
Pertarungan antara Pranacitra dan dua orang anggota perkumpulan silat 'Sabit Putih' di atas panggung yang sudah miring dan separuh hancur itu masih berlangsung dengan sengitnya. yang bertongkat terlihat hanya bertahan, dua pesilat lainnya lebih banyak menyerang dengan sabitnya.
Meskipun dalam dua puluh lima jurus yang telah terlewati kedua anggota Sabit Putih itu sudah empat kali di buat mental hingga nyaris keluar panggung, tapi dengan sigap mereka bangkit lagi menyerang. setiap kali roboh terjungkal setelah menerima satu atau dua kali pukulan dan kembali bangun, jurus serangan mereka malah meningkat semakin hebat dari sebelumnya.
Pranacitra yang sengaja sedikit mengurangi kekuatan jurus silatnya karena merasa kedua orang ini bukanlah musuh jahat yang layak untuk di singkirkan, menjadi kagum sekaligus jengkel dengan keuletan dua lawannya yang seolah tidak mengenal rasa takut.
Sepasang mata tengkorak di gagang tongkat besinya mengeluarkan cahaya merah bersemu hitam yang menggidikkan. tongkat berputar dua kali menangkis serangan sabit yang kembali mengancam bagian atas dan bawah tubuhnya, lalu balas menusuk ke empat arah. kilatan cahaya hitam menyambar bagaikan bayangan hantu, bersamaan dua telapak tangan kirinya menghantam perut dan rusuk kanan lawannya.
'Whuuuut., whuuut., shaaaat.!'
'Traaaaang., traaang., craaaaang.!'
Kedua anggota perkumpulan silat Sabit Putih itu mengeluh tertahan. benturan senjata kali ini berkali lipat lebih keras pertanda tenaga kesaktian yang di gunakan si pincang telah di tingkatkan. belum lagi pukulan telapaknya yang nyaris saja menghantam tubuh membuat mereka mesti mundur menjauh.
Bahkan mereka terpaksa mesti lepaskan senjata sabit di tangannya karena tidak kuat menahan getaran tenaga yang membuat kulit telapak tangan mereka perih dan terpecah. darah menetes dari sela genggaman tangan meraka yang bergetaran.
''Kami berdua mengaku kalah..'' ujar anggota perkumpulan Sabit Putih yang bertubuh agak kecil dan berambut panjang lurus. ''Rupanya kabar berita soal kehebatan ilmu kesaktianmu bukanlah omong kosong..'' sambung orang yang tinggi besar. ada nada kekaguman dalam ucapan kedua orang itu.
Dua buah tangan kanan yang masih terluka itu terulur ke dapan lalu menyentak ke belakang. hebatnya kedua bilah sabit yang tergeletak di lantai panggung seketika bergetaran naik lalu melesat kembali ke genggaman tangan dua anggota perkumpulan Sabit Putih itu. sebagian orang terkesima melihat pertunjukan tenaga dalam yang di lakukan mereka berdua.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi keduanya berkelebat pergi dari atas panggung setelah sebelumnya sempat maju mendekat beberapa tindak lalu menjura hormat di depan si pincang. saat itulah Pranacitra nampak sedikit terkejut. ujung matanya mengikuti kepergian anggota perkumpulan Sabit Putih itu.
Hanya berselisih beberapa kejapan mata saja, tanpa di ketahui siapapun dari balik dinding pagar batu perguruan silat Naga Biru melesat keluar sesosok bayangan tubuh manusia yang memakai caping daun pandan. dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi sosok itu berkelebat mengikuti arah kedua anggota perkumpulan Sabit Putih.
Hujan sudah berhenti seiring pertarungan besar yang juga berakhir. di atas panggung itu hanya tertinggal Pranacitra dan si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' saja. kedua pendekar muda itu hanya berdiri diam saling berhadapan tanpa bicara apapun. meskipun demikian kedua pasang mata mereka seakan saling menyorot tajam.
Pedang 'Iblis Hitam' terlihat bergetaran di tangan kanan anggota nomor tiga belas dalam kelompok 13 Pembunuh itu. cahaya dan asap hitam sebusuk bangkai menebar ke seantero panggung, seakan menyebarkan hawa kematian. Pranacitra rada bergidik juga melihat ancaman lawannya. tanpa sadar dia mundur setindak.
Tongkat besi hitam kepala tengkorak bergerak setengah lingkaran menyapu lantai panggung. selarik cahaya gelap di sertai sambaran angin tajam solah membendung gelombang hawa hitam busuk dari pedang Iblis Hitam. sebuah guratan dalam melingkar tercipta di atas panggung. dua kekuatan yang sama hitam dan gelap pekat saling beradu hingga panggung besar berderak keras. gelombang tenaga yang di sertai hawa panas serasa membakar udara.
Para tokoh silat berilmu tinggi yang berdiri dekat panggung masih dapat bertahan. tapi bagi mereka yang ilmunya lebih rendah sama merasakan siksaan udara panas yang seolah membakar tubuh. belum lagi bau sebusuk mayat yang membuat dada sesak dan ingin muntah.
Beberapa yang terus nekat bertahan langsung bertumbangan, sebagian lagi sama mundur menjauh. Ki Tanjung Semboro si Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal sebenarnya tidak kesulitan untuk tetap berada di depan panggung, tapi melihat Puji Seruni mulai kepayahan mempertahankan diri, orang tua itu mangajak si gadis untuk mundur ke belakang.
Ular Sakti Berpedang Iblis keluarkan suara mendengus. pedang Iblis Hitam membabat beberapa kali ke depan. tiga buah cahaya hitam pekat yang menebar hawa panas dan beraroma sebusuk bangkai menyambar bagian kaki, perut dan leher Pranacitra.!
Yang di serang sekilas masih menundukkan kepalanya. saat dia mendongak seberkas cahaya tajam terbersit dari kedua matanya yang dingin. tongkat hitam kepala tengkorak di hentakkan ke lantai panggung hingga bergetar keras. segelombang pusaran cahaya hitam yang bergulungan memapaki tiga sambaran sinar pedang lawan. dua kekuatan hitam pekat bertemu, saling libas dan hantam hingga menghancur luluhkan seluruh panggung.!
'Whuuuut., wheeet., sraaaat.!'
__ADS_1
'Whuuuung., whuuuk., braaaak.!'
'Draaaak., blaaaaang., blaaaam.!'
''Aaaaakh., Aaakh.!'' suara jeritan ngeri yang bercampur kepanikan terdengar bersautan saat panggung besar setinggi lebih satu tombak itu berderak hancur dan runtuh. tiang- tiang besar dan papan kayu panggung yang remuk terpental berhamburan ke delapan penjuru hingga menimpa puluhan orang yang berada di bawahnya.
''Awas panggung besar itu runtuh., cepat kita menyingkir.!''
''Bedebah., ternyata kekuatan ilmu para pesilat pendatang baru itu sungguh mengerikan..''
''Edan., kedua orang itu benar- benar sudah gila.!'' seru beberapa orang sambil mengumpat geram sekaligus ngeri.
Balok- balok papan kayu yang terpecah remuk tergulung oleh pusaran tenaga kesaktian yang saling bentrok. ledakan yang mengguncang seantero lereng gunung Semeru terdengar hingga beberapa kali. kecuali beberapa tokoh silat yang berilmu tinggi sekelas Ki Tanjung Semboro, yang lainnya sama semburat menjauh. banyak diantaranya yang jatuh dan terinjak dalam kepanikan itu.
''Uugh., hekh., kampret pincang sialan., kurasa sudah cukup kita bermain- main. lain waktu kita bertemu lagi.!'' terdengar suara Ular Sakti Berpedang Iblis. saat semua yang menutupi pandangan sirnah, pemuda itu sudah lenyap dari tempatnya. di lihat dari jejaknya nampak segumpal muntahan darah. sepertinya orang itu sedang terluka dalam.
Di atas panggung yang sudah hancur serata tanah tinggal seorang saja yang masih berdiri tundukkan kepala. rambutnya yang hitam gondrong menutupi sebagian wajahnya. kedua tangannya yang pucat namun kekar masih menggenggam erat kepala tengkorak yang terukir di gagang tongkat besi hitamnya. sesaat suasana terasa sunyi mencekam hati.
Langkah pemuda dari gunung Bisma itu masih sama dengan sebelumnya, tetap menyeret pelan seperti cacing. kaki kanan melangkah ke depan, yang kiri terseok mengikuti. orang yang melihatnya akan merasa geli atau malah iba. tapi saat itu tidak ada satupun yang berani menertawakannya.
__ADS_1
Lebih dari seribuan orang tokoh persilatan yang hadir disana tanpa sadar sama beringsut mundur saat si pincang itu berjalan melewati kerumunan, mereka menjauh memberikan jalan bagi pemuda itu agar dapat secepatnya berlalu pergi dari hadapan mereka, seakan dia adalah suatu penyakit menular yang sangat berbahaya dan tidak ada obatnya.
Dengan di susul Ki Tanjung Semboro dan Puji Seruni yang mengikuti beberapa langkah di belakangnya, Pranacitra terus berlalu pergi tinggalkan tempat itu. waktu sudah melewati tengah hari saat matahari muncul dari balik awan. pertemuan besar kaum persilatan di gunung Semeru itupun berakhir dengan hasil yang diluar dugaan siapapun juga.