Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Bertaruh nyawa, berhutang jiwa.


__ADS_3

Mendung kelabu diatas langit sedikit menutupi cahaya matahari yang mulai agak condong ke arah barat, cakrawala menjelang senja itu seakan mengejek kebodohan para manusia yang terkapar tanpa nyawa di lereng utara gunung Merapi ini. udara yang berhembus terasa lebih dingin. saat bunyi guruh terdengar diangkasa, rintik hujanpun mulai turun menyusulnya.


Suasana terasa mencekam namun juga menyedihkan hati. biasanya hujan gerimis dengan awan mendung yang tebal membuat siraman air dari langit semakin lama berhenti. meskipun cuma gerimis tapi sudah lebih dari cukup untuk membasahi mayat- mayat yang semuanya hampir tidak ada lagi yang utuh wujudnya.


Sesosok pemuda berbaju putih yang dinodai lelehan darah merah terlihat berdiri termenung di tengah rintik hujan dan udara yang dingin membekukan tulang. jangankan manusia biasa, orang persilatan yang punya kepandaian pas- pasan mungkin bisa mati kedinginan di tempat itu. walaupun pemuda bertampang dingin namun gagah itu jelas sedang terluka dalam, tetapi dia tetap berdiri tegak tanpa bergeming sedikitpun.


Sebatang pedang pendek yang memancarkan cahaya dan hawa hitam pekat berbau sebusuk bangkai tercekal erat di tangan kanannya. otot tangan dan lengannya yang kekar terlihat bertonjolan keluar. beberapa kali pemuda ini hendak sabetkan pedang pusakanya yang bernama Iblis Hitam itu pada sesosok tubuh yang terbaring tertelungkup di bawahnya. tapi selalu saja dia urungkan ditengah jalan.


Seorang pemuda yang mungkin usianya sebaya dengan dirinya yang baru dua puluhan tahun. berbaju hitam tebal yang sudah koyak comang- camping dan bernoda darah. gembel paling miskin sekalipun bajunya mungkin tidak sampai seburuk itu. dalam hatinya si baju putih tertawa menghina.


Setelah mengitari pemuda berbaju gelap yang pingsan diatas tanah itu, diapun mendengus kesal. dengan seenaknya saja kaki kanannya menginjak kepala orang dibawahnya. ''Kalau aku menghabisimu sekarang, pasti sang Ketua 'Kelompok 13 Pembunuh' akan menghukum berat diriku. lagipula., tidak ada kebanggannya bagiku kalau kau mati kubunuh disaat dirimu tidak berdaya seperti ini. nama besar si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' sebagai pembunuh bayaran dengan harga termahal di dunia persilatan bisa runtuh seketika..''


''Hehm., aku pernah mendengar selentingan kabar rahasia yang mengatakan kalau sejak kecil dirimu hidup sangat menderita. saat beranjak dewasa perjalananmu penuh darah dan marabahaya. sumber beritaku juga sempat menduga kalau dirimu mungkin punya hubungan dengan sebuah perguruan silat yang pernah berdiri di gunung Bisma. Chuih., jangankan mengalaminya sendiri., hanya membayangkan kehidupan menyedihkan seperti itu saja aku malas. kasihan sekali kau., Hee., he..'' cibir si baju putih tertawa mengejek.

__ADS_1


''Asal kau tahu saja pincang sialan., untuk mengetahui semua berita rahasia ini aku mesti keluar uang tiga puluh keping emas dan lima puluh empat keping uang perak. Huh., sialan betul.!'' gerutu pemuda berbaju putih yang bukan lain adalah si Ular Sakti Berpedang Iblis itu.


"Tapi mungkin memang nasibmu yang baik atau malah diriku yang sedang sial, hingga terpaksa aku memperpanjang umurmu untuk saat ini. anggap saja., sebagai penghargaanku padamu. meskipun aku benci mengatakannya tapi kuakui., tindakanmu hari ini yang berani menerima tantangan belasan tokoh silat kelas atas sekaligus memang membuatku ngeri.."


"Tapi paling tidak., di lereng utara gunung Merapi ini aku sudah pernah menginjak kepala orang yang menempati peringkat teratas dari para pendekar pendatang baru yang terkuat dunia persilatan saat ini.." gumam si pemuda mengomel sendirian seperti orang gila. dalam Kelompok 13 Pembunuh, Ular Sakti Berpedang Iblis diberi pangilan sebagai si pembunuh nomor tiga belas.


Kepalanya sesaat menatap kelangit yang tertutupi awan tebal. meskipun begitu tapi dia tahu kalau waktu telah tiba senja hari. sekujur tubuhnya sudah basah kuyup. pemuda ini tertegun melihat gumpalan cahaya dan kabut kebiruan yang memancarkan hawa sangat sejuk yang entah darimana menyelimuti tubuh pemuda yang masih tertelungkup di atas tanah basah itu.


Hari sudah berganti malam saat Pranacitra tersadar dari pingsannya. hal pertama yang dia lakukan adalah membalikkan tubuhnya yang tertelungkup lemas. meskipun hujan sudah berhenti turun dan langit cerah penuh bintang, tapi tanah pedataran itu tetap basah dan dingin. si pincang menggigil keras seakan dilanda demam. pikiran dan raganya telah tersadar, tapi tenaganya benar- benar terkuras.


Meskipun di dalam tubuhnya terdapat batu sakti 'Nirmala Biru' dan 'Lubang Nadi Neraka Gelap' yang akan mengeluarkan tenaga kesaktian serta pengobatan luka luar dan dalam saat tubuhnya berada pada titik batas hidup mati dan punya kesaktian sangat tinggi, tapi tetap saja dia hanyalah manusia biasa yang bisa mengalami puncak kelelahan juga rasa sakit. untuk dapat memulihan seluruh tubuhnya dibutuhkan waktu yang cukup lama.


Tanpa sengaja tangan kirinya menyentuh sebatang besi. saat di lihat itu adalah tongkat hitam berkepala tengkorak miliknya. dia tidak tahu kenapa sejata warisan si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' itu bisa berada di samping tubuhnya. dengan kumpulkan tenaga dan bantuan tongkat sakti itu Pranacitra mampu duduk bersila. dalam suasana gelap dia masih mampu melihat belasan mayat musuh- musuhnya.

__ADS_1


Kalau mau jujur., sebenarnya saat menerima tantangan pertarungan di lereng utara gunung Merapi ini, dia tidak punya keyakinan besar bakal bisa menang dan lolos dari kematian. dia bisa saja pergi menghindar mencari aman. tapi sayangnya., si pincang ini memang suka bertaruh nyawa, mungkinkah dia sebenarnya lebih takut menghadapi kehidupan dari pada kematian.? entahlah.


Waktu terus berputar, pagi hari sudah tiba. sinar mentari menyorot sesosok tubuh berbaju gelap yang baru bangkit dari semedinya. yang dia rasakan pertama kali adalah kelaparan pada perutnya. sejak kemarin dia belum sempat makan. seluruh tenaganya sudah dihabiskan untuk pertarungan.


Tanpa sengaja matanya melihat sesosok mayat berjubah biru muda yang terpotong hangus dan rata batang lehernya. punggung mayat salah satu wakil ketua perguruan Pedang Samudra itu terbuka dan penuh goresan hitam berdarah. dengan langkah terseok pemuda pincang itu berjalan kesana. matanya mengernyit saat melihat sebaris tulisan, ''Nyawamu kuperpanjang dulu., pada pertemuan berikutnya mungkin saja salah satu dari kita akan ada yang mati.!''


Tidak terdapat nama orang yang membuat guratan tulisan di punggung mayat itu. hanya ada guratan aneh yang menyerupai gambar seekor ular sendok dan sebatang pedang. ''Ular Sakti Berpedang Iblis..'' gumam pemuda pincang itu sambil memandang sekelilingnya. ''Semenjak peristiwa digunung Semeru sampai saat ini dia sudah tiga kali menolongku. tapi., sebenarnya apa yang dia inginkan.?'' batinnya.


Dengan perut yang makin kelaparan, Pranacitra bergerak menuruni lereng gunung. semakin ke bawah bau mayat bukannya hilang tapi malah semakin tajam. baru dua ratusan langkah dia sudah bertemu dengan lima sosok mayat yang membusuk tanpa kepala. leher mereka hitam gosong terpotong rata. ''Pasti ini perbuatan si Ular Sakti..'' desisnya terkesiap kaget.


Dari keadaannya Pranacitra tahu kalau mereka adalah kaum persilatan yang mati paling tidak sejak dua hari lalu. diantara lima mayat itu tiga diantaranya dapat dikenalinya. ''Ki Gajah Ireng, sang ketua perguruan 'Gajah Wesi'., 'Pendekar Mata Satu'., dan juga si 'Gondoruwo Muka Belang' Nyi Songgeng. mereka ini cukup punya kekuatan..''


Pranacitra mendongak dan menarik nafas berat seakan baru menyadari sesuatu. rupanya saat si Ular Sakti muncul menolongnya, dia telah terluka atau paling tidak terkuras tenaganya akibat bertarung dengan lima orang ini yang sangat mungkin punya niatan untuk turut mengeroyoknya dilereng utara Merapi. ''Pantas saja saat menghadapi dua wakil ketua perguruan Pedang Samudara itu dia sampai terjungkal roboh. padahal aku tahu kalau ilmu kesaktiannya sangat tinggi..'' meskipun si Ular Sakti tidak mau mengakui telah menolongnya, tapi Pranacitra mengerti kalau dia telah berhutang jiwa kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2