Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Hanya dapat memandangnya.,


__ADS_3

Walaupun gema suara siulan bernada sedih itu sudah cukup lama hilang, tapi Srianah terus saja berlari mengejar secepat yang dia mampu ke jurusan yang di anggapnya menjadi asal suara siulan aneh itu. tapi sepeminum teh kemudian gadis manis ini hentikan larinya. nafasnya tersengal keringat sudah membasahi baju biru mudanya.


Srianah tidak menyerah untuk mengejar, dia tidak akan pernah berhenti untuk meraih apa yang dia yakini benar. tapi., Srianah juga tidak mau melakukan sesuatu yang sia- sia. dalam hati gadis itu mulai timbul sedikit keraguan.


Caping bambunya di lepaskan, talinya yang melingkar membuat caping itu menggantung di belakang punggungnya. siang tadi hujan gerimis, tapi malam ini langit terlihat terang penuh gemerlap cahaya bintang.


Srianah mendongak, wajah gadis enam belas tahun yang cantik alami tanpa hiasan bedak pupur dan gincu itu terlihat sendu di timpa cahaya rembulan. sudut matanya yang terpejam mengalir butiran air mata. angin malam menyibak rambut hitamnya yang tegerai sebahu ''Aku yakin telingaku tidak salah mendengar, siulan itu pasti dia yang melakukannya.


''Biarpun belum dapat bertemu dengannya lagi., paling tidak saat ini aku tahu kalau dia masih hidup..'' gumam Srianah menghela nafas seakan ingin membuang rasa sesal di hatinya.


Cahaya sinar bulan dan bintang masih menerangi pedataran yang kembali sepi. Srianah sudah berlalu dari tempatnya berdiri. tidak seorangpun tahu entah dia hendak pergi kemana, mungkin juga gadis itu juga tidak tahu kemana langkah kakinya menuju.


Demikian juga sosok pemuda pincang yang sudah sejak lama berdiri di antara kegelapan dan rapatnya pepohonan. saat merasa ada seseorang yang datang menyusulnya, orang ini cepat menyembunyikan diri. tidak lama kemudian si pengejarpun munculkan dirinya.


Tubuh dan hati pemuda berkaki kiri cacat ini bergetar keras saat melihat wajah si gadis yang tidak lagi terlindungi caping bambunya. meskipun sudah tiga tahun tidak berjumpa, biarpun saat terakhir kali dia bersama, gadis itu masih seorang copet cilik yang kurus dan kotor. tapi si pincang tahu betul kalau sosok cantik murni yang berdiri di bawah cahya bulan itu bukan lain adalah Srianah.


Biarpun gadis itu cuma menggumam namun telinganya yang tajam dapat mendengar setiap kata yang terucap dari bibir gadis itu. ingin dia menjawab ''Kau memang tidak salah mendengar., akulah yang bersiul lagu yang pernah kau ajarkan itu..''


''Ini memang aku., diriku masih hidup dan berdiri di sini..'' tapi sayangnya., ucapan itu hanya dapat di tahan dalam relung hatinya.

__ADS_1


Setiap butiran air mata yang menetes di pipi gadis itu seakan pisau belati tajam yang merobek jiwanya. sangat menyakitkan., tapi dia mesti bertahan sekuat tenaga agar tidak muncul di hadapan Srianah.


Kakinya ingin melangkah secepatnya dan berdiri di hadapan si gadis lalu memeluknya untuk melepas semua rasa rindu. tapi dia sadar kalau mereka tidak boleh berjumpa. setidaknya untuk saat ini., dia belum bisa menemui orang yang paling dekat dengannya itu.


Jarak di antara mereka berdua mungkin cuma belasan langkah saja. tapi biarpun begitu dekat tapi juga terasa sangat jauh seakan terhalang suatu dinding tebal yang tidak terlihat.


Dalam waktu sebulan sejak keluar dari 'Lembah Seribu Racun'., dia telah membunuh banyak tokoh silat dari berbagai golongan. jika di tambahkan dengan kelompok jasa pengawalan barang 'Elang Perkasa' mungkin sudah lebih dari dua ratus orang yang menjadi korbannya.!


Sejujurnya., tidak ada sedikitpun keinginan di dalam hatinya untuk berbuat seperti itu. tapi keadaanlah yang telah memaksa dia untuk melakukannya. begitu orang mendengar ada yang mewarisi ilmu lima pentolan tokoh sakti aliran hitam, para tokoh silat baik dari golongan putih maupun hitam yang pernah bersengketa dengan kelima gurunya itu seketika bermunculan untuk membuat perhitungan dendam lama.


Jika hutang orang tua yang sudah meninggal wajib di selesaikan oleh anak- anaknya, maka demikian juga dengan guru dan murid. urusan dendam kesumat para tokoh rimba persilatan dengan kelima orang gurunya di masa lalu terpaksa juga harus dia hadapi, meskipun sebenarnya dia tidak mengetahui jelas ujung pangkal permasalahannya.


Akibatnya dia mulai menjadi buruan nomor satu yang harus di habisi, hingga setiap saat nyawanya selalu terancam. dia hanya bisa terus bertahan dan mencoba menyelesaikan masalah tanpa ada pertumpahan darah.


''Dunia ini tidak ada hitam dan putih, karena semuanya cuma abu- abu. banyak orang yang menyatakan dirinya sebagai pendekar aliran lurus pembela kebenaran. tapi di saat nyawanya terancam, cuma beberapa gelintir saja yang benar- benar rela berkorban demi keadilan sedang sisanya hanya jadi anjing pengecut yang lari ketakutan. chuih., omong kosong semuanya.!'' ucap si 'Setan Kuburan' waktu itu sambil meludah penuh penghinaan.


''Ingatlah bocah pincang., di dunia ini baik juga buruk, benar atau salah tidak dapat kau tentukan hanya dari luar saja. karena kadang kebenaran sejati malah dapat tersembunyi dalam sesuatu yang dianggap salah..'' ujar Iblis Naga Rembulan menambahkan.


''Manusia licik, munafik yang bersembunyi di balik topeng kesucian dan berlagak menjadi ksatria tidak terhitung jumlahnya. biarpun kami adalah kaum dunia hitam, tapi bukan golongan pengecut yang selalu lari dari tanggung jawab..''

__ADS_1


''Kalau semua perbuatan kami dianggap suatu kejahatan., kami tidak akan menyangkal atau mencoba melemparkan kesalahan pada orang lain., setidaknya kami melakukannya dengan terang- terangan..'' itulah yang pernah di katakan 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' kepadanya.


''Masalah pertama yang harus kau pahami sebelum kami lepas dirimu keluar adalah., kami berlima punya banyak sekali musuh di luar sana. banyak pihak yang menginginkan nyawa kami, tapi sayangnya kami masih terlalu kuat untuk di bunuh. Haa., ha..'' terang 'Pengemis Tapak Darah' lalu tertawa angkuh seakan dia memandang remeh semua musuh- musuhnya di masa lalu.


''Pada mulanya kami ingin kau langsung saja pergi ke dunia luar dan menyelesaikan tugas dan urusan kami., tapi rasanya itu terlalu tidak adil bagimu. setidaknya dirimu mesti tahu siapa kami sebenarnya dan kenapa kami berlima sampai berada di tempat ini.!'' tutur si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' dengan gebrakkan tongkat berkepala tengkoraknya.


Lima orang tokoh silat yang punya nama besar dan pernah membuat dunia persilatan gempar itu sekarang sudah terbaring tenang di dalam tanah dengan lima buah nisan batu sebagai penanda kuburnya. semua pasti ada sebab dan akibat. dari tanah kembali ke tanah. biarpun mereka punya ilmu kesaktian sangat tinggi, tetap saja tidak dapat menghindar dari apa yang di namakan kematian.


Racun yang menggerogoti tubuh mereka berlima sudah tidak mampu lagi di tahan. saat merasa ajalnya sudah menjelang, satu persatu mulai memaksanya untuk menerima sisa- sisa tenaga dalam sakti yang masih berada di dalam tubuh mereka. kelima orang ini saat masih berjaya selalu di takuti dan memandang sebelah mata orang lain. tapi di saat ajal tiba, mereka tetap saja hanyalah para orang tua lemah yang patut di kasihani.


Terakhir Setan Kuburan dengan kekuatannya berhasil memasukkan batu sakti 'Nirmala Biru' ke dalam tubuh si pincang hingga dapat melebur ke seluruh aliran darah di tubuhnya. sekarang dia boleh di katakan kebal terhadap hampir segala macam jenis racun. dia bisa terluka atau terbunuh oleh senjata lawan. tapi tidak akan mati karena keracunan.


Pemuda pincang yang memang Pranacitra adanya itu masih teringat saat pertama kali melangkah keluar goa. hawa racun yang pekat dan busuk langsung menyerangnya. meskipun dadanya terasa sedikit sesak dan ingin muntah, tapi dia percaya akan tetap selamat dan keluar dari 'Tebing Kematian.!'


Di pedataran berbatu yang berada di antara mulut goa dan 'Tebing Kematian' terlihat di selimuti gumpalan kabut beracun serta ratusan tulang tengkorak manusia. mungkin mereka juga korban dari muslihat perangkap 'Lembah Seribu Racun' sebagaimana kelima orang gurunya. dalam hati Pranacitra cuma bisa berdoa agar arwah mereka tenang di alam sana.


'Kreek., kreess., kraask.!'


Bunyi beratus tulang belulang dan tengkorak manusia yang hancur terinjak kedua kaki dan tongkat besinya seakan masih terdengar jelas di telinganya. dalam hatinya si pemuda bersumpah akan membuat pihak yang telah membuat perangkap keji dengan korban ratusan orang di Lembah Seribu Racun itu membayar dengan harga berlipat ganda.!

__ADS_1


Pranacitra masih berdiri di antara rimbunnya pepohonan dan gelapnya malam. dia tidak tahu apakah yang dia lakukan ini benar atau salah. tapi jelas dia tidak ingin membuat Srianah menderita karenanya.


''Mungkin diriku memang di takdirkan untuk selalu sendirian dan tanpa kawan di dunia ini..'' gumamnya tersenyum getir. saat dia hendak berlalu telinganya mendengar ada langkah beberapa orang bergerak cepat mendatangi tempatnya berdiri. ''Mereka yang datang berilmu cukup tinggi..'' batinnya sinis. meski dia tidak takut pada apapun, tapi lebih baik diam menunggu.


__ADS_2