Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Renungan jomblo.


__ADS_3

Udara menjelang siang hari terasa sedikit panas. sepasang mata dingin itu menatap ketiga sosok mayat yang terkapar tak bernyawa dengan pandangan hambar. wajahnya yang agak pucat dan kesepian tidak menyiratkan suatu perasaan apapun meski baru beberapa saat lalu dia telah melakukan pembunuhan.


Suara gemerisik dedaunan dan ranting pohon yang tertiup angin disertai guguran daun- daun kering seolah turut mencibir pada kebodohan manusia yang mau berkorban nyawa sia- sia. tanpa sadar pemuda ini menghela nafas prihatin. timbul suatu kebosanan didalam hatinya. entah sampai kapan dia mesti menjalani hidup seperti ini.


Jika orang melihat dari dekat barulah nampak ada lelehan darah yang mengalir dari kedua sudut bibirnya. saat dia terbatuk, segumpal darah kental dan panas yang lama tertahan di dalam rongga dadanyapun termuntah keluar. anehnya setelah gumpalan darah panas itu keluar, raut muka dan pernafasannya justru terlihat lebih baik.


Dalam pertarungan sengit melawan 'Tiga Dewa Gelap' yang merupakan utusan dari partai 'Gapura Iblis' itu, Pranacitra sebenarnya juga mengalami luka dalam meskipun tidak parah. dengan adanya 'Lubang Nadi Neraka Gelap' dan batu sakti 'Nirmala Biru' yang berada dalam tubuhnya, semua masalah ini dapat dia atasi dengan lebih mudah.


''Semenjak pertarungan besar di lereng gunung Ciremai tempat padepokan silat 'Lutung Ciremai' berada, makin lama orang- orang Gapura Iblis yang diperintahkan keluar untuk menghabisi nyawaku selain jumlahnya bertambah banyak juga ilmu kedigjayaan mereka juga kurasakan semakin hebat saja..''


''Seperti ketiga orang berjubah hitam yang punya muka bengkak memerah seperti daging rebus ini. walaupun tingkat ilmu kesaktiannya secara perorangan masih berada dibawah si 'Gadis Berwajah Tengkorak' tapi gabungan ilmu kesakitan mereka bertiga hampir membuat diriku terjungkal..'' batin Pranacitra mengusap dadanya.


''Walaupun aku yakin dengan kemampuan ilmu silat dan kesaktian yang kudapat dari para guruku di 'Lembah Seribu Racun' namun itu juga bukan menjadi jaminan diriku pasti bisa selalu lolos dari hadangan para begundal Gapura Iblis. karena bagaimanapun juga partai aliran hitam terkuat itu pasti punya banyak sekali pesilat tangguh dengan ilmu kesaktian luar biasa dan aneh- aneh seperti milik si Gadis Berwajah Tengkorak..''

__ADS_1


Teringat akan Cahya Intan Maharani alias si Gadis Berwajah Tengkorak membuat hati Pranacitra teriris. kecantikan yang luar biasa dengan suara semerdu nyanyian surga begitu dalam tertanam dalam benaknya. apakah itu hanya sekedar perasaan simpati pada kisah penderitaan gadis cantik itu ataukah luapan cinta murni dari dalam hati, Pranacitra juga tidak tahu.


Diantara banyak wanita- wanita cantik kenalannya, justru gadis yang sudah mati terbunuh ditangannya inilah yang paling berkesan dihati si pemuda. padahal waktu pertemuan yang terjadi di antara mereka berdua teramat singkat. ''Mungkin benar kata orang., kalau seseorang yang awalnya kita pandang remeh sudah tidak ada lagi di dunia ini, barulah kita menyadari kalau sebenarnya dia sangat berarti..'' gumamnya seakan menyesali sesuatu.


Bayangan bermacam kejadian pahit dan manis, suka atau duka yang pernah dilalui selama mengembara kembali terlintas di kepalanya. biarpun punya banyak kenalan perempuan cantik namun sampai saat ini di pincang masih memilih untuk tetap berjalan sendiri, karena dia tidak ingin ada wanita yang harus terancam jiwanya dan hidup sengsara cuma gara- gara bersama lelaki sepertinya.


Kalau teringat pada kedua orang saudara seperguruannya yang berada di gunung Bisma, Arga Pangestu dan Ajeng Larasati. kadang dalam hatinya sempat timbul rasa iri. mereka berdua saling mencintai sejak lama. meskipun harus banyak melewati rintangan namun pada akhirnya mereka dapat tetap bersatu juga. sedangkan dirinya., masih saja luntang- lantung jadi gelandangan di dunia persilatan. mungkin dalam bahasa jaman sekarang, si pincang ini bisa digolongkan sebagai kaum Jomblo.


Lama tenggelam dalam lamunannya tanpa terasa waktu pagi telah terlewati. saat hendak tinggalkan tempat itu sudut mata kirinya sempat melihat sesuatu yang tersembul dari balik jubah hitam si mayat muka bengkak berpipi tembem yang tewas dengan lubang hangus di kepalanya akibat jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan'.


Ujung tongkat besi hitam kepala tengkorak bergrak mencungkil. gulungan kulit itupun mencelat ke atas lantas terjatuh dalam genggaman tangan kanan Pranacitra. dia agak terkejut karena merasakan ada hawa aneh yang menjalari telapak tangannya. untuk berjaga- jaga dia cepat kerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan kanan.


Mata pemuda itu melihat sekitarnya lebih dulu sebelum tubuhnya berkelebat agak masuk ke dalam hutan di sebelah kiri jalan setapak. setelah merasa aman Pranacitra membuka gulungan kulit kekuningan itu. ''Rahasia jurus barisan 'Jaring Kematian Tiga Penjuru Bumi..'' ucap Pranacitra membaca tulisan di bagian atas lembaran kulit itu.

__ADS_1


Dari pengalamannya bertarung melawan Tiga Dewa Gelap, dia dapat mengetahui tingkat ketangguhan ilmu barisan yang harus dilakukan oleh tiga orang itu. sampai- sampai Pranacitra terus terkurung dan nyaris tidak mampu keluar dari kepungan lawan. setelah berpikir sebentar akhirnya lembaran kulit berisi petunjuk rangkaian ilmu silat itupun diambilnya.


Kedua tangannya yang terkepal berselimut sinar kuning emas menghantam permukaan tanah hingga menimbulkan sebuah lubang sebesar satu tombak keliling dan cukup dalam. pukulan 'Naga Penghancur Rembulan' memang punya daya dobrak mengerikan. ''Selain menghargai lawan yang tangguh, aku juga sebenarnya lumayan baik hati, lagi pula barang milik kalian juga sudah kuambil meski diriku tidak yakin akan membutuhkannya. jadi., aku buatkan lubang kuburan untukmu bertiga..'' ujarnya sambil menendang ketiga mayat musuhnya ke dalam lubang tanah.


Sekali lagi dua lengannya bergerak mengibas dan menghentak beberapa kali hingga menimbulkan gulungan angin keras yang menghempas. tanah serta bebatuan yang tersapu seketika menimbun lubang besar itu. sebuah kuburan tanpa nisan terbentuk di pinggiran hutan ini.


Dengan langkah terseret seperti cacing, si pincang inipun berlalu tinggalkan tepian hutan. kaki kanan menapak yang kiri terseret dibelakang begitu seterusnya seolah orang ini selalu diganduli suatu beban berat dalam hidupnya. semilir angin tengah hari dan guguran daun kering turut pula mengiringi langkahnya.


Dua pasang mata tua memandangi belakang punggung si pincang yang bergerak semakin menjauh. yang punya mata adalah sepasang kakek nenek bertubuh aneh serta bertolak belakang bentuknya. si nenek tinggi besar dan gemuk. sementara sang kakek tua malah berbadan kecil pendek dan sedikit bungkuk.


Kalau di lihat dari keadaannya juga keriput yang berlipat di wajah mereka, kedua orang tua aneh ini sudah berusia sangat lanjut. mungkin juga mendekati seratus tahun. ''Kau yakin bocah itulah yang kita cari.?'' tanya si nenek bertubuh besar dengan pakaian merah muda dengan dandanan menor berpupur dan gincu tebal seperti kaum perempuan muda.


Yang ditanya mendengus kesal. ''Kenapa urusan kembar empat pada masa lalu yang sudah terpendam begitu lama mesti di bicarakan lagi dan berbuntut panjang, hingga orang itu diam- diam datang meminta kita berdua untuk menangani masalah ini.!''

__ADS_1


''Kita sudah puluhan tahun menyepi sambil menikmati masa tua. jika saja tidak ada ikatan utang janji, aku tidak bakalan sudi ikut campur masalah ini. Chuih., sialan betul.!'' umpat kakek berbadan kecil itu. sekali mereka berdua bergerak tubuh keduanya sudah lenyap dari sana.


__ADS_2