat tinggi meskipun belum sehebat sang guru. butiran obat berwarna merah itu adalah salah satu hasil karyanya. dengan menelan obat itu lalu memukul bagian dadanya, orang akan sedikit muntah darah dan mengalami keadaan seperti mati.


Tokoh silat yang berpengalaman sekalipun juga bakal tertipu dengan obat yang dia beri nama 'Penipu Dewa' ini. jika ingin kembali terbangun, si penelan obat tinggal kerahkan tenaga dalamnya dan mengatur pernafasan. kejadian inilah yang membuat Sepasang Pualam Sakti terperanjat saking bingungnya melihat dua muridnya yang telah tewas bunuh diri mendadak terbangun dan menghabisinya.


*****

__ADS_1


Mohon tulis komentar anda., Jangan lupa likeπŸ‘, Subscribe chanel vidio ini biar makin berkembang., (Emangnya ini You tube Thor.?) Maaf yah., yang bagian Up date cerita wis rada Koplak.πŸ€ͺ.. βœŒπŸ™ Trims.


__ADS_2