Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Tukang cerita dan cucunya. (bag2)


__ADS_3

Angin pagi menjelang siang yang berhembus itu terasa lebih panas saat menyentuh kulit. keras menghempas debu pasir hingga beterbangan di jalanan depan warung makan 'Mampir Daharan' milik Ki Buntel Tembem. akibatnya pandangan mata semua orang yang berada disana sesaat menjadi perih dan kabur. beberapa orang lainnya sempat juga terbatuk- batuk.


Kehadiran beberapa orang dijalanan depan warung makan yang sudah jejakkan kakinya begitu mendadak membuat semua orang terperanjat dan buru- buru menyingkir. setelah semuanya berlalu barulah orang dapat melihat adanya enam sosok tubuh manusia yang saling berhadapan. selintas pandangan saja orang sudah dapat mengira kalau akan terjadi keributan besar diantara para pendatang itu.


Lima orang berdiri di sebelah timur jalan membelakangi sinar surya, sedangkan satu lagi adalah seorang kakek tua berjubah kumal warna kelabu yang tegak disebelah barat jalan depan warung. tanpa sadar beberapa orang yang melihat sama keluarkan suara terkejut saat mereka mengenali kalau lelaki tua itu bukan lain adalah si tua tukang cerita.


Di tangan kakek tua itu tergenggam sebuah bumbung bambu besar sepanjang lima atau enam jengkal. jika disaat biasanya si kakek dan cucunya cuma terlihat sebagai orang tua renta yang lemah dan ringkih tanpa daya, sebaliknya kini orang tua itu terlihat penuh dengan tenaga kesaktian yang tanpa dapat ditahan mampu membuat orang sekitarnya merasa tertekan sampai mereka harus mundur menjauh.


Dengan pandangan mata tajam kakek tua tukang cerita itu menyapu kelima orang lawannya yang hanya terpisah tujuh langkah saja darinya, sementara kedua tangannya perlahan mencengkeram batang bambunya atas bawah lebih erat seakan dia hendak sengaja membuatnya remuk. gerakan tangan ini tidak luput dari pandangan mata kelima orang lawannya.


Seorang wanita cantik setengah umur yang memakai jubah putih dengan sepasang pedang bersilangan di punggungnya cepat memberi isyarat pada empat orang lelaki berjubah hitam yang berdiri di belakangnya agar waspada dan mulai bergerak menyebar. sementara dia sendiri tetap berdiri tegak di tempatnya. hanya saja kedua tangannya juga mulai naik keatas meraba gagang pedang yang tersebut di bahunya.


''Ki Payung Gendingan atau si 'Tukang Cerita Jalanan'. begitulah kiranya sekarang orang lain menyebutmu. padahal hampir tiga tahun lalu kau ini cuma seorang begundal rendahan yang tidak ada artinya di partai 'Gapura Iblis.!'' bentak perempuan berjubah putih itu dengan suara bengis setengah menghina. ''Setelah berhasil kabur dan menghilang cukup lama hingga jadi buruan partai, kini kau malah muncul sendiri mencari mati..''


''Hii., hi., aku sampai tidak mengerti dirimu ini memang seorang pemberani ataukah sudah menjadi orang tua pikun yang tolol dan sudah bosan hidup. Chuih., sungguh menyedihkan..'' ejeknya sembari tertawa mengikik hingga membuat Ki Payung Gendingan mengkelam wajahnya. ''Nyi 'Pedang Kembar Terbang' keparat. jangan pernah lagi mengaitkan diriku dengan partai hitam terkutuk itu. aku sudah bukan lagi bagian dari kalian.!'' damprat orang tua itu gusar.

__ADS_1


''Huhm., seenaknya saja kau bicara. sekali saja bergabung dalam partai 'Gapura Iblis' seumur hidup juga pantang untuk keluar kecuali mampus. lagi pula., meskipun dirimu hanyalah kaum rendahan dalam partai tapi segala imbalan harta yang kau dapatkan tidak kalah dengan kekayaan seorang juragan besar. otak tuamu benar- benar sudah keblinger hingga memilih keluar dari partai silat sebesar Gapura Iblis.!''


''Perempuan setan. aku lebih baik mati dari pada terus menjadi begundal partai jahat itu. mengingat dulu kita berdua pernah menjadi rekan kerja dalam partai Gapura Iblis, aku dengan niat baik mempersilahkan kau dan empat orang bawahanmu itu untuk pergi dari sini. anggap saja kita tidak pernah bertemu. tetapi kalau dirimu masih berniat untuk membunuhku, apa boleh buat., kupastikan nyawa kalian berlima bakal amblas disini.!'' gertak Ki Payung Gendingan.


Bersamaan itu kedua tangannya meremas hancur batangan bumbung bambu besar yang tergenggam ditangannya. selapis cahaya jingga kehitaman menyeruak keluar dari sana pertanda bumbung bambu itu menyimpan sesuatu didalamnya. serpihan batang bambu sudah terpecah. benda yang tersimpan kini terlihat jelas.


''Kau lihatlah Nyi Pedang Kembar Terbang. tentunya dirimu masih belum lupa dengan kehebatan senjata yang berada di tanganku ini bukan, atau bisa jadi kau masih merasa penasaran dan ingin menjajal kekuatannya.?'' Ki Payung Gendingan menyindir setengah bertanya. kini ditangan orang tua itu sudah tergenggam sebuah payung bersinar redup jingga kehitaman yang keseluruhan terbuat dari tembaga.


"Sialan., meskipun sudah kuduga kalau si tua bangka ini tidak akan pernah meninggalkan senjata pusakanya tapi siapa yang mengira kalau senjata itu dia simpan di dalam sebuah tabung bambu.." batin wanita setengah umur berjubah putih itu saat melihat sebuah payung tembaga yang sudah terbentang membuka ditangan lawan. walaupun dia tahu kehebatan senjata sakti yang sangat hebat dalam pertahanan sekaligus cepat saat menyerang itu namun diluarnya Nyi Pedang Kembar Terbang masih terlihat mencemooh.


"Disamping itu., apa kau pikir hanya dirimu saja yang punya senjata sakti. Huhm., dasar katak tua dalam tempurung. sekarang juga akan aku perlihatkan Pedang Kembar Terbang yang akan mengantarkan jiwamu ke neraka.!" umpat wanita cantik setengah baya itu sambil mencabut keluar dua bilah pedangnya yang sama mengeluarkan bunyi mendesing nyaring dan cahaya putih berkiluan bagai bintang di langit.


Hawa panas dan tajam yang memedihkan mata sesaat seperti membakar kulit juga memudarkan pandangan mata. kini ditangan wanita bernama Nyi Pedang Kembar Terbang ini sudah tergenggam dua bilah pedang tipis yang memancarkan hawa panas yang mampu membuat kulit seperti meleleh jika berada dekat dengan orang tua tukang cerita itu. saat melihat sepasang pedang lawannya dalam hatinya Ki Payung Gendingan merasa sangat terperanjat.


"Walaupun senjata pedang kembarnya itu masih tetap sama namun aura kesaktian dan hawa membunuhnya telah jauh meningkat beberapa lapis lebih kuat jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.." pikir Ki Payung Gendingan sedikit was- was. "Aku penasaran, dari mana wanita sialan itu bisa memperoleh tambahan kekuatan sakti pada kedua pedangnya.?"

__ADS_1


"Hi., hi., pasti kau sedang terkejut besar melihat pamor kekuatan sakti dari pedangku ini. asalkan kau tahu saja orang tua keparat., tuan 'Sesepuh Mata Buta' sendiri yang telah memerintahkan sang 'Empu Waja Gendeng Lelembut' si ahli senjata pusaka dalam partai Gapura Iblis untuk meningkatkan kekuatan dari pedang kembarku ini. dan yang paling membuatku merasa sangat beruntung adalah, jika diriku berhasil memberikan kepala pengkhianat sepertimu pada partai Gapura Iblis, secara langsung aku akan diangkat sebagai pesilat partai bagian dalam.!"


"Karenanya., serahkanlah nyawamu sekarang juga.!" bentak Nyi Pedang Kembar Terbang gusar. bersama keempat orang berjubah hitam yang sudah bergerak mengepung dari empat penjuru angin, segera mereka berlima menyerang dengan pedang ditangannya. dalam sekejapan mata saja terlihat puluhan bayangan senjata pedang yang bertaburan di udara sebelum menikam langsung ke tubuh sasarannya.!


Biarpun merasa terkesiap dengan serangan pedang lawannya tapi Ki Payung Gendingan tidak menjadi gugup apalagi takut. sambil tubuh agak membungkuk payung tembaga di tangannya yang terkembang cepat berputaran melindungi tubuhnya. berlusin cahaya mata pedang seolah tertangkis mental hingga beberapa kali keluarkan cahaya pijaran api.


Meskipun sanggup menyelamatkan tubuhnya dari rajaman pedang lawan- lawannya tapi Ki Payung Gendingan masih dapat merasakan ada desakan kekuatan gaib yang menjalar dari payungnya hingga sempat membuat aliran darahnya tersendat dan penyaluran tenaga dalamnya sendiri ke senjata Payung Tembaga Jingga miliknya.


Besar dugaannya ini semua adalah akibat dari tikaman senjata Nyi Pedang Kembar Terbang yang sudah mengalami peningkatan dahsyat. dia juga memaklumi karena tukang cerita itu juga pernah mendengar ada seorang tua yang gila namun sangat ahli dalam pembuatan senjata pusaka di dalam partai Gapura Iblis yang dipanggil dengan gelaran Empu Waja Gendeng Lelembut.


Sementara dia masih berpikir demikian, justru serangan lawan berikutnya sudah kembali melabraknya. dua orang anggota partai Gapura Iblis yang memakai jubah dan tutup kepala hitam berkelebat cepat ke atas udara. dari sana pedang ditangan mereka bergerak menikam kepala, leher dan pundak lawan.


Dua rekannya yang lain melesat lurus ke depan dengan sasaran perut, punggung, pinggang sekalian bermaksud memotong kedua paha Ki Payung Gendingan. hawa panas dan cahaya putih keperakan yang tajam mendahului datangnya serangan. yang aneh justru Nyi Pedang Kembar Terbang malah hanya berdiri diam pejamkan matanya. meskipun belum menyerang tapi orang tua tukang cerita ini paham kalau lawan sedang bersiap untuk lancarkan jurus kesaktiannya.


...........

__ADS_1


Sebenarnya sudah sejak sabtu pagi dapat ceritanya. tapi baru senin malam ini bisa saya update🙏. novel 13 Pembunuh juga minggu sore kemarin sudah saya up, tapi gak tau sampai sekarang masih di reviu sama NT 🤔. sekali lagi mohon maaf dan Terima kasih👏.


__ADS_2