Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Otak kotor si Gendol.


__ADS_3

Dari cerita Pranacitra, barulah Srianah tahu kalau ilmu silat yang di namai 'Gerakan Delapan Lengan Naga Besar' itu sebenarnya hanyalah jurus yang hanya sesuai dengan golongan lelaki bertubuh besar dan kuat yang lebih sering mengandalkan tenaga dari otot ketimbang otaknya.


Hampir tidak ada gerak tipuan seperti yang sering terdapat dalam jurus silat umumnya. malah kalau boleh dari pada dibilang sejenis ilmu silat, ini lebih pantas disebut sebagai cara bertarung para bajingan tukang pukul di jalanan. meskipun semua gerakan Gendol menjadi lebih cepat, kuat dan juga dilambari dengan dasar tenaga dalam namun tetap saja terlihat sangat kasar.


Tetapi harus diakui biarpun nampak jelek dan tidak bermutu, ilmu ini punya daya hancur sekaligus pertahanan diri yang mengerikan. ''Kau tahu kenapa aku mengajarkan orangmu ilmu kanuragan.?'' Srianah hanya mengangkat bahu dengan acuh. pertanyaan itu akhirnya dijawab sendiri oleh Pranacitra. ''Itu karena., aku tidak ingin terjadi apapun padamu saat diriku berada di luaran sana..''


''Dalam kehidupanku selama ini, diriku sudah sangat banyak kehilangan teman, sahabat, saudara juga kerabat dekat. rasanya teramat menyakitkan hati melihat mereka terkapar mati tanpa aku dapat melindungi. jika sampai terjadi sesuatu padamu., mungkin diriku bisa jadi gila dan putus asa..''


''Tapi dengan adanya Gendol, setidaknya kau tidak sendirian dalam bertahan hidup di dunia yang keras ini. lelaki tampan yang pintar, kaya raya dan punya ilmu tinggi jelas lebih punya martabat bagus dimata orang lain, tetapi manusia yang bodoh namun jujur dan setia kadang lebih berharga dalam kehidupan ini..''


''Orang seperti Gendol tidak akan tergiur pada apapun selama kita dapat menghargai dan sabar mengarahkannya. dialah yang akan menjadi benteng penjaga dirimu. dengan adanya Gendol disini, hatiku akan merasa lebih tenang..'' ucap Pranacitra setengah menggumam.


Srianah tertegun memandangi wajah pemuda disampingnya yang sedikit pucat dan dingin. perlahan dia menyandarkan tubuhnya yang hanya setinggi hidung Pranacitra ke dada kiri si pemuda. ''Kau tahu tidak, apa yang selalu membuat diriku merasa gusar hingga kadang hampir lepas kendali.?'' tanya Srianah pelan sembari mendongak. yang ditanya cuma diam mengelus rambut gadis itu karena dia tidak tahu mesti menjawab apa.

__ADS_1


''Saat aku keluar kampung untuk menjual dagangan jamuku atau berada di pusat kadipaten Muntilan yang ramai, beberapa kali aku mendengar berita buruk tentang dirimu. banyak orang bicara kalau kau adalah seorang manusia jahat kejam yang tidak kenal ampun. padahal mereka justru tidak tahu apapun tentang dirimu yang sebenarnya bahkan aku yakin para bedebah tukang fitnah itu belum pernah bertemu denganmu sebelumnya..''


''Turut mauku ingin kuludahi muka munafik mereka semua atau aku potong lidahnya sekalian. tapi itu tidak dapat kulakukan. karena semua orang akan tahu kalau kita berdua saling mengenal, dan itu akan makin menyulitkan dirimu. pada akhirnya., aku cuma bisa berdoa semoga kau selalu sehat dan selamat. aku juga berharap orang- orang yang bicara buruk tentang dirimu serta berani mencelakaimu mampus semuanya.!''


"Mungkin kau memang seorang pembunuh di dunia persilatan. tapi diluar itu semua aku juga tahu betul kalau Pranacitra si 'Pendekar Tanpa Kawan' adalah orang paling baik hati yang pernah kukenal. memangnya apa hak mereka hingga seenaknya menghujatmu.!'' rutuk Srianah kesal.


Pranacitra cuma menghela nafas. tangannya mendekap tubuh Srianah. ''Aku tidak pernah perduli omongan orang lain tentangku di luaran sana. bagiku asalkan kau selalu percaya dengan diriku., itu sudah cukup..'' Srianah balas memeluk makin erat. ''Aku selalu percaya padamu., sampai kapanpun..'' bisiknya sepenuh hati.


Kedua mata mereka saling memandang tanpa berbicara apapun. mungkin beginilah cara kedua muda- mudi itu bersambung pikiran dan menyampaikan perasaan. karena hubungan diantara mereka sangat mendalam maka tidak diperlukan lagi ucapan untuk bisa saling mengerti isi hati.


Tidak disangka Srianah malah mengajaknya berdiri di depan si pincang yang nampak rada terkejut. belum sempat bertanya apapun jari telunjuk Srianah sudah membuat sebuah bulatan di dada Pranacitra. ''Kau anggap saja ini si pincang pucat yang menyebalkan. separuh bulatan di sebelah kanan adalah milikku. tidak akan pernah kuserahkan pada siapapun juga sampai kapanpun.!'' tegas murid 'Gembel Sakti Mata Putih' itu.


''Sedangkan separuhnya., bisa kau miliki jika kamu mau. tapi aku ingatkan., tidak gampang untuk bisa mendapatnya karena kau harus bersaing dengan banyak perempuan cantik di luaran sana. kau tahu Rinai., biarpun orang ini pincang, mukanya agak pucat seperti orang penyakitan, jarang ganti baju, pandangan matanya dingin tidak berperasaan, rada gila, miskin dan menyebalkan, tapi kudengar banyak wanita cantik yang suka dengannya. pendek kata., sainganmu cukup banyak..''

__ADS_1


''Tapi aku pasti mendukungmu.!'' ucap Srianah kepalkan tinjunya. ''Karenanya kau harus semangat. nanti akan aku buatkan obat untuk menghilangkan bopeng bekas luka bakar di wajah dan tubuhmu agar penampilanmu jadi lebih menarik hati..'' mendengar semua yang dikatakan Srianah, pemuda dari gunung Bisma itu tidak tahu mesti marah atau malah tertawa.


Sementara Rinai mukanya sampai merah padam menahan rasa malu sekaligus geli. meskipun di dasar hatinya gadis ini sangat mengagumi Pranacitra namun dia tidak pernah punya keinginan untuk memiliki hati si pemuda. bukannya dia tidak mau melainkan Rinai sadar keadaan dirinya hingga merasa rendah diri. baginya bisa berteman baik dengan si pincang saja sudah lebih dari cukup.


Sekarang justru seorang gadis yang baru dikenalnya beberapa minggu lalu sudah bicara tentang isi hatinya secara gamblang tanpa aling- aling apapun, bahkan berkoar mendukungnya seolah dia seorang peserta lomba balap karung yang perlu disemangati. Rinai saja sungguh tidak menyangka kalau Srianah mampu bicara seperti itu. tentu saja dia merasa mukanya seakan telah dikuliti hidup- hidup. malunya setengah mati.


Belum sempat Rinai berkata apapun, tangan Srianah sudah menariknya ke sisi kiri Pranacitra. si pincang itu hanya terkekeh. lengan kanan memeluk Srianah sementara tangan kirinya merengkuh tubuh Rinai yang rada kurus. gadis ini terpekik kecil tapi dia tidak menolak saat sudah berada dalam dekapan pemuda itu


''Tanpa harus bersusah payah., dua orang gadis yang sama menarik hati sudah berada dalam pelukanku. kurasa daya tarik seorang pemuda tampan sepertiku memang tidak dapat ditahan kaum wanita. Haa., ha.!'' ujar Pranacitra tertawa bergelak. Srianah dan Rinai mendelik kesal sambil memukul perut si pincang.


Meskipun begitu keduanya bukan saja tidak berontak malah menggelendot di kiri kanan tubuh si pincang. dengan saling berangkulan mereka bertiga balikkan tubuhnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya meninggalkan Gendol sendirian yang cuma berdiri bengong.


Dalam hatinya pemuda bertubuh raksasa ini membatin. ''Jika dua orang gadis dan satu pemuda berada di rumah yang sama dengan pintu tertutup. kira- kira di dalam sana mereka bertiga mau apa yah.?'' tanpa sadar matanya tertuju pada dua ekor ayam betina dan seekor pejantan jago yang baru saja melakukan 'XXXX' di dalam kandang yang terletak di belakang gubuk tempat tinggalnya, hingga membuat Gendol tanpa sadar menelan air liurnya.

__ADS_1


*****


Maaf cuma dapat lanjutan cerita sedikit yang isinya rada ngawur lagi😥 duhh. 🙏


__ADS_2