
Jarak antara Pengemis Gigi Gompal dan si pincang pucat hanya terpaut empat atau lima langkah saja. jarak yang begitu dekat tapi terasa sangat jauh bagi sosok tubuh pemuda ringkih yang jatuh tersungkur di atas tanah. langit pagi yang cerah perlahan berubah mendung dan semakin gelap dengan awan hitam yang menggantung. orang- orang mulai berlarian mencari tempat berlindung dari air hujan yang mulai turun.
Siraman air hujan membuat tanah basah dan hembusan angin membawa udara dingin, tidak mampu memadamkan api dendam yang berkobar di hati si pemuda pincang.
Pengemis Gigi Gompal menggigil tubuhnya. rasa geram, takut sekaligus tidak percaya membuat pikiran wakil ketua perkumpulan pengemis Kelabang Ireng ini terasa buntu. bagaimana tidak., hanya seorang pemuda pincang dan penyakitan berhasil membuat selusin anggota perkumpulannya tewas.!
Kalau dia tidak mengalaminya sendiri, biar ada sepuluh orang yang bercerita padanya, dia tidak bakalan mau percaya kalau ada kejadian seperti ini.
Hanya berjarak lima langkah di hadapannya, pemuda yang telah membunuh belasan anggotanya itu kini roboh tersungkur. dari balik lebatnya siraman air hujan dan guntur kilat yang menyambar dia melihat pemuda itu menatapnya dengan penuh rasa dendam kesumat. entah kenapa tatapan itu terasa begitu menakutkan baginya. padahal jelas orangnya sudah terkapar tak berdaya.
Jangankan dia., bahkan mungkin seorang anak kecilpun juga bisa dengan mudah membunuhnya. tapi anehnya Pengemis Gigi Gompal merasakan kengerian dihatinya, sampai kakinyapun seakan tidak sanggup untuk melangkah maju.
''Sialan., sialan., bocah pincang keparat itu sudah jatuh terkapar menunggu ajalnya. ini., ini kesempatanku untuk menghabisinya. aku tinggal mendekati lalu menghantam.!''
''Tapi kenapa., kenapa di dalam jiwaku terasa gemetaran, kaki keparat ayoh maju., maju., melangkahlah kaki sialan., melangkah ke depan kataku., agar cambukku dapat cepat mencabut nyawanya.!'' mulut Pengemis Gigi Gompal mengomel sendiri. sebenarnya jauh di lubuk hatinya orang ini sedang dilanda ketakutan, hanya saja dia enggan untuk mengakuinya. karena jika sampai merasa takut pada seorang pemuda pincang yang sudah berada di penghujung ajalnya, dia bisa menjadi orang paling dungu di dunia ini.
Sorot mata beringas itu perlahan meredup., wajah yang punya mata itupun sudah kotor berlepotan pasir lumpur jalanan yang hanyut terbawa aliran air. si pincang mengutuk hujan yang selalu datang disaat dia terpuruk.
__ADS_1
Tapi dia telah bersumpah akan membuat hujan kali ini menjadi hujan darah bagi musuhnya. namun sepertinya pemuda ini juga mulai keblinger., dia sepertinya lupa kalau bersumpah dan membual kadang berbeda sangat tipis. berbicara sangatlah mudah, tapi untuk dapat melakukannya itu bukan soal gampang.!
Pengemis Gigi Gompal menggeram marah. dia merutuki dirinya sendiri yang sempat ngeri dengan seorang pemuda pincang yang kini berada di bawah telapak kakinya. satu tendangan keras membuat tubuh si pincang mencelat bergulingan dan muntah darah. sebuah pijakan di bagian bawah betis kaki kiri menjadikan lukanya semakin parah. jika sebelumnya masih ada kemungkinan kecil untuk sembuh, sekarang dia jelas akan jadi cacat selamanya.
''Rasakan ini bedebah anjing., meratap dan menjeritlah seperti perempuan cengeng. ayoh buka mulutmu bocah pincang keparat.!'' damprat Pengemis Gigi Gompal mengamuk sambil ayunkan cambuknya. orang ini geram bukan main mendapati pemuda yang sedang dia siksa masih menutup rapat mulutnya seakan dia pantang bersuara meskipun untuk sekedar merintih.
Baju Pranacitra yang sudah hancur tidak terbentuk dibasahi oleh hujan juga darahnya sendiri. suara guntur yang bergemuruh seakan hendak meruntuhkan langit dan sambaran cahaya petir yang menghunjam, sekilas menerangi sosok tubuh Pengemis Gigi Gompal yang berdiri angker. sekali lagi cambuknya terayun menghajar tubuh tanpa daya yang terkapar di atas tanah basah.
Dua besi runcing beracun mirip sengat Kelabang yang ada di ujung cambuk menyambar bahu kiri si pincang. tubuh itu tetap diam, tapi tangan kirinya bergerak jauh lebih cepat menangkap erat kedua ujung mata cambuk itu tanpa perduli telapak tangannya yang terkoyak lalu menariknya ke bawah.!
Kejadian selanjutnya sungguh sulit untuk di bayangkan. Pengemis Gigi Gompal yang tidak pernah mengira kalau si pincang ini masih mampu melawan, dengan penuh kegusaran berusaha menarik balik senjata cambuknya. dua buah tendangan kembali menghajar tubuh si pincang, tapi hebatnya genggaman pada ujung mata cambuk tetap tidak juga dilepaskan. seakan- akan sampai matipun dia tidak bakal sudi melepaskannya.
Tubuh kurus penyakitan yang terangkat separo itu membuat jarak diantara keduanya menjadi lebih dekat, hingga wajah Pranacitra dengan mudah dikemplangi pulang balik oleh si pengemis. karena tenaganya yang sudah terkuras dia tidak mampu untuk menghindari setiap serangan dan pukulan yang mendera tubuhnya. tapi sebenarnya pemuda keras kepala ini sengaja masih menyimpan sedikit kekuatan di kedua tangannya.
Jika tubuh dan kedua kakinya tidak mampu bergerak, bukan berarti pula tangannya juga tidak punya daya. saat wajahnya di gampar berkali- kali, justru jeritan melolong setinggi langit malah keluar dari mulut Pengemis Gigi Gompal yang sedikit sumbing.!
Suara hujan deras yang masih mengguyur dan gemuruh guntur, mendadak dipecahkan suara raungan kesakitan yang teramat sangat. entah sejak kapan tangan kanan si pincang tergenggam sebuah pisau dapur.
__ADS_1
Pisau dapur yang bentuknya sangat umum, panjang keseluruhan cuma satu jengkal lebih dua ruas jari. pisau yang biasa dia pakai untuk merajang sayuran atau mencincang daging untuk masakan itu kini telah terbenam tepat di bagian bawah perut Pengemis Gigi Gompal.!
Pranacitra kini sudah benar- benar terkulai lemas. saat selarik cahaya kilat menyambar, sekilas jelas terlihat pancaran mata dan wajahnya yang tersenyum sadis., mirip seringai Iblis.
Hujan lebat terus mengguyur, air langit yang bening saat jatuh kebumi seakan berubah menjadi merah. tubuh Pengemis Gigi Gompal tumbang ke tanah. tusukan pisau dapur itu bukan hanya mengoyak bagian rahasianya tapi juga tebus sampai ke usus lambung. saat tangan si pincang mencabut pisaunya tak ampun lagi darah bercampur air kotor yang belum sempat dia buang hari inipun tercurah habis. sampai lolongan yang terakhir, orang ini tetap tidak mau percaya ada seorang pemuda pincang penyakitan yang sanggup membunuh dia dan belasan anak buahnya.
Pranacitra terkekeh., matanya lelah meredup, ''Hek., he., he., aku sangat suka dengan hujan hari ini.!''
Hujan masih juga turun meskipun sudah mulai reda, seorang lelaki tua berblangkon dan berbaju hitam terbuat dari kain mahal tiba- tiba saja muncul di sana. di jemari tangannya orang tua ini memakai sepuluh buah cincin emas berhias batu permata. satu keanehan terlihat, sedari awal datang kakek ini tidak berhenti menghisap pipa cangklong hitam yang ada di tangannya. meskipun begitu api di pipa cangklongnya yang menebar bau tembakau dan asap kemenyan seakan tidak pernah padam oleh tetesan air hujan.
Kalau diperhatikan tidak ada tetesan air hujan yang mampu membasahi pipa cangklong sepanjang hampir dua jengkal itu. semuanya lenyap sebelum tiba di sana. dari keadaan itu bisa di pastikan kalau orang tua berpipa cangklong dan berdandan seperti seorang juragan kaya itu bukanlah manusia sembarangan.
Orang tua ini tidak datang sendirian, ada beberapa orang yang begitu tiba langsung membawa pergi mayat Ludiro si Jari Cepat. lelaki tua ini berjongkok di depan si pincang, mata tuanya mengamati setiap jengkal tubuh pemuda itu dengan penuh perhatian seakan sedang mengagumi sebuah barang antik yang langka.
Sekali lagi dia menyedot pipa cangklongnya. kali ini jauh lebih dalam dan lama. sekali mulut peotnya meniup, tersemburlah asap berbau kemenyan ke arah luka di kaki kiri si pincang juga bagian telapak tangan kirinya yang terkoyak. hebatnya darah yang mengalir seketika berhenti, mulut luka yang mulai membusuk terlihat lebih baik dan menutup.
''Luka di kakimu sudah membaik., tapi kau tetap saja akan pincang dan cacat. andai saja dirimu tidak berusaha menolong Ludiro, pasti sudah kubiarkan tubuhmu tergeletak jadi bangkai di jalanan ini..'' gumam si kakek tua berblangkon hitam itu meracau sendiri.
__ADS_1
Orang tua berbaju perlente bangkit berdiri lalu berjalan mengitari tubuh si pincang yang masih tertelungkup di atas tanah. hujan mulai reda awan hitam juga sudah sirnah. asap tembakau bercampur bau kemenyan yang menyengat hidung kembali terhembus dari mulut si tua berblangkon. saat kaki kirinya bergerak mencungkil, tubuh lemas itu sudah berpindah di atas pundak tuanya yang kurus. sekali berkelebat orangnyapun lenyap dari jalanan.