Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pikiran aneh seorang gadis.


__ADS_3

Gadis berbaju putih itu masih terbaring di atas sebuah dipan pembaringan kayu yang sudah reot. Pranacitra mesti lebih dulu memperbaiki salah satu kaki dipan kayu itu yang telah lapuk dan patah. sekarang mereka berdua berada di dalam goa batu yang dulunya menjadi tempat tinggal Nyi Pariseta, mendiang guru dari Puji Seruni.


Melalui keterangan dari dua orang murid perguruan silat 'Naga Biru' yang masih hidup, Pranacitra dapat mengetahui kalau makam Nyi Pariseta berada di bagian dalam ujung goa itu. dengan bantuan kedua murid muda Naga Biru yang bernama Songkali dan Danurino, goa itu dapat di bersihkan hingga terasa nyaman di tinggali.


''Hujan sudah reda, waktu juga telah melewati tengah malam. kalian berdua berjagalah di mulut goa sambil beristirahat..'' perintah si pincang dingin tanpa membalikkan tubuhnya. dia terus menatap gadis cantik yang terbaring lemah di depannya.


Seorang murid yang bernama Songkali maju ke depan sambil menjura, ''Kami akan lakukan semua perintahmu. tapi sebelumnya apakah kami berdua boleh memakamkan semua saudara seperguruan kami, karena aku khawatir mayat mereka akan lebih cepat membusuk oleh air hujan..''


Pemuda pincang itu perlahan menoleh, sekilas sepasang mata dinginnya berkilat tajam. ''Kau masih mengangap mereka saudaramu. luar biasa., saat orang kate picak itu hendak menghabisi nyawa kalian, tidak ada satupun dari mereka yang berusaha mencegahnya. aku tidak tahu kalian itu setia kawan ataukah cuma orang tolol.?'' sindirnya sinis.


Meskipun agak tersinggung tapi Songkali tidak berani membantah. justru kawannya yang bernama Danurino yang bicara, ''Maaf jika saya lancang berkata. kami tidak perduli anggapan orang lain. karena bagi kami selama tidak terjadi pemutusan hubungan persaudaraan seperguruan secara resmi, mereka tetaplah saudara kami. tidak perduli apapun perbuatan yang mereka lakukan.!''


Pranacitra meludah, menyeringai sinis, tapi dalam hatinya dia kagum juga dengan kedua murid Naga Biru yang berhati jujur dan setia itu. ''Kalian tahu kenapa aku sangat membenci Naga Biru.?'' kedua orang pemuda itu saling pandang lalu menggeleng.

__ADS_1


''Beberapa tahun lalu ada seorang anak muda yang lemah bersusah payah datang ke gunung Semeru ini karena ingin meminta bantuan dari perguruan silat Naga Biru, selain itu dia juga berniat untuk menjadi murid perguruan yang katanya menjadi salah satu perguruan silat terbesar aliran putih dan selalu membela kaum lemah. bahkan agar dapat diterima sebagai murid dia mau berlutut selama tiga hari di depan pintu perguruan ini..''


''Tapi yang dia dapatkan cuma cacian dan hinaan. bahkan beberapa murid perguruan itu sempat menyiksanya di depan pintu gerbang perguruan hingga nyaris tewas. beruntung meskipun tubuhnya lemah tapi nasibnya lumayan mujur juga, hingga dia masih berumur panjang..''


''Dan hari ini., orang itu telah kembali untuk membantu seorang gadis yang ingin menuntut balas kematian gurunya, sekaligus berniat meruntuhkan nama besar Naga Biru sebagai balasan atas penghinaan yang pernah dia terima beberapa tahun silam.!'' tegas pemuda pincang itu penuh hawa dendam.


Kedua murid perguruan silat Naga Biru itupun terperanjat. sebenarnya mereka baru dua tahun masuk ke dalam perguruan silat ini. tapi dari cerita beberapa rekannya yang sempat mereka dengar, memang pernah ada kejadian seperti itu di depan pintu perguruan silat Naga Biru. sungguh tidak di sangka pemuda inilah orang yang mereka maksudkan.


''Itu sudah menjadi masa lalu., aku hormati pendirian dan kesetiaan kalian berdua sebagai sesama saudara seperguruan, kalian boleh memakamkan mereka. tapi buang mayat si bedebah kate itu jauh dari tempat ini. setelah itu harap berjaga di depan mulut goa dan jangan berani masuk jika tidak kuperintah.!''


Setelah sempat tertegun mereka memungut butiran obat pulung itu. keduanya tanpa ragu langsung menelannya. mereka tekejut saat merasakan ada hawa hangat yang nyaman merasuki tubuh. setelah mengucapkan terima kasih mereka berlalu keluar goa, dari luar sana mulai terdengar suara tanah di gali dan mayat yang terseret ke dalam lubang.


Pranacitra letakkan kedua telapak tangannya sejengkal di atas dada dan perut Puji Seruni. segulung cahaya biru redup terpancar dari sana dan menyusup ke dalam tubuh gadis itu. ini adalah pengobatan yang kedua kalinya. setelah di depan goa pemuda itu sudah sekali melakukannya.

__ADS_1


Kekuatan batu sakti 'Nirmala Biru' yang telah melebur ke dalam raga dan aliran darahnya membuat Pranacitra dapat lebih leluasa mengerahkan kesaktinya untuk melanjutkan pengobatan luka dalam Puji Seruni. jika yang pertama hanya untuk mencegah luka akibat pukulan sakti Ki Tuyul Ireng menyebar, maka saat inilah pengobatan yang sebenarnya.


Luka dalam yang cukup parah membuat Pranacitra hampir menguras seluruh tenaga kesaktian batu Nirmala Biru. ketenangan suasana juga di butuhkan agar semuanya berjalan lancar. karenanya dia meminta kedua murid Naga Biru untuk berjaga di luar. dia tidak khawatir mereka bakal berani berkhianat.


Dalam petualangannya, Pranacitra semakin dapat mengenali sifat seseorang. jika di lihat dari pancaran matanya terlihat kalau kedua orang ini bukanlah kaum rendahan yang tidak tahu balas budi dan kehormatan. selain itu jelas kalau dalam hati mereka sudah terlanjur tertanam rasa takut kepada pemuda pincang ini.


Pranacitra duduk bersemedi di samping dipan pembaringan Puji Seruni. dia perlu secepatnya memulihkan tenaganya yang banyak terkuras. sungguh tidak di sangkanya kalau ternyata kesaktian batu Niramala Biru belum cukup untuk mengobati luka dalam gadis itu hingga perlu tambahan tenaga dari dalamnya sendiri. ini menandakan luka dalam Puji Seruni cukup parah.


Saat siuman gadis itu cuma bisa melihat ke atas langit- langit goa. dengan perlahan dia berusaha menoleh ke sekeliling. saat melihat kobaran api obor batu yang tertancap di dinding goa itu, dia dapat mengenali kalau ini adalah goa tempat tinggal gurunya. untuk kedua kalinya gadis ini terkejut saat melihat si pemuda pincang tengah duduk bersila tidak jauh dari pembaringannya.


Walaupun tidak mengerti benar apa yang telah terjadi setelah dia di hantam pukulan Ki Tuyul Ireng, namun Puji Seruni paham kalau untuk kesekian kalinya si pincang yang dingin itu telah menyelamatkan jiwanya. meskipun kesal dan kecewa karena sempat di tinggal pergi begitu saja, tapi sekarang di dalam hatinya terasa hangat.


Malahan ada satu pikiran aneh yang muncul di kepalanya. dia berharap lukanya tidak sembuh dalam waktu yang lama agar pemuda itu dapat terus mendampinginya. tentu saja itu cuma khayalannya selintas. dengan tersipu malu dia mengamati wajah tampan dingin sedikit pucat yang duduk bersila tidak jauh dari samping kiri tubuhnya.

__ADS_1


''Aku tidak tahu setampan apa wajahku ini, sampai ada seorang gadis yang terluka dalam mau- maunya memelototi diriku dari balai kayu tempatnya berbaring..'' suara teguran dingin membuat Puji Seruni kaget dan malu hingga memaki dirinya sendiri.


''Jangan banyak bergerak dulu dan tidak usah berpikiran yang aneh- aneh. secara perlahan kau mulailah mengalirkan hawa saktimu sekeliling tubuh mengikuti aliran darah. mungkin agak sulit melakukannya dengan berbaring, tapi jika kau berhasil melaluinya kesembuhanmu akan lebih cepat terwujud..'' ucap Pranacitra tegas seakan dia tahu apa yang sempat dipikirkan gadis itu.


__ADS_2